//
you're reading...
Akhlak

Renungan Ramadhan


  • Ramadhan Karunia yang Tak Ternilai

Ma’la bin al-Fadhl berkata, ‘Mereka para salafush shalih berdo’a kepada Allah selama 6 bulan agar usia mereka disampaikan pada bulan Ramadhan, lalu seusai Ramadhan mereka berdo’a selama 6 bulan agar amalan mereka di bulan Ramadhan diterima oleh Allah.’ Yahya bin Abi Katsir berkata, ‘Di antara do’a yang mereka lantunkan adalah Ya Allah, serahkanlah aku kepada Ramadhan dan serahkanlah Ramadhan kepadaku, dan Engkau menerimanya dari padaku dengan rela.’

  • Puasa yang Sebenarnya

Ibnul Jauzi berkata, ‘Puasa itu ada 3 macam; puasa ruh yaitu membatasi harapan (keinginan), puasa akal yaitu menentang keinginan hawa nafsu, dan puasa anggota tubuh (fisik) yaitu menahan makan, minum, dan berjimak dengan isteri.’

  • Adab Membaca al-Qur’an

Di antara adab membaca al-Qur’an adalah mengikhlaskan niat karena Allah, membaca dengan menghadirkan hati dengan berupaya mentadaburi setiap kata yang dibaca, membaca dalam keadaan suci, tidak membacanya di tempat-tempat kotor (seperti di WC), berta’awwudz sebelum membacanya, memperindah suara, dan melakukan sujud tilawah di saat membaca ayat-ayat yang berkenaan dengan sujud.

  • Bulan Memetik Buah

Sari Saqti berkata, ‘Tahun adalah ibarat sebuah pohon, bulan adalah cabangnya, hari adalah rantingnya, jam adalah daunnya, sedangkan nafas seorang hamba adalah buahnya. Rajab adalah bulan untuk menumbuhkan daun, bulan Sya’ban adalah bulan untuk menumbuhkan cabangnya, sedangkan Ramadhan adalah bulan untuk memetik buahnya. Adapun yang memetik buahnya adalah kaum mukminin.’

  • Memanfaatkan Keadaan

Ibnu Mas’ud berkata, ‘Orang yang membaca al-Qur’an hendaknya mengetahui bagaimana dia memanfaatkan malam yang dimilikinya pada saat orang-orang terlelap, mengetahui bagaimana dia memanfaatkan waktu siangnya pada saat orang-orang tidak berpuasa, mengetahui bagaimana dia harus menangis pada saat orang-orang sedang tertawa. Bagaimana dia harus menjaga diri pada saat orang-orang bercampur dengan manusia lain, bagaimana dia harus diam saat orang-orang ikut campur dalam pembicaraan orang lain, bagaimana dia harus khusyu’ saat orang-orang menyombongkan diri, serta bagaimana dia harus bersedih saat orang-orang sedang berbahagia.

  • Petunjuk Nabi di Bulan Ramadhan

Berikut di antara petunjuk-petunjuk Nabi di saat berpuasa, beliau bersahur dan mengakhirkan sahur hingga akhir malam, adakalanya beliau dalam keadaan junub di Shubuh hari lalu mandi dan berpuasa, kadang pula beliau mencium sebagian isterinya, pernah menuangkan air di atas kepalanya, bersegera berbuka di saat matahari telah tenggelam, dan berdo’a di kala berbuka dengan do’a, ‘Zahabadh-Dhamau, Wabtallatil ‘Uruqu, Wa Tsabatal Ajru Insya Allah.’ Dan jika berbuka di tempat orang lain berdo’a, ‘Afthara ‘’Indakumush Shaimun, Wa Akala Tha’amakumul Abrar, Wa Shallat Alaikumul Malaikatu,’ beliau melakukan qiyamul lail (shalat tarawih) dan pernah mengimami shahabat-shahabatnya beberapa malam, senantiasa beri’tikaf di masjid pada sepuluh terakhir Ramadhan dan tidak memasuki rumahnya terkecuali jika ada keperluan yang mendesak, giat membaca al-Qur’an, berlaku dermawan, dan memerintahkan mengeluarkan zakat fithri di akhir Ramadhan di mana orang diperintahkan mengeluarkannya sebelum pelaksanaan shalat ‘Ied.

 

Abu Halbas Muhammad Ayyub

Jember, 1429 H.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: