//
you're reading...
Fiqih

Zakat Fithri (Fitrah)


Dalam syari’at Islam zakat itu terbagi menjadi dua bagian; yaitu zakat fithri (zakat an-nafs/jiwa) dan zakat mâl (zakat harta). Adapun zakat yang ditunaikan terkait dengan berakhirnya Ramadhan, maka zakat tersebut dinamakan dengan zakat fithri (atau umumnya masyarakat kita menyebutnya dengan zakat fithrah).

 

 

Makna Zakat Fithri

 

Zakat fithrah adalah zakat yang dikeluarkan pada akhir bulan Ramadhan berupa makanan pokok sebanyak satu sha’. Disebut dengan zakat fithri karena ia disyari’atkan ketika bulan Ramadhan telah sempurna dan pada masa ummat Islam yang berpuasa sudah berbuka dari puasa Ramadhan. Zakat fithri bisa juga disebut denagn zakat Ramadhan, zakat puasa, sedekah berkepala, dan zakat badan. [Lihat penamaan ini di Faidhul Qadîr 4/82].

 

 

Hukum Zakat Fithri

 

Zakat fithri adalah fardhu (wajib). Hal ini disandarkan kepada sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, ‘Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam memfardhukan zakat fithri satu sha’ dari kurma atau gandum atas budak, orang merdeka, laki-laki dan perempuan, anak kecil, dan orang dewasa dari kaum muslimin.’ [HR. Bukhari 1504 dan Muslim 984].

 

 

Pensyari’atan Zakat Fithri

 

Permulaan disyari’atkannya zakat fithri adalah ketika difardhukan puasa Ramadhan; yaitu pada tahun kedua Hijrah, sebab zakat fithri disandarkan kepada Ramadhan dan berbuka dari puasa. Di samping itu, tidak pernah disebutkan bahwa Nabi dan para shahabat berpuasa Ramadhan tanpa mengeluarkan zakat fithri.

 

 

Hikmah Zakat Fithri

 

Di antara hikmah yang terkandung disyari’atkannya zakat fithri adalah :

  1. Menumbuhkan rasa kasih sayang pada fakir miskin. Dengan zakat fithri yang diberikan tercukupi kebutuhannya di hari raya dan dapat bersuka cita bersama yang lainnya.
  2. Bagi yang menunaikannya, hal tersebut sebagai pembersih dari kekhilafan-kekhilafan yang dilakukan pada saat berpuasa.

 

Dua hikmah di atas termaktub dalam sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, ‘Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam memfardhukan zakat fithri sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari berbagai hal yang tidak bermanfaat dan perkataan rafats (jorok dan kotor), juga sebagai makanan bagi kaum miskin.’ [Hasan. HR. Abu Dawud 1609 dan Ibnu Majah 1827].

 

 

Yang Wajib Menunaikan Zakat

 

Zakat fithri diwajibkan kepada setiap muslim yang memiliki kelebihan satu sha’ dari kebutuhan pokoknya (al-hajah al-ashliyah) dan kebutuhan pokok orang yang ditanggungnya. Hal ini disandarkan kepada sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam yang lalu, ‘Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam memfardhukan zakat fithri satu sha’ dari kurma atau gandum atas budak, orang merdeka, laki-laki dan perempuan, anak-anak kecil dan orang dewasa dari kaum muslimin.

 

 

Zakat Fithri untuk Anak dan Isteri

 

Pendapat yang unggul bahwa jika isteri dan anak memiliki harta, maka keduanya mesti mengeluarkan zakat fithri dari hartanya sendiri. Hal ini disandarkan pada dhahir sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, ‘Diwajibkan untuk laki-laki dan perempuan, anak kecil dan orang dewasa …

 

Tetapi, jika zakat fithri ditunaikan oleh orang yang bertanggung jawab atas nafkah mereka berdua dan atas ridha mereka, maka hal itu dianggap tidak mengapa. Hal ini disandarkan kepada atsar Ibnu Umar bahwa beliau pernah mengeluarkan zakat fithri untuk semua keluarganya yang besar maupun yang kecil … [Shahih Mauquf. HR. Ibnu Abi Syaibah 4/37]. Adapun hadits yang memerintahkan mengeluarkan zakat fithri bagi yang ditanggungnya adalah lemah.

 

 

Zakat Fithri bagi Janin

 

Tidak ada zakat fithri untuk janin yang berada di dalam perut (seberapapun usianya), karena ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam merinci orang-orang yang wajib mengeluarkan zakat fithri, beliau tidak menyebut kata “janin”, yang ada hanyalah penyebutan “anak kecil”, sedangkan janin tidak termasuk dalam lafadz “anak kecil”.

 

 

Zakat Fithri bagi Orang Miskin

 

Jika pada hari ‘Ied dan malamnya ada orang miskin tersebut memiliki kelebihan satu sha’ dari kebutuhan pokoknya dan kebutuhan pokok orang-orang yang ditanggungnya, maka ia juga tetap terkena kewajiban zakat. Hal ini disandarkan kepada keumuman hadits, ‘Diwajibkan kepada setiap orang yang merdeka dan budak …’, yang mana hadits ini mencakup orang kaya maupun miskin. Dan juga mayoritas ulama tidak menetapkan syarat-syarat wajibnya mengeluarkan zakat fithri kecuali hanya Islam.

 

 

Ukuran dan Jenis Zakat Fithri

 

Zakat fithri untuk setiap jiwa adalah 1 sha’ dari bahan makanan di suatu daerah. Ini disandarkan pada perkataan Abu Sa’id al-Khudry Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, ‘Dulu kami mengeluarkan zakat fithri di masa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam adalah satu sha’ dari makanan.’ Kemudian Abu Sa’id melanjutkan, ‘Dan makanan kami adalah sya’ir, zabib, keju, dan kurma kering.’ [HR. Bukhari 1510].

 

Dengan demikian, boleh mengeluarkan jenis makanan selain yang disebutkan di atas seperti beras, kacang hijau, kedelai, dan lain sebagainya. Jika ternyata makanan pokok di suatu daerah bukan berupa biji-bijian melainkan daging atau ikan, maka mereka harus mengeluarkan zakat fithri dari bahan makanan pokok tersebut. Ibnul Qayyim berkata, ‘Jika di suatu kampung ada makanan pokoknya bukan dari biji-bijian; seperti susu, daging, dan ikan maka mereka mengeluarkan zakat fithri dari makanan pokok mereka itu apapun bentuk jenisnya, dan ini adalah pendapat mayoritas ulama.’ [Lihat Taudhihul Ahkam Juz. 3].

 

 

Ukuran Satu Sha’

 

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa zakat fithri untuk setiap jiwa adalah satu sha’. Satu sha’ itu sama dengan 4 cidukan dua tangan lebih sedikit (atau disebut 4 mud). Jika diukur dalam hitungan gram, satu sha’itu kurang lebih 2500 gram (dengan hitungan setiap satu cidukan/satu mud-nya sebanding dengan 625 gram). Kami menggunakan kata “kurang lebih” lantaran ulama berbeda pendapat tentang besaran satu sha’ jika diukur dalam ukuran gram. Sebagian berpendapat satu sha’ sebanding dengan 2040 gram, ada yang berpendapat 2176 gram, ada yang berpendapat 3000 gram, dan ada pula yang berpendapat lain dari itu. [Syaikh Abdullah al-Bassam berkata, ‘Satu mud itu sama dengan 625 gram.’]

 

 

Zakat Fithri dengan Uang

 

Mengeluarkan zakat fithri dengan nominal (uang) tidak dibolehkan oleh semua ulama kecuali Abu Hanifah [Lihat Ensiklopedi Ijma’ 836]. Dan pendapat mayoritas ulama itulah yang benar, bahwa tidak boleh mengeluarkan nilai bahan makanan untuk zakat fithri dengan uang. Karena semua nash-nash hadits menyebutkan bahwa zakat fithri itu dari bahan makanan. Ibnu Qudamah berkata, ‘Barangsiapa membayar zakat fithri dengan harganya, maka tidak akan sepadan atau tidak mencukupi.’ [al-Mughni 4/295]. Imam asy-Syaukani di dalam Nailul Authar berkata, ‘Zakat wajib (dibayar) berupa barang (makanan pokok), tidak boleh diganti dengan harga/nilainya, kecuali jika tidak ada barang dan jenisnya.’ Katanya pula, ‘Yang benar bahwa zakat harus berupa barang, tidak boleh diganti harganya kecuali ada udzur.

 

Apa yang dikatakan oleh dua ulama di atas (Ibnu Qudamah dan Imam asy-Syaukani) adalah benar karena zakat adalah ibadah yang mana seseorang tidak dapat terlepas dari tanggungan kecuali jika ibadah itu dikerjakan sesuai dengan apa yang diperintahkan. Satu mud itu sama dengan 625 gram.

 

 

Waktu Wajib Berzakat Fithri

 

Waktu wajib mengeluarkan zakat fithri adalah ketika matahari terbenam di akhir bulan Ramadhan. Sedang batas akhir mengeluarkannya adalah pada pagi hari sebelum shalat ‘Ied dilaksanakan. Ketetapan ini disandarkan pada hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, ‘Barangsiapa yang menunaikannya (zakat fithri) sebelum shalat ‘Ied, maka ia adalah zakat yang diterima. Dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat (‘Ied), maka ia merupakan shadaqah biasa.’ [Hasan. HR. Abu Dawud 1609 dan Ibnu Majah 1827].

 

Dari hadits ini juga dapat disimpulkan bahwa mengeluarkan zakat setelah shalat ‘Ied adalah terlarang (haram).

 

 

Berzakat sebelum Waktunya

 

Pendapat yang unggul bahwa boleh mendahulukan zakat fithri sehari atau dua hari sebelum hari raya. Hal ini disandarkan pada hadits Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, ‘Dan adalah orang-orang mengeluarkannya (zakat fithri di masa Rasulullah) sehari atau dua hari sebelum hari raya.’ [HR. Bukhari 1511 dan Abu Dawud 1610].

 

 

Yang Berhak Menerima Zakat

 

Pendapat yang unggul bahwa zakat fithri dapat didistribusikan kepada delapan kelompok yang disebutkan dalam al-Qur’an surat at-Taubah ayat 60. Tetapi, orang-orang miskin dan fakir diutamakan dari semua kelompok-kelompok tersebut. Hal ini disandarkan pada sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bahwa zakat fithri itu sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa, dari perbuatan sia-sia atau ucapan kotor, dan juga sebagai makanan bagi orang-orang yang miskin [Fiqhus Sunnah 1/351].

 

 

Tempat Mengeluarkan Zakat

 

Yang lebih utama, zakat fithri dikeluarkan di tempat si pezakat tinggal dan berpuasa. Akan tetapi, jika di tempat si pezakat tidak terdapat orang fakir, miskin, serta pihak lain yang berhak menerima zakat atau bila orang-orang fakir dan miskin tempat tinggal itu telah terpenuhi sedang di daerah lain banyak fakir miskin atau yang lebih membutuhkan, maka zakat fithri boleh dipindahkan ke tempat tersebut.

 

Adapun jika seseorang berpuasa Ramadhan di luar daerahnya karena perjalanan atau lainnya, maka dia mengeluarkan zakat fithri di daerah tempat dia berpuasa.

 

 

Membagikan Zakat tanpa Amil

 

Dibolehkan bagi pemilik zakat membagikan zakat fithrinya tanpa harus melalui amil (petugas) zakat. Demikian kesepakatan para ulama. [Lihat Ensiklopedi Ijma’ hal. 855].

 

 

Beberapa Catatan

 

  • Membagikan zakat fithri kepada fakir miskin yang dekat hubungan famili; seperti saudara, paman, sepupu, dll adalah lebih utama. Namun, tidak diperbolehkan kepada isteri, orang tua, kakek, anak, dan cucu.

 

  • Diperbolehkan membagi satu bagian zakat kepada beberapa fakir miskin. Begitu juga diperbolehkan mengumpulkan beberapa bagian zakat (beberapa sha’) untuk satu fakir miskin saja [Lihat Majmu’ Fatawa 13/47 oleh Ibnu Taimiyyah].

 

 

  • Hendaklah si pezakat memberikan zakatnya kepada orang-orang shalih agar mereka bisa lebih terbantu dalam melakukan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Dan tidak memberikan zakatnya kepada mereka yang menampakkan bid’ah dan kemaksiatannya secara terang-terangan. Wallahu A’lam.

 

 

Abu Halbas Muhammad Ayyub

Jember 1429 H.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: