//
you're reading...
Fiqih

Puasa Sepuluh Awal Dzulhijjah (Syaikh Musthafa al-‘Adawi & Syaikh ‘Abdul ‘Azîz bin Ibrâhim al-Khudhair)


Ada beberapa hal yang disepakati oleh ‘ulama dan diketahui baik oleh kalangan awam mengenai amalan yang dianjurkan pada sepuluh awal bulan Dzulhijjah, diantaranya adalah berpuasa pada tanggal 9 Dzulhijjah atau disebut dengan puasa ‘Arafah dan berqurban pada tanggal 10 Dzulhijjah. Dan ada pula amalan yang diperselisihkan oleh ‘Ulama akan kesunnahannya dan tidak begitu populer dikalangan awam, yaitu berpuasa penuh dari tanggal 1-9 Dzulhijjah (atau disebut dengan istilah berpuasa di sepuluh awal Dzulhijjah). Apakah puasa ini benar-benar disunnahkan (sebagaimana yang dikatakan oleh mayoritas ahli fiqh) ataukah bukan hal yang sunnah? Untuk mendapatkan jawabannya, maka silahkan menyimak dua fatwa berikut ini:
————————-

– Syaikh Musthafa al-‘Adawi-

Soal:
Apa hukum berpuasa di sepuluh awal dari bulan Dzulhijjah?

Jawab:
(Mengenai) berpuasa di sepuluh awal dari bulan Dzulhijjah terdapat dua hadits dari Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam tentangnya:

Hadits pertama:
Hadits Ummul Mukminîn ‘Aisyah radhiyallâhu ‘anha yang dikeluarkan oleh Muslim yang redaksinya, “Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam samasekali tidak pernah berpuasa sepuluh (hari awal Dzulhijjah).”

Hadits kedua:
Dikeluarkan oleh an-Nasâi dan lainnya dari jalur seorang rawi yang bernama Hunaidah bin Khâlid, terkadang ia meriwayatkannya dari Hafshah ia berkata, “Empat hal yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam: (diantaranya): puasa sepuluh (hari awal Dzulhijjah).” (Pernyataan) Hunaidah (pada riwayat ini) diperselisihkan oleh ulama, sebab terkadang ia meriwayatkan dari ibunya, dari Ummu Salamah sebagai ganti dari Hafshah, dan terkadang pula dari Ummu Salamah secara langsung, kemudian ia mendatangkan bentuk lain dari bentuk-bentuk yang berbeda!”

Dari sisi keabsahan, maka yang unggul –wallahu subhânahu wa ta’ala a’lam- bahwa hadits ‘Aisyah yang terdapat di dalam shahîh Muslim adalah lebih shahîh, sekalipun padanya terdapat bentuk perselisihan dari al-A’masy dan Manshûr.

Namun diantara ulama ada yang mencoba mengkompromikan dua hadits tersebut yang kesimpulannya, “Bahwa masing-masing dari istri Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam menceritakan apa yang ia saksikan dari beliau, bagi yang tidak menyaksikan menafikkan keberadaannya, dan yang menyaksikan menetapkan keberadaannya, sedang Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam sendiri menggilir setiap istrinya dalam sembilan malam (hanya) satu malam. Maka atas dasar ini dapat dikatakan, “Jika seseorang terkadang berpuasa dan terkadang tidak berpuasa, atau ia berpuasa beberapa tahun lalu tidak berpuasa beberapa tahun (berikutnya) ada benarnya, maka manapun dari dua pendapat tersebut diamalkan maka ia telah memiliki salaf(pendahulu).

Dan diantara ahli ilmu ada yang memasukkan puasa dalam cakupan ‘amalan shalih’ yang terdapat didalam sabda Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, “Tidak ada hari-hari di mana amalan shalih yang dikerjakan didalamnya lebih dicintai oleh Allah daripada sepuluh (hari awal Dzulhijjah). Para shahabat bertanya: Termasuk pula jihad fisabilillah? Berliau bersabda, “Ya, termasuk pula jihad fisabilillah, kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya dan tidak kembali darinya sedikitpun.”

———————————

-Syaikh ‘Abdul ‘Azîz bin Ibrâhim al-Khudhair-

Telah datang dari imam yang empat atas dianjurkannya berpuasa pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.

Dalam masalah ini terdapat hadits Hunaidah bin Khâlid dari istrinya (Hunaidah) dari salah seorang istri Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Adalah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa sembilan (hari) pada bulan Dzulhijjah.” HR. Abu Dâwud, at-Tirmidzi, dan lainnya.

Namun berita (dari Hunaidah) ini padanya terdapat idhthirab (kegoncangan), dinilai cacat oleh al-Mundziri dan lainnya. Tidak ada satu beritapun yang valid dari Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau pernah berpuasa pada sepuluh (hari awal Dzulhijjah), (bahkan sebaliknya) ‘Aisyah radhiyallâhu ‘anha pernah menyatakan, “Aku sama sekali tidak pernah melihat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada sepuluh (hari awal Dzulhijjah).” HR. Muslim di dalam Shahihnya.

Dengan demikian kita dapat mengatakan bahwa disyariatkannya berpuasa pada sepuluh (hari awal Dzulhijjah) ini ditinjau dari masuknya (puasa) sebagai amalan shalih namun bukan (puasa) sunnah khusus untuk sepuluh (hari awal Dzulhijjah), berdasarkan keumuman hadits Ibnu ‘Abbas yang lalu, “Tidak ada hari-hari di mana amalan shalih..” , dan tidak diperkenankan mengeluarkan amalan puasa dari keumuman ini kecuali dengan dalil dan tidak ada dalil (yang mengeluarkannya) dari permasalahan ini bahkan para shahabat memahami masuknya semua amalan ketaatan (dalam hadits tersebut) dimana mereka sampai bertanya, “Termasuk pula jihad fisabilillah?” beliau menjawab, “Ya, termasuk pula jihad fisabilillah, kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya dan tidak kembali darinya sedikitpun.” Maka ini adalah seutama-utama amal di sepuluh (hari awal Dzulhijjah), adapun amal-amal yang lainnya maka tidaklah mungkin disandingkan dengan amal di sepuluh (hari awal bulan Dzulhijjah) ini.

Oleh: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Ibrâhim al-Khudhair
Dalam risalah Fadhâil ‘Asyra Dzilhijjah

Kesimpulan:
1. Tidak ada yang disebut dengan istilah puasa khusus 10 awal Dzulhijjah.
2. Puasa adalah bagian dari ‘amalan shalih’, dengan demikian berpuasa pada sepuluh awal Dzulhijjah adalah sunnah, demikian pendapat mayoritas ulama.
3. Barangsiapa yang mencukupkan berpuasa pada tanggal 9 Dzulhijjah saja tanpa melakukan aktivitas puasa sebelumnya sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukannya, atau terkadang berpuasa dan terkadang pula tidak (sebagaimana yang dikompromikan oleh para ulama) maka pendapat ini, juga tidak jauh dari kebenaran. Wallâhu a’lam. (Abu Halbas).

Dikumpulkan, disimpulkan dan diterjemahkan oleh:
Abu Halbas Muhammad Ayyub
Jember, 01 Dzulhijjah 1433 H.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: