//
you're reading...
Hadits

Dzikir Setelah Shalat Jumat [Al-Fatihah, Al-Ikhlash, An-Nâs, Al-Falâq]


Soal:

Kebiasaan di kampung kami, apabila imam selesai dari shalatnya –shalat Jum’at- langsung membaca surat al-Ikhlash, al-Falaq dan  an-Nâs  masing-masing sebanyak tujuh kali tanpa didahului dengan dzikir terlebih dahulu. Apakah hal ini ada pembenaran dari syariat? Mohon jawabannya.

 

Jawab:

Kebiasaan yang dilakukan oleh imam yang anda sebutkan diatas tidak memiliki dasar yang kuat dalam syariat.  Ia adalah amalan bid’ah yang masuk dalam sabda Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

Artinya,  “Barangsiapa mengada-ngadakan dalam urusan kami ini apa yang bukan darinya maka ia tertolak.”[1] Dan dalam satu lafazh, “Barangsiapa melakukan amal perbuatan yang tidak ada perintah dari kami maka ia tertolak,”[2]

 

Dalil atas amalan mereka berikut penjelasan kelemahannya

Ada beberapa dalil yang mereka jadikan sebagai pijakan atas amalan dzikir tersebut, diantaranya:

 

  • Pertama: Hadits ‘Aisyah radhiyallâhu ‘anha, ia berkata: Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

منْ قَرَأَ بَعْدَ صَلاَةِ الْجُمُعَةِ: قل هو الله أحد, وقل أعوذ برب الفلق, وقل أعوذ برب الناس‏ سَبْعَ مَرّاَتٍ، أَعَاذَهُ اللهُ بِهَا مِنَ السُّوْءِ إِلَى الْجُمُعَةِ اْلأُخْرَى.

Artinya, “Barangsiapa membaca setelah shalat Jum’at: Qul huwallahu ahad (surat al-Ikhlas), dan qul a’udzu birabbil falaq (surat al-Falaq), dan qul a’udzu birabbin nas (surat an-Nas) masing-masing tujuh kali, maka Allah akan melindunginya dari keburukan hingga hari Jum’at berikutnya.

[Hadits maudhû’/ palsu. Dikeluarkan oleh Ibnu Sunni dalam [al-yaum wa al-lailah hadits no. 375] dari jalur: Muhammad bin Hârun al-Hadhrami, telah menceritakan kepada kami Sulaimân bin ‘Amr bin Khâlid, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami al-Khalîl bin Murrah, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Mulaikah dari ‘Aisyah dengan hadits tersebut.

Ini sanad saqith (tidak berharga karena terlalu lemah): Sulaiman ini, zahirnya adalah Sulaiman bin ‘Amr bin Khalid bin al-Aqtha’ al-Qurasyi. Ibnu Abi Hatim mengemukakan biografinya bahwa ia meriwayatkan dari ayahnya, dengan tanpa menyebutkan jarh dan ta’dil. Tetapi Ibnu Abi Hatim menyebut dengan ‘Umar (bukan ‘Amr-red.) Wallahu a’lam. Sementara ayahnya, Amr bin Khalid al-Qurasyi adalah orang yang tertuduh dusta, dan al-Khalil bin Murrah adalah dhaif yang lain. Hadits ini didhaifkan oleh al-Asqalani, padahal hadits ini jauh lebih rendah daripada itu. Wallahu a’lam.)[3]

Al-faqir (Abu Halbas) berkata: ‘Umar (‘Amr) bin Khâlid adalah majhûl ‘ain. Abu Hâtim dalam kitabnya al-Jarh wa at-ta’dil (3/2/106) berkata tentangnya, “Aku tidak mengenalinya.” Adapun al-Khalil bin Murrah maka ia adalah rawi yang sangat lemah dan dikatakan sebagai mungkarul hadits oleh Imam al-Bukhâri.

 

  • Kedua: Hadits Anas bin Mâlik radhiyallâhu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda:

من قرأ إذا سلَّم الإمام يوم الجمعة قبل أن يَثْنِي رجليه فاتحة الكتاب، وقل هو الله أحد، وقل أعوذ برب الفلق، وقل أعوذ برب الناس سبعا سبعا، غفر له ما تقدم من ذنبه وما تأخر وأعطى من الأجر بعدد كل من آمن بالله واليوم الآخر . رواه أبو الأسعد القشيريفي الأربعين. حديث حسن.

Artinya, “Barangsiapa yang membaca setelah imam salam dari shalat Jum`at sebelum ia merubah posisi duduknya;  Fâtihatul kitâb (surat al-Fatihah), Qulhuwallâhu ahad (surat Al-Ikhlas), Qul’adzu birabbil falaq (surat al-Falaq), dan Qul’adzu birabbinnâs (surat an-Nâs) masing-masing tujuh kali, maka Allah akan mengampuni dosanya yang telah lewat dan yang akan datang dan akan diberi pahala sebanyak bilangan orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir.”

[Hadits Maudhû’/palsu[4]. Dikeluarkan oleh Abu al-As’ad al-Qusyairi dalam al-‘Arbaîn, dari jalur: Abu ‘Abdirrahman as-Sulami: Telah mengabarkan kepada kami Abu Ja’far Muhammad bin Ahmad bin Sa’îd ar-Râzi: Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Ali al-Husain bin Dâwud al-Balkhi: Telah menceritakan kepada kami Yazîd bin Harûn: Telah menceritakan kepada kami Humaid, dari Anas ia berkata dengan hadits tersebut.]

Ibnu Hajar dalam al-Khishâl al-Mukaffirah berkata: Pada sanadnya terdapat kelemahan yang sangat. Karena al-Husain al-Balkhi sebagaimana yang dikatakan oleh al-Hâkim: Katsîrul Manâkir (banyak riwayat-riwayat munkarnya) dan ia menceritakan dari beberapa orang yang usianya tidak ada mengandung kemungkinan ia mendengar langsung dari mereka. Al-Khathib berkata, “Ia menceritakan dari Yazîd bin Hârun dengan naskah yang dominannya maudhu (palsu).”

Al-Faqîr (Abu Halbas) berkata, “Al-Khathib juga berkata: Ia tidak tsiqah, haditsnya maudhû’ (palsu). Ibnul Jauzi berkata: Haditsnya maudhû’. Lihat adh-Dhu’afâ’ wal Matrûkîn oleh Ibnul Jauzi nomor (880) 1/212, Mizânul I’tidal nomor (1998) 1/534, dan Lisânul Mizân nomor (1175) 2/282-283.

Selain al-Husain al-Balkhi, perawi yang bernama Abu Ja’far Muhammad bin Ahmad bin Sa’îd ar-Râzi adalah lemah. Adz-Dzahabi berkata, “Aku tidak mengenalnya.” Ad-Daraqutni melemahkannya. Lihat biografinya dalam al-Lisân (5/48).

 

  • Ketiga: Dari Makhûl ia berkata:

من قرأ فاتحة الكتاب، والمعوذتين، وقل هو الله أحد، سبع مرات يوم الجمعة. قبل أن يتكلم، كفر عنه ما بين الجمعتين، وكان معصوماً ” .

Artinya: Barangsiapa yang membaca al-Fatihah, mu’awwidzatain (surat al-Falaq dan an-Nâs), dan Qurhuwallâhu ahad (surat al-Ikhlash) sebanyak tujuh kali pada hari jumat sebelum ia berbicara, maka dihapus dosanya hingga dua jumat, dan ia terjaga.”

  [Dha’îf/Lemah. Dikeluarkan oleh Sa’îd bin Manshûr dari Farj bin Fadhâlah[5]. Atsar ini dinyatakan dhaif (lemah) oleh Al-Hâfizh Ibnu Hajar. Karena selain kemursalannya, juga terdapat perawi yang bernama Farj bin Fadhalah. Imam al-Bukhâri berkata: Munkarul hadits. Ia dilemahkan oleh an-Nasâi dan ad-Darâqutni. Ibnu Hibbân berkata, “Ia membolak-balikkan sanad serta memadukan matan yang lemah dengan sanad yang shahih. Tidak halal berhujjah dengannya.” Abu Hâtim berkata, “Shadûq, ia tidak dapat dijadikan sebagai hujjah.” [Lihat ad-Dhu’afâ` wal Matrûkin oleh an-Nasâi nomor 491 hal. 87. Al-Jarh wa at-Ta’dil nomor 483 7/85, al-Majrûhin minal Muhadditsîn oleh Ibnu Hibbân nomor 862 2/207-208, al-Maudhû’ât oleh Ibnul Jauzi 1/285 dan Mizânul I’tidal nomor 6702 5/415.]

 

  • Keempat: Atsar dari Asmâ` binti Abu Bakar radhiyallâhu ‘anha, ia berkata:

من قرأ بعد الجمعة فاتحة الكتاب وقل هو الله أحد وقل أعوذ برب الفلق وقل أعوذ برب الناس حفظ ما بينه وبين الجمعة الأخرى

Artinya, “Barangsiapa yg shalat jumat dan lalu membaca setelahnya Al Ikhlas, dan Muawwidzatain dan Fatihah masing masing tujuh kali tujuh kali, maka ia dijaga dari majelisnya itu sampai jumat berikutnya.”

            [Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah (10/357), dari Abu al-‘Umais, dari ‘Aun ia berkata: Asmâ` binti Abu Bakar berkata, lalu menyebutkan ungkapan diatas.]

            ‘Aun adalah Ibnu ‘Abdillah bin ‘Utbah bin Mas’ûd al-Hudzali. Ia adalah rawi yang dianggap tsiqah oleh Ahmad, Ibnu Ma’în, an-Nasâi, dan al-‘Ujali. Lihat Tahdzibut Tahzib nomor 310 8/171-172 dan Taqribut Tahzib nomor 5258 hal. 758.

            Sanad atsar ini shahih hingga ‘Aun (Ibnu ‘Abdillah bin ‘Utbah). Namun antara dirinya dengan Asmâ’ binti Abu Bakar terjadi keterputusan (inqithâ`).

 

  • Kelima: Dari Ibnu Syihâb ia berkata:

من قرأ: {قل هو الله أحد}، والمعوذتين بعد صلاة الجمعة حين يسلم الإمام قبل أن يتكلم سبعاً سبعاً كان ضامناً. قال أبو عبيد: أُراه قال: على الله هو، وماله، وولده من الجمعة إلى الجمعة.

        Artinya, “Barangsiapa yang membaca: Qulhuwallâhu ahad dan al-Mu’awwidzatain (an-Nâs dan al-Falaq) setelah shalat jumat ketika salamnya imam sebelum ia berbicara, masing-masing sebanyak tujuh kali maka Allah akan menjamin diri orang itu berikut harta dan anaknya, dari jumat ke jumat berikutnya.”

[Dha’îf/Lemah. Dikeluarkan oleh Abu ‘Ubaid al-Qâsim bin Salâm al-Harawi dalam Fadhâilul Qur`an nomor 531-532, Ibnu Zanjawaih dalam Fadhâilul A’mal, dan as-Suyûti dalam al-Lum’ah fi Khashâishil Jum’ah nomor 93. Abu ‘Ubaid berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu al-Aswad, dari Ibnu Lahî’ah, dari al-Kirmâni Muhammad bin al-Muhâjir, dari Ibnu Syihâb, lalu menyebutkan ungkapan diatas]

Selain kemursalannya, dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama Ibnu Lahî’ah. Ia adalah rawi yang terkenal kelemahannya, yakni buruk pada sisi hafalannya, khususnya setelah buku-bukunya terbakar. Dalam kitab Jarh wa at-Ta’dil 5/147: ‘Abdurrahman bin Abi Hâtim berkata: Aku pernah bertanya kepada ayahku (Abu Hâtim) dan Abu Zur’ah tentang Ibnu Lahî’ah dan al-Ifrîqi manakah dari keduanya yang lebih kalian sukai? Keduanya menjawab: Kedua-duanya lemah.” Ad-Daraqutni berkata dalam al-‘Ilal (940): Ia tidak dapat dijadikan sebagai hujjah.”

 

Kesimpulan:

Dari pemaparan diatas, jelaslah bahwa semua hadits dan atsar yang dijadikan hujjah oleh mereka yang mengamalkan dzikir yang anda sebutkan diatas berada diantara palsu dan lemah. Sementara urusan ibadah –apalagi perkara ghaib-  tidak boleh ditetapkan dengan hadits lemah terlebih lagi dengan hadits palsu.

Dengan demikian bacaan dzikir yang disunnahkan dibaca selepas shalat Jumat adalah sebagaimana bacaan dzikir selepas sholat fardlu yang lain. Wallaahu A’lam.

 

 

 

Jember, Rabi’ul Awwal 1435 H.

Abu Halbas Muhammad Ayyub

 


[1] Hadits riwayat Al-Bukhâri [2697] dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha.

[2] Hadits riwayat Muslim [1718] dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha.

[3] Penilaian diatas datang dari Asy-Syaikh ‘Amir bin Ali Yasin  dalam tahqîqnya terhadap kitab al-Adzkâr.

[4] Demikian penilaian asy-Syaikh al-Albâni . Lihat hadits nomor: 5758 dalam Dha’îf al-Jâmi’]

[5] Lihat al-Khishâl al-Mukaffirah oleh Ibnu Hajar al-Asqalany dan al-Lum’atu fi Khashâishil Jum’ati oleh As-Suyûthi nomor 92 hal. 55.

Diskusi

17 thoughts on “Dzikir Setelah Shalat Jumat [Al-Fatihah, Al-Ikhlash, An-Nâs, Al-Falâq]

  1. Masya Allah, penjelasan yang jelas. Ana copas di situs saya, Ustadz.
    Jazakallohu khoir

    Posted by Jusron Permana | Mei 24, 2014, 10:08 pm
  2. Sanad lengkap hadits ke tiga, empat, dan lima, kok tidak seperti yang pertama dan kedua, yang ketiga misalnya saya lihat langsung di al-mukaffiroh kok hanya dimulai dari MAKHUL sementara FARJ BIN FADLOLAH saya tidak menemukan.

    Posted by Zarkasyi Rahiem | Desember 26, 2014, 11:00 pm
  3. Kalau ada minta nomer HP-nya, kalau ada XL ustadz

    Posted by Zarkasyi Rahiem | Desember 26, 2014, 11:04 pm
  4. hadits yang ketiga di kitab al-Lum’ah As-Suyuthi justeru tidak berkomentar apa-apa dan beliau tidak mencantumkan sanad lengkapnyanya

    Posted by Zarkasyi Rahiem | Desember 26, 2014, 11:12 pm
    • Na’am dalam kitab tersebut beliau tidak mencantumkan sanadnya secara lengkap. Namun kita dapat mengetahuinya dari info yang lain semisal yang diinfokan oleh imam al-Munawi dalam kitabnya faidhul qadir jilid 6/203-204, beliau berkata:
      قال ابن حجر : سنده ضعيف ، وله من مرسل مكحول : أخرجه سعيد بن منصور في سننه عن فرج بن فضالة ، وفرج ضعيف وفرج بن فضالة ، مختلف فيه : قال البخاري : منكر الحديث ، وضعفه النسائي والدارقطني ، وقال ابن حبان : يقلب الأسانيد ويلزق المتون الواهية بالأسانيد الصحيحة لا يحل الاحتجاج به ، ووثقه ابن معين ، وقال أبو حاتم : صدوق لا يحتج به .

      Posted by bejanasunnah | Desember 27, 2014, 1:57 am
  5. Terima kasih banyak sebelumnya atas info yang ustadz berikan, jazakumullah khoiron, terus kata-kata berikut pada riwayat ke empat yang berbunyi:
    Namun antara dirinya dengan Asmâ’ binti Abu Bakar terjadi keterputusan (inqithâ`) —– kata-kata ini dari kitab apa ustadz ?

    Posted by Zarkasyi Rahiem | Desember 27, 2014, 2:42 pm
    • ‘Aun bin ‘Abdullah bin ‘Utbah bin Mas’ud adalah rawi yang diperselisihkan. Tidak sedikit dari para kritikus hadits menganggap bahwa semua hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aun dari para shahabat adalah Mursal (namun sebagian menolak pendapat ini). Info ini disampaikan oleh al-Miziyyu dalam tahzibul kamal (1066). Ibnu Sa’ad dalam ath-Thabaqat (6/313) berkata:
      ثقة كثير الإرسال
      Sekalipun ini selamat dari keterputusan (inqitha’) namun hadits ini ada dalam status mauquf dan tidak shahih jika ia disandarkan pada Nabi (marfu’).

      Posted by bejanasunnah | Desember 28, 2014, 4:54 pm
      • Assalamu’alaikum, ust tolong carikan bahasan lengkap tentang kebolehan wanita haidl berdiam di masjid, jazakumullah khoiron katsiron wassalam

        Posted by Zarkasyi Rahiem | Februari 23, 2015, 5:26 pm
      • Ana rekomendasikan agar antum membaca kitab Jami’ Ahkamun Nisa’ karya Syaikh Mushthafa al-‘Adawy. Dalam kitab tersebut dibahas secara panjang lebar pendapat ulama tentang itu.

        Posted by bejanasunnah | Februari 25, 2015, 12:37 am
  6. Makasih ustadz atas rekomnya, kalau ustadz sendiri, apa membolehkan apa melarang

    Posted by Zarkasyi Rahiem | Februari 26, 2015, 1:19 am
  7. seandainya benar hadits yg anda sebutkan palsu,, bukan berarti hal itu salah dan bid’ah.. yg salah itu kalau berzinah, judi, minum khamar n berbuat jahat.. kalau membaca surah alquran tidak ada bid’ah dan salahnya.. trims

    Posted by Randy | September 14, 2015, 3:34 am
  8. tidak perlu lah cari kesalahan dari perbuatan baik, lebih baik cari persamaan biar semua indah, jangan saling menyalahkan, benar dan salah, surga dan neraka itu urusan Allah.. bukan urusan kita..

    Posted by Randy | September 14, 2015, 3:38 am
  9. soal soal nambah pahala tu bagus gak jelek yg jelek yg gak mau baca ….

    Posted by abu ghozi | Oktober 16, 2015, 5:57 am
  10. sebenarnya apa yang ditulis dalam status ya besumbernya dari sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam yang dikutip dari kitab al Adzkar, diriwayatkan dalam kitab Ibnussunni (dan hadits tsb dinilai dha’if oleh al hafzh Ibn Hajar, sementara mengamalkan hadits dha’if sebagaimana djelaskan oleh imam Nawawi adalah boleh bahkan mustahab)

    قال العلماء من المحدثين والفقهاء وغيرهم : يجوز ويستحب العمل في الفضائل والترغيب والترهيب بالحديث الضعيف ما لم يكن موضوعا

    Ulama dari kalangan ahli hadits dan ahli fiqh berkata: “Boleh, bahkan disunnahkan mengamalkan hadits dhaif dalam hal fadha`ilul a’mal, targhib dan tarhib, asalkan bukan maudhu’.”

    diantara yang berpendapat diperbolehkannya mengamalkan hadits dhaif sebagaimana dikatakan dalam kitab Al Futuhaat Arrabbaniyyah ‘alal Adzkar Annawawiyyah, lisysyaikh Muhammad bin Allan Ashshidiqqi, juz 1 halaman 82:

    وممن قال بذلك أحمد بن حنبل وابن المبارك والسفيانان والعنبري وغيرهم

    Diantara yang berpendapat demikian (bolehnya mengamalkan hadits dhaif) ialah:
    – Imam Ahmad bin Hanbal
    – Imam Ibnul Mubarak
    – Imam Sufyan ibn Uyainah
    – Imam Sufyan Atstauri
    – Imam al Anbari
    dll

    Wallaahu A’lam

    Al Manhal al Lathif hal. 67-68

    الحديث الضعيف لا يعمل به فى العقائد والأحكام، ويجوز العمل به فى الفضائل والترغيب والترهيب وذكر المناقب. وهذا هو المعتمد عند الأئمة، وإلا فإن فى المسألة خلافا مع أن الذين أجازوا العمل به جعلوا لذلك شروطا ذكرها الحافظ ابن حجر وهى: أن يكون فى الفضائل العملية كما تقدم. وأن لا يشتد ضعفه، فلا يعمل بما انفرد به الكذب والمتهم بالكذب ومن فخش غلطه. وأن يندرج تحت أصل معمول به. وأن لا يعتقد عند المل به ثبوته بل يعتقد الإحتياط. هذا قد نص على قبول الضعيف فى الفضائل الإمام النووى فى القريب والعراقى فى شرح الألفية وابن حجر العسقلانى فى شرح النخبة والشيخ زكريا الأنصارى فى شرح الفية العراقى والحافظ السيوطى فى التدريب وابن حجر المكى في شرح الأربعين. وللعلامة اللكنوى رسالة تسمى الأجوبة الفاضلة، له فيها بحث مستفيض فى ذلك، ولسيدى الإمام الوالد السيد علوى المالكى رحمه الله رسالة خاصة فى أحكام الحديث الضعيف. من رأى حديثا بإسناد ضعيف فله أن يقول هو ضعيف بهذا الإسناد، ولا يقول ضعيف المتن بمجرد ذلك الإسناد. فقد يكون له إسناد آخر صحيح، إلا أن يقول الإمام إنه لم يرد من وجه صحيح أو ينص أنه حديث ضعيف

    Posted by aji baskara | November 20, 2015, 4:35 pm
  11. Sanad atsar ini shahih hingga ‘Aun (Ibnu ‘Abdillah bin ‘Utbah). Namun antara dirinya dengan Asmâ’ binti Abu Bakar terjadi keterputusan (inqithâ`).

    Berarti paling tidal, boleh dong mengamalka atsar sahabat???? Gitu aja kok repot….

    Posted by Ibadillah | Maret 7, 2016, 10:38 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: