//
you're reading...
Fiqih

Jarak Antara Adzan dan Iqamah


Soal : Berapa jarak ideal [tenggang waktu] antara adzan dan iqamat? Mohon penjelasannya.   [Genteng- Banyuwangi]

 

Jawab: 

Ketahuilah, bahwa tidak ada batasan pasti mengenai jarak waktu antara adzan dan iqamat. Terdapat beberapa hadits yang menjelaskan batasan tersebut namun kesemuanya tidak terlepas dari kelemahan.

Namun perlu diingat, bahwa tujuan disyariatkannya adzan adalah memanggil dan mengajak orang-orang untuk turut serta berjamaah, dan hal itu tentunya butuh pada tenggang waktu agar orang-orang yang dipanggil mempersiapkan diri memenuhi panggilan adzan tersebut. Jika tidak ada tenggang waktu diantara keduanya maka hilanglah faedah dari adzan itu sendiri.

Lagi pula, bukankah diantara adzan dan iqamat itu ada shalat. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Di antara tiap-tiap dua adzan [yaitu antara adzan dan iqamat] itu ada shalat.’ [HR. Al-Bukhari 624 dan Muslim 838].

                Dan juga para shahabat Rasulullah sehabis adzan di kumandangkan mereka segera melaksanakan shalat sunnah. Dari Anas Radhiyallahu Anhu, ia berkata, ‘Adalah para shahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam apabila telah [mendengar] adzan mereka bersegera merapat ketiang-tiang masjid untuk shalat dua rakaat.’ [HR. Al-Bukhari 625 dan Muslim 837].

Dua hadits diatas menunjukkan bahwa muadzzin [bilal] memberikan kesempatan pada orang-orang untuk melaksanakan shalat-shalat sunnah yang berhubungan dengan shalat yang akan didirikan tersebut.

Ibnu Baththal berkata, ‘Tidak ada batasan waktu tertentu untuk waktu selang antara adzan dengan iqamat, selain kepastian masuknya waktu shalat dan berkumpulnya orang-orang yang hendak melaksanakan shalat berjamaah.’

Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Majmû` [3/127] berkata, ‘Para shahabat kami [dari kalangan Syafi’iyyah] telah sepakat tentang disunnahkannya mengadakan jarak waktu [antara adzan dan iqamat] ini seukuran masa yang diperlukan bagi berkumpulnya orang-orang yang hendak berjamaah shalat. Kecuali untuk shalat Maghrib, tidak boleh menundanya [sampai orang-orang berkumpul karena waktunya yang sempit. Alasan lainnya: bahwa orang-orang yang hendak berjamaah itu biasanya tidak segera berkumpul di masjid, kecuali pada waktu shalat Maghrib.’

 

 

Jember 1434  H.

Abu Halbas Muhammad Ayyub

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: