//
you're reading...
Fiqih

80 Permasalahan tentang Hukum Udhhiyah (Kurban) – Bagian 3 [Dari 3 Tulisan] –


المسألة الستون: من كان له أضحية وهو وكيل على أضحية غيره فمتى يأخذ من شعره؟
من كان له أضحية وهو وكيل عن غيره أيضا، فيجوز أن يأخذ من شعره وأظفاره بعد أن يذبح أضحيته ولو لم يذبح أضحية من وكله.

[Masalah ke-61: Barangsiapa yang memiliki hewan kurban dan ia (juga) berstatus sebagai wakil atas kurban milik orang lain, maka kapankah  ia boleh mengambil rambutnya]?

Barangsiapa yang memiliki hewan kurban dan ia juga berstatus sebagai wakil atas kurban milik orang lain, maka ia boleh mengambil rambut dan kukunya setelah ia menyembelih kurbannya (sendiri) sekalipun ia belum menyembelih kurban orang yang mewakilkannya.

المسألة الحادية والستون: من كان مغتربا في بلد وأهله في بلد آخر:
من كان مغتربا في بلد وأهله في بلد آخر كالعمال مثلاً فيجوز لهم أن يذبحوا في البلد التي يعملون فيها، ويجوز لهم أن يوكلوا أهلهم أن يذبحوا عنهم.

 

[Masalah ke-62: Barangsiapa yang berada di negeri yang asing (jauh) dan keluarganya berada di negeri yang lain]:

Barangsiapa yang berada di negeri yang asing (jauh) dan keluarganya berada di negeri yang lain seperti para pekerja, maka ia boleh berkurban dinegeri dimana ia bekerja dan diperbolehkan juga ia mewakilkan kepada keluarganya untuk menyembelihkan dirinya.

المسألة الثانية والستون: إذا تعارض الدَيْن والأضحية فأيهما يقدم:
إذا تعارض الدَيْن والأضحية فيقدم الدْين لعظم خطره، ولأنه أوجب.

[Masalah ke-63: Jika berbenturan antara utang dan kurban, makanah dari keduanya yang didahulukan?]:

Apabila berbenturan utang dan kurban, maka utang lebih didahulukan lantaran bahayanya yang begitu besar dan lebih wajib (untuk ditunaikan).

 

المسألة الثالثة والستون: الأضحية بالخنثى:
اختلف العلماء في الأضحية بالخنثى، والصحيح الجواز؛ لأنه ليس من العيوب الواردة، وغيرها أكمل منها.

 

[Masalah ke-64: Berkurban dengan hewan khuntsa (memiliki kelamin ganda/hermaphrodite]:

Ulama berbeda pendapat dalam hal berkurban dengan hewan khuntsa. Pendapat yang benar adalah boleh; lantaran khuntsa bukanlah termasuk aib yang warid didalam hadits, namun hewan kurban yang selainnya adalah lebih sempurna darinya.

المسألة الرابعة والستون: صفة ذبحها:
يسن أن يذبحها بيده، فإن كانت من البقر أو الغنم أضجعها على جنبها الأيسر، موجهة إلى القبلة، ويضع رجله على صفحة العنق، ويقول عند الذبح: بسم الله والله أكبر، اللهم هذا منك ولك، اللهم هذا عني (أو اللهم تقبل مني) وعن أهل بيتي، أو عن فلان -إذا كانت أضحية موصٍّ.

 

[Masalah ke-65: Tatacara menyembelih hewan]:

Disunnahkan menyembelih sendiri. Jika hewan kurban adalah sapi dan kambing maka hendaklah ia dibaringkan diatas rusuk kirinya, dihadapkan ke kiblat, serta kaki diletakkan diatas leher dekat kepala, dan berkata disaat menyembelihnya, “Bismillah wallâhu akbar, Allâhumma hadza minka wa laka, Allâhumma hadza ‘anni (Bismillah wa llâhu akbar, ya Allah ini dari-Mu dan untuk-Mu, ya Allah ini dariku (atau: Allâhumma taqabbal minni/ ya Allah terimalah dariku) wa ‘an ahli baiti (dan dari keluargaku) atau dari sifulan (jika hewan kurban tersebut adalah wasiat).

 

المسألة الخامسة والستون: الأضحية بالخروف الأسترالي:
الخروف الأسترالي هو مقطوع الإلية، وقد سبق بيان جواز الأضحية بما كان كذلك، خاصة إن كان ذلك من أصل الخلقة كما في هذا الخروف، والله أعلم.

 

[Masalah ke-66: Berkurban dengan kambing Autralia]:

Kambing Australia adalah kambing yang terpotong ekornya, dan telah berlalu penjelasannya akan bolehnya berkorban dengan kondisinya seperti itu, khususnya lagi jika hal itu asal penciptaannya seperti pada kambing Australia ini, wallâhu a’lam.

المسألة السادسة والستون: من ذبح أضحيته ليلة العيد:
من ذبح أضحيته ليلة العيد نظرا للزحام على الجزارين فإنها لا تقع أضحية وإنما شاته شاة لحم، وعليه أن يذبح مكانها أخرى.

 

[Masalah ke-67: Orang yang menyembelih hewan kurbannya pada malam ‘Id:]

Barangsiapa yang menyembelih kurbannya di malam I’d dengan pertimbangan banyaknya orang yang berdesak-desakan dihadapan tukang jagal, maka sembelihannya tidak teranggap, kambing yang ia sembelih adalah kambing daging (sembelihan biasa), dan ia mesti menyembelih kambing lain sebagai gantinya.

المسألة السابعة والستون: أيهما الأفضل أن يذبح أضحية أم يتصدق بثمنها:
الأفضل أن يذبح الأضحية كما فعل النبي صلى الله عليه وسلم، وقد فصل بعض العلماء بين الأضحية عن الحي فالأفضل أن يذبحها، وأما الأضحية عن الميت فالأفضل أن يتصدق بثمنها لأن الصدقة عن الميت متفق عليها بين العلماء، وهذا له وجه قوي.
وقال ابن المسيب: لأن أضحي بشاة أحب إليَّ من أن أتصدق بمائة درهم.

 

[Masalah ke-68: Manakah yang lebih utama; berkurban atau menyedekahkan nilainya]:

Yang lebih utama adalah berkurban sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Sebagian ulama ada yang merinci antara berkurban untuk yang hidup maka yang lebih utama adalah berkurban, sedang berkurban untuk yang telah mati maka yang lebih utama adalah menyedekahkan nilainya karena sedekah untuk orang yang telah mati disepakati keberadaannya oleh ulama, dan perincian seperti ini memiliki bentuk yang kuat. Al-Musayyib berkata, “ Aku berkurban dengan seekor kambing lebih aku sukai daripada bersedekah seratus dirham.”

المسألة الثامنة والستون: هل على المسافر أضحية:
اختلف العلماء في ذلك، والصحيح أن السفر لغير الحج لا يمنع الأضحية وهو قول الجمهور من أهل العلم، وذلك لعموم الأدلة الواردة فيها.

[Masalah ke-69: Apakah musafir juga mesti berkurban]:

Ulama berbeda pendapat dalam hal itu dan pendapat yang benar bahwa musafir selain safar haji tidak dilarang berkurban  dan yang demikian ini adalah pendapat jumhur ulama dari ahli ilmu, berdasarkan dengan keumuman dalil yang warid tentang kurban.

المسألة التاسعة والستون: التضحية بالعجول المسمنة:
العجول المسمنة هي التي لم تبلغ السن المعتبرة شرعاً، لكن يقوم أهلها بتسمينها فتصبح أكثر وزناً من التي بلغت السن المعتبرة، والصحيح أنه لا يجوز أن ينقص من السن لثبوت ذلك في الأحاديث، وليس اللحم هو المقصود من الأضحية وإنما المقصود التعبد لله بالذبح.

 

[Masalah ke-70: Berkurban dengan ‘ajûl al-Musminah]:

‘Ajûl al-Musminah adalah hewan yang belum mencapai usia mu’tabar (yang teranggap) oleh syari’at, tetapi pemiliknya menggemukkannya sehingga timbangannya lebih berat dari hewan yang telah mencapai usia mu’tabar.
Pendapat yang benar tidak diperkenankan berkurban dengan hewan yang usianya kurang (dari usia mu’tabar), lantaran validnya masalah usia dalam hadits-hadits kurban. Bukanlah (persoalan) daging yang dituju dari berkurban tetapi yang dituju adalah ta’abbud (beribadah) kepada Allah dengan berkurban.

المسألة السبعون: أفضل الألوان في الأضحية:
الأفضل أن يكون كأضحية النبي صلى الله عليه وسلم وهو: اللون الأملح، وهو: الذي فيه سواد وبياض والبياض أكثر، ويقال هو الأغبر.

[Masalah ke-71: Warna yang terbaik pada hewan kurban]:

Yang paling utama adalah seperti apa yang dikurbankan oleh Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, yaitu: warna amlah, warna yang tercampur antara hitam dan putih ditubuhnya, namun warna putih lebih mendominasi, dan dikatakan ia adalah warna seperti debu.”

 

المسألة الحادية والسبعون: إذا فات وقت الأضحية فكيف يصنع؟
إذا فات وقتها فإنها تكون شاة لحم إن شاء ذبحها ووزعها على الفقراء وله أجر الصدقة، وإلا فلا تقع أضحية عنه لفوات وقتها على الصحيح من أقوال العلماء.

[Masalah ke-72: Apabila terluput waktu berkurban, apa yang mesti diperbuat?]:

Apabila waktunya terluput maka sembelihannya hanyalah kambing daging (sembelihan biasa), jika mau ia boleh menyembelihnya dan membagi-bagikannya kepada orang-orang fakir dan baginya pahala sedekah, dan jika tidak (niat seperti itu) maka kurban darinya tidak teranggap lantaran luputnya waktu berkurban, demikian pendapat yang benar dari pendapat ahli ilmu.

 

المسألة الثانية والسبعون: حلب الأضحية:
اختلف العلماء في حلب الأضحية، والصحيح أنه يجوز لصاحبها أن يحلب ما زاد على ولدها ولم يضر بها، وقد رواه البيهقي عن مغيرة بن حذف العبسي قال: كنا مع علي رضي الله عنه بالرحبة، فجاء رجل من همدان يسوق بقرة معها ولدها فقال: إني اشتريتها لأضحي بها وإنها ولدت. قال: فلا تشرب من لبنها إلا فضلاً عن ولدها، فإذا كان يوم النحر فانحرها هي وولدها عن سبعة.

[Masalah ke-73: Susu hewan kurban]:

Ulama berbeda pendapat mengenai susu hewan kurban, dan pendapat yang paling benar bahwa pemilik kurban boleh memerah susunya apa yang lebih dari (yang diperlukan) oleh anaknya serta tidak membahayakan sang induk. Al-Baihaqi meriwayatkan dari Mughîrah bin Hadzf al’Absi ia berkata, “Kami pernah bersama Ali radhiyallâhu ‘anhu di Rahbah, lalu datang seorang laki-laki dari Hamdân yang tengah menggiring sapi yang diiringi oleh anaknya, lalu ia berkata, “Aku (baru saja) membelinya untuk aku kurbankan namun ia baru saja melahirkan.” Ali berkata, “Janganlah kamu minum susunya kecuali yang lebih dari (keperluan) anaknya dan apabila tiba hari ‘Id maka sembelihlah ia dan anaknya untuk tujuh (orang).”

 

المسألة الثالثة والسبعون: جز صوف الأضحية:
صوف الأضحية إن كان جزه أنفع لها، مثل أن يكون في زمن الربيع تخف بجزه وتسمن: جاز جزه ويتصدق به.
وإن كان لا يضر بها، لقرب مدة الذبح، أو كان بقاؤه أنفع لها، لكونه يقيها الحر والبرد: لم يجز له أخذه، قاله ابن قدامة رحمه الله.

 

[Masalah ke-74: Mencukur bulu kurban:]

Bulu hewan kurban, jika dicukur lebih bermanfaat baginya, semisal jika ia berada di musim semi dan dipotong untuk membuat (gerakan) tubuhnya lebih ringan sekaligus untuk menggemukkannya, maka boleh di cukur lalu disedekahkan.

Dan jika keberadaan bulunya  tidak membahayakannya, lantaran  dekatnya masa penyembelihan atau keberadaan (bulunya) lebih bermanfaat baginya, lantaran dapat melindunginya dari panas dan dingin; Maka ia tidak boleh mencukurnya, demikian yang dikatakan oleh Ibnu Qudâmah.

المسألة الرابعة والسبعون: الادخار من لحم الأضحية:
ثبت في الأحاديث الصحيحة، أن النبي صلى الله عليه وسلم نهى عن ادخار لحوم الأضاحي، في إحدى السنوات، ثم أذن في الادخار بعد ذلك، أي أن النهي عن الادخار منسوخ، وبهذا قال جماهير أهل العلم..

 

[Masalah ke-75: Menyimpan sebagian daging kurban]:

Terdapat didalam hadits yang shahih bahwa Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah melarang menyimpan daging kurban pada salah satu tahun, kemudian setelah (tahun tersebut) beliau mengizinkan menyimpannya. Dalam arti lain bahwa larang menyimpan daging kurban telah terhapus, demikian pendapat yang dianut oleh mayoritas ulama.

المسألة الخامسة والسبعون: الانتفاع بجلد الأضحية:
يجوز على الصحيح الانتفاع بجلد الأضحية لما ثبت في الصحيح من حديث عائشة رضي الله عنها قالت: دفَّ ناس من أهل البادية، حضرة الأضحى زمن الرسول صلى الله عليه وسلم فقال رسول الله: ادخروا ثلاثاً ثم تصدقوا بما بقي، فلما كان بعد ذلك قالوا: يا رسول الله إن الناس يتخذون الأسقية من ضحاياهم ويجملون منها الودك، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم وما ذاك؟ قالوا: نهيت أن تؤكل لحوم الضحايا بعد ثلاث، فقال: إنما نهيتكم من أجل الدافة فكلوا وادخروا وتصدقوا )، والأسقية: جمع سقاء ويتخذ من جلد الحيوان.

[Masalah ke- 76: Memanfaatkan kulit kurban]:

Menurut pendapat yang shahih diperbolehkan memanfaatkan kulit kurban, berdasarkan hadits yang shahih dari hadits ‘Aisyah radhiyallâhu ‘anha ia berkata: Pada zaman Rasulullah saw, ada beberapa keluarga dari penduduk suatu desa berdatangan (menanyakan) tentang daging kurban. Rasulullah saw menjawab: ‘Simpanlah selama tiga hari, kemudian shadaqahkanlah sisanya’. Namun setelah itu, kemudian mereka mengatakan: ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang-orang membuat tempat air dari (kulit) hewan qurban, lalu mereka mengisinya dengan samin’. Rasulullah saw bertanya: ‘Apa maksudnya?’ Mereka menjawab: ‘Anda telah melarang makan daging kurban lewat dari tiga hari’. Kemudian Rasulullah saw bersabda: ‘Hanyasanya saya melarang kamu sekalian karena masih banyak orang yang membutuhkan; maka makanlah, simpanlah, dan sedekahkanlah’.”

 

المسألة السادسة والسبعون: إذا اشترى أضحية فهل يجوز تبديلها بأفضل منها؟
اختلف العلماء في ذلك، والصحيح قول الجمهور من الحنفية والمالكية والحنابلة أنه يجوز تبديلها بأفضل منها؛ لأنه بدل حقا لله بحق آخر أفضل منه.

 

[Masalah ke-77: Jika seseorang telah membeli hewan kurban,apakah ia boleh menggantinya dengan hewan yang lebih baik darinya?]:

Ulama berbeda pendapat tentang hal itu dan pendapat yang benar adalah pendapat mayoritas dari kalangan Hanafiyyah, al-Mâlikiyyah, dan al-Hanâbalah bahwa boleh menukarkannya dengan hewan yang lebih baik darinya; lantaran ia mengganti hak Allah dengan dengan hal yang lain yang lebih baik darinya.

المسألة السابعة والسبعون: هل يجوز نقل الأضحية إلى غير بلد صاحبها؟
الأصل أن لا تنقل الأضحية من بلد المضحي، وأن توزع على فقراء بلده المحتاجين قياساً على الزكاة، فإن دعت الحاجة أو كان مصلحة يجب مراعاتها، كأن يوجد فقراء في بلد إسلامي آخر أشد حاجة فإنه يجوز نقلها.

 

[Masalah ke-78: Bolehkah memindahkan hewan kurban ke negeri yang bukan negeri si pemilik kurban?]:

Pada asalnya daging kurban itu tidak bolehdipindahkan dari asal negeri si pemilik kurban, ia dibagikan kepada orang-orang fakir yang membutuhkan yang ada di negerinya dengan menganalogikannya pada zakat. Namun jika adanya dorongan keperluan atau maslahat yang wajib dijaga, semisal terdapat orang-orang fakir di negeri Islam lainnya yang lebih membutuhkan (hewan kurban tersebut) maka seseorang boleh memindahkannya.

المسألة الثامنة والسبعون : من انكسر ظفره أو آذته شعرة وهو محرم
من انكسر ظفره أو آذته شعرة وهو محرم فيجوز له إزالتها ولا حرج عليه في ذلك، ولا يعتبر مرتكبا للنهي الوارد وذلك مراعاة لحاجته ورفع الضرر عنه، وهذا من تيسير الله.

[Masalah ke-79: Barangsiapa yang retak kukunya atau ia tersakiti dengan sehelai rambut sedang ia dalam keadaan terlarang melakukannya]:

Barang siapa yang retak kukunya atau ia tersakiti dengan sehelai rambut sedang ia ada dalam keadaan ihram maka ia boleh menghilangkannya dan tidak ada dosa atasnya dalam hal itu, juga ia tidak teranggap melakukan hal yang dilarang oleh syariat, lantaran ia melakukan itu untuk menjaga keperluannya dan menghilangkan bahaya darinya. Dan ini merupakan kemudahan dari Allah.

المسألة التاسعة والسبعون : هل صح في فضل الأضحية حديث
قال ابن العربي المالكي في كتابه عارضة الأحوذي6/288:”ليس في فضل الأضحية حديث صحيح و قد روى الناس فيها عجائب لم تصح “والمراد بذلك حديث في فضلها على التحديد وإلا فهي من عموم الطاعات التي يثاب عليها المسلم.

[Masalah ke-80: Adakah satu hadits shahih tentang keutamaan berkurban]:

Ibnu al-‘Arabi al-Mâliki dalam kitabnya ‘Âridhatul al-Ahwadzi 6/288 berkata, “Tidak ada satu hadits shahih pun tentang keutamaan berkurban, dan orang-orang banyak meriwayatkan hadits-hadits yang menakjubkan tentang kurban namun hadits tersebut tidak sah.” Yang dimaksud disini adalah hadits yang secara khusus menyebutkan  keutamaannya, yang ada adalah bahwa berkurban bagian dari ketaatan yang umum yang seorang muslim diberi pahala atasnya.

 

المسألة الثمانون: إن كان صاحب البيت شيخاً كبيراً مخرفاً
إن كان صاحب البيت شيخاً كبيراً مخرفاً فيضحي عن أهل البيت ابنه الأكبر أو أحدهم ولو كانت من البنات أو الزوجة أو غيرهم.

[Masalah ke-81: Apabila shahibul bait (pemilik rumah) seorang laki-laki yang sudah tua renta lagi pikun]:

Apabila shahibul bait (pemilik rumah) seorang laki-laki yang sudah tua renta lagi pikun makan anaknya yang tertua yang menyembelih kurban untuk keluar tersebut atau salah seorang dari mereka sekalipun dari anak perempuan atau istri atau lainnya.

 

 

Diterjemahkan oleh:

Abu Halbas Muhammad Ayyub

Diskusi

One thought on “80 Permasalahan tentang Hukum Udhhiyah (Kurban) – Bagian 3 [Dari 3 Tulisan] –

  1. Harga hewan kurban pasti semakin melambung tinggi saat mendekati Idul Adha, dan sering biasanya penjual memberi harga lebih murah di 3-5 bulan sebelumnya

    Posted by Rifai | Agustus 8, 2016, 4:09 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: