//
you're reading...
Fiqih

Tidak Berjamaah Lantaran Hujan


Soal:

Sekarang kita berada di musim penghujan. Diperkirakan musim ini akan berakhir setelah bulan Maret nanti. Yang kami tanyakan terkait dengan musim hujan ini adalah tentang shalat berjamaah di masjid. Bolehkah kami tidak ikut berjamaah di masjid jika tiba waktu shalat.

 

Jawab: 

Ulama sepakat bahwa mendirikan shalat lima waktu bagi laki-laki di masjid dengan berjamaah, termasuk kedalam sebesar-besar ibadah dan semulia-mulia pekerjaan dalam bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Ta’ala.  Pantaslah, jika diantara para shalafus-shalih ada yang luput dari shalat jamaah mereka satu sama lainnya saling berbelasungkawa selama tujuh hari, dan tiga hari lamanya jika mereka luput takbiratul ihram. Dalam belasungkawanya itu mereka mengucapkan : ‘Musibah itu, bukanlah karena seseorang berpisah dengan yang disayanginya, tetapi musibah yang sebenarnya adalah seseorang yang terhalang mendapatkan pahala.” (Mukhtarât Al-Bâjury 1/102. Lihat takhrij Syarhus-Sunnah Al-Baghâwi, yang ditakhrij oleh Syaikh Ali Muhammad dan Adil Muhammad (2/364).

Rahasia apakah gerangan yang terdapat didalam shalat jamaah, sehingga mereka saling berbelasungkawa jika terluput darinya? Jawabnya jelas, ada keutamaan besar yang menggiurkan dan ada pula jalan keselamatan di dalamnya. Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda : Artinya : ‘Shalat berjamaah adalah lebih utama dibanding shalat sendirian dengan perbedaan 27 derajat.’ (HR. Al-Bukhari 645-646, Muslim 645,650).

Ibnu Mas’ud berkata : ‘Barangsiapa yang ingin menjumpai Allah besok sebagai seorang muslim maka hendaklah menjaga shalat-shalatnya saat diseru (dikumandangkan adzan) untuk itu. Sesungguhnya Allah mensyariatkan atas Nabi-Nya jalan-jalan petunjuk, dan shalat-shalat itu bagian dari jalan petunjuk. Andai kalian shalat di rumah kalian masing-masing sebagaimana orang yang tertinggal shalat (kaum munafik), tentu kalian telah meninggalkan sunnah Nabi kalian,maka kalian akan sesat.’(HR. Muslim 1/453).

 

Tidak berjamaah di masjid lantaran hujan

Hawa dingin yang menusuk, hujan, becek dan angin yang kencang adalah merupakan bagian dari uzur yang seseorang diperbolehkan tidak ikut berjamaah dimasjid, demikian menurut kesepakatan para ulama. (Ensiklopedi Ijmak 629 oleh Sa’di Abu Habib)

Diriwayatkan oleh Muslim : Bahwa Ibnu Umar mengumandangkan adzan pada suatu malam yang dingin , banyak angin, dan hujan. Lalu diakhir adzan beliau mengucapkan, ‘Alâ Shallû fi Rihâlikum, Alâ Shallû fi Rihâlikum ’(shalatlah kalian ditempat masing-masing, shalatlah kalian ditempat masing-masing ).’ Kemudian beliau berkata, ‘Jika malam sangat dingin ataupun hujan ketika dalam perjalanan, Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan muadzdzin  untuk mengucapkan, ‘Alâ Shallû fi rihâlikum’ (shalatlah kalian ditempat masing-masing). (Muslim 697).

Perintah Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam di atas untuk shalat di rumah ketika hujan atau cuaca dingin tidaklah bersifat wajib tetapi hanyalah sekedar dispensasi (keringanan) bagi yang kesulitan hadir di masjid. Makna ini dapat diketahui melalui hadits Jâbir Radhiyallahu Anhu, ia berkata, ‘Kami pernah bermusafir bersama Rasulullah Sallallahu Alahi wa Sallam. Pada saat itu turunlah hujan dan beliau bersabda, ‘Bagi yang ingin, silahkan shalat di tempatnya.’ (HR. Muslim 698).

 

Dan andapun tidak kehilangan pahala

Barangsiapa yang tidak mampu mengerjakan amal kebaikan yang sudah biasa dikerjakannya lantaran adanya udzur syar’ie (termasuk dalam hal tertinggal dari shalat jamaah di masjid lantaran hujan), maka ditetapkan baginya amal kebaikan tersebut sebagaimana   yang   ditetapkan   baginya   pada saat-saat normal. Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Jika seorang hamba jatuh sakit atau seperti yang biasa dikerjakannya pada saat melakukan perjalanan (musafir), maka akan dicatat baginya amal perbuatan dia tidak bepergian dan pada saat dia sehat (HR. Al-Bukhari).

 

Kesimpulan

Hujan adalah termasuk dari udzur yang dibenarkan untuk tidak berjamaah dimasjid. Wallahu A’lam.

 

 

Jember, Rabiuts Tsani 1435 H.

Abu Halbas Muhammad Ayyub

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: