//
you're reading...
Fiqih

Puasa Orang Junub


Orang yang pagi-paginya junub di bulan Ramadhan lantaran habis berjima’ di malam harinya atau karena ihtilam (bermimpi keluar mani) puasanya shah dan tidak ada kewajiban qadha’ (mengganti puasa) atasnya. Bukhari dan Muslim meriwayatkan, ‘Dari Aisyah bahwa Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah dalam keadaan junub pada pagi hari karena jima’. Kemudian beliau mandi dan berpuasa.’ [Muttafaq ‘Alaihi]. Imam Muslim menambahkan pada hadits Ummu Salamah, ‘Dan beliau tidak mengqadha’nya (menggantinya).’ [HR. Bukhari 1925 dan Muslim 1109].

Hadits  di atas secara gamblang menyebutkan bahwa kejadian bangun pagi (waktu Shubuh) dalam keadaan junub pernah dialami oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dan beliau tetap berpuasa pada hari itu.

Itu kaitannya dengan junub lantaran jima’, adapun dalil tidak batalnya puasa lantaran ihtilam (mimpi keluar mani) baik itu ihtilamnya di malam hari lalu terbangun di pagi harinya masih dalam keadaan junub atau ihtilam di hari ia berpuasa, adalah sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, ‘Diangkat pena (tidak dicatat sebagai suatu kesalahan atau dosa) dari tiga orang, (di antaranya): Dari orang yang tidur hingga ia bangun …

KESIMPULAN

  1. Shah puasa bagi orang yang pagi harinya masih dalam keadaan junub, lantaran habis berjima’ di malam harinya.
  2. Ketentuan tersebut berlaku pada puasa di bulan Ramadhan atau di luar bulan Ramadhan (puasa sunnah).

 

Abu Halbas Muhammad Ayyub

Jember 1429 H.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: