//
you're reading...
Fiqih

Berbagi Hadiah Syarah Ad-Durarul Bahiyyah [6]


4- Bab Tatacara Shalat

–          Tidak teranggap syar’I (tidak sah) kecuali dengan niat.[1]

Semua rukun-rukunnya teranggap fardhu[2], kecuali:

  1. Duduk tasyahhud pertengahan.[3]
  2. Duduk istirahat.[4]

 

–          Tidak ada yang wajib dari dzikir-dzikirnya, melainkan:

  1. Takbir.[5]
  2. (Membaca) Al-Fatihah pada setiap rakaat –sekalipun berposisi sebagai makmum-[6]
  3. Tasyahhud akhir.[7]
  4. Salam.[8]

 

–          Adapun selain itu adalah sunnah[9], yaitu:

  1. Mengangkat tangan pada empat tempat.[10]
  2. Bersedekap.[11]
  3. Membaca doa iftitah setelah takbir.[12]
  4. Berta’awwudz.[13]
  5. Membaca amin.[14]
  6. Membaca surah setelah Al-Fatihah.[15]
  7. Tasyahhud pertengahan.[16]
  8. Dzikir-dzikir yang terdapat pada setiap rukun.[17]
  9. Memperbanyak doa untuk kebaikan dunia dan akhirat; yang warid (doa yang termaktub dalam al-quran dan sunnah) maupun yang tidak warid.[18]

 

5-            Pasal

                [Tentang pembatal-pembatal shalat]

  1. Berbicara.[19]
  2. Sibuk dengan sesuatu yang bukan bagian dari shalat.[20]
  3. Meninggalkan syarat[21] atau rukun[22] dengan sengaja.[23]

Pasal

[Tentang orang yang gugur kewajiban shalat atasnya, dan shalatnya orang sakit]

–          Shalat tidak wajib atas selain mukallaf.[24]

–          Dan gugur bagi:

  1. Orang yang tidak sanggup memberikan isyarat.[25]
  2. Pingsan hingga waktu shalat berakhir waktunya.[26]

–          Orang sakit shalat dengan berdiri, kemudian duduk, kemudian berbaring.[27]

 

6-            Bab Shalat Sunnah[28]

  1. Yaitu 4 rakaat sebelum Zhuhur.[29]
  2. 4 rakaat setelahnya.[30]
  3. 4 rakaat sebelum ‘Ashar.[31]
  4. 2 rakaat setelah Maghrib.[32]
  5. 2 rakaat setelah ‘Isya.[33]
  6. 2 rakaat sebelum shalat Shubuh.[34]
  7. Shalat Dhuha.[35]
  8. Shalat Lail[36]– maksimal 13 rakaat[37]; dan diakhirnya ditutup dengan witir satu rakaat.[38]
  9. Tahiyyatul Masjid.[39]
  10. Istikhârah.[40]
  11. 2 rakaat diantara setiap adzan dan iqamah.[41]

[1] Berdasarkan firman Allah Ta’ala, ‘Dan tidaklah kalian diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus. [Al-Bayyinah: 5]. Dan juga berdasarkan pada sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ‘Sesungguhnya amal itu tidak lain tergantung pada niatnya.’ [HR. Al-Bukhari (1), Muslim (1907), Abu Dawud (2201), At-Tirmidzi (1647), An-Nasai  (1/57) dan Ibnu Majah (4227).] (penjelasan lengkap lihat fotenote 52)

[2] Yaitu: 1-  Berdiri bila mampu 2- Takbiratul Ihram  3- Membaca al-Fatihah tiap rakaat  4- Ruku’ disertai tuma’ninah  5- I’tidal disertai tuma’ninah  6- Sujud diatas anggota badan yang tujuh disertai dengan tuma’ninah  7- Duduk diantara dua sujud disertai dengan thuma’ninah  8- sujud yang kedua disertai dengan thuma’ninah   9- Duduk tasyahhud akhir  dan Tasyahhud akhir  11-  Salam  12- Tertib rukun-rukunnya.

  • Dalil berdiri bila mampu:

Allah Ta’ala berfirman, ‘Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.’ [QS. Al-Baqarah: 238]. Dan dari Imrân bin Hushain Radhiyallahu Anhu, ia berkata, ‘Saya menderita sakit wasir, maka saya bertanya kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengenai shalat? Beliau bersabda, ‘Shalatlah dengan berdiri, jika kamu tidak mampu, maka dengan duduk, dan jika kamu tidak mampu, maka dengan berbaring diatas lambung.’ (HR. Al-Bukhari (1117), Abu Dawud (952), At-Tirmidzi (372) dan Ibnu Majah (1223).

  • Dalil Takbiratul Ihram:

Dari Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda, ‘Kunci shalat adalah bersuci [berwudhu],  dan yang mengharamkannya [dari segala sesuatu diluar shalat] adalah takbir, dan yang menghalalkannya [segala sesuatu dalam shalat] adalah salam.’ (Hasan. HR. Abu Dawud (61, 618), At-Tirmidzi (3), Ibnu Majah (275) dan Ahmad (1/123). Dan didalam hadits musiush shalah, ‘Apabila engkau hendak mengerjakan shalat maka bertakbirlah.’ Muttafaq Alaihi.

  • Membaca al-Fatihah tiap rakaat

Berdasarkan hadits Ubbadah bin Ash-Shamit Radhiyallahu Anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Al-Fatihah.’ (HR. Al-Bukhari (756), Muslim (394), Abu Dawud (822), At-Tirmidzi (247, 311), An-Nasai (2/137) dan Ibnu Majah (837).

  • Ruku’ disertai thuma’ninah

Berdasarkan hadits musiush shalah, ‘lalu ruku`lah hingga engkau tenang (tuma`ninah) dalam ruku.’ Muttafaq ‘alaihi.

  • I’tidal disertai thuma’ninah

Berdasarkan hadits mushi’ush shalah, ‘Kemudian bangkitlah hingga engkau tenang (tuma’ninah) dalam bangkit’ (Muttafaq ‘alaihi).

Dan juga dalam musiush shalah, ‘Dan apabila engkau bangkit maka tegakkanlah tulang punggungmu dan angkatlah kepalamu hingga semua tulang-tulang itu kembali pada persendiannya.’ Muttafaq ‘alaihi.

  • Sujud diatas anggota badan yang tujuh disertai thuma’ninah 

Berdasarkan hadits musiush shalah, ‘Kemudian sujudlah hingga kamu tenang (thuma’ninah) dalam sujud .’Muttafaq ‘alaihi. Dan hadits Ibnu Abbas Bin Abdul Muththalib Radhiyallahu Anhu, bahwasanya ia pernah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Apabila seorang hamba bersujud maka bersamanya sujud pula tujuh anggota tubuh, yaitu; wajahnya, kedua telapak tangannya, kedua lututnya dan kedua telapak kakinya.’ (HR. Al-Bukhari (810), Muslim (490), Abu Dawud (889), At-Tirmidzi (273), dan An-Nasai (2/208).

  • Duduk diantara dua sujud disertai dengan thuma’ninah

Berdasarkan hadits mushiush shalah, “kemudian beliau mengucapkan, ‘Allâhu Akbar’ dan bangkit dari sujud hingga duduk dengan lurus.’- dan dalam riwayat Muslim-, ‘Kemudian angkatlah kepalamu hingga engkau benar-benar duduk dengan tenang (thuma’ninah).’

 

  • Sujud yang kedua yang disertai thuma’ninah

Berdasarkan hadits mushiush shalah, “Lalu sujudlah hingga engkau tenang dalam sujud, lalu bangunlah hingga engkau tenang dalam duduk, lalu sujudlah hingga engkau tenang  dalam sujud.” Muttafaq ‘alaihi.

  • Duduk Tasyahhud Akhir dan tasyahhud akhir

Berdasarkan hadits Abu Humaid, “Hingga ketika sampai pada rakaat yang ada ucapan salamnya [rakaat terakhir], beliau memajukan kaki kirinya dan duduk tawarruk diatas pinggul sebelah kiri.’ Shahih. (HR. Abu Dawud (730), At-Tirmidzi (304), An-nasai (3/34), Ibnu Majah (1061) dan Al-Bukhari dalam ‘Juz’`u Raf’ul Yadain.’)

Dan hadits Ibnu Mas’ûd, bahwa Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang diantara kalian duduk didalam shalat, maka hendaklah mengucapkan, “At-tahiyyatu lillahi…” (Shahih. HR. al-Bukhâri 831, Muslim 402).

  • Salam

Mengucapkan salam adalah rukun, berdasarkan dengan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ‘Kunci shalat adalah bersuci [berwudhu],  dan yang mengharamkannya [dari segala sesuatu diluar shalat] adalah takbir, dan yang menghalalkannya [segala sesuatu dalam shalat] adalah salam.” (Hasan. HR. Abu Dawud (61, 618), At-Tirmidzi (3), Ibnu Majah (275) dan Ahmad (1/123).

  • Tertib rukun-rukunnya

Telah tetap didalam hadits Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau melakukan shalat dengan tertib dan beliau bersabda, “Shalatlah kalian seperti kalian melihat aku shalat.” Dan ketika beliau mengajari orang yang tidak benar shalatnya (mushi’ush shalah) bersabda, “kemudian..kemudian..”

[3] Pendapat yang rajih bahwa duduk tasyahhud pertengahan (yaitu tasyahhud awal untuk shalat yang memiliki dua tasyahhud mis: Maghrib) adalah wajib namun bukan rukun. Hal ini didasarkan pada hadits musiush shalah, dimana Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kamu duduk di pertengahan shalat, tenanglah dan hamparkanlah [paha] kirimu lalu bacalah doa tasyahhud. [HR. Abu Dawud (860), dan Al-Baihaqi (2/133). Dihasankan oleh Al-Albani dalam sifatush shalah. Lihat pula ‘Al-Irwâ` (337).] Tidak digolongkan sebagai rukun shalat lantaran ketika Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam lupa melakukannya (tasyahhud awal) beliau tidak mengulanginya namun menggantinya dengan sujud sahwi. Sekiranya ia rukun maka ia tidak cukup digantikan dengan sujud sahwi. Wallahu a’lam.

[4]Kesunnahannya berdasarkan  hadits Malik bin Al-Huwairits Radhiyallahu Anhu bahwasanya ‘Ia pernah melihat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sedang mengerjakan shalat. Maka apabila beliau berada dalam rakaat yang ganjil dari shalatnya, beliau tidak langsung bangkit hingga beliau duduk tegak.” [HR. Al-Bukhari (823), Abu Dawud (844), At-Tirmidzi (287) dan An-Nasai (2/234).] Makna, Berada dalam rakaat yang ganjil dari shalatnya’ yaitu setelah rakaat yang pertama dan yang ketiga. Disamping riwayat ini, juga terdapat dalil valid pada riwayat-riwayat hadits Abu Humaid, ‘…kemudian beliau mengucapkan, ‘Allâhu Akbar’, lalu melipat kakinya dan duduk dengan tegak lurus sehingga semua tulang-tulang kembali pada posisinya, kemudian beliau bangkit… [HR. Abu Dawud (730), At-Tirmidzi (304)].

[5] Berdasarkan hadits Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda, ‘Kunci shalat adalah bersuci [berwudhu],  dan yang mengharamkannya [dari segala sesuatu diluar shalat] adalah takbir, dan yang menghalalkannya [segala sesuatu dalam shalat] adalah salam.’ (Hasan. HR. Abu Dawud (61, 618), At-Tirmidzi (3), Ibnu Majah (275) dan Ahmad (1/123). Dan didalam hadits musiush shalah, ‘Apabila engkau hendak mengerjakan shalat maka bertakbirlah.’ Muttafaq Alaihi.

[6] Berdasarkan hadits Ubbadah bin Ash-Shamit Radhiyallahu Anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Al-Fatihah.’ (HR. Al-Bukhari (756), Muslim (394), Abu Dawud (822), At-Tirmidzi (247, 311), An-Nasai (2/137) dan Ibnu Majah (837). Bacaan al-Fatihah ini berlaku sama disemua shalat, baik yang fardhu maupun yang sunnah, baik pada shalat jahar atau sirr, mesti dibaca oleh laki-laki dan wanita, musafir dan mukim, anak kecil dan orang besar, yang berdiri, duduk dan berbaring, dalam kondisi takut dan lainnya, dalam berposisi sebagai imam dan makmum. Adapun untuk makmum maka ada perbedaan dalam hal wajibnya membaca Al-Fatihah. Dan pendapat yang unggul bahwa makmun juga diwajibkan membacanya di dalam shalat baik dalam shalat sirriyah [suara tidak dikeraskan semisal shalat dhuhur] atau dalam shalat jahriyah [suara di keraskan semisal shalat shubuh]. Pendapat ini didasarkan pada keumuman hadits diatas dan terdapat pada sebagian riwayat-riwayat hadits bahwa pada suatu hari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengerjakan shalat shubuh. Seusai shalat beliau bersabda, ‘Apakah kalian tadi membaca qiraah di belakang imam kalian?’ Mereka menjawab, ‘Benar.’ Beliau bersabda, ‘Jangan lakukan, kecuali membaca surat Al-fatihah, sebab tidak ada shalat bagi orang yang tidak membacanya.’ [HR. Abu Dawud (823), At-Tirmidzi (311), Ad-Daraqutni 91/318), Ibnu Hibbân (1785) dan dihasankan oleh At-Tirmidzi dan Ad-Daraqutni. Al-Khaththabi berkata, ‘sanadnya baik, tidak ada tuduhan pada perawi-perawinya.]

[7] Berdasarkan hadits Ibnu Mas’ûd, bahwa Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang diantara kalian duduk didalam shalat, maka hendaklah mengucapkan, “At-tahiyyatu lillahi…” (Shahih. HR. al-Bukhâri 831, Muslim 402).

[8] Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ‘Kunci shalat adalah bersuci [berwudhu],  dan yang mengharamkannya [dari segala sesuatu diluar shalat] adalah takbir, dan yang menghalalkannya [segala sesuatu dalam shalat] adalah salam.” (Hasan. HR. Abu Dawud (61, 618), At-Tirmidzi (3), Ibnu Majah (275) dan Ahmad (1/123).

[9] Namun dakwaan seperti ini kurang tepat, lantaran ada beberapa gerakan-gerakan serta dzikir-dzikir shalat yang dihukumi sunnah oleh pengarang –imam asy-Syaukani- namun menurut pendapat yang rajih bahwa ia adalah wajib seperti yang akan pembaca lihat pada penjelasan-penjelasn setelahnya.

[10] Yaitu pada saat takbiratul ihram, saat ruku’, saat bangkit dari ruku’, dan pada saat bangkit kerakaat yang ketiga. Berdasarkan hadits Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma, ia berkata, ‘Adalah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam apabila berdiri untuk melaksanakan shalat, beliau mengangkat kedua tangannya sejajar dengan pundaknya, kemudian beliau bertakbir. Apabila beliau hendak rukuk beliau mengangkat kedua tangannya seperti takbir yang pertama, dan apabila beliau bangkit dari rukuk, beliau mengangkat keduanya juga seperti itu dan mengucapkan, ‘Sami’allahu Liman Hamidah, Rabbanâ Walakal Hamd.” [HR. Al-Bukhari (735), (739), Muslim (390), Abu Dawud (721), (722) dan An-Nasai (2/121-122)]. Dan juga shahih dari ibnu ‘Umar bahwa ia mengangkat kedua tangannya apabila ia bangkit dari dua rakaat, dan ia merafa’kan hal itu kepada Nabi  Shallallahu Alaihi wa Sallam.”[HR. al-Bukhari (379)].

Adapun bacaan takbir intiqal maka hukumnya adalah wajib. Berdasarkan hadits dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu, ia berkata, ‘Saya melihat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bertakbir setiap kali bangkit, turun, berdiri dan duduk.” [Hasan Shahih. HR. An-Nasai (2/205), At-Tirmidzi (253) dan ia berkata, ‘shahih dan ia mendapat syahid dari hadits Abu Hurairah]. Juga terdapat pada sebagian riwayat-riwayat musiush shalah, ‘lantas beliau mengucapkan, ‘Allâhu Akbar’ lalu rukuk hingga tenang seluruh persendiannya. Kemudian beliau mengucapkan, ‘Sami’allâhu Liman Hamidah’ hingga beliau tegak lurus. Lalu beliau mengucapkan, ‘Allâhu Akbar’ kemudian sujud hingga tenang seluruh persendiannya. Lalu beliau mengucapkan, ‘Allâhu Akbar’ dan bangkit dari sujud hingga beliau hingga duduk dengan lurus. Lantas beliau mengucapkan, ‘Allâhu Akbar’ dan sujud hingga tenang seluruh persendiannya. Kemudian kembali bangkit dari sujud seraya mengucapkan takbir. Apabila ia laksanakan seperti itu berarti sudah sempurnalah shalatnya.’ [Shahih. HR. Abu Dawud (857), An-Nasai (1/161), Al-Hakim (1/243) dan ia menshahihkannya].

[11] Pendapat yang rajih bahwa bersedekap (meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri seusai takbiratul ihram) adalah wajib hukumnya. Hal ini didasarkan pada hadits Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu Anhu, ia berkata, ‘Dulu, orang-orang diperintahkan supaya seseorang meletakkan tangan kanannya di atas lengan tangan kirinya di dalam shalat.’  [Al-Bukhari (740), Malik (1/159), Ahmad (5/336), dan Ath-Thabrani dalam ‘Al-Kabir’ (6/140).] Juga berdasarkan dengan hadits Wail bin Hujr, dimana diantara isinya, ‘Bahwasanya ia pernah melihat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengangkat kedua tangannya saat masuk dalam shalat, lalu ia berselimut [dengan kainnya], kemudian meletakkan tangan kanannya diatas tangan kirinya.’ [Muslim (401), Abu Dawud (723), Ahmad (4/317) dan Ibnu Hibban (1862)].

Dan didalam satu riwayat milik Ahmad dan Abu Dawud -, ‘Kemudian beliau meletakkan tangan kanannya diatas punggung telapak tangannya yang kiri, pergelangan dan lengannya.’ [Shahih. HR. Abu Dawud (727)].

[12] Pendapat yang rajih bahwa membaca doa istiftah adalah wajib baik pada shalat fardhu maupun pada shalat sunnah, berdasarkan pada hadits Rifa’ah bin Râfi’ tentang sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada orang yang buruk shalatnya, “Sesungguhnya shalat salah seorang diantara kalian tidak sempurna hingga ia berwudhu..kemudian ia bertakbir, lalu memuji Allah ‘azza wa jalla dan menyanjungnya lalu ia membaca apa yang mudah dari al-Qur`an…apabila ia melakukan semua itu maka sempurnalah shalatnya.” [Shahih: HR. Abu Dawud (859), an-Nasai (2/20), at-Tirmidzi (302) dan Ibnu Majah (460)]. Dan berdasarkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, ia berkata, ‘Adalah Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam apabila telah bertakbir dalam shalat, beliau diam sejenak [sebelum membaca Al-fatihah]. Lalu saya bertanya, ‘Wahai Rasulullah, demi bapak dan ibuku sebagai tebusannya, saya melihat engkau diam antara takbir dan qiraah, apakah gerangan yang engkau baca?’ Beliau menjawab, ‘Aku mengucapkan, ‘Allâhumma Bâ’id Baini wa Baina Khathâyâya Kamâ Bâ’adta Bainal…[ [HR. Bukhari (744), Muslim (598), Abu Dawud (781), An-Nasai 1/50-51, Ibnu Majah (805), Ahmad  (2/231,494), Dan lafadh tersebut adalah milik Muslim].

Namun doa istiftah tidak dibaca pada shalat jenazah, berdasarkan hadits Thalhah bin ‘Ubaidillah bin ‘Auf, ia berkata, “Aku pernah shalat dibelakang ibnu ‘Abbâs atas satu jenazah, lalu beliau membaca al-Fatihah. Beliau berkata (setelah shalat), “Agar mereka tahu bahwa ia (membaca al-Fatihah) adalah sunnah.” [Shahih: HR. Al-Bukhâri (1335), Abu Dâwud (3182), dan lainnya] dan dalam satu riwayat, “Lalu beliau membaca surat al-Fatihah dan satu surat (lainnya), beliau mengeraskannya hingga memperdengarkannya ke kami.” Abu Dawud Rahimahullah berkata, ‘Saya pernah mendengar Ahmad ditanya tentang seseorang yang membaca doa iftitah untuk jenazah: Subhânaka? Beliau berkata, ‘Saya belum pernah mendengar [hal itu]. [Masail Abu Dawud (153).]

[13] Membaca isti’dzah adalah wajib demikian menurut pendapat yang rajih. Berdasarkan dengan firman Allah Ta’ala, ‘Apabila kamu membaca Al-Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.’ [QS. An-Nahl 98] dan isti’adzah diucapkan dengan sirr [pelan tidak keras].

Iti’adzah adalah dengan mengucapkan, ‘A’udzu Billâhi Minasy-Syaithânir Rajîm Min Hamzihi, Wa Nafkhihi, Wa Naftsihi. [Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk, dari kegilaannya, kesombongannya, dan dari sya’ir tercelanya.]’ atau ‘A’udzu Billâhis Samî’il ‘Alîm Minasy-Syaithânir Rajîm Min Hamzihi, Wa Nafkhihi, Wa Naftsihi. [Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui  dari setan yang terkutuk, dari kegilaannya, kesombongannya, dan dari sya’ir tercelanya.]’ [Dua riwayat ini valid dari berbagai jalur yang telah dikumpulkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dan beliau menshahih hadits tersebut. Lihat ‘Irwâul Ghalîl’ (342) dan lihat juga hadits riwayat Abu Dawud (764), dan Ibnu Majah (807)].

Dari Jubair bin Muth’im ia berkata, ‘Saya pernah melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, apabila membaca doa istiftah beliau mengucapkan, ‘Allâhumma Innî A’udzu Bika Minasy-Syaithânir Rajîm Min Hamzihi, Wa Nafkhihi, Wa Naftsihi. [Ya Allah, aku berlindung kepada kepadamu dari setan yang terkutuk, dari kegilaannya, kesombongannya, dan dari sya’ir tercelanya.] (lihat takrij sebelumnya).

Apakah isti’adzah dibaca pada tiap-tiap rakaat?

Sebagian ahli ilmu berpendapat bahwa isti’adzah hanya dibaca pada rakaat pertama saja, adapun untuk rakaat-rakaat yang tersisa maka langsung dimulai dengan membaca Al-Fatihah tanpa didahului dengan isti’adzah sebelumnya. Namun pendapat yang rajih bahwa isti’adzah dibaca pada setiap rakaat berdasarkan dengan keumuman firman Allah Ta’ala, ‘Apabila kamu membaca Al-Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.’ [QS. An-Nahl 98].

[14] Pendapat yang rajih bahwa membaca âmin’ adalah wajib. Kewajiban membaca âmin ini berlaku untuk semua orang yang bershalat, baik ia imam, makmum, munfarid [orang yang shalat sendiri], orang yang shalat fardhu, shalat sunnah, pada shalat sirriyah dan shalat jahriyah. Berdasarkan hadits bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam apabila selesai membaca, ‘Ghairil Maghdhûbi ‘Alaihim Waladhdhâllîn’ beliau mengucapkan, ‘âmin’ dan beliau mengucapkannya dengan suara yang keras [jahar]. [HR. Al-Bukhari dalam Juz’u al-Qirâ`ah]. Juga berdasarkan sabda Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, “Apabila imam mengucapkan amin maka ucapkanlah amin, karena barangsiapa yang ucapan aminnya bertepatan dengan ucapan amin malaikat, maka akan diberikan ampunan kepadanya atas dosa-dosanya yang telah berlalu.” [HR.Al-Bukhari (780), Muslim (410).]  Apabila imam meninggalkan ucapan âmin baik dengan sengaja ataupun lupa, maka makmum tidak boleh ikut meninggalkannya, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Apabila imam selesai mengucapkan, ‘Ghairil Maghdhûbi ‘Alaihim Waladhdhâllîn’ maka ucapkanlah: âmin.” [HR. Al-Bukhari (782), Muslim (415), Abu Dawud (935), At-Tirmidzi (250), An-Nasai (2/57) dan Ibnu Majah (852).]

 

[15] Dalil yang menunjukkan kesunnahannya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, ia berkata, ‘Pada setiap shalat beliau membaca, maka apa yang diperdengarkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada kami maka kami perdengarkan pula kepada kalian dan apa yang beliau samarkan [baca perlahan] kepada kami maka kami samarkan pula kepada kalian. Dan apabila engkau tidak menambahkan bacaan untuk surat Al-Fatihah maka hal itu telah mencukupimu, namun jika engkau tambah maka itu lebih bagus bagimu.’ [HR. Al-Bukhari (772), Muslim (396), dan An-Nasai (2/163)].

[16] Berdasarkan pendapat yang rajih bahwa tasyahhud pertengahan adalah wajib (lihat catatan kaki nomor 161).

[17] Yang benar bahwa dzikir-dzikir disetiap rukun adalah wajib. Adapun dalil-dalilnya adalah sebagai berikut:

s Takbir intiqal (yaitu takbir perpindahan dari satu rukun ke rukun yang lainnya), ucapan ‘sami’allâhu liman hamidah, dan ucapan, “Rabbana wa lakal hamd.”

                Berdasarkan sabda Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, “…Apabila imam bertakbir maka bertakbirlah kalian, apabila imam mengucapkan, “Sami’allahu liman hamidah,” maka ucapkanlah, “Rabbanâ wa lakal hamd.” [HR. Al-Bukhari (722) dan Muslim (409).] Juga berdasarkan hadits Rifa’ah bin Râfi’ mengenai sabda Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam kepada orang yang buruk shalatnya (mushius shalah), “Tidaklah sempurna shalat seorang pun dari manusia hingga ia berwudhu lalu meletakkan air wudhu itu pada tempatnya, kemudian ia bertakbir dan memuji Allah ‘azza wa jalla serta menyanjungnya, lalu ia membaca apa yang mudah dari al-Qur`an (al-Fatihah), kemudian ia berkata, ‘Allâhu akbar,” kemudian ia ruku’ hingga seluruh persendiannya tenang (ditempatnya), kemudian ia berkata, “Sami’allahu liman hamidah,” hingga ketika ia berdiri tegak, kemudian ia berkata, “Allâhu akbar, kemudian ia sujud hingga seluruh persendiannya tenang (ditempatnya), kemudian ia mengucapkan ‘Allahu akbar,” dan mengangkat kepalanya hingga ia duduk tegak, kemudian ia mengucapkan, “Allahu akbar,” kemudian ia sujud hingga seluruh persendiaannya tenang (ditempatnya)….apabila ia melakukan itu maka sempurnalah shalatnya.” [Shahih. HR. Abu Dâwud (859), an-Nasai (2/2), at-Tirmidzi (302), ibnu Majah (460).

s Ucapan tasbih pada waktu ruku’ dan sujud:

 Berdasarkan hadits dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Sesungguhnya tidak tersisa lagi wahyu kenabian kecuali mimpi yang baik yang dilihat oleh seorang muslim atau diperlihatkan baginya, dan  sesungguhnya aku dilarang membaca Al-Qur`an sewaktu rukuk dan sujud. Adapun (pada waktu] rukuk, maka agungkanlah Rabb didalamnya, sedang (pada waktu) sujud, maka bersungguh-sungguhlah kalian berdoa didalamnya, sebab ketika itu doa kalian sangat layak untuk dikabulkan. [Muslim (479), Abu Dawud (876), An-Nasai (2/217) dan Ibnu Majah (3899)]. Dari Hudzaifah Radhiyallahu Anhu, bahwasanya ia pernah shalat bersama Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, dimana beliau mengucapkan di dalam rukuknya, ‘Subhâna Rabbiyal Adhîm’ [Mahasuci Rabb-ku yang Mahaagung] dan dalam sujudnya mengucapkan, ‘Subhâna Rabbiyal A’la’ [Mahasuci Rabb-ku Yang Mahatinggi], beliau tidak melalui satu ayat tentang rahmat melainkan beliau berhenti dan berdoa dan tidak melalui satu ayat adzab melainkan beliau berhenti lalu berlindung. [HR. Muslim (772), Abu Dawud (871), dan An-Nasai] (2/190).]

s Adapun dzikir duduk diantara dua sujud adalah sunnah, berdasarkan hadits Hudzaifah Radhiyallahu Anhu, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengucapkan diantara dua sujud, ‘Rabbigh Firli, Rabbigh Firli’ [Ya Rabb-ku ampunilah aku, ya Rabb-ku ampunilah aku.” [Shahih. HR. Abu Dawud (874), An-Nasai (2/199) dan Ahmad (5/398).] Kesunnahannya lantaran dzikir ini tidak disebutkan dalam hadits mushius shalah dan tidak adanya perintah dzikir tersebut diluar hadits mushiush shalah.

 

[18] Hal ini berdasarkan dengan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pada hadits Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu, ‘Kemudian hendaklah ia memilih doa [yang ia kehendaki] [HR. Muslim 402] Sabda beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Sedang (pada waktu) sujud, maka bersungguh-sungguhlah kalian berdoa didalamnya, sebab ketika itu doa kalian sangat layak untuk dikabulkan.” [HR. Muslim (479)] Begitulah, lafadh ini disebutkan secara mutlak. Ditambah dengan sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang lain, ‘Kemudian ia berdoa untuk dirinya sendiri apa yang [tampak baik] baginya.” [HR. An-Nasai (3/58) dengan sanad yang shahih.]

Adapun doa berlindung dari yang empat setelah bacaan tasyahhud akhir, maka hukumnya wajib berdasarkan hadits  Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Apabila salah seorang diantara kalian telah selesai dari tasyahhud akhir, hendaklah ia berlindung kepada Allah dari empat perkara; dari azab jahannam, azab kubur, fitnah kehidupan dan kematian, serta dari kejahatan Al-Masih Dajjal.’ [HR. Muslim (588), Abu Dawud (983), An-Nasai (3/58) dan Ibnu Majah (909).]

[19] Berdasarkan hadits dari Zaid Bin Arqam Radhiyallahu Anhu, ia berkata, ‘Dahulu kami berbicara di dalam shalat, salah seorang dari kami berbicara kepada temannya yang berada di sampingnya, hingga turun ayat, ‘Dan hendaklah kamu berdiri karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu.’ Maka kami pun diperintahkan untuk diam dan dilarang berbicara. [HR. Al-Bukhari (1200, 4534), Muslim (539), Abu Dawud (949) dan At-Tirmidzi (405).]

Ibnul Mundzir Rahimahullah berkata, ‘Para ahli ilmu sepakat bahwa barangsiapa yang berbicara di dalam shalatnya dengan sengaja, dan ia tidak bermaksud memperbaiki shalatnya , maka batallah shalatnya.” [Al-Ijmâ’ (hal.8)].

Adapun berbicara karena lupa atau karena tidak mengetahui hukumnya maka hal itu tidak membatalkan shalat berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya Allah telah memaafkan kesalahan-kesalahan  ummatku  yang tidak disengaja, karena lupa dan yang dipaksa melakukannya. [Shahih. HR. Ibnu Majah (2045) dan Al-Hakim (198) dari hadits Ibnu Abbas. Al-Hakim menshahihkannya berdasarkan kriteria Al-Bukhari dan Muslim dan disepakati oleh Al-Bukhari]. Dan hadits Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulami Radhiyallahu Anhu, ia berkata, ‘Tatkala saya shalat bersama Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, tiba-tiba ada seseorang dari kaum itu bersin, lalu saya berkata, ‘Yarhamukallah’ [Semoga Allah memberi rahmat kepadamu]. Maka orang-orang pun melemparkan pandangannya kepadaku. Maka saya pun berkata, ‘Wahai kemalangan bagi ibu atas kehilangan anaknya [nada celaan], mengapa kalian menatapku (seperti itu)?’ Muawiyah berkata, ‘Lalu mereka memukulkan tangan mereka pada pahanya. Saat itu mengertilah saya, bahwa maksud mereka adalah menyuruhku diam, tetapi sebenarnya saya sendiri sudah diam. Tatkala Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam selesai shalatnya, demi ayah dan ibuku sebagai tebusannya, saya belum pernah melihat seorang guru sebelum dan sesudahnya yang teramat baik pengajarannya selain beliau. Demi Allah, beliau tidak menghardikku, tidak memukulku, dan tidak pula mencelaku. Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya shalat itu tidak patut dicampur dengan perkataan manusia. Shalat itu hanyalah tasbih, takbir dan bacaan Al-Qur`an.” [HR. Muslim (537), Abu Dawud (930), An-nasai (3/14) dan Ahmad (5/447).]

[20] Dimana kesibukan atau gerakan yang dilakukan seseorang tidak terlihat tengah melaksanakan shalat, semisal: menjahit pakaian, memperbaiki pintu, dan lain sebagainya. Adapun melakukan kesibukan atau gerakan ringan yang dibutuhkan yang tidak ada sangkut pautnya dengan shalat maka hal tersebut tidak membatalkan shalat, terlebih jika kesibukan itu ada sangkut pautnya dengan shalat.

Adapun dalil bolehnya melakukan gerakan ringan yang dibutuhkan yang tidak ada sangkut pautnya dengan shalat, diantaranya:

–          Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam menggendong cucunya Umâmah binti Zainab. Dari Abu Qatadah, “Bahwasanya Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah shalat dan dia menggendong Umamah binti Zainab binti Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Ketika sujud beliau meletakkannya dan ketika berdiri beliau menggendongnya lagi.” (HR. Al-Bukhâri 516 dan Muslim 543).

–          Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam membukakan pintu untuk ‘Aisyah. Dari ‘Aisyah, dia berkata, “Rasulullah SAW pernah shalat di rumah, dan pintu dalam keadaan terkunci. Kemudian aku datang dan meminta dibukakan pintu, lalu Rasulullah berjalan dan membukakan pintu untukku. Kemudian beliau kembali ke tempat shalatnya, dan aku mengetahui bahwasanya pintu berada di arah kiblat.” [Hasan. HR. Abu Dâwud (922) dan at-Tirmidzi (601).]

Sedang dalil bolehnya melakukan gerakan ringan ataupun banyak yang dibutuhkan yang ada sangkut pautnya dengan shalat, diantaranya:

–          Nabi shallallâhu mencopot sandalnya didalam shalat karena mengetahui ada najis padanya. Dari Abu Sa’id al-Khudri, dia berkata: “Suatu ketika Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam shalat bersama para sahabatnya, tiba-tiba beliau melepas kedua sandalnya kemudian meletakkan keduanya di sebelah kiri beliau. Ketika para sahabat melihatnya, mereka pun langsung melepaskan sandal-sandal mereka ….” [Shahih. HR. Abu Dawud.]

–          Mencegah orang yang hendak melintas dihadapan orang yang sedang shalat. Dari Abu Sa’îd Al-Khudri ia berkata: Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seseorang diantara kalian shalat menghadap sesuatu yang membatasinya dengan manusia, kemudian seseorang hendak lewat di antara kedua tangannya (di hadapannya) maka cegahlah orang itu. Jika dia menolak (masih tetap ingin lewat), maka perangilah dia karena sesungguhnya dia adalah setan.” [HR. Al-Bukhâri (3100) dan Muslim (505).”]

[21] Syarat ialah sesuatu, yang ada atau tidak adanya hukum tergantung ada atau tidak adanya sesuatu itu. Syarat adalah hal yang diluar hakikat sesuatu, dan bukan pula bagian daripadanya. Semisal wudhu. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Allah tidak menerima shalat dengan tanpa bersuci dan tidak menerima shadaqah dari harta ghulûl (curian dari harta rampasan perang).’ [Muslim (224), at-Tirmidzi (1), Ibnu Hibbân (3366).]

[22] Rukun sama dengan syarat namun rukun adalah bagian dari hakikat sesuatu. Semisal membaca surat al-Fatihah didalam shalat. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca al-Fatihah.” [HR. Al-Bukhâri (756), Muslim (394), Abu Dawud (822)].

 

[23] Perlu perincian. Sebab diantara syarat ada yang membatalkan dan harus diulangi sekalipun dilakukan tanpa sengaja atau karena tidak tahu seperti shalat tanpa berwudhu. Dari Khalid bin Mi’dan dari sebagian sahabat-sahabat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah melihat seseorang sedang shalat sedang pada bagian belakang kakinya ada bagian sebesar keping dirham yang belum terkena air, lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkannya untuk mengulangi wudhunya.’ -ia menambahkan dalam satu riwayat,  ‘dan mengulangi shalat.” [Shahih. Abu Dawud (175), Ahmad (3/423), dan ia memiliki syâhid pada Muslim (243) dari hadits Jâbir tanpa penyebutan shalat.’] Dan ada pula syarat yang jika tidak terpenuhi karena ketidak tahuan (tidak sengaja) tidak membatalkan. Semisal keberadaan najis –bagi yang menganggapnya sebagai syarat- pada pakaian tanpa disadari keberadaannya. Dari Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu Anhu, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah shalat lalu mencopot kedua sandalnya, maka orang-orang pun pada ikut mencopot sandal mereka. Seusai shalat, Nabi bertanya kepada mereka, ‘Mengapa kalian mencopot sandal kalian?’ Mereka menjawab, ‘Kami melihatmu mencopotnya maka kami pun ikut mencopot.’ Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya Jibril mendatangiku dan memberitahukanku  bahwa pada kedua sandalku ada kotoran. [Shahih. HR. Abu Dawud (650), Ahmad (3/20), dan Ad-Darimi (1378). Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Al-Irwâ’ (284).] Sekiranya hal itu membatalkan shalat niscaya Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengulangi kembali shalatnya.

[24] Orang yang sudah mendapat beban syariat. Dan orang yang mendapat beban syariat apabila terkumpul pada dirinya tiga hal, yaitu: Islam, baligh, dan berakal sehat.

Adapun orang kafir maka shalat yang ia lakukan dianggap tidak sah, karena ia tidak termasuk dari ahli ibadah. Tatkala Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman, beliau bersabda kepadanya, ‘‘Hendaklah yang pertama kali kamu serukan kepada mereka adalah mengajak untuk mengakui bahwa tidak ada Ilah yang berhak diibadahi melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Jika mereka telah memenuhi ajakanmu itu maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka shalat lima kali dalam sehari semalam…Al-Hadits [HR. Al-Bukhari (1458), Muslim (19), Abu Dawud (1584), At-Tirmidzi (625), An-Nasai (5/2), dan Ibnu Majah (1783).]

Adapun orang gila dan anak kecil, keduanya tidak wajib mendirikan shalat, lantaran disebutkan didalam hadits dari Ali Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Diangkat [tidak dicatat] dari tiga orang: dari orang gila hingga ia sadar, dari anak kecil hingga ia baligh, dan dari orang tidur hingga bangun.” [Shahih. HR. Abu Dawud (4399) dan At-Tirmidzi (1423).]

[25] Isyarat disini berlaku umum; mencakup isyarat kepala atau kerdipan mata. Namun Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berpandangan bahwa kapan saja orang sakit tidak mampu memberikan isyarat dengan kepalanya maka gugur sudah kewajiban shalatnya dan tidak ada keharusan baginya isyarat dengan kedipan matanya. [Al-Ikhtiyarât Al-Fiqhiyyah (hal.133).] Pembebanan shalat bagi orang sakit pada batas yang ia tidak sanggup lagi memberikan isyarat adalah pembebanan yang tidak ia sanggupi dan Allah tidak akan membebani hamba-Nya dengan sesuatu yang berada diluar kemampuannya.

[26] Lantaran pada waktu itu ia bukanlah seorang yang mukallaf (yang mendapat beban syariat) dan juga ia tidak berkewajiban mengqadha shalat yang terlewat, demikian pendapat yang unggul.

[27] Berdasarkan hadits Imrân bin Hushain Radhiyallahu Anhu, ia berkata, ‘Saya menderita sakit wasir, maka saya bertanya kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengenai shalat? Beliau bersabda, ‘Shalatlah dengan berdiri, jika kamu tidak mampu, maka dengan duduk, dan jika kamu tidak mampu, maka dengan berbaring diatas lambung.” [HR. Al-Bukhari (1117), Abu Dawud (952), At-Tirmidzi (372) dan Ibnu Majah (1223).]

[28] Atau shalat Tathawwu’ atau Nawafil. Diantara keutamaan umumnya adalah:

–          Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Sesungguhnya yang pertama kali dihisab dari amal perbuatan umat manusia kelak pada hari Kiamat adalah shalat. Beliau bersabda, ‘Allah Jalla wa Azza berfirman kepada Malaikat-Nya-dan Dia lebih mengetahui-, ‘Lihatlah shalat hamba-Ku, apakah ia menyempurnakan atau menguranginya? Dan jika shalat yang dikerjakannya itu sempurna, akan ditetapkan sebagai shalat yang sempurna baginya, meskipun ia melakukan sedikit kekurangan darinya. Allah berfirman, ‘Lihatlah, apakah hamba-Ku itu mempunyai ibadah tambahan?’ Dan jika hamba itu memiliki ibadah tambahan, maka Dia akan berkata, ‘Sempurnakanlah untuk hamba-Ku ibadah fardhunya dengan ibadah tathawwu’nya. Kemudian amal-amal itu diperhitungkan berdasarkan yang demikian itu.’ Shahih. HR. Abu Dawud (864), At-Tirmidzi (413), dan Ibnu Majah (1425).

–          Dan dari Rabi’ah bin Malik Al-Aslami Radhiyallahu Anhu, ia berkata, ‘Saya pernah bermalam bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, lalu saya membawakan air untuk wudhu` dan keperluan beliau, maka beliau bersabda kepadaku, ‘Mintalah’. Kemudian saya katakan, ‘Saya minta agar saya bisa menemanimu di Surga.’ Beliau bersabda, ‘Tidak ada yang lain selain itu?’ Saya menjawab, ‘Hanya itu saja.’ Beliau bersabda, ‘Bantulah aku atas demi berhasilnya maksudmu dengan memperbanyak sujud.’ [HR. Muslim (489), Abu Dawud (1320) dan An-Nasai (2/227).]

[29] Berdasarkan hadits Ummu Habibah Radhiyallahu Anhuma, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda, ‘Barangsiapa yang mengerjakan shalat dalam satu hari satu malam dua belas rakaat selain shalat fardhu maka akan dibangunkan untuknya sebuah rumah di Surga.’ Terdapat tambahan dalam riwayat At-Tirmidzi, ‘Empat rakaat sebelum Dhuhur, dua rakaat setelah Dhuhur, dua rakaat setelah Maghrib, dua rakaat setelah Isya, dan dua rakaat sebelum Shubuh.’ [HR. Muslim (728), Abu Dawud (1250), At-Tirmidzi (415) dan An-Nasai (3/261).] Juga dari Ummu Habibah Radhiyallahu Anhuma, ia berkata, ‘Saya pernah mendengar Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Barangsiapa yang shalat empat rakaat sebelum Dhuhur dan empat rakaat setelahnya, maka Allah akan mengharamkannya dari Neraka. [Shahih. HR. Abu Dawud (1269), At-Tirmidzi (427), Ibnu Majah (1160) dan An-Nasai (3/263)].

[30] Berdasarkan hadits Ummu Habibah radhiyallâhu ‘anhu diatas.

[31] Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Semoga Allah merahmati seseorang yang mengerjakan shalat empat rakaat sebelum Ashar.” [HR. Abu Dawud (1271), At-Tirmidzi (430), Ibnu Khuzaimah (1193) dan Ibnu Hibban (2453).] Namun pendapat yang benar bahwa hadits ini tidak shahih. Pada sanadnya ada Muhammad bin Mihrân. Padanya terdapat perbincangan sebagaimana yang dikatakan oleh al-Hâfizh Ibnu Hajar dalam at-Talkhîsh al-Khabîr 2/13, Ibnu al-Qayyîm dalam al-Hadyu 1/311 dan dinukil dari Abu Hatim bahwa ia berpaling dari hadits ini.

[32] Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhu, ia berkata, ‘Saya memelihara dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam; Dua rakaat sebelum dan sesudah shalat Dhuhur, dua rakaat setelah Maghrib, dua rakaat setelah Isya dan dua rakaat sebelum shalat Shubuh.” [HR. Al-Bukhari (937), Muslim (729), Abu Dawud (1252), At-Tirmidzi (425) dan An-Nasai (2/119).] Begitu juga dengan hadits Ummu Habibah pada footnote (186).

[33] Berdasarkan hadits ‘Abdullah bin ‘Umar dan Ummu Habibah radhiyallâhu ‘anhuma diatas.

[34]  Dari ‘Aisyah radhiyyahu ‘anhuma, ia berkata: Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dua rakaat fajar (sebelum shalat shubuh) adalah lebih baik dari pada dunia dan seisinya“. [HR. Muslim 725, Ahmad 6/50, 149, 265, An-Nasai 352 dan didalam Al-Kubra 458, Tirmidzi 416].  Dan juga dari Aisyah Radhiyallahu Anhuma, ia berkata, ‘Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak pernah menjaga shalat sunnah seketat penjagaannya terhadap dua rakaat shubuh.”  [HR. Al-Bukhari (1163), Muslim (724) dan Abu Dawud (1254).]

[35] Atau disebut dengan shalat Awwâbin. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, ia berkata, ‘Kekasihku Shallallahu Alaihi wa Sallam berwasiat kepadaku dengan tiga (hal), saya tidak akan meninggalkannya: Agar saya tidak tidur kecuali setelah shalat witir, tidak meninggalkan dua rakaat Dhuha; karena ia merupakan shalat Awwâbîn [orang-orang yang banyak bertaubat dan kembali kepada Allah] dan puasa tiga hari setiap bulan. [Shahih. HR. Ibnu Khuzaimah (1223) dan sanadnya shahih. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam ‘As-Silsilatush Shahihah (1164). Sedang asal hadits tersebut terdapat di Al-Bukhari (1178) dan Muslim (721)]

Dari Abu Dzar Radhiyallahu Anhu, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, ia berkata, ‘Setiap pagi setiap persendian salah seorang diantara kalian harus (membayar) shadaqah; Maka setiap tasbih (subhânallah) adalah shadaqah, setiap tahmid (Alhamdulillah) adalah shadaqah, setiap tahlil (Lâ Ilâha Illallah) adalah shadaqah, setiap takbir (Allahu Akbar) adalah shadaqah, amar ma’ruf adalah shadaqah, mencegah dari kemungkaran adalah shadaqah, tetapi dua rakaat Dhuha telah mencukupi semua hal tersebut.” [HR. Muslim (720), Abu Dawud (5243) dan Ibnu Khuzaimah (1225).]

Ulama sepakat bahwa jumlah minimal untuk rakaat shalat Dhuha adalah dua rakaat. Namun mereka berbeda pendapat dalam menentukan  jumlah maksimal rakaatnya  (8, 12, atau jumlah rakaatnya tidak terbatas). Namun informasi yang valid menunjukkan bahwa bilangan terbanyak dari perbuatan beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah delapan rakaat. Dari Ummu Hani` radhiyallâhu ‘anha bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah shalat Dhuha delapan rakaat pada hari pembebasan Makkah.” [HR. Al-Bukhari (280), Muslim (336), Abu Dawud (1291), (2763),  At-Tirmidzi (2735), An-Nasai (1/126) dan Ibnu Majah (1323).

.

[36] Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, bersabda, ‘Seutama-utama shalat setelah shalat fardhu adalah shalat lail (shalat malam).’ [HR. Muslim (1163), Abu Dawud (2429), At-Tirmidzi (438), An-nasai (3/206) dan Ibnu Majah (1742)].

Shalat malam boleh dilakukan pada bagian mana saja dari bagian-bagian malam hingga terbit fajar. Baik dikerjakan di awal malam, pertengahannya atau diakhirnya. Dari Anas Radhiyallahu Anhu, ia berkata, ‘Tidaklah kami menghendaki untuk melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melakukan shalat malam, kecuali kami melihatnya (melakukan shalat malam) dan tidaklah kami menginginkan untuk melihat beliau tidur kecuali kami melihatnya (dalam keadaan tidur). Dan adalah beliau terkadang berpuasa dalam satu bulan hingga kami berkata, ‘Beliau tidak berbuka sedikit pun  darinya dan terkadang beliau tidak berpuasa hingga kami berkata, ‘Beliau tidak berpuasa sedikitpun darinya.” [HR. Al-Bukhari (1150), Muslim (784), Ibnu Hibban (2492) dan ini adalah lafadh miliknya.] Al-Hafidh Rahimahullah berkata, ‘Tahajud Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak memiliki waktu yang tertentu akan tetapi beliau bertahajjud sesuai dengan kondisi beliau yang mudah untuk mengerjakannya.” Namun lebih utama jika hal itu dikerjakan disepertiga terakhir malam. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya Allah turun kelangit dunia pada sepertiga malam terakhir, lalu berfirman, ‘Siapa yang berdoa kepadaKu niscaya Aku kabulkan, siapa meminta kepada-Ku niscaya Aku beri, dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku niscaya Aku ampuni dia. [HR. Al-Bukhari (114), Muslim (758), Abu Dawud (1315) dan  At-Tirmidzi (446)].

[37] Demikian pendapat yang unggul, berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbâs radhiyallâhu ‘anhu tentang shalat malam Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, “… kemudian beliau mengerjakan shalat dua rakaat, kemudian dua rakaat, kemudian dua rakaat, kemudian dua rakaat, kemudian dua rakaat, kemudian dua rakaat, kemudian shalat witir. Setelah itu beliau berbaring sampai terdengar adzan, lalu beliau shalat dua rakaat, lalu keluar (ke masjid) untuk shalat Shubuh.” [HR. Al-Bukhari (117), (138), (183), (697-699), (776), (859)-(992), (1198), (4569) dan Muslim (763). Ibnu ‘Abbas juga berkata, “Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di malam hari adalah 13 raka’at.” [HR. Bukhari no. 1138 dan Muslim no. 764.].

Dua hadits diatas tidaklah bertentangan dengan hadits riwayat ‘Aisyah radhiyallâhu ‘anha yang menetapkan bilangan shalat malam Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam hanya berjumlah sebelas rakaat. Dari Abu Salamah bin Abdurrahman, bahwasanya ia pernah bertanya kepada Aisyah Radhiyallahu Anhuma, ‘Bagaimana shalat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pada bulan Ramadhan?’ Aisyah menjawab, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak pernah (shalat lail) lebih dari sebelas rakaat pada bulan Ramadhan maupun bulan-bulan lainnya, beliau mengerjakan empat rakaat; jangan tanya tentang bagus dan panjangnya. Kemudian beliau shalat empat rakaat; jangan tanya tentang bagus dan panjangnya. Kemudian beliau mengerjakan shalat tiga rakaat.” [HR. Al-Bukhari (1147), Muslim (738), Abu Dawud (1341), At-Tirmidzi (439), dan  An-Nasai (3/234).] Lantaran dua rakaat ringan yang beliau lakukan sebelum sebelas rakaat tersebut adalah pembuka shalat malam (rak’atain khafifatain). Ketetapan ini berdasarkan dengan hadits-hadits berikut:

– Dari Ibnu ‘Abbâs radhiyallâhu ‘anhu ia berkata, “….Lalu beliau shalat dua rakaat yang ringan. Dimana beliau membaca surat al-Fatihah pada tiap-tiap rakaatnya, kemudian beliau salam lalu shalat hingga shalat  (sejumlah) sebelas rakaat (termasuk) dengan witirnya..[Shahih. HR. Abu Dâwud (1366). Syaikh al-Albâni dalam Shahih Abu Dâwud (5/105) berkata: Hadits Shahih dan sanadnya berdasarkan atas kriteria Muslim].

–  Dari Zaid bin Khalid al-Juhany ia berkata, sungguh saya mencermati shalat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam, beliau shalat dua rakaat yang ringan-ringan, kemudian shalat dua rakaat yang panjang (lama) sekali, lalu shalat dua rakaat yang lebih pendek dari dua rakaat sebelumnya, lalu shalat dua rakaat yang lebih pendek dari dua rakaat sebelumnya, lalu shalat dua rakaat yang lebih pendek dari dua rakaat sebelumnya, lalu shalat dua rakaat yang lebih pendek dari dua rakaat sebelumnya,lalu kemudian melakukan witir. Maka demikianlah, shalat tigabelas rakaat.” [HR. Muslim (765), Abu dawud (1366) dan Ibnu Majah (1362).

–  Dari Aisyah, ia berkata: Adalah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam apabila akan melaksanakan shalat lail, beliau memulai shalatnya dengan (shalat) dua rakaat yang ringan-ringan.” [Muslim (1842)].

[38] Lihat hadits Ibnu ‘Abbâs dan  Zaid bin Khâlid al-Juhany radhiyallâhu ‘anhuma diatas. Namun untuk pelaksanaan shalat witir bisa juga dengan formulasi tiga dan lima rakaat. Dari Abu Ayyub Radhiyallahu Anhu, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Witir itu adalah haq [bagi setiap muslim]. Barangsiapa yang suka mengerjakan shalat witir lima rakaat maka lakukanlah, barangsiapa yang suka mengerjakan witir dengan tiga rakaat maka lakukanlah, dan barangsiapa yang suka mengerjakan shalat witir dengan satu rakaat maka lakukanlah.” [Shahih. HR. Abu Dawud (1422), An-Nasai (3/238) dan Ibnu Majah (1190).] Dan dari Aisyah Radhiyallahu Anhuma, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah mengerjakan shalat malam sebanyak tiga belas rakaat,  termasuk didalamnya lima rakaat shalat witir, dimana beliau tidak duduk melainkan pada rakaat yang terakhir. [HR. Muslim (737), Abu Dawud (1338) dan At-Tirmidzi (459)].

Atau dengan formulasi tujuh dan Sembilan. Dari Sa’id bin Hisyam, bahwasanya ia pernah berkata kepada Aisyah Radhiyallahu Anhu, ‘Beritahukan kepadaku tentang witir Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.’ Aisyah menjawab, ‘Kami biasa menyiapkan siwak beliau lalu beliau bersiwak dan berwudhu dan untuk selanjutnya beliau mengerjakan shalat sembilan rakaat, di mana beliau tidak duduk kecuali pada rakaat kedelapan, maka beliau berdzikir, memuji, dan berdoa kepada Allah, kemudian beliau bangkit dengan tidak mengucapkan salam dan berdiri untuk mengerjakan rakaat yang kesembilan. Setelah itu, beliau duduk kembali seraya berdzikir, memuji, dan berdoa kepada Allah, dan kemudian mengucapkan salam yang terdengar oleh kami. Selanjutnya, beliau mengerjakan shalat dua rakaat lagi sedang beliau dalam keadaan duduk setelah mengucapkan salam. Demikian itulah sebelas rakaat, wahai anakku. Dan setelah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam semakin tua dan tubuhnya bertambah gemuk, maka beliau hanya mengerjakan witir tujuh rakaat dan kemudian mengerjakan shalat dua rakaat seperti yang beliau lakukan kali pertama. Demikian itulah sembilan rakaat, wahai anakku…’ [HR. Muslim (746), Abu Dawud (1342), An-Nasai (3/341) dan Ibnu Majah (1191).]

Dan didalam riwayat bagi Abu Dawud, ‘Maka setelah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam semakin tua dan tubuhnya bertambah gemuk, beliau mengerjakan witir dengan tujuh rakaat di mana beliau tidak duduk kecuali pada rakaat yang keenam dan yang ketujuh dan beliau tidak mengucapkan salam kecuali pada rakaat yang ketujuh.’ [HR. Abu Dawud (142) dengan sanad yang shahih.]

[39] Dari Abu Qatadah Radhiyallahu Anhu, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Apabila salah seorang diantara kalian masuk masjid maka hendaklah ia tidak duduk sehingga mengerjakan shalat dua rakaat.’ [HR. Al-Bukhari (444), (1163), Muslim (714), Abu Dawud (467), At-Tirmidzi (316), An-Nasai (2/53) dan Ibnu Majah (1013)]. Dan dalam satu riwayat, ‘Apabila salah seorang diantara kalian masuk masjid, maka hendaklah ia rukuk (shalat) dua rakaat sebelum ia duduk.’

Shalat dua rakaat pada dua hadits diatas oleh ulama-ulama diistilahkan dengan ‘Tahiyyatul Masjid’ sekalipun nama ini tidak disebutkan secara jelas di dalam lafadh-lafadh hadits.

Sebagian ulama berpendapat bahwa shalat Tahiyyatul Masjid adalah wajib, mengingat redaksi hadits memerintahkan demikian. Namun pendapat yang unggul bahwa dua rakaat tersebut tidak wajib lantaran adanya beberapa hadits yang memalingkan perintah tersebut menjadi sunnah. Diantaranya  hadits  Abu Waqid Al Laitsi radhiyallâhu ‘anhu ia berkata, “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika sedang duduk bermajelis di Masjid bersama para sahabat datanglah tiga orang. Yang dua orang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan yang seorang lagi pergi, yang dua orang terus duduk bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dimana satu diantaranya nampak berbahagia bermajelis bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sedang yang kedua duduk di belakang mereka, sedang yang ketiga berbalik pergi, Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selesai bermajelis, Beliau bersabda: Maukah kalian aku beritahu tentang ketiga orang tadi? Adapun seorang diantara mereka, dia meminta perlindungan kepada Allah, maka Allah lindungi dia. Yang kedua, dia malu kepada Allah, maka Allah pun malu kepadanya. Sedangkan yang ketiga berpaling dari Allah maka Allah pun berpaling darinya.” [HR. Al-Bukhâri]. Dalam hadits disebutkan:…yang dua orang terus duduk..” Sekiranya dua rakaat tersebut wajib niscaya Nabi akan menegur kedua orang tersebut yang duduk tanpa shalat.

[40] Berdasarkan hadits Jâbir bin Abdillah Radhiyallahu Anhu, ia berkata, ‘Adalah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengajarkan beristikharah kepada kami dalam semua urusan, seperti halnya beliau mengajarkan kepada kami suatu surat Al-Qur`an. Beliau bersabda, ‘Apabila salah seorang diantara kalian hendak melakukan suatu perkara hendaklah ia shalat dua rakaat yang bukan shalat fardhu, kemudian mengucapkan, ‘Allâhumma Innî Astakhîruka Bi ‘Ilmika, wa Astaqdiruka Bi Qudratika, wa As`aluka Min Fadhlikal Adhîmi, Fa Innaka Taqdiru Wala `Aqdiru, wa Ta’lamu wala `A’lamu, wa Anta ‘Allâmul Ghuyûb, Allâhumma Inkunta Ta’lamu Anna Hâdzal Amra Khairullî Fî Dînî  wa Ma’asyî wa ‘Âqibati Amrî (atau beliau berkata, ‘Âjili Amrî wa Âjilihi); Faqdurhu Lî, wa Yassirhu Lî, Tsumma Bâriklî Fihi, Allâhumma Inkunta Ta’lamu Anna Hâdzal Amra Syarrullî Fî Dînî  wa Ma’asyî wa ‘Âqibati Amrî (atau beliau berkata, ‘Âjili Amrî wa Âjilihi); Washrifhu ‘Anhu, Waqdur Liyal Khaira Haitsu Kâna, Tsumma Ardhinî Bihi.’ [Artinya, ‘ Ya Allah, sesungguhnya aku memohon petunjuk kepada-Mu dengan ilmu-Mu, memohon ketetapan dengan kekuasaan-Mu, dan aku memohon karunia-Mu yang sangat agung, karena sesungguhnya Engkau berkuasa sedang aku tidak kuasa sama sekali, Engkau mengetahui sedang aku tidak, dan Engkau mengetahui segala yang ghaib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui perkara ini baik untukku dalam agamaku, penghidupanku, dan akibat dari urusanku [atau mengucapkan, ‘Baik dalam waktu dekat maupun yang akan datang.’], maka tetapkanlah ia bagiku dan mudahkanlah ia untukku. Kemudian berikan berkah kepadaku dalam menjalankannya. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini buruk untukku dalam agamaku, penghidupanku, dan akibat dari urusanku [atau mengucapkan, ‘Baik dalam waktu dekat maupun yang akan datang.’], maka palingkanlah ia dariku, serta tetapkanlah yang baik itu  bagiku di mana pun kebaikan itu berada, kemudian jadikanlah aku orang yang ridha dengan ketetapan tersebut.’ Beliau bersabda, ‘Hendaklah ia menyebutkan keperluannya.’ [HR. Al-Bukhari (1166), (6382), Abu Dawud (1538), At-Tirmidzi (480), An-Nasai (6/80), dan Ibnu Majah (1383)]. Dan dalam satu riwayat, ‘Kemudian ridhailah aku dengannya.’

[41] Dari Abdullah bin Mughaffal radhiyallâhu ‘anhu ia berkata: Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Antara dua adzan (adzan & iqamah) ada shalat (sunah). Kemudian pada ucapan beliau yg ketiga kalinya, beliau menambahkan: Bagi yg mau. [HR. Bukhari No.591].

Diterjemahkan dan disyarah secara ringkas oleh

Abu Halbas Muhammad Ayyub

Jember,  Rabiuts Tsani 1435 H.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: