//
you're reading...
Fiqih

Berbagi Hadiah Syarah Ad-Durarul Bahiyyah [7]


7-         Shalat Jamaah[1]

–          Termasuk dari sunnah muakkadah.[2]

–          Terwujud dengan dua orang.[3]

–          Semakin banyak peserta jamaahnya semakin banyak pula pahalanya.[4]

–          Dinyatakan sah jika dilakukan dibelakang imam yang mafdhûl.[5]

–          Namun  lebih utama jika yang menjadi imam dari orang pilihan.[6]

–          Laki-laki mengimami wanita –tidak sebaliknya-.[7]

–          Yang shalat wajib (boleh) mengimami orang yang shalat sunnah –begitu juga sebaliknya-.[8]

–          (wajib mengikuti gerak-gerik imam selama imam tidak batal).[9]

–          Seseorang tidak boleh mengimami suatu kaum yang mereka tidak menyukai dirinya.[10]

–          Dan meringankan shalat saat mengimami mereka.[11]

–          Lebih diutamakan: Penguasa, tuan rumah, yang lebih banyak hafalannya, yang lebih alim, kemudian yang lebih tua.[12]

–          Jika ada yang salah dari shalatnya imam, maka kesalahan itu untuknya tidak atas makmum.[13]

–          Posisi makmum ada dibelakang imam[14], kecuali jika makmun hanya seorang diri maka posisinya dikanan imam.[15]

–          Posisi imam wanita berada ditengah-tengah shaf.[16]

–          Didahulukan: Shaf orang-orang dewasa, kemudian anak-anak kecil, lalu para wanita.[17]

–          Yang lebih berhak dishaf terdepan adalah orang baligh lagi berilmu.[18]

–          Hendaklah para jamaah meluruskan dan merapikan shaf mereka.[19]

–          Menutup celah-celah yang kosong.[20]

–          Memenuhi shaf yang pertama, kemudian shaf berikutnya, dan begitu seterusnya.[21]

 

 

 

 

 

Bab Sujud Sahwi[22]

Yaitu dua sujud sebelum[23] atau setelah salam[24]; dengan takbiratul ihram[25], bertasyahhud[26], dan salam.[27]

–          Disyariatkan:

1-    Karena meninggalkan perkara yang sunnah.[28]

2-    Karena ada tambahan –walau satu rakaat- karena lupa.[29]

3-    Karena bimbang dalam bilangan rakaat.[30]

 

–          Apabila imam sujud, makmum ikut pula bersujud.[31]

 

 

Bab Mengqadha`[32] Shalat Yang Luput

–          Jika shalat tersebut ditinggal dengan sengaja bukan lantaran udzur; maka utang Allah ta’ala lebih berhak untuk dilunasi.[33]

–           Adapun karena udzur[34], maka hal itu bukan qadha’ tetapi ada`,[35] (dikerjakan) pada waktu hilangnya udzur tersebut.[36]

–          Kecuali shalat I’ed maka dikerjakan pada hari keduanya.[37]

 

Bab Shalat Jumat

Diwajibkan atas setiap mukallaf,[38]kecuali:

1-    Wanita.

2-    Budak.

3-    Musafir.

4-    Orang sakit.[39]

 

–          Shalat jumat tidak berbeda dengan shalat –shalat lainnya[40], tidak ada yang berbeda melainkan disyariatkannya dua khutbah sebelumnya.[41]

–          Waktunya waktu Dhuhur.[42]

 

Bagi yang menghadirinya;

1-    Tidak diperbolehkan melangkahi pundak-pundak orang.[43]

2-    Diam saat dua khutbah berlangsung.[44]

 

Dianjurkan untuk:

1-    Datang lebih awal.[45]

2-    Mengenakan wewangian.[46]

3-    Berhias.[47]

4-    Dekat dari imam.[48]

 

–          Barangsiapa yang mendapatkan satu rakaat darinya; maka ia telah mendapati jumat tersebut.[49]

–          Shalat Jumat pada hari ‘Ied adalah rukhsah (kelonggaran).[50]

 


[1] Maksud shalat berjamaah yang mendapatkan pahala adalah shalat jamaah yang dilakukan di masjid. Al-Hafidz Ibnu Hajar Rahimahullah berkata, ‘Asal disyariatkan shalat berjamaah tidak lain adalah di masjid, dan ia adalah sifat yang mu’tabar [teranggap] yang tidak sepatutnya dibatalkan, maka shalat jamaah hanya dikhususkan di masjid saja. Dan termasuk kategori tempat berjamaah adalah tempat yang semakna dengan masjid, dimana syiar-syiar shalat berjamaah tampak ditempat tersebut.’ [Fathul Bâri (2/136).]

 

[2]Berdasarkan hadits, diantaranya, “Shalat berjamaah adalah lebih utama dari shalat sendirian dengan

duapuluh tujuh derajat.’ [Muttafaq ‘Alaihi]. Namun pendapat yang unggul bahwa shalat berjamaah adalah fardhu ‘ain bagi yang mendengarkan adzan dan tidak ada halangan syar’i yang menghalanginya untuk menghadiri jamaah, berdasarkan dengan dasar berikut:

 

–       Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Sungguh aku amat berkeinginan memerintahkan untuk mendirikan shalat lalu diqamatkan, lantas aku memerintahkan seseorang untuk mengimami orang-orang, lalu beberapa orang yang  bersama mereka ada beberapa ikat kayu bakar ikut bersamaku ke kaum yang bolos dari shalat jamaah lalu aku bakar rumahnya bersama-sama dengan mereka di dalamnya.’ [HR. Al-Bukhari (644), Muslim (651), (252) dan lafadh tersebut miliknya, Abu Dawud (548), (549) dan Ibnu Majah (791).]

Adalah hal yang maklum bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak berkeinginan untuk menjatuhkan sanksi ini kecuali untuk perkara yang wajib. Adapun beliau urung melaksanakannya lantaran di sana [didalam rumah-rumah mereka] ada orang-orang yang memiliki udzur yang tidak berhak dengan sanksi ini. Wallahu A’lam.

 

–       Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, ia berkata, ‘Datang kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam seorang laki-laki buta, lalu berkata, ‘Ya Rasulullah, saya tidak punya penuntun yang menuntunku ke masjid’, kemudian ia meminta Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam agar memberikan keringanan untuk shalat di rumahnya, lalu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memberikan keringanan kepadanya, tetapi ketika orang itu beranjak pergi, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memanggilnya lagi seraya bertanya, ‘Apakah kamu mendengar adzan?’ Orang itu menjawab, ‘Ya.’ Beliau bersabda, ‘Kalau begitu, sambutlah (seruan itu).’ [HR. Muslim (653) dan An-Nasai (2/109).]

 

–       Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu, ia berkata, ‘Barangsiapa ingin bertemu Allah besok (kiamat) dalam keadaan Muslim maka hendaklah ia menjaga shalat-shalat tersebut ketika diserukan (adzan) untuknya; karena sesungguhnya Allah Ta’ala telah mensyariatkan untuk Nabi kalian sejumlah sunnah petunjuk, dan sesungguhnya shalat-shalat itu adalah termasuk sunnah-sunnah petunjuk, dan sekiranya kalian shalat di rumah-rumah kalian sebagaimana orang yang membolos ini shalat dirumahnya niscaya kalian telah meninggalkan sunnah Nabi kalian, dan sekiranaya kalian telah meninggalkan sunnah Nabi kalian niscaya kalian sesat. Tidaklah seseorang bersuci kemudian membaguskan wudhu lalu menuju ke salah satu masjid diantara masjid-masjid ini melainkan Allah menulis satu kebaikan baginya dari setiap langkah yang diayunkannya, dan menghapuskan dengannya satu dosa darinya. Sungguh saya melihat kami; tidaklah membolos darinya (shalat jamaah) melainkan seorang munafik yang sudah dikenal nifaq-nya, dan biasanya sampai ada orang yang dibopong diantara dua orang sehingga didirikan di dalam shaf (shalat jamaah).’ [HR. Muslim (654), Abu Dawud (550), An-nasai (2/108) dan Ibnu Majah (777).]

 

[3] Berdasarkan Sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada Mâlik bin Al-Huwairits, ‘Jika waktu shalat telah tiba, maka hendaklah adzan salah seorang diantara kalian berdua dan hendaknya yang lebih tua di antara kalian berdua menjadi imam.” [HR. Al-Bukhari (628), Muslim (674), Abu Dawud (589), At-Tirmidzi (205),  An-Nasai (2/3) dan Ibnu Majah (729).]

 

[4] Berdasarkan hadits Dari Qubâts bin Asyimi Al-Laitsi Radhiyallahu Anhu, ia berkata, ‘Shalat dua orang, yang salah satu dari keduanya mengimami temannya adalah lebih baik disisi Allah dari shalat empat orang dengan sendiri-sendiri, shalat empat orang dengan berjamaah adalah lebih baik disisi Allah dari shalat delapan orang dengan sendiri-sendiri, dan shalat delapan orang yang di imami salah seorang diantara mereka adalah lebih baik disisi Allah dari shalat seratus orang dengan sendiri-sendiri.’ [HR. Al-Hakim (3/685), Al-Baihaqi (3/61) dan Ath-Thabrani dalam ‘Al-Kabir’ (19/36). Al-Albani berkata, ‘Hasan Lighairihi. Al-Mundziri berkata, ‘Sanadnya lâ  ba’sa bihi. Asy-Syaikh Al-Albani menshahihkannya dalam ‘Ash-Shahihah’ (1912).]

 

[5] Yakni kedudukan sang imam tidak lebih utama daripada makmumnya. Berdasarkan hadits:

–       Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah bermakmum dibelakang Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallâhu ‘anhu.  Dari Anas ia berkata, “Ketika sakit Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat dengan duduk di belakang Abu Bakar sambil berselimutkan kain.” [Shahih. HR. At-Tirmidzi (363)].

–       Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam juga pernah shalat dibelakang ‘Abdurrahman bin ‘Auf. Dari Mughirah bin Syu’bah ia berkata: Kami pernah berada dalam suatu perjalanan ini dan itu. Pada waktu sahur tiba-tiba beliau menepuk-nepuk leher hewan tungganganku dan pergi, maka saya mengikuti beliau dan akhirnya beliau bersembunyi dari pandanganku beberapa saat. Setelah itu beliau datang seraya bertanya: “Apakah kamu hendak buang hajat?” saya menjawab, “Tidak.” Beliau bertanya lagi: “Apakah kamu membawa air?” saya menjawab, “Ya.” Saya pun menuangkan untuknya, kemudian beliau mencuci kedua tangan dan wajahnya. Setelah itu beliau menyingkap tangannya yang tertutup oleh Jubbah yang kedua lengannya sempit. Karena sempit maka beliau memasukkan kedua tangannya dan mengeluarkannya dari bawah jubah. Setelah itu, beliau kembali mencuci wajah, kedua siku, membasuh ubun-ubun, membasuh imamah (sejenis penutup kepala) dan kedua sepatunya. Dan saat kembali kami mendapati para sahabat telah melaksanakan shalat satu rakaat, sementara Abdurrahman bin Auf yang menjadi imamnya. Aku lantas berjanjak untuk mengingatkannya, namun beliau melarangku. Maka kami pun shalat pada rakaat yang kami dapati dan meng-qadla rakaat yang tertinggal.” [Musnad Ahmad, no.18164]

 

[6] Maksud orang pilihan disini adalah orang yang paling wara’, yang paling menjaga dirinya agar tidak terjatuh pada perkara syubhat  apalagi perkara haram. Hal ini didasarkan pada hadits Ibnu ‘Umar radhiyallâhu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jadikanlah orang-orang yang terpilih diantara kamu sebagai imam. Karena mereka adalah duta kalian antara kalian dengan Rabb kalian.” [Ad-Darâqutni]. Namun yang benar hadits ini tidak shahih!! Tidak dipungkiri bahwa orang-orang seperti inilah yang lebih layak menjadi imam, namun membebankan diri dengan mencari kriteria seperti ini tentu hal yang memberatkan. Jika pun pada akhirnya para makmum diimami dengan imam yang bukan pilihan (orang fasik), maka kesalahan tidak ditimpakan kepada makmum. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, “Mereka (para imam) shalat untuk mengimami kalian. Jika mereka benar, maka [pahalanya] bagi kalian dan bagi mereka. Dan jika mereka salah, maka [pahalanya] bagimu dan [kesalahannya] atas mereka.” [HR. Al-Bukhari (294) dan Ahmad (2/355)]. Perlu diingat, bahwa para shahabat diantaranya Ibnu ‘Umar melakukan shalat dibelakang Hajjaj bin Yusuf, padahal dia termasuk manusia paling fasik.[HR. Al-Bukhâri 695]

 

[7] Demikian yang berlaku di masa Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan pada masa-masa setelahnya. Beliau selalunya menjadikan shaf-shaf para wanita berada dibelakang laki-laki dewasa dan anak-anak kecil. Diantara dalilnya: Dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu, ia berkata, ‘Saya dan seorang anak yatim shalat bersama-sama di rumah kami di belakang Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, sementara ibuku, yakni Ummu Sulaim, di belakang kami.” [HR. Al-Bukhari (727), Muslim (658), Abu Dawud (612), At-Tirmidzi (234) dan An-Nasai (2/85).] Adapun wanita yang menjadi imam bagi laki-laki, maka hal ini menyelisihi apa yang berlaku di masa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan juga masuk dalam keumuman hadits, “Tidak akan beruntung suatu kaum jika mereka menyerahkan urusan mereka (kepemimpinan) pada wanita.” [HR. Al-Bukhâri (4425) dan at-Tirmidzi (2262).] Andai wanita boleh menjadi imam bagi laki-laki, niscaya ‘Aisyah tidak di imami oleh budaknya, karena Aisyah lebih faqih dan lebih hafal Al-quran dibanding budaknya tersebut, bahkan disebutkan dalam satu riwayat bahwa budaknya tersebut membaca mushaf Al-Quran ketika mengimami ‘Aisyah. Hal ini menunjukkan secara jelas bahwa wanita tidak dibolehkan menjadi imam bagi laki-laki. Wallahu a’lam.

 

[8] Adapun orang yang shalat wajib boleh menjadi imam bagi orang yang shalat sunnah: Lantaran dalam satu riwayat disebutkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah mengerjakan shalat. Seusai shalat tiba-tiba beliau [melihat] ada dua orang di sudut masjid yang tidak ikut shalat, lalu beliau memanggil keduanya. Kemudian keduanya didatangkan kepada beliau dalam dalam keduanya gemetar ketakutan. Beliau bertanya, ‘Apa yang mencegah kalian berdua untuk shalat bersama kami?’ Keduanya berkata, ‘Kami telah shalat di tenda kami.’ Beliau bersabda, ‘Janganlah kalian melakukan-hal ini lagi-, apabila salah seorang diantara kalian telah shalat di tempat tinggalnya kemudian ia mendapatkan imam yang belum lagi mengerjakan shalat, maka hendaklah ia ikut shalat bersamanya, karena shalat itu adalah sunnah bagimu.” [Shahih. HR. Abu Dawud (575), At-Tirmidzi (219) dan An-Nasai (2/112).]

Adapun orang yang shalat sunnah boleh menjadi imam bagi orang yang shalat wajib: Lantaran dalam satu riwayat di sebutkan bahwa Mu’adz pernah shalat Isya yang akhir bersama Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, kemudian ia kembali ke kaumnya lalu mengimami mereka dengan shalat yang sama. [HR. Al-Bukhari (425), (465) Muslim, At-Tirmidzi (583), dan An-Nasai (2/97).]  Dan dalam satu riwayat ada tambahan, ‘Shalat itu adalah shalat sunnah baginya, sedang bagi kalian itu adalah shalat fardhu Isya.’ Padanya terkandung dalil bahwa imam mengerjakan shalat sunnah sedang makmum mengerjakan shalat fardhu. Al-Hafidz Ibnu Hajar Rahimahullah berkata, ‘Hadits ini dijadikan sebagai dalil atas sahnya orang yang shalat fardhu mengikuti orang yang shalat sunnah, sebab Muadz pada shalat yang pertama meniatkan untuk shalat wajib, sedang untuk yang kedua beliau meniatkan shalat sunnah.’ [Al-Fath (2/195-196).]

Ibnu Hazm Rahimahullah berkata, ‘Tidak ada satu [keterangan] pun baik dari Al-Qur`an, As-Sunnah, konsensus ulama, atau pun Qiyas [analogi] yang mengharuskan adanya kesepakatan niat antara imam dan makmum. Dan segala macam syariat yang tidak diwajibkan oleh Al-Qur`an, As-Sunnah, dan Konsensus ulama maka syariat tersebut tidak wajib.’ [Al-Muhalla (4/316-317)].

 

[9] Berdasarkan hadits Anas radhiyallâhu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ‘Sesungguhnya tidaklah diangkat seorang imam melainkan untuk diikuti, bila ia bertakbir maka bertakbirlah, bila ia sujud maka sujudlah, dan bila ia bangkit maka bangkitlah..” [HR. Al-Bukhari (805), Muslim (411), An-Nasai (361) dan Ibnu Majah (1238]. Dan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Tidakkah  salah seorang di antara kalian takut, apabila ia mengangkat kepalanya sebelum imam, Allah akan mengubah rupanya menjadi kepala keledai.’ [HR. Al-Bukhari (691), Muslim (427), Abu Dawud (623), At-Tirmidzi (582), An-Nasai (2/96) dan Ibnu Majah (961).]

 

[10] Berdasarkan sabda Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam: Dalam hadits disebutkan, ‘Ada tiga orang yang shalatnya tidak melampaui telinga mereka’ lalu Nabi menyebutkan diantaranya, ‘Imam yang mengimami suatu kaum namun mereka membencinya.’ [Hadits tersebut memiliki banyak jalur yang saling menguatkan, lihat ‘Shahihut Targhib wat Tarhib.’ (484-487) dan lihat pula ‘Nailul Authar’ (3/216-217).]

Asy-Syaukani Rahimahullah berkata, ‘Segolongan ahli ilmu membatasi hal itu dengan kebencian diniyah [atas dasar keagamaan] lantaran sebab syar’i. Adapun kebencian yang tidak terkait dengan agama maka tidak termasuk dalam kategori ini. Disamping batasan tadi, mereka juga membatasinya bahwa yang teranggap adalah kebencian mayoritas makmum. Adapun kebencian satu, dua atau tiga makmum maka kebenciannya tidak teranggap. [Lihat Nailul Authar (3/217-218)].

[11] Berdasarkan hadits Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Apabila salah seorang diantara kalian shalat mengimami orang-orang, maka hendaklah ia meringankannya [meringkasnya]. Karena diantara makmum itu ada orang yang lemah, orang yang sakit, dan ada pula yang mempunyai keperluan. [HR. Al-Bukhari (703), Muslim (467), Abu Dawud (794), At-Tirmidzi (236) dan An-Nasai (2/94).]

Yang dimaksud dengan meringankan shalat adalah seorang imam meringankan shalatnya dengan tetap menjaga kesempurnaan shalat; dimana rukun-rukun, kewajiban-kewajiban, serta sunnah-sunnah tetap terjaga sebagaimana yang dicontohkan dan yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, bukan mengikuti selera makmum. Karena tidak sah shalat orang yang tidak menegakkan tulang rusuknya disaat ruku’ dan sujud.

 

[12] Berdasarkan hadits Abu Mas’ud Uqbah Al-Anshari Radhiyallahu Anhu, ia berkata: Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Orang yang menjadi imam bagi suatu kaum adalah yang paling pandai membaca Al-Qur`an, jika bacaan mereka sama maka yang paling mengetahui tentang sunnah. Jika pengetahuan sunnah mereka sama, maka yang lebih dahulu hijrah, jika dalam hijrah mereka sama, maka yang lebih tua usianya –dan dalam satu riwayat, ‘Yang  lebih dahulu masuk Islam. Dan tidak boleh seseorang mengimami orang lain dalam wilayah kekuasaannya dan tidak pula duduk di rumahnya di atas tempat duduk kehormatannya kecuali dengan seizinnya. [Muslim (673), Abu Dawud (583), At-Tirmidzi (235), An-Nasai (2/77) dan Ibnu Majah (980)].

Urutan-urutan  diatas berlaku jika di sana tidak ada imam ratib [tetap]. Jika imam ratibnya ada seperti imam masjid, maka tidak boleh ada seorang pun yang maju mengambil posisinya sekalipun orang itu lebih banyak hafalan Al-Qur`annya dan lebih dalam pengetahuan sunnahnya dengan berdasarkan pada sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di akhir hadits yang lalu, ‘Dan tidak boleh seseorang  mengimami orang lain dalam wilayah kekuasaannya.’ Begitu juga tidak ada seorang tamu pun yang boleh maju menjadi imam atas pemilik rumah yang dikunjunginya. Kecuali jika tuan rumah mengizinkannya dengan berdasarkan pada hadits yang terdahulu.

[13] Berdasarkan sabda Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, “Mereka (para imam) shalat untuk mengimami kalian. Jika mereka benar, maka [pahalanya] bagi kalian dan bagi mereka. Dan jika mereka salah, maka [pahalanya] bagimu dan [kesalahannya] atas mereka.” [HR. Al-Bukhari (294) dan Ahmad (2/355)].

 

[14] Berdasarkan hadits Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu, ia berkata, ‘Saya dan seorang anak yatim shalat bersama-sama di rumah kami di belakang Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, sementara ibuku, yakni Ummu Sulaim, di belakang kami.” [HR. Al-Bukhari (727), Muslim (658), Abu Dawud (612), At-Tirmidzi (234) dan An-Nasai (2/85).] Dan hadits Jabir Radhiyallahu Anhu, ia berkata, ‘Ketika Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah berdiri untuk melaksanakan shalat fardhu, saya datang lalu berdiri di sebelah kirinya, maka beliau meraih tanganku lalu menggeserku hingga memposisikanku di sebelah kanannya. Kemudian datang pula Jubar Bin Shakhr, ia pun berdiri di sebelah kiri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, lalu beliau meraih tangan kami dan mendorong kami sehingga memposisikan kami di belakangnya. [HR. Muslim (3010), Abu Dawud (634) dan Al-Baihaqi (2/239).]

 

[15] Berdasarkan pada hadits Abdullah bin Abbas Radhiyallahu Anhu, ia berkata, Pada suatu malam aku pernah shalat bersama Rasulullah, dan aku berdiri di samping kirinya, lalu Rasulullah memegang kepalaku dari belakang, lalu beliau mendirikanku di samping kanannya.” [Shahih. Lihat Irwaa’ul Ghaliil no. 540, Shahiih Sunan Ibnu Majah no. 792,]

Dan Ibnu Juraij, ia berkata, ‘Saya berkata kepada Atha`, ‘Seorang laki-laki bermakmum pada seorang imam, lalu dimanakah posisi sang makmum?’ Atha` menjawab, ‘Disamping kanan (imam). Saya bertanya, ‘Apakah ia sejajar dengan imam hingga berada dalam  shaf yang sama, di mana antara satu dengan yang lainnya tidak melewati?’ Atha` berkata, ‘Ya!’ Saya berkata, ‘Apakah kamu suka jika sang makmum merapat ke imam  hingga tidak ada cela yang kosong di antara keduanya? Atha` menjawab, ‘Ya!’ [HR.  Abdur-Razzak (2/ 406-3870) dengan sanad yang shahih.]

Dan dalam Al-Muwaththa` dari Abdullah bin ‘Utbah bin Mas’ud berkata, ‘Saya pernah mendatangi Umar bin Khaththab pada waktu matahari begitu terik (tengah hari) dan saya mendapatkan beliau sedang shalat. Lalu saya pun berdiri (ikut shalat) dibelakangnya. Lalu beliau mendekatkanku hingga menjadikan posisiku sejajar di sebelah kanannya. [HR. Malik dalam Al-Muwaththa` (1/154) dan Al-Baihaqi (3/96). Sanadnya shahih.]

 

[16] Berdasarkan perbuatan Aisyah Radhiyallahu Anhuma, bahwa ia pernah mengimami para wanita pada shalat fardhu dan ia berdiri di tengah-tengah mereka. Hal yang sama juga pernah dilakukan oleh Ummu Salamah Radhiyallahu Anha. Shahih Lighairihi. [HR. Ibnu Hazm dalam ‘Al-Muhalla’ (4/309-311), Abdur Razzaq (3/140-141) dan Ad-Daraqutni (1/404-405)]. Dan tidak diketahui ada seorang shahabat pun yang menentang perbuatan keduanya.

 

[17] Berdasarkan hadits Abu Malik Al-Asy’ari Radhiyallahu Anhu, ia berkata, ‘Adalah Rasulullah menjadikan (shaf) orang-orang dewasa di depan anak-anak kecil, sedang anak-anak kecil di belakang mereka, dan wanita berada di belakang anak kecil.” [HR. Abu Dawud (677), Ath-Thabrani dalam ‘Al-Kabir’ (3/281), dan Al-Baihaqi (3/97).Tetapi, hadits ini tidak dapat dijadikan sebagai landasan hukum (hujjah), karena ia adalah dhaif (lemah), di dalam sanadnya terdapat seorang rawi yang bernama “Syahru Bin Hausyab” ia dianggap lemah oleh ahli-ahli hadits. Memposisikan anak-anak kecil di belakang shaf orang dewasa terkadang atau bahkan pada ghalibnya menimbulkan beberapa dampak : mereka membuat gaduh sesama mereka, timbul rasa tidak simpatiknya kepada orang yang menariknya mundur kebelakang bahkan dapat menyebabkan mereka menjauhi masjid.

Adapun dalil bolehnya anak kecil berada di dalam shaf orang dewasa, diantaranya:

–       Hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu, ia berkata, ‘Saya tiba dengan mengendarai keledai betina. Sedangkan saya waktu itu hampir baligh. Dan Rasulullah sedang mengimami orang-orang di Mina  tanpa dinding. Lalu saya lewat di depan shaf , maka saya turun dan melepaskan keledai betina agar makan. Lalu saya masuk shaf dan tak seorang pun yang mengingkari hal itu atasku.” [HR. Al-Bukhari (76), (493), Muslim (504), Abu Dawud (715), At-Tirmidzi (337), An-Nasai (2/64) dan Ibnu Majah (947).]

–       Dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu, ia berkata, ‘Saya dan seorang anak yatim shalat bersama-sama di rumah kami di belakang Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, sementara ibuku, yakni Ummu Sulaim, di belakang kami.” [HR. Al-Bukhari (727), Muslim (658), Abu Dawud (612), At-Tirmidzi (234) dan An-Nasai (2/85).] Andai anak kecil memiliki shaf yang tersendiri seperti halnya wanita, niscaya shaf Anas berbeda dengan shaf anak kecil tersebut (anak yatim), akan tetapi Anas dan anak yatim berada dalam satu shaf tanpa ada pemisahan.

 

[18] Aturan ini berdasarkan dengan hadits Abu Mas’ud Radhiyallahu Anhu, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Hendaknya orang yang di belakangku adalah orang-orang dewasa dan berilmu di antara kalian, kemudian yang (tingkatnya) di bawah mereka, kemudian yang (tingkatnya) di bawah mereka lagi, dan jauhilah keributan seperti di pasar.’ [HR. Muslim (432), Abu Dawud (674), At-Tirmidzi (228) dan Ibnu Majah (976).]

 

[19] Berdasarkan hadits An-Nu’man bin Basyir Radhiyallahu Anhuma, ia berkata, ‘Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Kalian benar-benar akan meluruskan barisan (shalat) kalian atau Allah akan menjadikan perselisihan di antara wajah-wajah kalian.’ [Al-Bukhari (717), Muslim (436)],  Dan pada sebagian riwayat, ‘Di antara hati-hati kalian.’

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, ‘Luruskan shaf-shaf kalian, karena meluruskan shaf adalah bagian dari menegakkan shalat.’- dalam satu riwayat- , ‘Bagian dari kesempurnaan shalat.’ [HR. Al-Bukhari (723), (724), Muslim (433)].

            Dan pendapat yang unggul bahwa meluruskan shaf adalah wajib hukumnya.

 

[20] Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Tegakkanlah shaf-shaf kalian, sejajarkan diantara pundak-pundak, isi yang kosong, melunaklah terhadap tangan saudara kalian, dan jangan biarkan celah untuk setan, barangsiapa yang menyambung shaf (yang kosong) maka Allah akan menyambung [rahmat dan kasih sayang]nya dan barangsiapa yang memutuskan shaf maka Allah akan memutuskan [rahmat dan kasih sayang]nya [Shahih. HR. Abu Dawud (666), dan An-Nasai secara ringkas (2/93).]

            Dan dari Anas Radhiyallahu Anhu, dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ‘Rapatkan shaf-shaf kalian, dekatkanlah antaranya, dan sejajarkanlah tengkuk-tengkuk, demi zat yang diriku berada ditangannya, sesungguhnya aku melihat setan masuk (menyelinap) diantara celah-celah shaf yang kosong seolah-olah  ia seperti Hadzaf (kambing kecil berwarna hitam). [Hasan. HR. Abu Dawud (667) dan An-Nasai (2/92). Dishahihkan oleh Al-Albani dalam ‘Shahihul Jami’ (3505)].

 

[21] Dari Anas Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Sempurnakan shaf yang pertama, kemudian shaf yang mengiringinya, apabila kurang maka hendaklah di shaf bagian belakang saja.’ [Shahih. HR.Abu Dawud (671) dan An-Nasai (2/93)].

            Dan dari Jabir bin Samurah Radhiyallahu Anhu, ia berkata, ‘Rasulullah  Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Tidakkah kalian bershaf sebagaimana para malaikat bershaf di Rabb-nya Azza wa Jalla?’ Kemudian kami bertanya, ‘Ya Rasulullah, bagaimanakah para malaikat bershaf di sisi Rabb-nya? Beliau bersabda, ‘Menyempurpunakan shaf-shaf yang pertama dan saling merapatkan diri di dalam shaf.’ [Muslim (430), Abu Dawud (661), An-Nasai (2/92) dan Ibnu Majah (992)].

 

[22] As-Sahwu [sahwi] secara bahasa berarti lupa dan lalai terhadap sesuatu, dan hilangnya konsentrasi hati dari sesuatu kepada yang lainnya. Sedang sujud sahwi menurut istilah bermakna sujud yang dilakukan pada akhir shalat atau setelahnya untuk menutupi kekurangan karena tertinggalnya sesuatu yang diperintahkan atau melakukan sebagian perkara yang dilarang tanpa sengaja.

 

[23]Ada pada dua kondisi:

  1. Apabila seseorang telah berdiri sempurna pada rakaat ketiga dan lupa melakukan tasyahhud awal, maka ia melakukan sujud sahwi sebelum salam. Berdasarkan hadits  Abdullah bin Buhainah Radhiyallahu Anhu, ‘Bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah langsung berdiri dalam shalat Dhuhur, sedangkan seharusnya beliau duduk [tasyahhud awal]. Tatkala beliau telah menyempurnakan shalatnya [empat rakaat], beliau sujud dua kali dengan membaca takbir setiap kali sujud, yaitu ketika duduk sebelum salam. Lalu orang-orang turut melakukan kedua sujud itu bersamanya, sebagai ganti dari duduk yang terlupakan. [HR. Al-Bukhari (830), (1230), Muslim (570), Abu Dawud (1034), At-Tirmidzi (391), dan An-Nasai (3/19).]
  2. Apabila seseorang ragu tentang bilangan rakaatnya (apakah dia telah shalat 3 atau 4 rakaat, misalnya) dan dalam keraguan itu dia tidak dapat memilih mana yang paling kuat. Maka dia melakukan sujud sahwi sebelum salam. Berdasarkan hadits  Abu Sa’id Al-Khudri, Radhiyallahu Anhu, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Apabila salah seorang diantara kalian ragu dalam shalatnya dan tidak mengetahui berapa rakaat yang telah ia kerjakan, tiga ataukah empat [rakaat], maka hendaklah ia membuang keraguan itu dan menetapkan apa yang ia yakini, lalu hendaknya ia sujud dua kali sebelum salam. Dan apabila ia shalat lima rakaat , maka shalatnya telah genap dan apabila shalatnya memang empat rakaat, maka kedua sujudnya itu adalah sebagai penghinaan terhadap setan [HR. Muslim (571), Abu Dawud (1026), An-Nasai (3/27) dan Ibnu Majah (1210)].

Catatan: Jika seseorang ragu dan tidak bias menentukan mana yang paling kuat, maka pilihannya harus dijatuhkan pada suatu hal yang yakin, yaitu memilih rakaat yang paling sedikit (misalnya, ragu antara 3 atau 4 rakaat, maka ia harus menjatuhkan pilihannya pada rakaat ke-3, apabila ragu antara 1 atau 2 rakaat, maka ia harus memilih pada 1 rakaat]. Berdasarkan hadits ‘Abdurrahman bin ‘Auf, ia berkata: Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang diantara kalian lupa dalam shalatnya dan tidak mengetahui apakah dia telah shalat satu atau dua rakaat, maka hendaklah dia menetapkan pada satu rakaat, apabila dia tidak tahu apakah telah shalat tiga atau empat rakaat, maka hendaknya dia menetapkan yang tiga rakaat dan melakukan sujud dua kali sebelum salam.” [HR. Ahmad, Abu Dâwud, dan At-Tirmidzi, dan ia berkata: Ini adalah hadits Hasan gharib. Dishahihkan oleh an-Nawawi dalam al-Majmû’ 4/107 dan Albâni dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi 399].

 

[24] Ada pada tiga kondisi:

  1. Apabila seseorang telah mengakhiri shalatnya sebelum shalatnya sempurna (misalnya, shalat Dhuhur hanya dikerjakan 2 rakaat atau 3 rakaat saja) maka hendaklah dia menambah rakaat yang kurang tersebut lalu salam, setelah salam dilanjutkan dengan sujud sahwi. Berdasarkan hadits Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah shalat dalam salah satu dari dua shalat petang hari (Dhuhur atau Ashar) lalu beliau salam pada rakaat kedua, kemudian beliau menuju ke sebuah kayu yang berada di arah kiblat masjid dan bersandar padanya. Sementara orang-orang bergegas keluar, Dzul Yadain berdiri dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah shalat telah diringkas [qashar] ataukah engkau lupa?’ Lalu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menengok ke kanan dan ke kiri dan berkata, ‘Apakah [benar] yang dikatakan Dzul Yadain?’ Mereka berkata, ‘Dia berkata benar, engkau hanya shalat dua rakaat.’ Lalu Nabi langsung shalat dua rakaat lalu mengucapkan salam. Setelah itu beliau takbir dan sujud, lalu takbir dan bangkit dari sujud, kemudian takbir dan sujud, lalu takbir dan bangkit dari sujud.” [HR. Al-Bukhari (714), (1228),  Muslim (573), Abu Dawud (1016), At-Tirmidzi (399), dan An-Nasai (3/22).]
  2. Apabila seseorang lupa hingga menambah 1 rakaat shalatnya atau lebih, maka hal ini ada dua keadaan: Pertama, apabila ia teringat masih dalam keadaan shalat, maka hendaknya segera duduk (dalam kondisi apapun ia saat itu) untuk melakukan tasyahhud dan salam, lalu melakukan sujud sahwi. Kedua, Apabila ia baru teringat setelah salam, maka hendaklah ia melakukan sujud dua kali lalu salam. Berdasarkan hadits Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah shalat –Ibrahim berkata, ‘Melebihi atau kurang [dari jumlah rakaat semestinya]’- tatkala beliau salam, beliau ditanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah ada perubahan dalam shalat?’ [Beliau bertanya, ‘Apakah itu?’] Mereka menjawab, ‘Engkau shalat demikian, demikian.’ Beliau kemudian melipat kedua kakinya dan menghadap ke kiblat, lalu beliau sujud dua kali dan salam. Setelah itu beliau menghadap kami dengan wajahnya sambil berkata, ‘Kalau saja ada sesuatu yang baru dalam masalah shalat, maka aku pasti memberitahu kalian, hanya saja aku manusia biasa yang terkadang lupa sebagaimana kalian lupa, maka apabila aku lupa, hendaknya kalian mengingatkanku. Dan apabila salah seorang diantara kalian ragu dalam shalatnya, maka berusahalah mencari [memilih] yang benar dan sempurnakanlah lalu sujud dua kali.’- dan dalam satu riwayat-, ‘Kemudian hendaklah ia bersalam lalu sujud dua kali.’- dan pada sebagian riwayat-riwayat-, ‘Bahwa beliau shalat Dhuhur lima rakaat.”  [HR. Al-Bukhari (6671), Muslim (572), Abu Dawud (1021), At-Tirmidzi (393), An-Nasai (3/33) dan Ibnu Majah (1203)].
  3. Apabila seseorang ragu apakah dia telah shalat 3 atau 4 rakaat, misalnya. Maka hendaklah dia mengingat-ingat tentang berapa rakaat sebenarnya yang telah ia lakukan dan apabila ternyata berat sangkaannya (dugaannya) pada salah satu dari keduanya (3 atau 4 rakaat), maka dia harus berpatokan pada yang dipilihnya itu, lalu melakukan sujud sahwi setelah salam. Dalil lihat hadits Ibnu Mas’ûd pada point dua diatas.

Catatan: Bedakan untuk permasalahan nomor 3 ini dengan permasalahan nomor 2 pada sujud sahwi sebelum salam. Sebab permasalahan nomor 2 adalah orang yang ragu tetapi tidak bias memilih (menentukan) salah satunya. Sedang permasalahan nomor 3 mampu menentukan pilihannya.

 

[25] Pendapat yang unggul bahwa sujud sahwi tidak memerlukan takbiratul ihram. Yang ada hanyalah takbir intiqâl (perpidahan) saja, yaitu takbir setiap kali turun dan bangun dari sujud. Berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu, “………. Lalu Nabi langsung shalat dua rakaat lalu mengucapkan salam. Setelah itu beliau takbir dan sujud, lalu takbir dan bangkit dari sujud, kemudian takbir dan sujud, lalu takbir dan bangkit dari sujud.” [HR. Al-Bukhari (714), (1228),  Muslim (573), Abu Dawud (1016), At-Tirmidzi (399), dan An-Nasai (3/22).]

 

[26] Pendapat yang unggul bahwa tidak ada tasyahhud untuk sujud sahwi, lantaran tidak adanya dalil shahih yang menyebutkan hal itu. Adapun hadits Imrân bin Husain: Bahwa Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan shalat bersama orang banyak, lalu beliau lupa. Maka beliau bersujud dua kali, kemudian bertasyahhud, lalu salam.” [HR. Abu Dâwud 1039, dan At-Tirmidzi 395]. Ini adalah hadits syadz (bagian dari hadits lemah). Imam al-Baihaqi, Ibnu ‘Abdil Barr, Ibnu Hajar menghukuminya lemah. Demikian juga dengan syaikh Al-Albâni dalam al-Irwâ` 403].

 

[27] Berdasarkan hadits ‘Abdullah bin Buhainah Radhiyallâhu ‘anhu: …Maka beliau membaca takbir dengan duduk dan beliau sujud dua kali sebelum beliau salam, kemudian beliau salam.” [HR. Al-Bukhâri dan Muslim dan lafazh ini milik Al-Bukhâri].

 

[28] Berdasarkan hadits Tsaubân radhiyallâhu ‘anhu dari Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, “Untuk setiap lupa (didalam shalat) ada dua sujud setelah salam.” [HR. Abu Dawud 1038  dan Ibnu Majah 1219]. Namun pendapat yang unggul bahwa hadits ini tidak shahih. Dalam sanadnya ada Zuhair bin Sâlim. Tidak ada yang menganggapnya tsiqah melainkan Ibnu Hibban dan dilemahkan oleh ad-Daraqutni. Dengan demikian jika seseorang lupa dengan satu sunnah dari sunnah-sunnah shalat,  maka tidak ada satu keharusan atau anjuran atasnya untuk melakukan sujud sahwi dan ia tidak wajib kembali untuk mengerjakan sunnah yang terlupa. Apabila ia kembali ke perbuatan tersebut maka batal shalatnya, demikian yang dikatakan oleh An-Nawawi Rahimahullah jika itu ia lakukan dengan sengaja dan tahu akan keharamannya. Adapun jika itu ia lakukan karena lupa atau karena tidak tahu maka shalatnya tidak batal. [Al-Majmu’ (4/130).]

 

[29] Berdasarkan hadits Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah shalat –Ibrahim berkata, ‘Melebihi atau kurang [dari jumlah rakaat semestinya]’- tatkala beliau salam, beliau ditanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah ada perubahan dalam shalat?’ [Beliau bertanya, ‘Apakah itu?’] Mereka menjawab, ‘Engkau shalat demikian, demikian.’ Beliau kemudian melipat kedua kakinya dan menghadap ke kiblat, lalu beliau sujud dua kali dan salam. Setelah itu beliau menghadap kami dengan wajahnya sambil berkata, ‘Kalau saja ada sesuatu yang baru dalam masalah shalat, maka aku pasti memberitahu kalian, hanya saja aku manusia biasa yang terkadang lupa sebagaimana kalian lupa, maka apabila aku lupa, hendaknya kalian mengingatkanku. Dan apabila salah seorang diantara kalian ragu dalam shalatnya, maka berusahalah mencari [memilih] yang benar dan sempurnakanlah lalu sujud dua kali.’- dan dalam satu riwayat-, ‘Kemudian hendaklah ia bersalam lalu sujud dua kali.’- dan pada sebagian riwayat-riwayat-, ‘Bahwa beliau shalat Dhuhur lima rakaat.”  [HR. Al-Bukhari (6671), Muslim (572), Abu Dawud (1021), At-Tirmidzi (393), An-Nasai (3/33) dan Ibnu Majah (1203)].

 

[30] Berdasarkan hadits  Abu Sa’id Al-Khudri, Radhiyallahu Anhu, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Apabila salah seorang diantara kalian ragu dalam shalatnya dan tidak mengetahui berapa rakaat yang telah ia kerjakan, tiga ataukah empat [rakaat], maka hendaklah ia membuang keraguan itu dan menetapkan apa yang ia yakini, lalu hendaknya ia sujud dua kali sebelum salam. Dan apabila ia shalat lima rakaat , maka shalatnya telah genap dan apabila shalatnya memang empat rakaat, maka kedua sujudnya itu adalah sebagai penghinaan terhadap setan [HR. Muslim (571), Abu Dawud (1026), An-Nasai (3/27) dan Ibnu Majah (1210)].

 

[31] Sama saja, apakah makmum ikut lupa bersama imam atau hanya imam yang lupa. Berdasarkan hadits Anas radhiyallâhu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ‘Sesungguhnya tidaklah diangkat seorang imam melainkan untuk diikuti, bila ia bertakbir maka bertakbirlah, bila ia sujud maka sujudlah, dan bila ia bangkit maka bangkitlah..” [HR. Al-Bukhari (805), Muslim (411), An-Nasai (361) dan Ibnu Majah (1238].

 

[32] Qadha`: Melaksanakan shalat di luar waktu yang ditentukan sebagai pengganti shalat yang ditinggalkan.

 

[33] Yakni shalat yang luput karena kesengajaan itu mesti diganti. Namun pendapat yang benar bahwa tidak ada qadha` bagi orang yang sengaja meninggalkan shalat, yang ada adalah ia mesti bertaubat. Jika ia mengqadhanya maka shalat yang diqadha`nya itu tidak sah, karena Allah Ta’ala berfirman, ‘Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.’ [QS. An-Nisâ’: 103] Sebagaimana shalat tidak sah dilaksanakan sebelum waktunya maka begitu juga jika dilaksanakan setelah waktunya berlalu. Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata, ‘Orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja, tidak disyariatkan baginya untuk menqadhanya dan tidak sah darinya, namun yang ia lakukan adalah memperbanyak shalat sunnah.  Ketetapan ini juga berlaku untuk urusan puasa dan tidak ada satu dalil pun yang menyelisihi ketetapan ini, bahkan dalil menyepakatinya.” [Al-Ikhtiyârat Al-Fiqhiyyah (hal.16)].

 

[34] Lantaran tidur atau lupa.

 

[35] Adâ`:  Menjalankan shalat dalam batas waktu yang telah ditentukan.

 

[36] Berdasarkan hadits Anas bin Mâlik Radhiyallahu Anhu, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Barangsiapa yang lupa shalat, maka hendaklah ia shalat ketika ia ingat, tidak ada tebusannya kecuali itu.’ [HR. Al-Bukhari (597), Muslim] –Dan didalam riwayat Muslim- : Apabila salah seorang diantara kalian tertidur [sehingga melewatkan] shalat, atau lupa shalat, maka shalatlah ketika ingat. Karena Allah Azza wa Jalla berfirman, ‘Dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.’ [QS. Thaha: 14]

[37] Berdasarkan hadits  Abu Umair ibn Anas Radhiallahu ‘Anhuma, dari paman-pamannya yang dari kaum Anshar, mereka berkata: “Pernah terjadi awal Syawwal tertutup mendung, sehingga hilal tidak terlihat, maka kami puasa pada pagi harinya. Di sore hari ada rombongan yang datang dan bersaksi di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa mereka telah melihat hilal kemarin sore, maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan orang-orang agar membatalkan puasanya dan pergi ke lapangan sholat ‘ied pada keesokan harinya.” [Shahih. HR. Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibn Majah, Ahmad, Shahih al-Irwa’ (654)].

 

[38] Berdasarkan firman Allah ta’ala: “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.” (QS. al-Jumu’ah: 9). Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaklah orang-orang yang meninggalkan jum’at  berhenti, atau Allah akan menutup hati mereka kemudian menjadi orang-orang yang lalai.” [HR. Muslim 865 dan an-Nasai 3/88] Dan Sabda Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, “Mendatangi shalat jum’at adalah wajib bagi setiap yang telah baligh.” [HR. An-Nasai 3/89 dan dishahihkan oleh an-Nawawi dalam al-Majmû’ berdasarkan kriteria Muslim].

 

[39] Berdasarkan hadits dari Thâriq bin Syihab Radhiyallâhu ‘anhu dari Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda, “Shalat jumat adalah hak yang wajib atas setiap muslim dengan berjamaah, selain atas empat (golongan): budak sahaya, wanita, anak kecil, atau orang yang sakit.” [Shahih. HR. Abu Dawud  1067. An-Nawawi rahimahullah menyatakannya sahih dalam al-Majmu’ 4/349, demikian pula al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 3111].

            Adapun dalil tidak wajibnya shalat jumat bagi musafir adalah hadits Jabirradhiyallahu ‘anhu yang menyebutkan shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam di Padang Arafah di hari Jum’at. Jabir  radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Kemudian (muazin) mengumandangkan azan lalu iqamah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam shalat zhuhur. Kemudian (muazin) iqamah, lalu shalat ashar.” [HR. Muslim 1218]. Ibnu ‘Umar berkata, “Tidak ada (kewajiban) jumat bagi musafir.” [Atsar Shahih. Dikeluarkan oleh al-Baihaqi 3/184], dan tidak diketahui ada seorang shahabat pun yang menyelisihi atau mengingkari perkataan Ibnu ‘Umar ini. Perhatian: Bahwa hukum ini berlaku (tidak wajib jumat) sekalipun  musafir singgah atau menetap bersama orang-orang mukim beberapa saat dan ditempat itu dikumandangkan adzan jumat, demikian pendapat yang unggul. Mengingat, singgahnya seorang musafir disuatu tempat tidak ‘menghilangkan’ status musafirnya. Dan juga disebutkan didalam atsar yang shahih bahwa Anas bin Mâlik radhiyallâhu ‘anhu pernah tinggal di Naisabur setahun atau dua tahun, (dimana dalam tenggang waktu itu) beliau meringkas shalatnya dan tidak berjumat.” [Sanadnya shahih. Dikeluarkan oleh Ibnul Mundzir 4/20].

[40] Baik dalam jumlah jamaahnya, adanya imamul a’zham (Khalifah) ataupun tidak, diselenggarakan di masjid jami’ ataupun tidak, dikota ataukah dipedalaman, atau bersambungnya bangunan ataupun tidak. Tidak berlakunya syarat-syarat khusus  dalam menyelenggarakan shalat jumat –sebagaimana yang ditetapkan oleh sebagian ulama- lantaran tidak adanya dalil shahih yang tegas mensyaratkan demikian.

 

[41]Yakni sebelum shalat. Berdasarkan shalat dari As-Sâib bin Yazîd Radhiyallâhu ‘anhu ia berkata, “Adzan pada hari jumat dilakukan apabila imam telah duduk di atas mimbar pada masa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam…” [HR. Al-Bukhâri 912-915, Abu Dâwud 1088, dan An-Nasâi 3/100] dan hadits dari Ibnu ‘Umar Radhiyallâhu ‘anhu ia berkata, “Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam berkhutbah pada hari jumat dalam keadaan berdiri, kemudian duduk, kemudian berdiri sebagaimana mereka lakukan hari ini.” [HR. Al-Bukhâri 920, 928, Muslim 861].

Menurut pendapat mayoritas ulama bahwa khutbah  jumat merupakan syarat sahnya pelaksanaan shalat jumat, berdasarkan perbuatan Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam yang senantiasa berkhutbah setiap shalat  jumat dan tidak pernah melaksanakan shalat jumat tanpa khutbah dan juga berdasarkan firman Allah ta’ala, “Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat jumat, maka bersegeralah kalian kepada mengingat Allah.” [QS. Al-Jumu’ah: 9]. Dalam ayat ini Allah memerintahkan untuk bersegera mengingat Allah sejak diseru, dan telah dimaklumi secara pasti bahwa Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam apabila muadzdzin mengumandangkan adzan beliau langsung berkhutbah, hal ini menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan dzikir adalah khutbah, dan bahwa bersegera menuju kepadanya adalah wajib. Adapun dalil bahwa yang dimaksud dengan mengingat Allah (dzikir) adalah khutbah adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apabila imam telah keluar (untuk menyampaikan khutbah), maka para malaikat hadir untuk mendengarkan dzikir (khutbah).” [HR. Al-Bukhâri 2697, dan Muslim 1718.].

 

[42] Yaitu setelah tergelincirnya matahari. Berdasarkan hadits dari Salamah bin al-Akwâ` Radhiyallâhu ‘Anhu ia berkata, “Kami melakukan shalat jumat bersama Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam apabila matahari telah tergelincir.” [HR. Al-Bukhâri 4168 dan Muslim 860]. Dan boleh dilakukan sebelum tergelicirnya matahari, berdasarkan hadits Jâbir Radhiyallâhu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan shalat jumat, kemudian setelah itu kami pulang ke ternak unta kami dan mengistrahatkannya disaat matahari tergelincir.” [HR. Muslim 858].  Ungkapan ini menunjukkan bahwa shalat jumat dilakukan sebelumnya. Juga berdasarkan hadits Sahl bin Sa’ad Radhiyallâhu ‘anhu ia berkata, “Kami tidak tidur siang (qailulah) dan tidak makan siang (tagadda) melainkan setelah shalat jumat.” [HR. Al-Bukhâri 939, dan Muslim 859] Sedang istilah qailulah dan taghadda adalah dua istilah yang dilakukan sebelum tergelincirnya matahari.

 

[43] Berdasarkan hadits dari ‘Abdullah bin Busr Radhiyallâhu ‘anhu, ia berkata, “Ada seseorang yang datang melangkahi pundak orang lain pada hari jumat sementara Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam sedang berkhutbah. Maka Rasulullah Shallallâhu  ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Duduklah, karena engkau telah mengganggu.”[Hasan. HR. Abu Dâwud 1118]. Dikecualikan dalam permasalahan ini: Imam, karena memang tempatnya didepan dan orang-orang yang ingin mengisi tempat yang masih kosong dibagian depan.   

 

[44] Berdasarkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallâhu ‘anhu, bahwa Nabi shalallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kamu mengatakan kepada temanmu di hari Jum’at, ‘Diamlah!’ sedang imam tengah  berkhutbah maka kamu telah berbuat sia-sia.” [HR. Al-Bukhari no. 397 dan Muslim 851].

Hadits ini menunjukkan larangan dari seluruh percakapan saat berlangsungnya khutbah, karena jika ucapan “diamlah” yang terkandung bentuk amar ma’ruf saja dikatakan sia-sia karena bukan pada waktu yang tepat, tentunya perkataan yang sifatnya biasa saja lebih dilarang lagi.

 

[45] Berdasarkan hadits Abu Hurairah Radhiyallâhu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa mandi hari Jum’at seperti mandi junub lalu pergi (untuk menghadiri jumat), seolah-olah ia bersedekah dengan unta. Barangsiapa pergi pada waktu yang kedua, seolah-olah ia bersedekah dengan sapi. Barangsiapa pergi pada waktu ketiga, seolah-olah ia bersedekah dengan kambing yang bertanduk. Barangsiapa pergi pada waktu keempat, seolah-olah ia bersedekah dengan ayam. Barang siapa pergi pada waktu kelima, seolah-olah ia bersedekah dengan telur. Apabila imam telah keluar (untuk memberi khutbah), para malaikat itu datang (dan) mendengarkan zikir (khutbah).” [HR. al-Bukhari  881].

[46]Berdasarkan hadits dari Salmân al-Fârisi Radhiyallâhu ‘anhu ia berkata: Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda, “ Tidak seorang pun yang mandi pada hari Jum ‘at, dan bersuci sedapat-dapatnya, dan memakai minyak wanginya atau mengusapkan harum-haruman di rumahnya, sesudah itu berangkat tanpa memisah¬kan di antara dua orang, kemudian melakukan shalat yang ditentukan baginya, terus diam manakala imam berbicara (khutbah), kecuali diampuni dosa-dosanya antara hari itu dengan hari Jum’at berikutnya.” [HR. Al-Bukhâri 883].

 

[47] Berdasarkan hadits dari Abu Sa’îd al-Khudri Radhiyallâhu ‘anhu dari Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda, “Wajib bagi setiap muslim untuk mandi pada hari jumat, memakai pakaiannya yang paling indah, apabila ia memiliki minyak wangi maka ia usapkan sebagian darinya.” [Shahih. HR. Ahmad 3/65]. Dan Sabda beliau, “Alangkah bagusnya salah seorang diantara kalian apabila membeli dua baju untuk hari jumat selain dua baju yang biasa dia pakai.” [Shahih. HR. Abu Dâwud 1078 dan Ibnu Majah 1095].

 

[48] Berdasarkan hadits dari Samurah bin Jundub, bahwasanya Nabi shallallâhu ;alaihi wa sallam bersabda, “ Hadirilah khutbah dan mendekatlah kepada imam (khatib), karena seseorang yang terus menjauh (dari imam), sehingga dia akan diakhirkan (masuk) ke dalam surga meskipun ia (akan) memasukinya.” [Hasan. HR. Abu Dawud 1108]

 

[49] Berdasarkan sabda Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang mendapatkan satu rakaat dari suatu shalat, maka dia telah mendapatkan shalat tersebut.” [HR. Al-Bukhâri dan Muslim] Dan shalat jumat masuk dalam keumuman hadits ini.

Adapun orang yang mendapatkan kurang dari satu rakaat bersama imam, ia tidak dianggap mendapatkan shalat jumat maka ia wajib mengerjakan shalat empat rakaat zhuhur. Ini pendapat Ibnu Umar, Ibnu Mas’ud, dan Anas, serta tidak diketahui ada seorang shahabat pun yang menentang mereka.

Dari Ibnu ‘Umar ia berkata, “Apabila seseorang mendapatkan satu rakaat shalat jumat, maka ia harus menambah satu rakaat. Dan apabila ia mendapatkan para jamaah dalam keadaan duduk, maka ia harus melaksanakan shalat empat rakaat.” [Sanadnya shahih. HR. AbdurRazzaq 5471 dan Ibnu Abi Syaibah 2/37].

Ibnu Mas’ud berkata, “Barangsiapa yang mendapatkan satu rakaat berarti ia telah mendapatkan shalat jumat. Dan barangsiapa yang tidak mendapatkan shalat jumat, maka ia melaksanakan shalat empat rakaat.” [Sanadnya shahih. HR. AbdurRazzaq 5471 dan Ibnu Abi Syaibah (2/37)].

 

[50] Yakni Apabila shalat I’ed bersamaan dengan shalat jumat, maka diberi kelonggaran untuk meninggalkan shalat jumat bagi mereka yang mendirikan shalat ‘ied. Dari Wahb bin Kaisan Radhiyallâhu ‘anhu ia berkata, “Pernah bertemu dua e’id di masa Ibnu Zubair, lalu ia melambatkan keluar (untuk solat e’id) sehingga matahari tinggi, kemudian ia keluar, lalu khutbah, kemudian turun (dari mimbar) lalu solat, sedangkan ia tidak solat bersama orang-ramai pada hari Juma’at itu. Kemudian hal itu aku sampaikan kepada Ibnu Abbas, lalu Ibnu Abbas berkata: Ia sudah menepati sunnah.” [Shahih. HR. Abu Dawud 1072 dan An-Nasâi 3/194]

 

 

 

Jember, 28 Rabi’ul Akhir 1435 H/ 1 Maret 2014

Al-Faqir Abu Halbas Muhammad Ayyub

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: