//
you're reading...
Fiqih, Hadits

Shalat Arba’in


Soal:

 Atas dasar apa orang-orang melakukan shalat arbain di Madinah? Adakah dalil yang menunjukkan hal itu? Dan sejauh mana kesunnahan shalat tersebut? (Abdullah)

 

Jawab: 

Shalat arbain menurut pelakunya adalah melakukan shalat fardhu 40 kali dengan berjamaah di masjid Nabawi  dan dilakukan secara berturut-turut tidak boleh ada absennya walau hanya sekali.

Untuk keperluan inilah, jamaah haji/calon jamaah haji ditempatkan di Madinah (di pemondokan) kurang lebih 9  hari lamanya agar dapat menggunakan kesempatan itu sebaik-baiknya.

 

Dasar dan keutamaan shalat arbain

Keutamaan shalat arbain adalah pelakunya dibebaskan dari api neraka, diselamatkan dari azab dan terbebas dari kemunafikan. Keutamaan ini disandarkan pada hadits berikut : ‘Barangsiapa yang shalat di masjidku ini sebanyak 40 kali shalat tanpa tertinggal satu kalipun, maka akan ditetapkan untuknya kebebasan dari api neraka, keselamatan dari azab, dan terbebas dari kemunafikan.’ 

 

Catatan penting!

 

Dalam menetapkan sebuah hukum (apakah ini sunnah atau tidak) perlu berpedoman pada hadits shahih dan hasan saja. Tidak berpedoman kepada hadits-hadits dhaif secara mutlak. Karena hadits dhaif (lemah) merupakan riwayat yang diduga kuat dibohongkan atas nama Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam. Asy-Syaikh Ahmad Syakir dalam kitab Al-Ba’its Al Hatsits, hal 77 berkata, ‘Menurut pendapat kami, menjelaskan status kedhaifan (kelemahan) hadits adalah wajib hukumnya. Karena jika tidak dilakukan , maka dapat memberi kesan pada pembaca bahwa hadits itu shahih. Terlebih lagi jika yang menukilnya dari kalangan ulama hadits  yang pendapat mereka dijadikan rujukan dalam masalah tersebut. Tidak ada beda baik dalam hukum-hukum biasa, keutamaan-keutamaan amal atau yang sejenisnya, semuanya tidak boleh meng-gunakan hadits dhaif sebagai dasarnya. Bahkan, seseorang sama sekali tidak boleh berhujjah kecuali dengan hadits yang benar-benar berasal dari nabi Sallallahu Alaihi wa Sallam, yaitu dengan hadits shahih atau hasan saja.’

 

Kedudukan hadits shalat arbain

Untuk mengetahui kedudukan (derajat) hadits shalat arbain, maka kami biarkan pembaca untuk menyimak tulisan pakar hadits kontemporer, yaitu Asy-Syaikh Nâshiruddin Al-Bâni berikut ini:

Hadist Dhaif (lemah). Diriwayatkan oleh Ahmad (3/155) dan Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Aushat (1/125/2 dari ‘Zawâid Al-Mu’jamin’) dari jalur Abdurrahman bin Abu Ar-Rijâl dari Nubaith Bin Amr dari Anas bin Mâlik secara marfu’. Ath-Thabrany berkata, ‘tidak ada yang meriwayatkannya dari Anas kecuali Nubaith. Abdurrahman berkesendirian dalam meriwayat-kannya dari Nubaith.’ Aku berkata, ‘Sanad hadits ini lemah, si Nubaith tidak diketahui meriwayatkan hadits kecuali hadits ini. Ibnu Hibban memasukkan orang ini dalam kitab ‘At-Tsiqât’ berdasarkan kaedah beliau dalam pentausiqahan orang-orang yang majhul. Lalu dijadikan sandaran Al-Haitsami ketika mengomentari hadits ini dalam ‘Al-Majma’ 4/8 : Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ath-Thabrani dalam ‘Al-Ausath’ dan perawi-perawinya terpercaya.’ Adapun pernyataan Al-Mundziri dalam ‘At-Targhib’ 2/136.: ‘Diriwayat-kan oleh Ahmad dan rawi-rawinya adalah para perawi shahih, dan Ath-Thabrani dalam ‘-Aushat’. Selesai.

 

 

Jember, 1432 H.

Abu Halbas Muhammad Ayyub

 

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: