//
you're reading...
Fiqih

Ubah Nama Usai Haji


Soal:    Sebelum berhaji si fulan biasa dipanggil si ‘A’, sekembali dari berhaji namanya berubah jadi si ‘haji B’. Bagaimana hukum sebe-narnya dari perubahan nama ini? (Wuluhan)

Jawab: 

Adakalanya nama wajib dirubah (diganti) jika nama-nama tersebut diharamkan oleh syariat untuk memakainya seperti nama Malakul Amlak atau nama-nama yang khusus bagi Allah –Subhanahu wa Ta’ala– seperti Ar-Rahman, Al-Quddus, Al-Muhaimin, khâliqul Khalq dan yang semisalnya. Atau dirubah lantaran nama-nama tersebut dibenci oleh syariat seperti nama: Yasâr, Rabâh atau Aflâh. Dan adakalanya merubah nama bersifat sunnah (dianjurkan) jika nama tersebut tidak sesuai dengan tuntunan syariat dalam artian lafadh dan makna nama tersebut berkonotasi jelek. Seperti nama ‘Ashiyah (wanita pendurhaka) yang dirubah oleh nabi Sallallahu Alaihi wa Salallam menjadi Jamîlah (Wanita yang baik). Syihâb (cahaya api) menjadi Hisyam (kemurahan hati), dan lain sebagai nya.

Untuk merubah nama yang diharamkan atau yang tidak disukai oleh syariat tidaklah terikat dengan waktu dan tempat. Tidak harus menunggu moment-moment tertentu dan tidak juga harus didahului dengan ritual-ritual tertentu pula. Jika seorang hamba telah mengetahui secara nyata bahwa nama yang ia pakai adalah terlarang dan tidak disukai oleh syariat maka secepat mungkin ia merubahnya. Karena diantara sifat seorang mukmin adalah bersegera menyingkirkan kemungkaran yang terjadi dihadapannya.

 

Rubah Nama setelah ritual haji

Barangsiapa yang menyangka bahwa dianjurkan merubah nama setelah me- rampungkan pelaksanaan ritual haji atau tidak berprasangka demikian hanya saja merasa bahwa haji kurang lengkap tanpa perubahan nama atau merubah nama seusai haji hanya sekedar mengikuti tradisi yang biasa dilakukan oleh orang-orang terdahulu maka itu adalah perbuatan baru (bid’ah) yang dilarang oleh syariat. Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Barangsiapa yang melakukan amalan yang bukan bagian dari urusan kami maka amalannya tertolak.’

            Berhaji yang baik adalah berhaji seperti yang dilakukan oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam. Rasulullah sekembali dari haji wada’ namanya persis sama sebelum berangkat berhaji yaitu Muhammad Sallallahu Alaihi wa Sallam tidak ada nama yang diganti, begitu juga dengan Abu Bakar, Umar, Ali, Utsman, dan yang lainnya semoga Allah meridhai mereka semua.

 

Kesimpulan :

  • Jika diantara para jamaah haji ada yang baru menyadari bahwa nama yang ia pakai tercela di dalam syariat dan itu ia ketahui setelah ia ditanah Makkah atau setelah melaksanakan ritual haji  (Mungkin karena teguran seorang syeikh / teman sejawat) maka ia diperbolehkan merubah nama pada waktu itu.
  • Adapun jika merubah nama lantaran (atau terkait) dengan proses ibadah haji yang telah rampung, atau karena ia ada di Makkah atau Madinah (karena keduanya adalah kota yang berberkah), maka tujuan seperti ini adalah bid’ah, dilarang oleh syariat. Wallahu A’lam.

Jember, Rabiuts Tsani 1435 H.

Abu Halbas Muhammad Ayyub

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: