//
you're reading...
Fiqih

80 Permasalahan tentang Hukum Udhhiyah (Kurban) – Bagian 1 [Dari 3 Tulisan] –


المسألة الأولى: تعريف الأضحية:
هي: ما يذبح من بهيمة الأنعام أيام عيد الأضحى تقرُّباً لله.

[Masalah-1: Definisi udhhiyah (kurban)]:

Yaitu: sesuatu yang disembelih dari binatang ternak pada hari ‘idul Adhha sebagai bentuk taqarrub kepada Allah.

المسألة الثانية: سبب تسميتها:
قيل في ذلك نسبة لوقت الضحى لأنه هو الوقت المشروع لبداية الأضحية.

[Masalah-2: Sebab dinamakan udhhiyah]:

Ada yang berpendapat karena ia dinisbatkan dengan waktu dhuha, lantaran waktu dhuha adalah waktu masyru’ dimulainya penyembelihan.

المسألة الثالثة: الأدلة على مشروعيتها:
يدل على مشروعيتها ما يلي:
1- الأدلة من الكتاب العزيز:
أ- قوله تعالى “فصلِّ لربك وانحر” فقد فسرها ابن عباس رضي الله عنهما بقوله: والنحر: النسك والذبح يوم الأضحى، وعليه جمهور المفسرين كما حكاه ابن الجوزي في زاد المسير (9/249).

2-الأدلة من السنة:
يدل على مشروعيتها ما يلي:

أ- حديث أنس رضي الله عنه قال: ضحى النبي صلى الله عليه وسلم بكبشين أملحين، فرأيته واضعاً قدمه على صفاحهما يسمي ويكبِّر فذبحهما بيده ” متفق عليه.

ب- عن أم سلمة رضي الله عنها أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ” إذا دخلت العشر وأراد أحدكم أن يضحي فلا يمس من شعره وبشره شيئا ” مسلم (5232).

ج- عن البراء بن عازب رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلّم قال: «من ذبح بعد الصلاة فقد تم نسكه وأصاب سنة المسلمين». رواه البخاري(5225) .
3- الإجماع:
وقد أجمع العلماء على مشروعيتها، كما حكاه ابن قدامة في المغني (11/95)، واختلفوا في حكمها كما سيأتي

[Masalah ke-3: Dalil atas disyariatkannya berkurban]:

Dalil yang menunjukkan atas disyariatkannya berkurbanadalah sebagai berikut:

1-      Dalil dari Al-Qur`an

Allah ta’ala berfirman:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Artinya, “Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkorbanlah.” (al-Kautsar: 2).

Ibnu ‘Abbâs radhiyallâhu ‘anhuma berkata dalammenafsirkan ayat ini: an-Nahru, yaitu menyembelih pada hari (‘idul) adhha. Tafsiran ini merupakan tafsiran mayoritas para ahli tafsir sebagaimana yang dihikayatkan oleh Ibnu al-Jauzi dalam Zâdul Masîr (9/249).

2-      Dalil dari as-Sunnah:

(Dalil) yang menunjukkan atas disyariatkannya berkurban adalah sebagai berikut:

  1. Hadits Anas radhiyallâhu ‘anhu, ia berkata:

ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا

Artinya, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah berkurban dengan dua domba putih yang bertanduk yang beliau sembelih dengan tangannya sendiri, seraya mengucapkan basmalah dan bertakbir. Beliau meletakkan kakinya disamping leher domba.” (Muttafaq ‘Alaihi)

2.   Dari Ummu Salamah radhiyallâhu ‘anha bahwa Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّىَ فَلاَ يَمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا

Artinya, “Apabila telah masuk sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dan   salah seorang di antara kalian berkeinginan untuk berkurban, maka janganlah ia memotong rambut dan basyarnya (kulit/kuku) sedikitpun juga (hingga ia selesai menyembelih-pentj).” (HR. Muslim 5232).

3. Dari al-Barâ` bin ‘Âzib radhiyallâhu ‘anhu, bahwa Nabi shallalâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ ذَبَحَ بَعْدَ الصَّلاَةِ فَقَدْ تَمَّ نُسُكُهُ ، وَأَصَابَ سُنَّةَ الْمُسْلِمِينَ

Artinya, “Barangsiapa menyembelih (hewan kurban) setelah shalat (ied) maka ibadah kurbannya telah sempurna & dia telah melaksanakan sunnah kaum Muslimin dgn tepat.” (HR. Al-Bukhâri 5225).

3-      Ijmâ’ (Konsensus ‘Ulama)

‘Ulama sepakat atas disyariatkannya berkurbansebagaimana yang dihikayatkan oleh Ibnu Qudamah dalam al-Mughni (11/95). Namun mereka berbeda pendapat dalam hukumnya, sebagaimana yang akan datang berikut ini.

المسألة الرابعة: حكمها:
بعد الاتفاق على مشروعيتها اختلف أهل العلم في حكمها على قولين:
القول الأول: الجمهور إلى أنها سنة مؤكدة، واستدلوا بما يلي:

1-حديث أم سلمة رضي الله عنها أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: “إذا دخلت العشر وأراد أحدكم أن يضحي فلا يمس من شعره وبشره شيئا” مسلم (5232(
ووجهة الدلالة: قوله (أراد) فتعليق الأضحية على الإرادة دليل على عدم الوجوب.

2-صح عن أبي بكر وعمر رضي الله عنهما أنهما لا يضحيان مخافة أن يعتقد الناس أنها واجبة.
القول الثاني: ذهب أبو حنيفة والأوزاعي إلى أنها واجبة على القادر، ورجَّحه فضيلة الشيخ ابن عثيمين رحمه الله، واستدلوا:
1- فعل النبي صلى الله عليه وسلم، والأصل الاقتداء به.
2- قوله صلى الله عليه وسلم: “من وجد سَعَةً لأن يضحي فلم يضحِ فلا يحضر مصلانا ” أخرجه ابن ماجه وأحمد، ورجح الحافظ وقفه ( الفتح 16/3).

والذي يظهر –والله أعلم– أنها سنة مؤكدة، وأدلة الوجوب لا تدل على الوجوب، إما لعدم صحتها أو أنها مجرد فعل، والفعل لا يصل للوجوب بذاته كما هو مقرر في علم الأصول، إلا أنه لا ينبغي للقادر تركها لما فيها من العبودية لله سبحانه وتعالى، ولاتفاق أهل العلم على مشروعيتها.

[Masalah ke-4: Hukum berkurban]

Setelah adanya kesepakatan atas disyariatkannya berkurban, ahli ilmu berbeda pendapat mengenai hukumnya atas dua pendapat:

Pendapat pertama: Pendapat mayoritas ulama bahwa berkurbanadalah sunnah muakkadah. Mereka berdalil sebagai berikut:

  1. Hadits Ummu Salamah radhiyallâhu ‘anha bahwa Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

إِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّىَ فَلاَ يَمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا

Artinya, “Apabila telah masuk sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dan  salah seorang di antara kalian berkeinginan untuk berkurban, maka janganlah ia memotong rambut dan basyarnya (kulit/kuku) sedikitpun juga (hingga ia selesai menyembelih-pentj).” (HR. Muslim 5232).

Bentuk penunjukan dalil: Sabda beliau (berkeinginan/berkehendak), maka menggantungkan berkurbanpada keinginan/kehendak adalah dalil atas tidak wajibnya berkurban.

 2.      Shahih dari Abu Bakar dan ‘Umar radhiyallâhu ‘anhuma bahwa keduanya pernah tidak berkurbanlantaran khawatir orang-orang akan meyakini bahwa berkurbanadalah wajib.[1]

Pendapat yang kedua: Abu Hanifah dan al-Auza’I berpendapat bahwa berkurban wajib bagi orang yang mampu dan pendapat ini diunggulkan oleh asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah. Mereka berdalil:

  1. Perbuatan Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Pada hukum asalnya adalah mencontoh/mengikuti (perbuatan) beliau.
  2. Sabda beliau shallalâhu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ وَجَدَ سَعَةً لأَنْ يُضَحِّيَ فَلَمْ يُضَحِّ ، فَلا يَحْضُرْ مُصَلانَا

Artinya, “Barangsiapa mendapatkan kelapangan untuk berkurban lalu tidak berkurban maka janganlah ia hadir ditempat shalat kami.” (HR. Ibnu Mâjah dan Ahmad serta diunggulkan kemauqufannya oleh al-Hâfizh (al-Fath: 3/16)

Dan pendapat yang tampak unggul –wallahu a’lam- bahwa berkurbanitu adalah sunnah muakkadah. Dalil-dalil (yang terlihat) wajib tidak menunjukkan atas kewajibannya, (lantaran hadits-hadits tersebut tidak lepas dari dua hal) apakah itu karena ketidakshahihan hadits ataukah hanya semata-mata perbuatan (Nabi). Semata-mata perbuatan (Nabi) tidak sampai pada hukum wajib dengan sendirinya sebagaimana yang telah ditetapkan dalam ilmu ushul. Hanya saja tidak sepatutnya bagi orang yang mampu, meninggalkan ibadah yang satu ini lantaran didalamnya terkadung bentuk ubudiyah (penghambaan) kepada Allah subhânahu wa ta’ala disamping itu adanya kesepakatan ahli ilmu atas disyariatnya berkurban.

 

المسألة الخامسة: مشروعة لكل أهل بيت:
الأضحية مشروعة لأهل البيت، لقول النبي صلى الله عليه وسلم: (إِنَّ عَلَى أَهْلِ كُلِّ بَيْتٍ فِي كُلِّ عَامٍ أَضْحَاةً) رواه أحمد (20207) وقال الترمذي: حسن غريب، وقال عبد الحق:إسناده ضعيف، وضعَّفه الخطابي.
فعلى هذا فيدخل فيها أهل البيت جميعاً، وقد صح عن النبي صلى الله عليه وسلم فيما رواه مسلم (5203) عن عائشة رضي الله عنها أن النبي صلى الله عليه وسلم قال – على أضحيته -: “باسم الله اللهم تقبل من محمد وآل محمد ومن أمَّة محمد” فدلَّ ذلك على أن دخول أهل البيت في الأضحية جائز.

[Masalah ke-5: Disyariatkannya (berkurban) untuk setiap keluarga]:

Berkurbandisyariatkan untuk (setiap) keluarga, berdasarkan sabda Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam:

 إِنَّ عَلَى أَهْلِ كُلِّ بَيْتٍ فِي كُلِّ عَامٍ أَضْحَاةً

Artinya, “Sesungguhnya wajib bagi setiap keluarga pada tiap tahunnya berkurbandengan satu hewan sembelihan.” (HR. Ahmad (20207) dan at-Tirmidzi berkata, “Hasan Gharib.” ‘Abdul Haq berkata: Isnâdnya Dha’îf, dan dilemahkan oleh al-Khaththâbi). Berdasarkan atas hal ini, maka (satu hewan kurban) berlaku untuk semua penghuni rumah. Shahih dari Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam sebagaimana yang diriwayatkan oleh Muslim (5203) dari ‘Aisyah radhiyallâhu ‘anha bahwa Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah berdoa –atas hewan kurbannya-:

بِاسْمِ اللهِ اللهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ اُمَّةِ مُحَمَّدٍ

Artinya, “Bismillah, ya Allah terimalah dari Muhammad, keluarga Muhammad, dan dari ummat Muhammad.” Hadits ini menunjukkan bahwa masuknya penghuni rumah dalam satu hewan kurban  adalah boleh hukumnya.[2]

المسألة السادسة: حكمتها:
للأضحية حِكم كثيرة، منها:
1- التقرب إلى الله تعالى بامتثال أوامره، ومنها إراقة الدم، ولهذا كان ذبح الأضحية أفضل من التصدق بثمنها –عند جميع العلماء- وكلما كانت الأضحية أغلى وأسمن وأتم كانت أفضل، ولهذا كان الصحابة –رضوان الله عليهم- يسمنون الأضاحي، فقد أخرج البخاري معلقاً في صحيحه: قال يحيى بن سعيد سمعت أبا أمامة بن سهل قال: “كنا نسمن الأضحية بالمدينة، وكان المسلمون يسمنون”.
2- التربية على العبودية .
3- إعلان التوحيد، وذكر اسم الله عز وجل عند ذبحها.
4- إطعام الفقراء والمحتاجين بالصدقة عليهم .
5- التوسعة على النفس والعيال بأكل اللحم الذي هو أعظم غذاء للبدن، وكان عمر بن الخطاب –رضي الله عنه- يسميه شجرة العرب، أخرجه سعيد بن منصور في سننه.
6- شكر نعمة الله على الإنسان بالمال.

[Masalah ke-6: Hikmah berkurban]:

Berkurbanmemiliki banyak hikmah, diantaranya:

  1. Bertaqarrub kepada Allah ta’ala dengan menjalankan perintah-perintahnya dan diantaranya adalah menumpahkan darah. Dengan demikian,  menyembelih kurbanadalah lebih utama dibanding menyedekahkan nilainya-menurut semua ulama-. Maka semakin hewan kurbanitu mahal harganya, gemuk badannya, dan lebih sempurna, maka hal itu lebih utama. Atas dasar inilah para shahabat radhiyallahu ‘anhum menggemukkan hewan-hewan kurban mereka. Diriwayatkan oleh al-Bukhari secara ta’liq didalam shahihnya: Yahya bin Sa’îd berkata: Aku pernah mendengar Abu Umâmah bin Sahl berkata, “Dahulu kami menggemukkan hewan kurbandi Madinah dan kaum muslimin juga pada menggemukkannya.”
  2. Pendidikan atas ‘ubudiyah (penghambaan).
  3. Meng-iklankan tauhid dan menyebutkan nama Allah ‘azza wa jalla ketika menyembelihnya.
  4. Memberikan makan kepada orang-orang fakir dan orang-orang yang membutuhkan dengan bersedekah kepada mereka.
  5.  Berlaku longgar terhadap diri sendiri dan keluarga dengan memakan daging yang ia merupakan sebesar-besar asupan untuk badan dan adalah Umar radhiyallâhu ‘anhu menamakannya dengan Syajaratul ‘Arab. Dikeluarkan oleh Sa’îd bin Manshûr didalam Sunan-nya.
  6. Mensyukuri nikmat harta yang Allah berikan kepada manusia.

المسألة السابعة: التقسيم:
جاء في ذلك عدة أقوال، منها:
– ورد عن ابن عباس “يأكل هو الثلث، ويطعم من أراد الثلث، ويتصدق على المساكين بالثلث “.
– وقيل: يأكل النصف ويتصدق بالنصف.
– والراجح أن يأكل ويهدي ويتصدق ويفعل ما يشاء، وكلما تصدق فهو أفضل.

[Masalah ke-7: Pembagian kurban]:

Ada beberapa pendapat ulama mengenai hal ini, diantaranya:

–       Terdapat berita dari Ibnu ‘Abbâs, “Seseorang memakan sepertiga (dari daging kurbannya), memberikan makan sepertiga bagi siapa yang dikehendakinya dan bersedekah sepertiga untuk orang-orang miskin.”

–       Ada yang berpendapat, “Separuh dimakan dan separuh yang lain disedekahkan.”

–       Dan pendapat yang unggul bahwa seseorang boleh memakan, memberi hadiah, bersedekah, dan melakukan apa saja yang ia kehendaki. Namun setiap kali ia menyedekahkannya maka hal itu tentu lebih utama.[3]

المسألة الثامنة: إهداء الكافر منها:
يجوز أن يهدي منها كافراً غير مقاتل للمسلمين، خاصة إن كان يُرجى إسلامه، وعلى هذا فيجوز أن تهدي عاملاً أو خادمةً أو راعياً ولو كان كافراً، قاله ابن عثيمين رحمه الله.

[Masalah ke-8: Menghadiahkan sebagian (daging) kurban kepada orang kafir]:

Diperbolehkan menghadiahkan sebagian daging kurbankepada orang kafir yang tidak memerangi kaum muslimin khususnya lagi orang kafir yang diharapkan keislamannya. Dengan demikian (daging kurban) boleh dibagikan kepada karyawan, pelayan, atau pengembala sekalipun ia masih kafir, demikian yang dikatakan oleh Ibnu ‘Utsaimîn rahimahullah.[4]

المسألة التاسعة: إذا تعيبت الأضحية بعد شرائها:
من اشترى أضحية ثم أثناء تنزيلها انكسرت أو تعيبت فإنه يضحي بها، ولا حرج لأنه غير مفرط، فهو معذور في الشريعة.

 

[Masalah ke-9: Hewan kurbanmengalami kecacatan setelah dibeli]:

Barangsiapa yang membeli hewan kurbanlalu disaat menurunkannya (dari kendaraan) ia mengalami keretakan (tulang) atau mengalami kecacatan (lainnya) maka ia diperkenankan berkurbandengannya, tidak ada dosa dalam hal itu karena (pemiliknya) tidak melakukan tindakan kecerobohan. Ia termaafkan dalam syariat.

 المسألة العاشرة: شراء الأضحية دَيْناً:
يجوز شراء الأضحية دَيْناً لمن قدر على السداد، وإذا تزاحم الدَيْن مع الأضحية قدم سداد الدين لأنه أبرأ للذمة

[Masalah ke- 10: Membeli hewan kurbandengan jalan utang:

Diperbolehkan membeli hewan kurbandengan jalan utang bagi orang yang sanggup melunasinya. Dan jika berbenturan antara utang dengan kurban, maka pelunasan utang lebih didahulukan lantaran hal itu lebih membebaskan dari tanggungan.

 المسألة الحادية عشرة: الأضحية عن الغير:
يجوز أن تضحي عن غيرك العاجز بشرط إذنه، فإن لم يكن عاجزاً فالأصل أن الوجوب متعلق برقبته

[Masalah ke-11: Berkurbanuntuk orang lain]:

Anda boleh berkurbanuntuk orang lain yang lemah/tidak sanggup (untuk berkurban) dengan syarat ada izinnya[5]. Adapun jika dia bukan orang yang lemah (sanggup) maka pada asalnya kewajiban itu berlaku pada setiap individu.

المسألة الثانية عشرة: هبة الأضاحي للمحتاجين ليضحوا بها:
قسم النبي صلى الله عليه وسلم ضحايا بين أصحابه” رواه البخاري.
ففيه الدلالة على أن أهل الغنى يوزعون ضحايا على المعوزين لأجل أن يضحوا بها.

 

[Masalah ke-12: Menghibahkan hewan kurbanbagi orang-orang yang membutuhkan agar mereka berkurbandengannya]:

Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah membagi-bagikan hewan kurbandiantara para shahabatnya.” (HR. al-Bukhâri.)

Hadits diatas mengandung petunjuk bahwa orang kaya boleh membagi-bagikan hewan kurban kepada orang-orang miskin dengan tujuan agar mereka dapat berkurbandengannya.

المسألة الثالثة عشرة: مستحبات الأضحية:
المستحبات: أفضلها أسمنها وأغلاها ثمنا، وأنفسُها عند أهلها، وعليه أن يتفحص الأضحية

 

[Masalah ke-13: Hal-hal yang disukai pada hewan kurban]:

Hal-hal yang disukai adalah: Yang paling utama adalah yang paling gemuk, lebih mahal harganya, dan lebih berharga disisi pemiliknya. Seseorang juga mesti memeriksa (kondisi) hewan kurbannya (saat memilih / menentukan hewan kurban tersebut-pentj.).

المسألة الرابعة عشرة: المرأة تمسك عن شعرها وأظفارها:
المرأة إن كانت صاحبة أضحية فإنها تمسك عن شعرها وأظفارها لحديث أم سلمة رضي الله عنها، وهو عام فيمن أراد أن يضحي فيشمل الرجال والنساء.

[Masalah ke-14: Wanita menahan dirinya (dari memotong) rambut dan kuku-kukunya]:

Wanita jika ia adalah pemilik hewan kurban maka ia mesti menahan dirinya (dari memotong) rambut dan kukunya berdasarkan pada hadits Ummu Salamah radhiyallâhu ‘anha. Dimana hadits tersebut berlaku secara umum bagi orang yang hendak berkurban, maka hal itu mencakup laki-laki dan perempuan.

المسألة الخامسة عشرة: البقرة والبعير:
البقرة والبعير يشترك فيه سبعة أو أقل، أما أكثر من سبعة فلا، وقد صح بذلك الدليل.

[Masalah ke-15: Sapi dan unta]:

Diperkenankan bersekutu sebanyak tujuh orang atau kurang darinya untuk hewan sapi dan unta. Adapun lebih dari tujuh[6] orang maka hal itu tidak diperkenankan. Dan shahih dalil yang (mengatur) hal tersebut.

المسألة السادسة عشرة: هل يشترك في الجزور من يريد اللحم؟
يجوز أن يدخل مع المشتركين في البقرة أو البعير من لا يريد الأضحية لكن يريد اللحم.

[Masalah ke-16: Bolehkah orang yang hanya menginginkan daging (ikut) bersekutu dalam unta]?

Diperkenankan[7] bagi orang yang tidak ingin berkurbannamun hanya menginginkan dagingnya, ikut serta bersama orang-orang yang bersekutu dalam sapi atau unta.

المسألة السابعة عشرة: بيع جلد الأضحية:
لا يجوز للمضحي أن يبيع جلد أضحيته؛ لأنها بالذبح تعينت لله بجميع أجزائها، وما تعيّن لله لم يجز أخذ العوض عنه، ولهذا لا يعطى الجزار منها شيئا على سبيل الأجرة.
وقد روى البخاري (1717)، ومسلم (1317) واللفظ له عَنْ عَلِيٍّ رضي الله عنه قَالَ: أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ، وَأَنْ أَتَصَدَّقَ بِلَحْمِهَا وَجُلُودِهَا وَأَجِلَّتِهَا، وَأَنْ لَا أُعْطِيَ الْجَزَّارَ مِنْهَا. قَالَ: نَحْنُ نُعْطِيهِ مِنْ عِنْدِنَا.
وقال الشوكاني رحمه الله في “نيل الأوطار” (5/153): “اتفقوا على أن لحمها لا يباع فكذا الجلود. وأجازه الأوزاعي وأحمد وإسحاق وأبو ثور، وهو وجه عند الشافعية قالوا: ويصرف ثمنه مصرف الأضحية.

[Masalah ke-17: Menjual kulit hewan kurban]:

Tidak diperkenankan bagi orang yang berkurbanmenjual kulit kurbannya; lantaran hewan kurban adalah sembelihan yang semua bagaian-bagian (tubuhnya) diperuntukkan hanya untuk Allah dan sesuatu yang diperuntukkan hanya untuk Allah, pemiliknya tidak boleh mengambil ganti (pembayaran) darinya. Atas dasar itulah, pemilik kurbantidak boleh memberikan upah sedikitpun kepada tukang jagal dari hasil kurbantersebut.

Diriwayatkan oleh al-Bukhâri (1717) dan Muslim (1317) dan lafazh hadits berikut ini adalah miliknya dari ‘Ali radhiyallâhu ‘anu, ia berkata:

أَمَرَنِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ أَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ وَأَنْ أَتَصَدَّقَ بِلَحْمِهَا وَجُلُودِهَا وَأَجِلَّتِهَا وَأَنْ لاَ أُعْطِىَ الْجَزَّارَ مِنْهَا قَالَ « نَحْنُ نُعْطِيهِ مِنْ عِنْدِنَا ».

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkanku untuk mengurusi unta-unta kurban beliau, memerintahkan mensedekahkan daging, kulit, dan jilalnya (kulit yang ditaruh pada punggung unta untuk melindungi dari dingin), serta memerintahkanku untuk tidak memberi sesuatu pun dari hasil sembelihan kurban kepada tukang jagal. Beliau bersabda, “Kami akan memberi upah kepada tukang jagal dari uang kami sendiri”.” (HR. Muslim no. 1317)

Imam asy-Syaukâni rahimahulla dalam Nailul Authâr (5/153) berkata, “Ulama sepakat bahwa dagingnya tidak diperkenankan untuk dijual begitu juga halnya dengan kulit. Namun al-Awzâ’I, Ahmad, Ishâq, Abu Tsaur, dan satu pendapat dikalangan asy-syafi’i membolehkannya. Mereka berkata, “Dan didistribusikan nilainya sebagaimaina pendistribusian hewan kurban.

المسألة الثامنة عشرة: التصدق بالجلد:
يجوز أن يتصدق بالجلد على فقيرٍ، أو يهب لمن يشاء

 

[Masalah ke-18: Menyedekahkan kulit (kurban)]

Kulit kurbanboleh disedekahkan kepada orang fakir, atau dihadiahkan kepada siapa yang dikehendaki.

المسألة التاسعة عشرة: الفقير يبيع ما يصله من لحم الأضحية:
يجوز للفقير أن يبيع ما يصله من لحم الأضاحي.

[Masalah ke-19: Si fakir menjual daging kurban yang telah diterimanya]:

Si fakir diperbolehkan menjual dagingkurbanyang telah diterimanya.

المسألة العشرون: إعطاء الأضحية للجمعيات الخيرية:
يجوز إعطاء الأضحية للجمعيات الخيرية لصرفها على الفقراء، لكن الأفضل أن يضحي الإنسان بنفسه، ويتولى توزيعها، فإن إظهار الشعيرة من مقاصد الأضاحي وهي عبودية لله.

[Masalah ke-20: Memberikan hewan kurbankepada yayasan-yayasan sosial]:

Diperkenankan memberikan hewan kurbankepada yayasan-yayasan sosial untuk didistribusikan kepada orang-orang fakir, namun lebih utama jika (sipemilik kurban) menyembelih sendiri kurbannya[8] dan terjun langsung dalam membagikannya, karena menampakkan syi’ar merupakan maqâshid (tujuan-tujuan yang diinginkan) dari berkurban, yaitu penghambaan kepada Allah.

المسألة الحادية والعشرون: ما يقال عند ذبح الأضحية:
يتلفظ الذابح بقوله: “اللهم هذا عني وعن أهل بيتي” كما ثبت ذلك عن النبي صلى الله عليه وسلم.

[Masalah ke-21: Apa yang diucapkan saat menyembelih kurban?]

Si penyembelih mengucapkan, “Allaâhumma hadza ‘anni wa ‘an ahli baiti (Ya Allah ini dariku dan dari keluargaku) sebagaimana hal itu valid dari Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam.

المسألة الثانية والعشرون: اجتماع الأضحية مع العقيقة:
إذا اجتمعت الأضحية مع العقيقة فقد اختلف العلماء في إجزاء إحداهما عن الأخرى، وأجازه الحنابلة ومحمد بن إبراهيم مفتي الديار السعودية في زمانه.

[Masalah ke-22: Berkumpulnya antara kurbandan aqiqah]:

Apabila berkumpul antara kurban dengan aqiqah maka ulama berbeda pendapat dalam hal yang satunya telah mencukupi yang lainnya[9]. Hal itu diperbolehkan oleh al-Hanabalah dan Muhammad bin Ibrahim mantan mufti Saudi Arabiyah pada masanya.

المسألة الثانية والعشرون: اجتماع النذر مع الأضحية:
لا يجمع بين النذر والأضحية؛ لأن كلاً منهما مستقل عن الآخر، وباب النذر يتشدد فيه ما لا يتشدد في غيره؛ لأن الإنسان ألزم به نفسه ولم يلزمه الله به.

[Masalah ke-23: Berkumpulnya antara nadzar dan kurban]:

Tidak boleh dikumpulkan antara nadzar dan kurban. Karena keduanya terpisah satu sama lain. Permasalahan nadzar lebih diperketat urusannya apa yang tidak diperketat pada yang lainnya; karena (pada nadzar) manusia mengharuskan sesuatu pada dirinya apa yang Allah tidak haruskan padanya.

المسألة الثالثة والعشرون: الأضحية تكفي عن أهل البيت:
الأضحية الواحدة تكفي عن أهل البيت كلهم مهما كان العدد.

[Masalah ke-24: (Satu hewan) kurbanmencukupi satu keluarga]:

Satu hewan kurban mencukupi satu keluarga seberapapun jumlah mereka.

المسألة الرابعة والعشرون: من كان متزوجاً زوجتين:
إن كان الرجل متزوجاً زوجتين أو أكثر فأضحية واحدة تكفي أيضاً كما أجزأت أضحية النبي صلى الله عليه وسلم عن زوجاته جميعاً.

[Masalah ke-25: Seorang yang memiliki dua istri]:

Jika seseorang memiliki dua istri atau lebih maka satu hewan kurbanjuga mencukupi (mereka) sebagaimana kurbanNabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam mencukupi untuk semua istrinya.

المسألة الخامسة والعشرون: إن كان معه في البيت من ليس من أولاده:
من معه يتيم أو ابن لابنته أو ابن لابنه، ويأكل ويعيش معهم في البيت، فأضحية صاحب البيت تكفي عنه.

 

[Masalah ke-26: Jika didalam rumah ada yang bukan termasuk anaknya]:

Barangsiapa yang bersamanya ada anak yatim atau keponakannya, dan anak itu makan dan minum bersama mereka di rumah, maka kurbantuan rumah telah mencukupinya.

المسألة السادسة والعشرون: إن كان في البيت إخوة:
ففيه تفصيل:
1- إن كانا مستقلين عن بعضهما في البيوت فالأصل أن لكل واحد أضحية تخصه.
2- إن كانا مشتركين في بيت واحد فأضحية واحدة تكفي على الصحيح.

[Masalah Ke-27: Jika dirumah ada seorang saudara]:

Dalam hal ini ada perincian:

1-      Jika keduanya terpisah dari sebagian yang lain di beberapa rumah maka pada asalnya masing-masing dari keduanya berkurban.

2-      Jika keduanya menempati rumah yang satu maka satu hewan kurban mencukupi (untuk semua) menurut pendapat yang sahih.

المسألة السابعة والعشرون: إن كان الأولاد متزوجين ففي أضحيتهم تفصيل:
1- إن كان الأولاد مع أبيهم في بيته: فتكفي أضحيته.
2- إن كان الابن معزولاً: فيضحي عن نفسه أفضل إن كان قادراً، فإن رأى أن هذا يؤثر على شعور والده، وقد يشعر والده بالألم، فلا بأس أن يكتفي بأضحية والده، فهم جميعا أهل بيتٍ واحد.

[Masalah ke- 28: Jika masing-masing anak telah menikah maka urusan kurban mereka terinci sebagai berikut]:

  1. Jika anak-anak tersebut berkumpul bersama ayah mereka di rumahnya, maka kurban sang ayah mencukupi (mereka).
  2. Jika anak terpisah (tidak tinggal bersama ayah) maka ia berkurbanuntuk dirinya sendiri adalah lebih utama jika ia mampu. Namun, jika ia memandang bahwa hal ini dapat mempengaruhi perasaan orang tuanya, dan terkadang orang tua merasa sakit dengan hal itu (tersinggung), maka tidak mengapa ia mencukupkan diri dengan kurban orang tuanya, karena mereka semua adalah satu keluarga.

 

المسألة الثامنة والعشرون: أضحية تارك الصلاة:
تارك الصلاة لا تحل ذبيحته ولا تؤكل، وعلى مبني على القول بكفر تارك الصلاة سواء جحودا باتفاق العلماء، أو تهاونا على الصحيح من أقوالهم.

[Masalah ke-29: Kurbanorang yang meninggalkan shalat]:

Orang yang meninggalkan shalat tidak halal sembelihannya dan tidak boleh pula dimakan (kurbannya). Dibangun atas dasar pendapat kafirnya orang yang meninggalkan shalat apakah atas dasar pengingkaran menurut kesepakatan ulama atau karena meremehkan menurut pendapat yang shahih dari beberapa pendapat mereka yang ada.

المسألة التاسعة والعشرون: التسمية والتكبير على الأضحية:
يشترط أن يسمي، ويستحب أن يكبر، ثم يذكر من يريد من أهله باسمه، ولو شملهم بقوله: وعن أهل بيتي فلا بأس بذلك.

[Masalah ke-30: Tasmiyah (membaca: Basmalah) dan takbir untuk kurban]:

Disyaratkan bertasmiyah dan disukai bertakbir, kemudian menyebutkan nama orang yang dikehendaki dari keluarganya. Jika mereka dicakupkan dengan ucapan, ‘Dan dari keluargaku,” maka hal itu tidaklah mengapa.

 


[1] Ibnu Hazm berkata, “Tidak ada riwayat sahih dari seorang sahabatpun yang menyatakan bahwa qurban itu wajib.” (lihat Al Muhalla 5/295).

[2] Juga berdasarkan pada hadits Abu Ayyub Al-Anshary, ia berkata :
“Artinya : Di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada seorang berkurban dengan seekor kambing untuknya dan keluarga-nya.” [Shahih.Dikeluarkan Ibnu Majah dan At-Tirmidzi dan di shahihkannya dan dikeluarkan Ibnu Majah semisal hadits Abu Sarihah dengan sanad shahih] (Abu Halbas)

[3] Imam asy-Syaukâni berkata, “Hadits diatas (yakni: Makanlah, berilah makan, dan simpanlah) adalah dalil bahwa tidak ada ukuran tertentu untuk yang akan dimakan. Bahwa seseorang boleh saja memakan kurbannya seberapa yang ia mau sekalipun banyak selama kurban tersebut tidak dihabiskan lantaran ada sabda Nabi, “Berilah makan.” (Nailul Authâr 5/220).

[4] Lajnah Daimah (Majlis Ulama’ saudi Arabia) ditanya tentang hukum memberikan daging kurban kepada orang kafir. Jawaban Lajnah:

“Kita dibolehkan memberi daging qurban kepada orang kafir Mu’ahid [orang kafir yang mengikat perjanjian damai dengan kaum muslimin. Termasuk orang kafir mu’ahid adalah orang kafir yang masuk ke negeri islam dengan izin resmi dari pemerintah-red.]  baik karena statusnya sebagai orang miskin, kerabat, tetangga, atau karena dalam rangka menarik simpati mereka… namun tidak dibolehkan memberikan daging qurban kepada orang kafir Harby [orang kafir yang memerangi kaum muslimin, red.] karena kewajiban kita kepada kafir harby adalah merendahkan mereka dan melemahkan kekuatan mereka. Hukum ini juga berlaku untuk pemberian sedekah. Hal ini berdasarkan firman Allah, yang artinya:

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (Qs. Al Mumtahanah 8)

Demikian pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memerintahkan Asma’ binti Abu Bakr radhiallahu ‘anhu untuk menemui ibunya dengan membawa harta padahal ibunya masih musyrik.” (Fatwa Lajnah Daimah no. 1997)

[5] Tidak ada dalil atas syarat ini. karena dalam transaksi pemberian sedekah maupun hadiah tidak dipersyaratkan memberitahukan kepada orang yang diberi sedekah maupun hadiah. (Abu Halbas).

[6] Pendapat yang benar; boleh bersekutu membeli seekor unta untuk sepuluh orang. Dari Ibnu ‘Abbâs radhiyallâhu ‘anhu, ia berkata, “Kami pernah bersama Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dalam suatu safar, maka kami sama-sama berkurban untuk unta sepuluh orang dan sapi untu tujuh orang.” (Hasan. HR. At-Tirmidzi 1505 dan Ibnu Majah 3/47). (Abu Halbas)

[7] Demikian pendapat mayoritas ulama, lantaran dalam hadits Râfi’ bin Khadij disebutkan “Bahwa sepuluh ekor kambing itu sebanding dengan satu ekor unta,” (HR.An-Nasâi) dan bagian dari tiap-tiap orang (yang bersekutu) yang teranggap adalah niatnya sendiri bukan niat kawannya yang bersekutu- demikian pendapat Ahmad dan Mâlik.

[8] Sebaimana Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam menyembelih kurbannya. Dari Anas bin Mâlik, ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah berkurban dengan dua domba putih yang bertanduk yang beliau sembelih dengan tangannya sendiri.” (Muttafaq ‘Alaihi).

[9] Dalam mazhab al-Malikiyah dan asy-Syafi’iyyah serta satu riwayat dari Ahmad, bahwa hal itu tidak mencukupi. Mengingat kedua ibadah tersebut (Kurban dan aqiqah) memiliki sebab yang berbeda. (Lihat Tuhfatul Muhtaj 9/371).

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: