//
you're reading...
Fiqih

Puasa Sunnah Sebelum Melunasi Utang Puasa Ramadhan


 

Bagi orang yang berbuka di siang hari di bulan Ramadhan lantaran haidh, nifas, sakit, dan melakukan safar (perjalanan), ia wajib mengganti (mengqadha’) puasa sejumlah hari di mana ia buka, sebelum datang Ramadhan berikutnya. Tentang kewajiban mengganti ini didasarkan pada firman Allah Ta’ala, ‘Maka  barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka puasa), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari lain.’ [QS. al-Baqarah : 184].

Dan dalam pelaksanaannya tidak wajib dilakukan dengan sesegera mungkin. Imam al-Qurthubi di dalam al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an 2/282 berkata, ‘Ayat di atas menunjukkan atas wajjbnya qadha’ tanpa menentukan masa tertentu. Karena lafadz ‘pada hari-hari lain’ sifatnya terlepas pada masa apa saja, yang tidak dikhususkan pada waktu yang tertentu.

 

BERSEGERA DALAM MENGQADHA’

Yang lebih utama, bagi mereka yang memiliki qadha’ adalah bersegera dalam melunasi hutang puasanya. Allah Ta’ala berfirman, ‘Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabb-mu.’ [QS. Ali Imran : 133].

Namun, jika tidak mendapatkan kemudahan dalam kesegeraan itu, maka ada kelapangan (kelonggaran) untuk menyelesaikan qadha’ tersebut pada bulan-bulan lainnya dalam setahun sebelum datangnya bulan Ramadhan berikutnya. ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha berkata, ‘Saya pernah punya tanggungan puasa Ramadhan, namun baru mampu mengqadha’nya di bulan Sya’ban.’ [HR.  Bukhari 1950 dan Muslim 1147].

 

QADHA’ TIDAK MESTI BERURUTAN

Qadha’ puasa boleh dilakukan secara terpisah-pisah tidak mesti dengan berurutan. Hal ini juga didasarkan pada firman Allah Ta’ala, ‘Maka (wajib baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.’ [QS. al-Baqarah : 184].

Ibnu Abbas berkata, ‘Tidak mengapa (qadha’) itu dipisah-pisahkan.’ [HR. al-Bukhari secara ta’liq dan diwashalkan oleh ad-Daruquthni, Abdurrazaq, dan Ibnu Abi Syaibah].

 

MENGUNDUR-NGUNDURKAN QADHA’ HINGGA TIBA RAMADHAN BERIKUTNYA

Barangsiapa yang tidak memiliki udzur lalu mengakhirkan qadha’ hingga datang Ramadhan berikutnya, maka ia telah melakukan perbuatan yang tercela di dalam agama ini dan ia tetap berkewajiban mengqadha’ puasa-puasa yang lalu.

 

PUASA SUNNAH SEBELUM QADHA’ (MELUNASI) PUASA RAMADHAN

Ulama berbeda pendapat dalam permasalahan ini. Sebagian di antara mereka memperbolehkannya dan sebagian yang lain memakruhkannya. Sedang pendapat yang unggul dari 2 pendapat ini adalah pendapat pertama yaitu pendapat yang membolehkan berpuasa sunnah sebelum melunasi hutang puasa Ramadhan terlebih dahulu (ini berlaku untuk semua puasa sunnah kecuali puasa sunnah 6 Syawal). Pengunggulan ini didasarkan pada alasan berikut ini:

  1. Allah Ta’ala tidak menetapkan waktu khusus untuk mengqadha’ puasa Ramadhan (lihat perkataan Imam al-Qurthubi sebelumnya sewaktu menjelaskan surat al-Baqarah ayat 184). Selama waktunya masih longgar.
  2. ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha seperti yang disebutkan sebelumnya pernah mengqadha’ puasanya di bulan Sya’ban, yaitu bulan yang terletak sebelum bulan Ramadhan. Perbuatan ‘Aisyah ini diketahui oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam sekaligus sebagai pembenaran dari beliau. Dan amat jauh dari dugaan jika dalam rentang waktu antara Ramadhan dan Sya’ban ‘Aisyah tidak berpuasa sunnah sama sekali.
  3. Sebagaimana diperbolehkannya shalat sunnah di awal waktu sebelum pelaksanaan shalat fardhu, maka begitu juga halnya dengan puasa sunnah sebelum pelaksanaan puasa qadha’. Di samping itu, tidak terdapatnya satu dalil shahih pun yang tidak memperbolehkan seseorang melakukan puasa sunnah sebelum menuntaskan hutang puasa Ramadhan.

 

MENDAHULUKAN QADHA’ SEBELUM PUASA ENAM HARI DARI SYAWAL

Berbeda dengan puasa-puasa sunnah lainnya, puasa Syawal mesti dilakukan setelah mengqadha’ puasa Ramadhan terlebih dahulu. Barangsiapa yang masih memiliki hutang Ramadhan, lalu puasa enam hari Syawal sebelum mengqadha’, maka tidak mendapatkan pahala seperti yang dijanjikan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, ‘Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian mengiringinya dengan berpuasa enam hari dari bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa satu tahun.’ [HR. Muslim].

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam Syarhul Mumti’ 3/89 memperjelas urusan ini, beliau berkata, ‘(tidak teranggap mendapatkan pahala setahun) lantaran hadits itu menyebutkan “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan“.’ Siapa yang masih punya tanggungan qadha’, maka ia belum dapat dikatakan telah berpuasa Ramadhan.

 

 

Abu Halbas Muhammad Ayyub

Jember 1429 H.

Diskusi

One thought on “Puasa Sunnah Sebelum Melunasi Utang Puasa Ramadhan

  1. Terimakasih penjelasan seputar puasanya.

    Posted by Feri | Mei 22, 2013, 6:44 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: