//
you're reading...
Hadits

Garis Sebagai Sutrah


Soal: Bagaimanakah kedudukan hadits tentang bolehnya garis sebagai sutrah [pembatas shalat]? Shahih atau lemah?

Jawab: Pendapat yang rajih, bahwa hadits yang membolehkan garis sebagai sutrah adalah lemah. Mengenai alasan kelemahannya, anda boleh menyimak ulasannya berikut ini[1]:

Hadits (mengenai  bolehnya garis dijadikan sebagai sutrah) dikeluarkan oleh imam Ahmad –dan lainnya- dalam Musnadnya (nomor 7392) dari jalur Sufyân dari Ismâil bin Umayyah dari Abu Muhammad bin ‘Amr bin Huraits al-‘Uzhri. Dijalur yang lain ia (Ismâil bin Umayyah) berkata: Dari Abu ‘Amr bin Muhammad bin Huraits dari kakeknya: Aku pernah mendengar Abu Hurairah berkata: Abul Qâsim (Muhammad) pernah bersabda, “Apabila salah seorang diantara kalian shalat,maka hendaklah ia meletakkan sesuatu dihadapannya, apabila ia tidak mendapatkan sesuatu pun, maka hendaklah ia menancapkan tongkat, dan jika tongkat juga tidak ada bersamanya, maka hendaklah ia membuat garis, setelah itu apa saja yang lewat didepan dia tidak akan memudharatkannya.” Ini adalah hadits lemah, tidak valid dari Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Padanya terdapat dua ‘illat (cacat) yang jelas:

 ‘illat yang pertama: idhthirab (keguncangan sanad) dan

 ‘illat yang kedua: jahalah (tidak dikenalnya identitas perawi).

Mengenai ke-idhthirabannya, maka hal itu terlihat pada lima sisi berikut ini:

  • Sisi yang pertama: Adanya perbedaan (dikalangan para perawi) pada ‘Ismail bin Umayyah, yaitu perihal tentang nama gurunya dalam hadits ini. Sekali waktu mereka mengatakan gurunya adalah: Abu ‘Amr bin Muhammad bin Huraits. Diwaktu yang lain mereka mengatakan gurunya adalah: Abu Muhammad bin ‘Amr bin Huraits. Dan dikesempatan lain mereka berkata: Huraits bin ‘Ammâr.”  Karena adanya perbedaan ini, imam al-Baihaqi rahimahullah berkata dalam al-Ma’rifah, “Imam asy-Syafi’I mengambil sikap tawaqquf (abstain) dalam menghukumi keshahihan hadits ini lantaran adanya perbedaan para perawi pada Ismâil bin Umayyah dalam Abu Muhammad bin ‘Amr bin Huraits, dimana ada yang mengatakan seperti ini, ada yang mengatakan dari Abu ‘Amr bin Huraits, dan ada pula yang mengatakan selain itu.[2]

Al-Hafizh ibnu Hajar rahimahullahu ta’ala menjawab perbedaan tersebut sebagai berikut, “Berbedanya para perawi dalam penyebutan nama seorang rawi tidaklah memiliki efek. Sebab jika rawi yang dimaksudkan adalah rawi yang tsiqah (terpercaya) maka hal itu tidaklah berbahaya. Adapun jika ia tidak tsiqah, maka kelemahan hadits tidak lain datang dari sisi kelemahan sang perawi bukan datang dari sisi berbedanya para perawi tsiqat mengenai nama perawi tersebut, maka camkanlah ini.[3]

Aku berkata: Dengan adanya perbedaan ini dapat dirasakan bahwa rawi hadits ini –yaitu Ismâil bin Umayyah- [4] tidaklah akurat dalam periwayatannya ini. Tidak diragukan lagi bahwa dengan kondisi itulah hadits tersebut dilemahkan. Ini jika illatnya memang hanya sebatas pada itu saja, lalu bagaimana jika illat ini digabung dengan illat lainnya.

 

  • Sisi yang kedua: Adanya perbedaan (dikalangan para perawi)  atas Ismâil dalam periwayatannya dari Abu Muhammad bin Huraits-atau Abu ‘Amr bin Huraits- pada beberapa bentuk:

Pertama: Dari jalur Sufyan bin ‘Uyainah, dimana dari jalur ini diperselisihkan atasnya: Masing-masing dari mereka yang meriwayatkan darinya, yaitu:

  1. Imam Ahmad sebagaimana yang tercantum didalam Musnadnya  )Nomor: 7392).
  2. Ibnu Abi Syaibah, sebagaimana yang tercantum dalam Mushannafnya (2/416).
  3. ‘Ali bin al-Madini, sebagaimana yang terdapat pada Abu Dâwud dalam Sunannya (Nomor: 690).
  4. ‘Ammâr bin Khâlid, sebagaimana yang terdapat pada Sunan Ibnu Mâjah (nomor: 943).
  5. Abu Khaitsamah, sebagaimana yang terdapat pada Ibnu Hibbân dalam Shahihnya (nomor: 2361) dan dalam Ats-Tsiqât (4/175).
  6. ‘Abdul Jabbâr bin al-‘Alâ`, sebagaimana yang terdapat pada Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya (nomor: 811)
  7. Muhammad bin Manshûr sebagaimana yang terdapat pada Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya (nomor: 811) dan ad-Daulabi dalam al-Kunya (2/203).
  8. Al-Humaidi, sebagaimana yang tercantum dalam Musnadnya (nomor: 1023) dan Ibnu al-Mundzir dalam al-Ausath (5/91 nomor: 2438).
  9. Imam asy-Syafi’I, sebagaimana yang terdapat pada al-Baihaqi dalam al-Ma’rifah: (3/191 nomor: 4226).

Semuanya (Imam Ahmad, Ibnu Abi Syaibah, ‘Ali al-Madini, ‘Ammâr bin Khâlid, Abu Khaitsamah, ‘Abdul Jabbâr bin al-‘Alâ`, Muhammad bin Manshûr, al-Humaidi dan imam asy-Syafi’i) meriwayatkan  dari Sufyân bin ‘Uyainah dari Abu Muhammad-atau Abu ‘Amr bin Huraits- dari kakeknya dari Abu Hurairah dari Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam..demikianlah, dimana disini disebutkan dari kakeknya.

Kedua: Ada perbedaan pendapat dikalangan para perawi –atas apa yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Uyainah-. Beberapa perawi meriwayatkan darinya dengan menyebut nama ayahnya sebagai ganti dari kakeknya. Ibnu Hâtim dalam ‘ilalnya (2/484) berkata, “(periwayatan) dari ibnu ‘Uyainah diperselisihkan.  Adapun Yunus bin ‘Abdul A’la dan Sulaiman al-Qazzâr, keduanya menceritakan dari Ibnu ‘Uyainah dari Ismâil bin Umayyah dari Abu ‘Amr bin Muhammad bin Huraits dari ayahnya dari Abu Hurairah dari Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam:…”

Aku berkata: Diantara mereka yang juga meriwayatkannya dari Ismâil dari Abu ‘Amr bin Huraits-atau Abu Muhammad bin Huraits-dari kakeknya, namun bukan dari jalur Sufyân bin ‘Uyainah, adalah:

  1. Bisyr bin al-Mufadhdhal, sebagaimana yang terdapat pada Abu Dâwud dalam Sunannya (690),  Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya (nomor 812) , dan al-Baihaqi dalam Al-Kubra: (2/270).
  2. Wuhaib bin Khâlid, sebagaimana yang terdapat pada ‘Abd bin Humaid (nomor: 1434).
  • Sisi yang ketiga dari bentuk-bentuk perselisihan yang ada pada hadits ini, adalah disebutkannya nama “ayahnya” sebagai ganti dari “kakeknya”. Hal itu diriwayatkan dari berbagai jalur, diantaranya:
  1. Dari jalur Ma’mar dari Ismâil…dengannya, yaitu menyebut  “ayahnya” sebagaimana yang terdapat pada Ahmad dalam Musnadnya (nomor: 7461).
  2. Dari jalur Sufyân ats-Tsauri dari Ismâil dengannya, yaitu menyebut “ayahnya” sebagaimana yang terdapat pada Ahmad (nomor: 7641).

Mengenai periwayatan dari Sufyân ats-Tsauri  sendiri diperselisihkan padanya pada dua bentuk:

Pertama:  Apa yang diriwayatkan masing-masing dari ‘AbdurRazzâq, sebagaimana yang terdapat pada Musnad Ahmad (nomor: 7461), dan al-Husain bin Hafsh, sebagaimana yang terdapat pada al-Baihaqi dalam al-Kubra: (2/270). Keduanya meriwayatkan dari ats-Tsauri dari Ismâil dari Ibnu ‘Amr bin al-Hârits..dengan menyebut “ayahnya.”

Kedua: Apa yang dikatakan oleh al-Hâfizh al-Baihaqi rahimahullahu ta’ala dalam as-Sunan Ash-Shughra, dimana ia berkata (1/324 nomor 915), “Dan ats-Tsauri meriwayatkan dari Ismâil dari Abu ‘Amr bin Huraits dari “Kakeknya” dari Abu Hurairah. Yaitu dengan menyebut kakeknya sebagai ganti dari ayahnya. Yang unggul bahwa bentuk yang kedua dari riwayat ini dari ats-Tsauri-yaitu menyebut kakeknya-tidaklah terpelihara (Laisat Mahfuzhah), lantaran Abu Zur’ah rahimahullah ta’ala tidak mengisyaratkan pada bentuk seperti ini dari riwayat ats-Tsauri rahimahullahu ta’ala, ketika ia berkata, “Dan diriwayatkan oleh Yahya bin Sa’îd al-Qaththân dan Husain bin Hafsh dari ats-Tsauri dari Ismâil bin Umayyah dari ‘Amr bin Huraits dari ayahnya dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam.

Abu Zur’ah berkata, “Yang benar adalah apa yang diriwayatkan oleh ats-Tsauri.[5] Yakni: Bahwa jalur ats-Tsauri yang tercantum kata “dari ayahnya” itulah yang benar. Wallâhu a’lam.

Al-Hâfizh al-‘Irâqi menyanggah penilaian tersebut, ia berkata, “Sufyân ats-Tsauri sekalipun riwayatnya lebih terjaga sebagaimana yang dinyatakan oleh mushannif -yakni Ibnu Shalah-,  namun ia berkesendirian dalam ucapannya dari Abu ‘Amr dari ayahnya. Padahal kebanyakan perawi berkata, “Dari kakeknya” dan mereka yang menyatakan demikian (dari kakeknya) adalah: Bisyr bin al-Mufadhdhal, Rauh bin al-Qâsim, Wuhaib bin Khâlid, dan ‘Abdul Wârits bin Sa’îd. Mereka termasuk orang-orang tsiqah (terpercaya) dan kalangan penduduk Bashrah serta imam mereka. Pernyataan mereka ini disepakati oleh seorang hafizh dari penduduk Kufah yaitu Sufyan bin ‘Uyainah. Dan perkataan mereka lebih unggul disebabkan karena dua hal:

Pertama: Banyaknya jumlah mereka.

Kedua   : Sesungguhnya Ismâil bin Umayyah Makki dan Ibnu ‘Uyainah keduanya menetap di Makkah. Diantara hal yang menyebabkan keunggulannya disini lantaran orang yang meriwayatkan darinya juga dari penduduk negerinya sendiri dan juga karena banyaknya perawi yang meriwayatkan. Sufyân ats-Tsauri juga menyelisihi Ibnu Juraij yang juga penduduk Makkah, Maula Alu Khâlid bin Sa’îd al-Umawi, serta Ismâil ibnu Umayyah, dia adalah putra ibnu ‘Amr bin Sa’îd yang disebut dengan al-Umawi. Maka kenyataan ini mengharuskan untuk mengunggulkan riwayat Ibnu Juraij. Adanya kontradiktif disini menuntut adanya pentarjihan (pengunggulan).[6]

Sebenarnya, ketika Sufyân ats-Tsauri menyelisihi salah seorang dari para imam ahli naqd dalam masalah penaqadan hadits, hati ini benar-benar telah menanggalkan keberpihakan kepadanya, apalagi seperti apa yang dikatakan oleh al-Hâfizh al-‘Irâqi  tentang dirinya berdasarkan bentuk yang benar. Oleh itulah dengan penuh rasa malu saya lebih cendrung kepada beliau (al-‘Iraqi) dalam hal ini. Wallâhu a’lam.

Ketiga: Diantaranya dari jalur Nashr bin Hâjib dari Ismâil bin Umayyah…dengannya….dengan menyebut “ayahnya”, sebagaimana yang terdapat pada Bahsyal dalam Tarikh Wâsith (hal: 131).

  • Sisi yang keempat dari bentuk-bentuk perbedaan dalam hadits ini adalah penyebutan: ayah dan kakeknya sekaligus dalam sanad. Muslim bin Khâlid telah menyelisihi semua rawi yang meriwayatkannya dari Ismâil. Dimana ia berkata: Dari Abu Muhammad ‘Amr bin Huraits dari ayahnya dari kakeknya (Ibnu Hibban dan Shahihnya nomor: 2376).
  • Sisi yang kelima: Tidak disebutkannya perantara antara Ismâil bin Umayyah dan Huraits. Ibnu Juraij rahimahullahu ta’ala  meriwayatkan dari Ismâil bin Umayyah dari Huraits bin ‘Ammâr-demikian tanpa ada perantara diantara keduanya- dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu..sebagaimana yang tercantum dalam kitab Tarikh al-Kabîr oleh al-Bukhâri.[7]

Dari sini kita katakan: Bahwa menghukumi hadits diatas sebagai hadits mudhtharib adalah keputusan yang sesuai dengan ketetapan qaedah disiplin ilmu hadits dan tidak benar apa yang dikatakan oleh al-Hâfizh ibnu Hajar rahimahullahu ta’ala yang menafikkan adanya illat (cacat) ini, sebagaimana yang akan kita lihat insya Allah ta’ala.

Adapun terkait dengan illat (cacat) yang kedua yang hadits ini dianggap cacat karenanya, yaitu illat jahalah (tidak diketahuinya identitas perawi). Sebagian ahli ilmu berpendapat demikian, dimana mereka menyatakan kecacatan hadits tersebut dengan hal itu.  Diantara mereka yang berpendapat seperti ini adalah:

  1. Imam Abu Ja’far ath-Thahawi: Ibnu ‘Abdil Barr dalam at-Tamhid (4/200) berkata: Abu Ja’far ath-Thahawi berkata apabila disebutkan hadits ini, “Abu ‘Amr bin Muhammad bin Huraits ini adalah majhul (tidak diketahui identitasnya) begitu juga dengan kakeknya. Nama keduanya tidak  pernah disebut pada selain hadits ini. Model seperti ini tidak dapat dijadikan sebagai hujjah.” Lihat al-Istidzkaâr (2/281) dan lihat Tahzibut Tahdzîb (12/199).
  2. Al-Hâfizh ibnu Rajab al-Hanbali: al-Hâfizh ibnu Rajab rahimahullahu ta’ala dalam kitabnya Fathul Bâri (4/42) berkata, “Akan tetapi laki-laki ini yang Ismail meriwayatkan darinya, begitu juga dengan ayah dan kakeknya, dikatakan: Sesungguhnya mereka adalah orang-orang majhûl.
  3. Al-Hâfiz adz-Dzahabi rahimahullahu ta’ala: Dimana ia berkata didalam kitab Mizannya  (4/556), “Abu ‘Amr bin Muhammad bin Huraits dari kakeknya dari Abu Hurairah: Tidak diketahui.”
  4. Al-Hâfizh ibnu Hajar rahimahullahu ta’ala: Adalah hal yang benar-benar aneh, ketika al-Hafizh ibnu Hajar menghasankan hadits ini dalam kitabnya Bulûghul Maram[8] padahal beliau sendiri menghukumi Huraits bin al-‘Uzrah sebagai rawi yang majhul. Hal itu tercantum dalam kitabnya Taqribut Tahzib, dimana beliau rahimahullahu ta’ala berkata, “ Menurutku bahwa rawi hadits tentang garis (garis sebagai sutrah) bukanlah shahabat, bahkan ia adalah rawi yang majhul dari yang ketiga.”[9]

Perkataan ahli ilmu tentang hadits ini:

Mayoritas ahli ilmu berpendapat akan lemahnya hadits tentang garis sebagai sutrah. Disini kami akan menyebutkan nama ahli ilmu kenamaan yang melemahkan hadits tersebut:

  1. Imam Sufyân bin ‘Uyainah: Dimana beliau rahimahullahu ta’ala berkata, Imam Abu Dâwud rahimahullahu ta’ala dalam Sunannya (1/240) berkata: Kami tidak mendapati satu hadits pun yang menguatkan hadits ini dan hadits ini tidak datang melainkan dari bentuk ini.” Lihat as-Sunan al-Kubra oleh al-Baihaqi: (2/271).
  2. Imam asy-Syafi’I rahimahullahu ta’ala: Dimana beliau abstain dalam memberikan penilaian pada hadits ini. Abstainnya beliau disini menunjukkan bahwa hadits ini tidak valid disisinya. Oleh itulah imam An-Nawawi dalam al-Majmû (3/245) berkata, “Asy-Syafi’I, al-Baihaqi, dan lainnya mengisyaratkan pada kelemahannya. Al-Baihaqi berkata: Hadits ini diambil oleh imam asy-Syafii pada pendapatnya yang terdahulu (al-Qadîm) dalam Sunan Harmalah. Ia berkata dalam Mukhtashar al-Buwaithi, “Dan seseorang tidak diperkenankan membuat garis dihadapannya kecuali jika memang ada hadits yang valid tentang itu lalu ia mengikuti hadits tersebut.” Al-Baihaqi berkata, “Imam asy-Syafi’I   abstain dalam hadits ini lantaran adanya perbedaan para perawi atas Ismâil bin Umayyah salah seorang rawinya. Berkata selain al-Baihaqi: Hadits tersebut dhaif lantaran keidhthirabannya.”
  3. Imam al-Baghawi: dimana ia berkata didalam Syarhus Sunnah setelah ia meriwayatkannya (2/288), “Pada sanadnya ada kelemahan.”
  4. Imam al-Qâdhi ‘Iyyâdh: Dimana ia berkata-setelah ia menyebutkan batilnya garis sebagai sutrah bagi orang yang shalat- dalam kitabnya Ikmalul Mu’allim bi Fawâid Muslim (2/414): Sekalipun terdapat hadits tentang itu- tentang garis sebagai sutrah bagi orang yang shalat- dan imam Ahmad bin Hanbal mengambilnya: Namun ia adalah hadits yang lemah.”
  5. Imam an-Nawawi: dimana ia berkata didalam al-Majmû’ (3/245): Dan hadits Abu Hurairah tentang garis diriwayatkan oleh Abu Dâwud dan Ibnu Mâjah. Al-Baghawi dan lainnya berkata: Dia adalah hadits lemah.”
  6. Al-Hafizh ‘Abdul Haq al-Asybili: dimana ia berkata dalam kitabnya al-Ahkam al-Wustha (1/345): Telah diriwayatkan hadits tentang shalat menghadap sutrah  dari Abu Hurairah dari beberapa jalur yang tidak sahih dan valid, hal itu disebutkan oleh ad-Daraqutni.”

Adapun ulama masa kini yang melemahkannya diantaranya:

  1. Allâmah al-Bâri’ asy-Syaikh Ahmad Muhammad Syâkir: Dimana beliau rahimahullah ta’ala berkata dalam komentarnya atas al-Musnad (7/199): Sanadnya lemah lantaran keidhthiraban dan majhulnya kondisi perawinya sebagaimana yang akan kita jelaskan dalam takhrij insya Allah. Kemudian beliau membincangkan illat padanya, kemudian beliau rahimahullahu ta’ala (7/200) berkata, “Hadits ini memiliki beberapa sanad lain dari bentuk ini, dimana sanad ini ada    yang mencocoki riwayat-riwayat tersebut dan ada pula yang menyelisihnya. Semua menunjukkan atas keidhthirabannya dan juga majhulnya syaikh yang Ismâil bin Umayyah meriwayatkan darinya.
  2. Syaikh Al-Allamah Al-Albâni rahimahullahu ta’ala: Dimana beliau melemahkannya dalam Dha’îf Abu Dâwud , beliau berkata (nomor 107), “Sanadnya lemah, ia memiliki dua illat (cacat): Majhulnya Abu ‘Amr bin Muhammad Huraits dan kakeknya serta keidhthiraban yang sangat  dalam sanadnya. Kemudian beliau merinci perkataannnya tersebut. Rahimahullahu ta’ala.
  3. Al-‘Allâmah asy-Syaikh Mushthafa al-‘Adawi: Dimana beliau berkata pada ta’liqnya atas Musnad ‘Abd bin Humaid (2/340): Lemah Mudhtharib.
  4. Asy-Syaikh al-Muhaqqiq Syu’aib al-Arnauth rahimahullahu ta’ala : dimana ia berkata dalam takhrijnya atas Shahih ibnu Hibbân, yang redaksinya sebagai berikut (6/125): Sanadnya lemah lantaran keidhthirabannya serta majhulnya Abu Muhammad bin ‘Amr bin Huraits dan kakeknya.”
  5. Al-‘Allâmah asy-Syaikh ‘Abdul Qâdir al-Arnauth rahimahullahu ta’ala dalam ta’liqnya atas Jâmi’ al-Ushûl (5/519): Sanadnya lemah.

Diamalkannya hadits ini oleh sebagian ahli ilmu bukan bermakna bahwa hadits tersebut shahih disisi mereka:

Sebagian dari ahli ilmu mengamalkan hadits ini seperti imam Ahmad rahimahullahu ta’ala. Imam al-Hâfizh ibnu ‘Abdil Bar memahami dari pengamalan imam Ahmad rahimahullahu ta’ala atas hadits ini bahwa beliau (Imam Ahmad) berpendapat akan keshahihannya. Ibnu Abdil Bar dalam kitabnya at-Tamhid (4/199): Hadits ini disisi Ahmad bin Hanbal dan orang yang sependapat dengan beliau adalah hadits shahih. Dan aku melihat bahwa ‘Ali bin al-Madini menshahihkan hadits ini serta berhujjah dengannya.” Lihat al-Istidzkâr (2/281).

Al-Hâfizh ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullahu ta’ala menyanggah pendapat ibnul Abdil Bar diatas. Beliau berkata dalam kitabnya Fathul Bâri (4/40-41): Diceritakan dari Ibnu al-Madini bahwa beliau menshahihkannya. Dan diceritakan dari Ibnu ‘Abdil Barr dari Ahmad dan ‘Ali bin al-Madini bahwa keduanya menshahihkannya. Adapun imam Ahmad maka tidak diketahui darinya bahwa beliau secara tegas menshahihkannya. Namun yang diketahui dari mazhab beliau bahwa beliau mengamalkan garis sebagai sutrah. Terkadang sandaran beliau adalah atsar mauquf bukan atas hadits marfu’. Beliau berkata dalam satu  riwayat Ibnul Qâsim: Hadits tentang garis adalah lemah.”

Selain beliau –Imam Ahmad- yang juga mengamalkan hadits ini adalah Sa’îd bin Jubair, Imam al-Auzâ’I serta Abu Tsaur sebagaimana yang dikatakan oleh ibnu Al-Mundzir dalam al-Awsath (5/91).

Akan tetapi semata-mata mengamalkan hadits tersebut tidak menunjukkan atas penshahihan mereka terhadap hadits tersebut. Itu karena sebagian imam –seperti imam Ahmad dan lainnya- berpendapat bolehnya mengamalkan hadits lemah- tentunya hadits yang tidak begitu lemah- apabila mereka tidak mendapati hadits dalam bab yang terkait tanpa bermaksud menshahihkan hadits tersebut, sebagaimana yang ma’ruf. Wallâhu a’lam.

 

—————————————————————————————–

Footnote:

[1]. Tulisan ini kami terjemahkan dari tulisan Abu Muhammad as-Suri yang berjudul:

الجواب الجلي في بيان ضعف حديث الخط في سترة المصلي

[2] Lihat Ma’rifatus Sunan wal Atsar oleh al-Baihaqi (3/191 no: 4131). Al-Hafizh Ibnu Rajab telah mengisyaratkan perbedaan ini dalam kitabnya Fathul Bari dan ia menambahkan beberapa pendapat lagi yang akan kita sebutkan nanti, insya Allah ta’ala. Lihat Fathul Bari oleh Ibnu Rajab al-Hanbali (4/41).

[3]. An-Nukat ‘ala ibnu ash-Shalah oleh ibnu Hajar (2/773).

[4].  Ada sebagian orang yang memahami dari perkataan al-Imam ad-Darâquthni rahimahullah ta’ala bahwa ia cendrung berpendapat bahwa idhthirab (keguncangan) ini ada pada pembatasan nama guru Ismâil bin Umayyah yaitu datang dari pihak Sufyân bin ‘Uyainah, ketika ia berkata dalam Ilalnya (10/280), yang redaksinya sebagai berikut, “Ibnu ‘Uyainah mengalami keguncangan dalam hadits ini, terkadang ia berkata dari Abu Muhammad bin Huraits, dan terkadang pula ia berkata: Dari Abu ‘Amr bin Huraits dan ia menetapkan nama  Abu Muhammad bin ‘Amr…”

Sebenarnya bahwa Imam ad-Daraquthni tidak memaksudkan makna seperti ini, tetapi yang beliau maksudkan bahwa Sufyân bin ‘Uyainah ketika meriwayatkan hadits ini, sekali ia menyebut nama Abu Muhammad bin Huraits dan terkadang pula ia menyebut nama Abu ‘Amr bin Huraits.” Kemudian ia menetapkan penamaannya dengan Abu Muhammad bin Huraits.

[5]. ‘Ilal ibnu Hâtim (2/484).

[6]. At-Taqyid wal Idhâh oleh al-Hafizh al-‘Irâqi (hal. 104-105).

[7]. Tarikh al-Kabîr oleh al-Bukhâri (3/71).

[8]. Dimana beliau rahimahullahu ta’ala berkata, “Dan tidak benar klaim yang menyatakan  bahwa hadits ini mudhtharib, namun yang benar hadits ini adalah hasan.” Lihat Bulûghul Marâm hal. 29 no. 249.

[9]. Taqribut Tahzib : 1/196.

 

 

Jember, 7 Rabi’ul Awwal 1435 H/8 Januari 2014

Abu Halbas Muhammad Ayyub

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: