//
you're reading...
Fiqih

Posisi Imam Lebih Tinggi Dari Posisi Makmum


Soal:

Umumnya, pada waktu pelaksanaan shalat ‘ied di tanah lapang, posisi sang imam sewaktu mengimami orang-orang, posisinya lebih tinggi dari makmumnya. Apakah hal ini diperbolehkan? Lalu bagaimana jika tempatnya di masjid bukan ditanah lapang. Jazakumullah Khairan.   [Bpk. NurHalim-Jember]

 

Jawab:

Keadaan yang seperti Anda sebutkan di atas banyak kita jumpai di berbagai negeri. Di antara mereka [yaitu para imam, yang mengimami orang-orang di tempat ketinggian]] ada yang melakukan-nya hanya pada musim-musim tertentu saja dan di antara mereka pula ada yang melakukannya dalam keseharian mereka di saat mereka memimpin shalat lima waktu.  Padahal, yang me-reka lakukan itu bertolak belakang dengan petunjuk Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Ketahuilah, letak imam yang posisinya berada lebih tinggi dari makmum, memiliki dua keadaan

Keadaan pertama ; Imam berada seorang diri di tempat yang tinggi. Hal ini tidak diperbolehkan baik itu di tanah lapang, masjid atau di tempat lainnya, baik itu seukuran sedepa atau kurang dari itu, kecuali jika dimaksudkan untuk memberikan pelajaran shalat. Ketetapan ini didasarkan pada dalil-dalil berikut:

1. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersab-da, ‘Jika seseorang mengimami suatu kaum, maka ia tidak boleh berdiri di tempat yang lebih tinggi dari tempat berdirinya makmum.’ [Shahih. HR. Abu Dawud 518, Ad-Daraquthny 2/88. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Bani didalam Shahihul Jami’ 392 dan Shahih Abu Dawud 611].

2. Dari Hammâm, bahwasanya Huzaifah pernah mengimami orang-orang di Al-Madâin [nama salah sebuah tempat di daerah baghdad] di atas tempat yang tinggi, Abu Mas’ud memegang baju Huzaifah dan menariknya mundur, tatkala shalatnya beres, ia [Abu Mas’ud] berkata, ‘Tidak engkau tahu bahwa mereka dahulu dilarang melakukan demikian?’ Huzaifah men-jawab, ‘Betul, aku teringat hal itu ketika engkau menarik bajuku.’ [Shahih. HR. Abu Dawud 597, Al-Hâkim 1/210, Al-Baihaqy 3/108. Dan dishahihkan oleh Al-Bany dalam Al-Irwâ’ 2/311]

 

BOLEH DALAM RANGKA PENGAJARAN

Adapun dalil diperbolehkannya imam berada di tempat yang tinggi jika dimaksudkan untuk memberikan pengajaran, adalah hadits yang diriwayatkan Sahl bin Sa’d As-Sâ’idy Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata, ‘Sungguh aku pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdiri di atasnya [yaitu di atas mimbar]     ,lalu beliau bertakbir dan orang-orang pun bertakbir di belakangnya, kemudian beliau ruku’ sedang beliau di atas mimbar, kemudian  bangkit dari ruku lalu turun dengan cara mundur kebelakang hingga beliau sujud di dasar mimbar, kemudian beliau kembali [keatas mimbar] hingga selesai shalatnya, kemudian beliau menghadap ke orang-orang dan berkata ; ‘Wahai sekalian manusia, aku melakukan hal ini [shalat di atas mimbar] tidak lain agar kalian dapat mengikuti aku dan mem-pelajari cara shalatku.’ [HR. Al-Bukhari 917 dan Muslim 455]

 

ALASAN YANG MEMBOLEHKAN IMAM DI TEMPAT YANG TINGGI

 

Bagi mereka yang membolehkan imam berada di tempat yang tinggi dibanding makmumnya adalah berhujjah dengan hadits Sahl bin Sa’d di atas, dinama Rasulullah Sallallallahu Alahi wa Sallam melakukan shalat di atas mimbar. Namun pengambilan dalil ini kurang tepat.

Ibnu Daqiqil ‘Id berkata, ‘Barangsiapa yang mengambil dalil untuk membolehkan imam lebih tinggi tempat berdirinya dari makmum, bukan karena maksud memberi pelajaran, maka pengambilannya itu tidaklah tepat, lantaran pemaknaan demikian tidak terkandung di dalam lafadh hadits [karena Nabi berdiri lebih tinggi itu adalah untuk memberi pelajaran terhadap shahabatnya.]. [Lihat Nailul Authar 3/204]

 

Keadaan kedua ;  Imam bersama bebera-pa orang makmum di tempat tinggi sedang makmum selebihnya berada di tempat yang rendah. Posisi ini dibolehkan oleh sebagian ulama, karena imam tidak berdiri seorang diri di suatu tempat. [Lihat Syarhul Mumti’ 2/215]

 

KESIMPULAN

Imam tidak diperbolehkan berdiri seorang diri di empat yang lebih tinggi dari barisan makmum terkecuali untuk keperluan memberi-an pelajaran dalam tata cara melakukan shalat. Wallahu A’lam.

 

 

Jember 1433 H

Abu Halbas Muhammad Ayyub

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: