//
you're reading...
Fiqih

Berbagi Hadiah Syarah Ad-Durarul Bahiyyah [8]


Bab Shalat Dua Hari Raya[1]

Berjumlah dua rakaat.[2]

–          Pada rakaat yang pertama tujuh takbir sebelum membaca (Al-Fatihah).

–          Sedang pada rakaat yang kedua lima takbir sebelum membaca.[3]

–          Ada khutbah setelahnya.[4]

Dan disukai:

1-    Berhias.[5]

2-    Menuju luar perkampungan.[6]

3-    Mengambil jalan yang berbeda.[7]

4-    Makan sebelum keluar untuk pelaksanaan shalat ‘idhul fithri  dan tidak pada waktu ‘idhul adhha.[8]

 

–          Waktunya setelah matahari meninggi seukuran tombak hingga matahari tergelincir.[9]

–          Tidak ada adzan dan iqamah pada shalat tersebut.[10]

 

Bab Shalat Khauf

Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengerjakannya dengan sifat yang beragam[11]

–          Semua sifat tersebut teranggap mencukupi (sah).[12]

–          Jika rasa takut semakin mencekam dan perang berkecamuk, orang yang berjalan kaki dan berkendaraan tetap mengerjakannya –sekalipun tidak menghadap kiblat dan (hanya) dengan berisyarat-.[13]

 

Bab Shalat Safar

Wajib[14] meringkas (qashar) shalat bagi orang yang keluar dari negerinya[15] dengan tujuan untuk safar[16], sekalipun kurang dari satu barid.[17]

–          Apabila seseorang tinggal disuatu negeri tanpa kepastian (yang jelas); ia meringkas shalat (nya) selama dua puluh hari (kemudian disempurnakan).[18]

–          Apabila ia berketetapan untuk menetap selama empat hari maka ia (mesti) menyempurnakan (shalat) setelahnya.[19]

–          Dan ia diperkenankan melakukan jamak[20] taqdim[21] atau jamak ta`hir;[22] dengan satu adzan dan dua iqamah.[23]

 

Bab Shalat Kusuf[24] (Gerhana)

Hukumnya sunnah[25]

–          Riwayat yang paling shahih mengenai sifatnya adalah dua rakaat.[26]

–          Pada setiap satu rakaat (ada) dua ruku’[27], ada juga riwayat (yang menyebutkan) tiga[28], empat[29], dan lima (ruku’).[30]

–          Membaca surah diantara setiap dua ruku’ apa yang mudah (dari al-Qur`an).[31]

–          Dan ada juga riwayat  (yang menyebutkan) bahwa pada setiap satu rakaat (hanya) satu ruku’.[32]

 

Dianjurkan:

1-    Berdoa.

2-    Takbir.

3-    Bersedekah.

4-    Dan beristighfar.[33]

 

Bab Shalat Istisqâ’[34]

Disunnahkan[35] shalat dua rakaat[36] ketika terjadi kemarau.[37]

–          Setelahnya disusul dengan khutbah[38], dimana mencakup didalamnya: Peringatan, anjuran untuk melakukan ketaatan, serta mencela kemaksiyatan.[39]

–          Hendaknya imam beserta orang yang bersamanya memperbanyak:

1-    Istighfar.

2-    Berdoa untuk menghilangkan kemarau[40].

3-    Dan semuanya memalingkan selendangnya.[41]

 

 


[1] Pendapat yang unggul  bahwa shalat ‘ied adalah berhukum sunnah muakkadah. Pengunggulan ini disandarkan pada sabda nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam kepada seorang Badui, ketika ia menyebutkan shalat lima waktu dan berkata, ‘Adakah kewajiban atasku selain itu?’ Beliau menjawab, ‘Tidak, kecuali jika engkau hendak mengerjakan shalat tathawwu’(sunnah).’ [HR. Bukhari 46 dan Muslim  11].

Adapun mereka yang berpendapat wajib dengan beralasan bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam, ‘Memerintahkan para wanita agar keluar melakukan shalat ‘Ied, hingga beliau juga memerintahkan para wanita haidh dan wanita yang berada di dalam  pingitannya untuk keluar menyaksikan kebaikan dan syi’ar dakwah kaum muslimin, dan beliau memerintahkan para wanita haidh untuk menjauh dari tempat shalat.’ [HR. Bukhari 980 dan Muslim 890]. Maka, landasan ini kurang kuat lantaran di antara orang-orang yang disebutkan pada hadits di atas – yang diharuskan untuk keluar menuju tanah lapang – adalah orang-orang yang tidak terkena kewajiban melakukan shalat yaitu para wanita haidh. Maka jelaslah, bahwa maksud perintah keluar melakukan shalat ‘Ied pada hadits di atas adalah untuk menampakkan syi’ar Islam. [Demikian yang dikatakan oleh al-Hafidz Ibnu hajar dalam al-Fath].  Imam as-Sarakhsyi al-Hanafy di dalam al-Mabshuth berkata, ‘Yang unggul bahwa shalat ‘Ied adalah sunnah, akan tetapi ia adalah merupakan bagian dari rambu-rambu agama. Mengamalkannya adalah petunjuk dan meninggalkannya adalah salah satu bentuk kesesatan.

 

[2] Berdasarkan pada hadits Umar Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, ‘Shalat dalam safar adalah dua rakaat, shalat ‘Iedul ‘Adh-ha adalah dua rakaat, shalat ‘Iedul Fithri adalah dua rakaat, sempurna tanpa ada pengurangan, berdasarkan atas lisan Muhammad Shalalalhu ‘alaihi wasallam.’ [Shahih. HR. Ahmad 1/37 dan an-Nasa’i 3/183].

 

[3] Berdasarkan hadits ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash ia berkata: Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Takbir pada shalat ‘Iedul Fithri adalah tujuh kali pada rakaat pertama dan lima kali pada rakaat terakhir. Serta membaca bacaan setelah keduanya.’ [Hasan. HR. Abu Dawud 1151]. Takbiratul Ihram termasuk dari tujuh takbir pada rakaat pertama. Imam Ahmad berkata, ‘Hendaklah ia bertakbir pada rakaat yang pertama dengan tujuh takbir bersama dengan takbiratul ihram …’ [al-Mughny]. Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berkata, ‘Hendaklah ia bertakbiratul ihram, lalu membaca do’a iftitah seperti yang terdapat dari Nabi (lalu beliau menyebutkan do’anya), apabila ia telah membaca do’a iftitah dengan do’a ini atau yang lainnya, maka hendaklah ia bertakbir enam kali, Allahu Akbar-Allahu Akbar hingga lengkap berjumlah enam, kemudian berta’awwudz dan membaca al-Fatihah, dengan demikian do’a iftitahnya lebih didahulukan dari takbir az-zâidah (takbir tambahan).’ [Lihat Syarhul Mumti’ 2/394].

Jika mau, angkatlah tangan pada tiap-tiap kali bertakbir dan takbir-takbir tambahan tersebut dan jika mau Anda boleh mencukupkan mengangkat tangan pada takbir yang pertama saja dan tidak pada takbir-takbir setelahnya. Untuk urusan ini, perkaranya adalah longgar. Alasan untuk tidak mengangkat tangan kecuali pada takbir pertama lantaran tidak ada satu berita shahihpun bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya pada tiap-tiap takbir.  Adapun alasan mengangkat kedua tangan setiap kali takbir adalah shahabat Ibnu Umar – dengan sanad yang shahih – melakukan hal itu (di mana ia adalah seorang shahabat yang dikenal paling bersungguh-sungguh dalam mengikuti sunnah Nabi) dan juga tidak ada seorang shahabatpun yang diketahui menyelisihi apa yang dilakukan oleh Ibnu Umar tersebut. Wallahu a’lam.

 

[4] Ibnu Abbas Radhiyallâhu ‘anhu ia berkata, ‘Aku pernah shalat bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar, dan ‘Utsman. Mereka semua melakukan shalat sebelum khutbah.’ [HR. Bukhari 962 dan Muslim].

Khutbah ‘Ied dilakukan sama seperti khutbah-khutbah lainnya, dibuka dengan pujian pada Allah, dan tidak ada satu hadits shahihpun yang menjelaskan dibukanya khutbah dengan takbir. Ibnul Qayyim berkata, ‘Tidak ada satu beritapun yang terpelihara dari Nabi, bahwa beliau membuka khutbah ‘Iedul Fithri dan ‘Iedul ‘Adh-ha dengan takbir.’ [Zâdul Ma’ad 1/447].

 

 

[5] Umar Radhiyallahu ‘anhu pernah membawa jubah dari istabrok yang dibelinya di pasar dan memberikannya kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, belilah ini yang bisa engkau pakai ketika hari raya dan menemui utusan luar.’ [HR. Bukhari dan Muslim].

 

[6] Berdasarkan hadits Abu Sa’îd al-Khudri Radhiyallâhu ‘anhu ia berkata: Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam keluar pada hari raya idul fithri dan idul Adhha menuju tanah lapang…” [HR. Al-Bukhâri 956 dan Muslim 889].

 

[7]Berdasarkan hadits J âbir Radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Adalah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam pada waktu ‘Ied membedakan jalan (antara pulang dan pergi).’ [HR. Bukhari 986].

 

[8] Berdasarkan hadits Anas Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, ‘Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam makan beberapa butir kurma sebelum berangkat shalat ‘Iedul Fithri.’ [HR. Bukhari 953 dan at-Tirmidzi 543].

Dari Buraidah ia berkata, “Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam tidak berangkat pada hari Idul fithri hingga makan, dan tidak makan pada hari raya idul adhha hingga kembali.” [Hasan. HR. At-Tirmidzi 542, Ibnu Majah 1756 dan Ahmad 5/352].

 

[9] Berdasarkan hadits Dari Abdullah bin Busr, shahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, bahwasanya ia pernah keluar berangkat bersama orang-orang (ke tempat pelaksanaan shalat ‘Ied) pada hari raya ‘Iedul Fithri atau ‘Iedul ‘Adh-ha, lalu dia menentang keterlambatan imam seraya berkata, ‘Sesungguhnya kami telah menyia-nyiakan waktu kami ini. Yakni ketika berlangsungnya waktu tasbih (waktu shalat Dhuha)].’ [Shahih. HR. Abu Dawud 1135 dan Ibnu Majah 1317].

 

[10] Hal ini didasarkan pada hadits Jâbir bin Samurah, dia bercerita, ‘Aku pernah mengerjakan shalat ‘Iedul Fithri dan ‘Iedul ‘Adh-ha bersama rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam tidak hanya sekali atau dua kali tanpa adzan dan tanpa iqamah.’ [HR. Muslim 887, abu Dawud 1148, dan at-Tirmidzi 532].

 

[11] Diantara sebagian ulama ada yang menyebutkan bahwa kaifiyah shalat khauf mencapai 16 cara, sebagaimana di ungkapkan oleh Imam Nawawi dalam kitab Syarhnya dari Shahih Muslim, Ibnu Hazm dalam kitabnya Al-Muhalla menyebutkan ada 15 cara, dan Alhakim dalam Al-Mustadrak ada delapan cara. Diantara cara tersebut:

 

–       Apabila musuh berada di arah kiblat:

Imam bertakbir (takbiratul ihram) dan kaum muslimin berbaris dibelakangnya menjadi dua barisan, kemudian mereka bertakbir, ruku’ dan I’tidal bersama-sama. Berikutnya barisan yang dibelakang imam (barisan pertama) sujud bersama imam. Setelah mereka bangun dari sujud dan berdiri ke rakaat kedua, maka barulah barisan kedua sujud dan berdiri. Kemudian barisan kedua maju sedangkan barisan pertama mundur. Kemudian sama-sama shalat rakaat kedua seperti rakaat pertama . Jika imam sudah sujud dua kali dan duduk tasyahud (bersama barisan pertama), barisan kedua bersujud dan menyusul imam duduk tasyahud sehingga mereka pun duduk tasyahud semua. Maka imam mengucapkan salam bersama mereka semua. Hal ini didasarkan pada hadits Jabir bin ‘Abdillah, ia berkata, “Aku pernah sholat Khauf bersama Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam . Beliau membagi kami menjadi dua barisan, satu barisan di belakang Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, sedang musuh berada di antara kami dan kiblat. Ketika Nabi takbir kami semua ikut takbir, kemudian beliau ruku’ dan kami semua ikut ruku’, ketika beliau mengangkat kepala (i’tidal) dari ruku’ kami semua mengangkat kepala, kemudian beliau sujud bersama barisan yang ada di belakangnya, sedang barisan lain tetap berdiri menghadapi musuh. Ketika beliau selesai sujud berdirilah barisan yang ada di belakangnya. Jabir menyebut hadits tersebut. Dalam suatu riwayat lain: Kemudian beliau sujud dan sujud pula barisan pertama, ketika mereka berdiri sujudlah barisan kedua. Kemudian perawi menyebutkan hadits yang serupa dengan hadits tadi, dan di akhir hadits disebutkan: Kemudian Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam salam dan kami semua ikut salam. [HR. Muslim 840].

 

–       Apabila musuh tidak berada di arah kiblat:

Pertama: Imam takbir dan sebagian pasukan berbaris dibelakangnya, sedangkan sebagian lainnya menghadap musuh (tidak dalam keadaan shalat). Imam shalat satu rakaat (untuk shalat dua rakaat) bersama sebagian pasukan yang bersamanya kemudian imam tetap berdiri, sedangkan pasukan yang bersamanya tetap menyempurnakan sendiri, kemudian beranjak pergi dan berdiri menghadap musuh. Kemudian datang sebagian pasukan yang lain (yang tadi menghadap musuh) dan imam shalat menyelesaikan sisa rakaat bersama-sama mereka. Kemudian imam duduk sedangkan mereka menyelesaikan shalat sendiri-sendiri dalam kondisi imam tetap duduk hingga salam bersama mereka. Berdasarkan hadits dari Sholeh Ibnu Khuwwat Radliyallaahu ‘anhu dari seseorang yang pernah sholat Khauf bersama Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pada hari perang Dzatir Riqo’: Bahwa sekelompok sahabat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam berbaris bersama beliau dan sekelompok lain menghadapi musuh. Lalu beliau sholat bersama mereka (kelompok yang berbaris) satu rakaat, kemudian beliau tetap berdiri dan mereka menyelesaikan sholatnya masing-masing. Lalu mereka bubar dan berbaris menghadapi musuh. Datanglah kelompok lain dan beliau sholat satu rakaat yang tersisa, kemudian beliau tetap duduk dan mereka meneruskan sendiri-sendiri, lalu beliau salam bersama mereka. [HR. Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut riwayat Muslim 842].

Kedua; Imam mengerjakan shalat dengan masing-masing kelompok, sendiri-sendiri (tidak berbarengan dalam satu waktu). Dimana imam shalat dua rakaat bersama pasukan pertama kemudian salam, kemudian shalat bersama pasukan lainnya juga dengan dua rakaat lalu salam..  Berdasarkan hadits Jâbir bin ‘Abdillah Radhiyallâhu ‘anhu ia berkata, “…lalu diserukanlah shalat, maka beliau pun mengimami satu kelompok sebanyak dua rakaat, kemudian mereka mundur. Lantas beliau mengimami kelompok yang lain sebanyak dua rakaat.” Jâbir berkata: Dengan demikian Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam shalat sebanyak empat rakaat sedang orang-orang (hanya) dua rakaat.” [HR. Al-Bukhâri 4126 Muslim 843].

Ketiga: Tiap kelompok pasukan shalat satu rakaat saja bersama imam, sedangkan imam shalat dua rakaat. Setiap kelompok pasukan shalat satu rakaat saja tanpa mengqadha (tidak menambah rakaat kedua). Berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah shalat di Dzi Qarad, lalu orang-orang berbaris dibelakang beliau menjadi dua barisan: satu barisan dibelakang berada dibelakang beliau sedang barisan yang lainnya menghadap kearah musuh. Kemudian beliau mengimami barisan yang tepat dibelakang beliau dengan satu rakaat lalu mereka (bubar) dan menuju ke barisan kedua (untuk menggantikan posisi mereka), sedang mereka yang dibarisan kedua beranjak keposisi yang tadi ditempati barisan pertama, lalu Nabi mengimami mereka dengan satu rakaat, dan mereka semua (baik yang dibarisan pertama dan kedua) tidak mengqadha.” [HR. An-Nasai 3/179 dan Abu Dawud 1248].

Keempat: Imam mengerjakan shalat satu rakaat bersama satu kelompok kemudian barisan yang pertama ini berbalik kebarisan kedua sebelum salam, dan ketika itu imam masih dalam keadaan shalat. Selanjutnya, kelompok yang kedua (yang belum shalat) maju ke barisan tepat di belakang imam dan mengerjakan rakaat kedua bersama imam. Setelah itu, imam mengucapkan salam sendirian, lalu masing-masing kelompok menyelesaikan rakaat yang masih tertinggal. Berdasarkan hadits Ibnu Umar Radhiyallaahu ‘anhu berkata, “Aku pernah berperang bersama Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam di jalan menuju Najed. Kami menghadapi musuh dan berbaris menghadapi mereka. Maka berdirilah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dan shalat bersama kami, sekelompok berdiri bersama beliau dan sekelompok lain menghadapi musuh. Beliau sholat satu rakaat dengan kelompok yang bersama beliau dan sujud dua kali, kemudian mereka berpaling menuju tempat kelompok yang belum shalat. Lalu mereka datang dan beliau sholat satu rakaat dan sujud dua kali. Kemudian beliau salam sedang setiap kelompok (pertama dan kedua) berdiri lagi dan masing-masing melakukan ruku’ dan dua sujud (menambah satu rakaat, pentj.) [HR. Al-Bukhâri 942 dan Muslim 839].

 

[12] Karena Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam telah melakukannya berkali-kali dihari yang berbeda dan dengan cara yang berbeda pula, maka boleh dipilih cara yang paling aman dalam shalat dalam shalat dan paling mendukung penjagaan.

 

[13] Berdasarkan firman Allah ta’ala, “Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan. Kemudian apabila kamu telah aman, maka sebutlah Allah (shalatlah), sebagaimana Allah telah mengajarkan kepada kamu apa yg belum kamu ketahui.” [QS. Al-Baqarah: 239]. Ibnu ‘Umar berkata menafsirkan ayat ini, “Apabila rasa takut lebih besar dari itu, maka mereka boleh shalat sambil berjalan maupun berkendaraan baik menghadap qiblat ataupun tidak.” [Shahih. HR. Al-Bukhâri 4535 Ibnu Majah 1258]. Al-Bukhâri menambahkan, “Nafî’ berkata: Aku berpendapat bahwa Ibnu Umar berkata seperti itu dari Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam.”

 

[14] Berdasarkan hadits ‘Aisyah Radhiyallâhu ‘anha, ia berkata, “Pertama kali, shalat diwajibkan dua rakaat. Kemudian hal ini ditetapkan ditetapkan bagi shalat dalam keadaan safar. Sedangkan pada saat mukim dikerjakan secara lengkap (empat rakaat).” [HR. Al-Bukhâri 350, 1090 dan Muslim 685].

Juga berdasarkan perkataan Ibnu ‘Abbâs Radhiyallâhu ‘anhu, “Sesungguhnya Allah mewajibkan shalat atas lisan Nabi kalian adalah dua rakaat untuk musafir, dan empat rakaat untuk mukim, dan satu rakaat untuk shalat khauf.” [HR. Muslim 687].

Juga berdasarkan perkataan Ibnu ‘Umar Radhiyallâhu ‘anhu, “Aku pernah menemani perjalanan Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam, dan beliau tidak pernah shalat lebih dari dua rakaat hingga Allah mewafatkannya.” [Muttafaq ‘Alaihi].

 

[15] Sekalipun dalam kondisi aman. Allah Subhâhu wa Ta’ala berfirman, “Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu mengqashar shalat (mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir.” [QS. An-Nisâ`: 101). Dari Ya’la bin Umayyah, dia menanyakan ayat ini kepada ‘Umar bin al-Khaththâb. Dia berkata, “…Jika kamu takut diserang orang-orang kafir…” [QS. An-Nisâ`: 101]. Padahal orang-orang sudah dalam keadaan aman.” Umar berkata, “Dulu, aku juga bingung dengan masalah ini sebagaimana kamu. Lalu aku menanyakannya pada Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, lantas beliau bersabda, “Itu adalah sedekah dari Allah untuk kalian. Maka terimalah sedekah-Nya.” [HR. Muslim 686, Abu Dâwud 1187].

 

[16] Baik dalam rangka dagang, menuntut ilmu, rekreasi, berburu, dan lain sebagainya.

 

[17]          I barîd = 4 farsakh.

4 farsakh =3 mil.

1 mil =4.000 hasta.

1 hasta = 6 kepalan tangan atau sebanding 24 jari telunjuk.

1 jari telunjuk  = 1,925 cm.

Dengan demikian panjang 1 hasta = 24 × 1,925 cm = 46,2 cm.

1 mil = 4.000 x 46,2 = 1848 m = 1, 848 km.

1 farsakh = 3 x 1848 = 5544 m = 5, 544 km.

1 barîd = 4 x 5544 = 22176 m = 22, 176 km. (Lihat kitab: al-Idhâhât al-‘ashriyah oleh syaikh Hasan Hallâq).

 

Ketahuilah, bahwa hadits yang paling shahih dan yang paling jelas yang menyebutkan jarak ukuran safar adalah hadits Anas bin Malik Radhiyallâhu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam apabila keluar dalam perjalanan 3 mil –atau 3 farsakh- (Syu’bah, sang perawi ragu) beliau mengqashar shalat.” [HR. Muslim 691]  3 mil =  5,544 km, sedang 3 farsakh =  16,632 km.

 

[18]Berdasarkan hadits Jâbir Radhiyallâhu ‘anhu, ia berkata, “Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam tinggal di Tabuk selama dua puluh hari sambil tetap mengqashar shalat.” [HR. Ahmad 2/295, Abu Dâwud 1235, Ibnu Hibbân 2749]. Yang benar-unggul- bahwa hadits ini adalah Mursal (tidak shahih). Ma’mar (salah seorang perawi dalam hadits ini) berkesendirian dalam meriwayatkannya secara musnad. Ma’mar menyelisihi ‘Ali bin al-Mubârak serta yang lainnya. Dimana mereka semua meriwayatkan khabar ini dari Yahya bin Abi Katsîr dari Muhammad bin ‘Abdirrahman bin Tsaubân dari Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam secara mursal. At-Timirdzi dalam al-‘ilal al-Kabîr h.95 berkata, “Aku bertanya kepada Muhammad (al-Bukhâri) tentang hadits ini, ia menjawab, “Hadits ini diriwayatkan dari Ibnu Tsaubân dari Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam secara mursal.”

Pendapat yang unggul dalam hal ini bahwa barangsiapa yang tidak berniat untuk tinggal disuatu negeri maka hukum-hukum safar tetap berlaku atasnya (termasuk mengqashar shalat) sekalipun ia telah menetap dinegeri tersebut lebih dari dua puluh hari. Mengingat: Pertama, hadits Jâbir diatas tidak shahih. Kedua, sekalipun hadits tersebut shahih, namun keberadaannya tidak dapat dijadikan sebagai pembatas waktu dalam meringkas shalat, mengingat keberadaan beliau di Tabuk dalam tempo waktu tersebut hanyalah sifatnya kebetulan saja. Ketiga, perbuatan shahabat menunjukkan atas kuatnya pendapat ini, diantaranya;  Ibnu ‘Umar  pernah menetap di Adzerbaijân selama enam bulan dan selama itu pula beliau meringkas shalatnya. HR. Al-Baihaqi dengan sanad yang  shahih.

 

[19] Berdasarkan hadits dari Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau tiba di Makkah pada pagi hari tanggal 4 Dzulhijjah, dan beliau tinggal di Makkah dari hari keempat, kelima, keenam, dan ketujuh. Beliau shalat shubuh pada hari ke kedelapan kemudian menuju Mina. Selama hari-hari tersebut (dari hari keempat hingga ketujuh-pentj.) beliau mengqashar shalatnya.”[ HR. Al-Bukhâri dengan makna  (1564) dan Muslim (1240). Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam meringkas shalatnya selama empat hari lantaran adanya kepastian/ketetapan dari   beliau bahwa  beliau hanya akan menetap selama empat hari itu di Makkah dan setelahnya akan berangkat ke Mina.

Namun dalil ini  tidak secara tegas membatasi demikian, apalagi ada hadits-hadits lain yang menunjukkan bahwa Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah tinggal di Makkah atau di tempat lainnya lebih dari masa tersebut namun beliau terus mengqashar shalatnya. Yang benar, bahwa musafir terus mengqashar shalatnya hingga ia kembali ke kampung asalnya dengan syarat ia tetap berstatus musafir. Adapun jika ia berketetapan untuk menetap disuatu negeri dan menjadi bagian dari penduduknya maka ini tidak dinamakan musafir tetapi muqim. Dan muqim wajib menyempurnakan shalatnya dan ikut berjamaah dengan kaum muslimin lainnya di negeri tersebut. Wallâhu a’lam.

 

[20] Jamak: Menggabungkan dua shalat sekaligus [Shalat Dhuhur dan Ashar atau Maghrib dan Isya], baik dilakukan di waktu shalat pertama atau waktu shalat kedua. Jika dilakukan di waktu shalat pertama disebut jamak taqdim dan jika dilakukan di waktu shalat kedua disebut jamak ta’hir.

 

[21] Berdasarkan hadits Jâbir Radhiyallâhu ‘anhu tentang sifat haji Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam, “…..lalu beliau teruskan perjalannya hingga tiba di Arafah, beliau dapati kemahnya telah dipasang di Namirah, lalu singgah hingga ketika matahari tergelincir, beliau menyuruh menyiapkan al-Qaswâ` lalu disiapkan untuknya, maka beliau mendatangi perut lembah dan berkhutbah dihadapan orang-orang. Setelah itu adzan dan iqamah lalu shalat Dhuhur kemudian iqamah lagi dan shalat Ashar.” [HR. Muslim 1218].

            Dari Mu’adz bin Jabal Radhiyallâhu ‘anhu ia berkata, “Kami pernah keluar bersama Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam dalam perang Tabuk, pada saat itu beliau menjamak shalat Dhuhur dan Ashar serta menjamak shalat Maghrib dan Isya.” [HR. Muslim 706]. Hadits Mu’adz ini berlaku mutlaq, baik itu jamak taqdim maupun jamak ta’hir.

 

[22] Berdasarkan hadits Anas Radhiyallâhu ‘anhu ia berkata, “Adalah Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam apabila hendak bepergian sebelum matahari tergelincir, beliau mengakhirkan shalat Dhuhur sampai waktu Ashar, lalu beliau turun dan menggabungkan antara keduanya. Dan apabila beliau bepergian setelah matahari tergelincir, beliau shalat Dhuhur dulu lalu menunggangi kendaraannya.” [HR. Al-Bukhâri 1111, dan Muslim 704].

 

[23] Berdasarkan hadits Jâbir Radhiyallâhu ‘anhu ia berkata, “Bahwa Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam tiba di Muzdalifah kemudian melakukan shalat Maghrib dan Isya disana dengan satu kali adzan dan dua kali iqamah.” [HR. Muslim 1218].

 

[24] Kusuf artinya hilangnya seluruh cahaya atau sebagian dari matahari atau bulan dan berubah menjadi hitam. Sedang Khusuf adalah sinonimnya. Tapi ada yang berpendapat bahwa kata khusuf untuk gerhana matahari dan khusuf untuk gerhana bulan, dan pendapat inilah yang terkenal menurut bahasa.

 

[25]Berdasarkan ‘Aisyah Radhiyallâhu ‘Anha ia berkata: Rasulullah Shallallâhu ‘Alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Matahari dan Bulan adalah dua tanda kekuasaan dari tanda-tanda kekuasaan Allah, keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang dan tidak juga karena kehidupan seseorang. Oleh karena itu, jika kalian melihat hal tersebut maka hendaklah kalian berdoa kepada Allah, bertakbir, shalat dan bersedekah.” [HR. Al-Bukhâri 1044 dan Muslim 901]. Perintah mengerjakan shalat diatas berbarengan dengan perintah untuk bertakbir , berdoa, dan bersedekah. Dan tidak ada seorang pun yang mewajibkan bersedekah, bertakbir dan berdoa pada saat terjadi gerhana. Bukti lain yang menunjukkan kesunnahannya adalah hadits Thalhah bin Ubaidillah Radhiyallahu Anhu, bahwa seorang Arab dusun mendatangi Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apa sajakah shalat yang di fardhukan Allah atas diriku?’ Lalu beliau bersabda, ‘Shalat lima waktu.’Lalu ia bertanya lagi, ‘Apakah ada kewajiban atasku selainnya?. Beliau bersabda, ‘Tidak, kecuali kalau engkau melakukan yang sunnah… [HR. Al-Bukhari (46), Muslim (11), Abu Dawud (391) dan An-Nasai (1/226)].

 

[26] Berdasarkan hadits ‘Aisyah Radhiyallâhu ‘anhu ia berkata, “Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam mengeraskan bacaan beliau ketika sholat gerhana. Apabila beliau selesai membaca al-Qur`ân, maka beliau bertakbir kemudian ruku’. Ketika bangkit dari ruku’ beliau mengucapkan Sami’a-Llôhu liman hamidahu Robbanâ walaka-l hamdu, kemudian beliau mengulangi membaca al-Qur`an di sholat gerhana sebanyak empat ruku’ dan sujud dalam dua raka’at.” [Muttafaqun ‘Alaihi].

 

[27] Berdasarkan hadits Aisyah Radhiyallahu Anhuma, ia berkata, ‘Terjadi gerhana matahari pada masa hidup Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam keluar ke masjid lalu berdiri [untuk shalat] kemudian bertakbir. Lalu , orang-orang berbaris dibelakang beliau. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membaca bacaan yang panjang, kemudian bertakbir lalu rukuk dengan rukuk yang panjang. Setelah itu mengangkat kepalanya seraya mengucapkan, ‘Sami’allahu Liman Hamidah, Rabbanâ Walakal Hamd.’ Lantas berdiri lagi, lalu membaca bacaan yang lebih pendek dari bacaan yang pertama. Kemudian bertakbir dan rukuk yang panjang, tetapi lebih pendek dari rakaat yang pertama, lalu mengucapkan, ‘Sami’allahu Liman Hamidah, Rabbanâ Walakal Hamd’ lalu sujud. Kemudian pada rakaat terakhir beliau melakukan seperti apa yang beliau lakukan dalam rakaat sebelumnya. Dengan begitu, beliau telah menyempurnakan empat kali rukuk [dalam dua rakaat] dan empat sujud [dalam dua rakaat]. Kemudian matahari telah tampak sebelum beliau berpaling. Kemudian beliau berdiri, lalu berkhutbah di hadapan orang-orang dan memuji Allah dengan pujian yang layak untuk-Nya, kemudian bersabda, ‘Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak menjadi gerhana karena meninggalnya seseorang dan tidak pula karena hidupnya seseorang. Apabila kalian melihat keduanya, maka lakukanlah shalat.’ Dalam satu riwayat, ‘Dan shalatlah hingga Allah menyingkap matahari/bulan dari kalian.’ [HR. Al-Bukhari (1046), Muslim (901) dan lafadh tersebut miliknya, Abu Dawud (1191), At-Tirmidzi (561), An-Nasai (3/127) dan Ibnu Majah (1263)].

 

[28] Berdasarkan hadits Jabir Radhiyallâhu ‘anhu ia berkata; Pernah terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertepatan dengan hari wafatnya Ibrahim bin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka orang-orang pun mengatakan, “Terjadinya gerhana matahari adalah karena kematiannya Ibrahim.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri menunaikan shalat (gerhana) bersama para sahabat sebanyak enam ruku’ dengan empat kali sujud (dalam dua rakaat, pentj.). Mula-mula beliau bertakbir, dan membaca ayat dan memanjangkan bacaannya itu. Kemudian beliau ruku’ lama, lamanya kira-kira selama beliau berdiri itu. Kemudian beliau mengangkat kepala dari ruku’ (I’tidal), lalu beliau membaca ayat, namun tidak sepanjang yang pertama. Kemudian beliau ruku’, lamanya kira-kira seperti lamanya beliau berdiri. Kemudian I’tidal, lalu membaca ayat, tetapi panjangnya tidak sepanjang yang kedua. Kemudian beliau ruku’, seperti lamanya beliau berdiri. Kemudian beliau mengangkat kepalanya dari ruku’ kemudian langsung turun untuk sujud, dan beliau sujud dua kali. Kemudian beliau berdiri, dan sesudah itu ruku’ pula tiga kali; dan bacaannya setiap raka’at yang dahulu lebih panjang daripada yang setelahnya. Begitu pula lama ruku’ hampir sama dengan lamanya sujud. Kemudian beliau mundur, maka mundur pula seluruh shaf di belakang beliau hingga sampai dekat shafnya kaum wanita. Kemudian beliau maju, dan maju pula seluruh jama’ah mengikuti beliau, hingga sampai ke tempatnya semula. Sesudah itu, shalat gerhana selesai, dan matahari telah terang kembali.[HR. Muslim 901].

 

[29] Berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiyallâhu ‘anhu ia berkata; Ketika terjadi gerhana matahari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat (gerhana) dengan delapan kali ruku’ dan empat kali sujud (dalam dua raka’at). [HR. Muslim 908]

 

[30] Berdasarkan hadits Ubay bin Ka’b dia berkata, “Pada masa Rasululloh shallallohu ‘alaihi wasallam pernah terjadi gerhana matahari, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersama para sahabat melaksanakan shalat dan membaca surat-surat panjang, beliau lalu rukuk lima kali rakaat dan sujud dua kali. Kemudian beliau bangkit pada rakaat kedua membaca surat-surat panjang, kemudian rukuk lima kali dan sujud dua kali, kemudian beliau duduk dengan menghadap kiblat berdoa sampai hilang gerhananya.” [Dhaif. HR. Abu Dâwud 1182. Pada sanadnya ada rawi yang bernama Abu Ja’far Ar-Râzi ia adalah rawi yang lemah. Dalam at-Taqrîb disebutkan, “Ia adalah rawi yang jujur, jelek hafalannya, khususnya dari al-Mughirah.” [lihat al-irwâ 661].

 

Kesimpulan tentang jumlah ruku’ dalam shalat gerhana:

            Pendapat yang unggul mengenai jumlah ruku’ dalam shalat gerhana adalah dua kali ruku’ dalam setiap rakaat. Adapun jumlah selain itu adalah lemah. Syaikhul Islam ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al-Fatawa [18/17-18] berkata, “…hadits ini telah dihukumi lemah oleh para ulama, mereka mengatakan bahwa Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat gerhana hanya satu kali yaitu pada waktu wafatnya putra beliau, Ibrâhim. Dan sudah menjadi maklum bahwa Ibrâhim wafat hanya sekali, juga tidak ada lagi putra beliau yang bernama Ibrâhim. Dan telah dinukil secara mutawatir bahwa pada saat itu beliau shalat gerhana dengan dua kali ruku’ dalam setiap rakaat.”

 

[31] Berdasarkan hadits Aisyah Radhiyallahu Anhuma, ia berkata, ‘…Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membaca bacaan yang panjang, kemudian bertakbir lalu rukuk dengan rukuk yang panjang. Setelah itu mengangkat kepalanya seraya mengucapkan, ‘Sami’allahu Liman Hamidah, Rabbanâ Walakal Hamd.’ Lantas berdiri lagi, lalu membaca bacaan yang lebih pendek dari bacaan yang pertama…”[HR. Al-Bukhari (1046), Muslim (901)].

 

[32] Berdasarkan hadits Abdurrahman bin Samurah ia berkata; “Pada suatu waktu di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika aku sedang bermain panah, tiba-tiba terjadi gerhana matahari. Lalu kulemparkan semua alat permainanku itu. Aku berkata; Aku akan melihat apakah gerangan yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bila terjadi gerhana matahari seperti itu. Setelah aku sampai ke tempat beliau, kudapati beliau sedang mengangkat tangannya berdo’a, takbir, tahmid dan tahlil sampai matahari terang kembali. Beliau membaca dua surat dan shalat dua raka’at.” [HR. Muslim 1519]. Namun hadits ini tidak secara tegas menyebutkan bahwa hanya ada satu ruku’ dalam setiap rakaat. Ada kemungkinan membaca “dua surat”  seperti yang termaktub didalam hadits diatas dibaca didalam satu rakaat dari dua ruku’. Wallâhu a’lam.

 

[33] Berdasarkan ‘Aisyah Radhiyallâhu ‘Anha ia berkata: Rasulullah Shallallâhu ‘Alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Matahari dan Bulan adalah dua tanda kekuasaan dari tanda-tanda kekuasaan Allah, keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang dan tidak juga karena kehidupan seseorang. Oleh karena itu, jika kalian melihat hal tersebut maka hendaklah kalian berdoa kepada Allah, bertakbir, shalat dan bersedekah.” [HR. Al-Bukhâri 1044 dan Muslim 901]. Dan hadits Dari Abu Musa Radhiyallahu Anhu, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Tanda-tanda yang dikirim oleh Allah ini bukan karena meninggalnya seseorang. Tetapi, Allah menakut-nakuti hamba-Nya denganya. Apabila kamu melihat sedikit saja  darinya, maka bersegeralah  untuk berdzikir kepada Allah, berdoa, dan memohon ampunan kepada-Nya.” [HR. Al-Bukhari (1059), Muslim (912) dan An-Nasai (3/153)].

 

[34] Secara etimologi istisqa` berarti meminta air kepada orang lain. Sedang istisqa` menurut syariat adalah memohon hujan dari Allah ketika terjadi kekeringan dengan cara-cara tertentu.

 

[35] Lantaran shalat ini biasa dilakukan oleh Rasulullah Shallallâhu ‘Alaihi wa sallam dan tidak ada satu dalil pun yang mewajibkannya.

 

[36] Dimana pelaksanaannya serupa dengan shalat ‘Ied. Berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu bahwa ia pernah ditanya tentang shalat Istisqa`, beliau menjawab, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam keluar dengan penampilan sederhana, khusyu’, dan merunduk sampai ke tempat pelaksanaan shalat. Selanjutnya, beliau naik ke mimbar. Dan beliau tidak berkhutbah seperti khutbah kalian. Tetapi, beliau masih terus berdoa, benar-benar berharap, dan bertakbir. Dan kemudian mengerjakan shalat dua rakaat seperti beliau mengerjakan shalat ‘Ied.” [Hasan. HR. Abu Dawud (1165), At-Tirmidzi (558) dan ia menghasankannya, An-Nasai (3/156) dan Ibnu Majah (1266)].

Yang tampak bahwa [sifat] takbir di dalamnya sama dengan sifat takbir dalam shalat ‘Iedul Fithri dan ‘Iedul Adhha, demikian menurut madzhab Asy-Syafi’i. Namun mayoritas ulama berpendapat bahwa tidak ada takbir pada dua rakaat tersebut.  Dan yang unggul adalah pendapat yang dianut oleh madzhab Asy-Syafi’i.

 

[37] Berdasarkan hadits Aisyah Radhiyallahu Anha, ia berkata, ‘Orang-orang mengadu kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang hujan yang lama tidak kunjung turun. Kemudian beliau meminta dibawakan mimbar, lalu mimbar tersebut disiapkan untuk beliau di tempat pelaksanaan shalat (Istisqa`). Selanjutnya, beliau membuat janji dengan orang-orang untuk berangkat (mengerjakan shalat Istisqa`)…” [HR. Abu Dawud (1173). Dan beliau berkata, ‘Hadits gharib  yang sanadnya jayyid. Hadits tersebut dihasankan oleh Al-Albani dalam ‘Al-Misykat’ (1508) dan Al-Arnauth dalam ta’liqnya atas Ibnu Hibban (2860), dan Al-Hakim (1/476). Sedang imam An-Nawawi menshahihkannya (Majmu’ 5/64)].

 

[38] Berdasarkan hadits ‘Abdullah bin Zaid, ia berkata, “Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah keluar ke Mushalla (tanah lapang) lalu meminta hujan dan membalikkan seledangnya sambil menghadap kiblat. Dan beliau memulai shalat sebelum khutbah lalu beliau menghadap kiblat dan berdoa.” [Sanadnya Shahih. HR. Ahmad 4/41].

            Dan dibolehkan juga memulai khutbah sebelum salam. Berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu bahwa ia pernah ditanya tentang shalat Istisqa`, beliau menjawab, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam keluar dengan penampilan sederhana, khusyu’, dan merunduk sampai ke tempat pelaksanaan shalat. Selanjutnya, beliau naik ke mimbar. Dan beliau tidak berkhutbah seperti khutbah kalian. Tetapi, beliau masih terus berdoa, benar-benar berharap, dan bertakbir. Dan kemudian mengerjakan shalat dua rakaat seperti beliau mengerjakan shalat ‘Ied.” [Hasan. HR. Abu Dawud (1165), At-Tirmidzi (558) dan ia menghasankannya, An-Nasai (3/156) dan Ibnu Majah (1266)].

 

[39] Dari Aisyah Radhiyallahu Anha, ia berkata, ‘Orang-orang mengadu kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang hujan yang lama tidak kunjung turun. Kemudian beliau meminta dibawakan mimbar, lalu mimbar tersebut disiapkan untuk beliau di tempat pelaksanaan shalat (Istisqa`). Selanjutnya, beliau membuat janji dengan orang-orang untuk berangkat (mengerjakan shalat Istisqa`).’ Aisyah Radhiyallahu Anha mengatakan, ‘Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pun keluar ketika sinar matahari sangat terang. Kemudian beliau duduk diatas mimbar, lalu bertakbir dan memanjatkan pujian kepada Allah Azza wa Jalla. Setelah itu, beliau bersabda, ‘Sesungguhnya kalian mengeluhkan kekeringan dinegeri kalian dan tidak turunnya hujan kepada kalian yang seharusnya sudah turun di musimnya ini. Dan Allah yang Mahamulia lagi Mahaperkasa menyuruh kalian agar kalian berdoa kepada-Nya serta berjanji untuk mengabulkan doa kalian.’ Selanjutnya, beliau bersabda, ‘Segala puji bagi Allah, Rabb seru sekalian alam, yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang. Raja Penguasa pada hari kiamat, tidak ada ilah (yang berhaq di ibadahi) melainkan hanya Allah. Allah berbuat apa saja yang Dia kehendaki. Ya Allah, Engkau adalah Allah, tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi) melainkan hanya Engkau semata.  Engkau yang Mahakaya, sedang kami miskin. Turunkanlah hujan kepada kami. Dan jadikanlah apa yang Engkau turunkan itu sebagai kekuatan dan pengantar sampai suatu masa.’

            Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya, dan beliau masih terus mengangkat tangan sampai terlihat putih ketiaknya. Kemudian beliau memutar punggungnya kearah orang-orang serta memindahkan selendangnya sedang beliau dalam keadaan mengangkat kedua tangannya. Setelah itu, beliau menghadap ke arah orang-orang dan turun dari mimbar. Kemudian beliau mengerjakan shalat dua rakaat. Maka Allah pun menciptakan awan, lalu guntur bergemuruh dan kilatpun berkilauan. Dan dengan izin Allah, awan pun turun menjadi hujan. Belum sempat beliau mendatangi masjidnya, ia sudah mengalir deras. Dan ketika melihat mereka bergegas-gegas menuju rumah, beliau tertawa sehingga terlihat gigi-gigi gerahamnya. Lalu beliau berkata, ‘Aku bersaksi bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Dan aku hanyalah hamba dan rasul-Nya.’ [Hasan. HR. Abu Dawud (1173)].

[40] Seraya mengangkat kedua tangan. Dari Anas Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya hingga saya melihat putih kedua ketiaknya.”  [HR. Al-Bukhari (1030), Muslim (894), dan Abu Dawud (1171)]. Dan dalam riwayat Muslim, ‘Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah memohon hujan, lalu beliau menghadapkan punggung telapak tangannya ke langit.’ Dan bagi Abu Dawud, ‘Beliau memohon hujan seperti ini, beliau menjulurkan kedua tangannya, dan ia menjadikan perut [bagian dalam] kedua telapak tangannya menghadap ke tanah hingga saya melihat putih kedua ketiaknya.’

Selain imam, makmum pun dianjurkan untuk mengangkat kedua tangannya. Berdasarkan hadits Anas bin Mâlik Radhiyallâhu ‘anhu, “…lalu Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya sambil berdoa, dan orang-orang pun ikut mengangkat tangan-tangan mereka bersamanya untuk berdoa.” [HR. Al-Bukhâri 1029].

Diantara doa yang dipanjatkan adalah:

 

–       ‘Allâhummas Qinâ Ghaitsan Mughitsan, Marîan Marî’an, Thabqan, Ghadqan, ‘Âjilan Ghaira Râisin.’ [Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan sebagai penyelamat dari kesusahan, yang terpuji kesudahannya, menambah lagi menyuburkan tanaman, kebaikannya merata keseluruh negeri, deras, dengan segera tanpa ditunda.]  [Shahih. HR. Ibnu Majah (1270) dari hadits Ibnu Abbas dan ia memiliki syâhid dari hadits Jabir yang diriwayatkan oleh Abu Dawud (1169)].

 

–       ‘Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamîn, Ar-Rahmânir Rahîm, Malikiyau Middîn, Lâ Ilâ Illallâhu Yaf’alu Mâ Yurid, Allâhumma Antallâhu, Lâ Ilâha Illâ Antal Ghaniyyu, wa Nahnul Fuqarâu, Anzil ‘Alainal Ghaitsa, waj’al Mâ Anzalta Lanâ Quwwatan wa Balâghan Ila Hîn.’ [Segala puji bagi Allah, Rabb seru sekalian alam, yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang. Raja Penguasa pada hari kiamat, tidak ada ilah (yang berhaq di ibadahi) melainkan hanya Allah, Allah berbuat apa saja yang Dia kehendaki. Ya Allah, Engkau adalah Allah, tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi) melainkan hanya Engkau semata. Engkau yang Mahakaya, sedang kami miskin. Turunkanlah hujan kepada kami. Dan jadikanlah apa yang Engkau turunkan itu sebagai kekuatan dan pengantar sampai suatu masa.] [Hasan. HR. Abu Dawud (1173)].

 

–       ‘Allâhumma Agitsnâ, Allâhumma Agitsnâ’ [Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.] [HR. Al-Bukhâri 1014 dan Muslim 897].

 

[41]Berdasarkan hadits ‘Abdullah bin Zaid, ia berkata, “Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah keluar ke Mushalla (tanah lapang) lalu meminta hujan dan membalikkan seledangnya sambil menghadap kiblat. Dan beliau memulai shalat sebelum khutbah lalu beliau menghadap kiblat dan berdoa.” [Sanadnya Shahih. HR. Ahmad 4/41].

Sifat merubah letak selendang, yaitu dengan cara menempatkan selendang bagian kanan ke pundak sebelah kiri, dan menempatkan selendang bagian kiri ke pundak sebelah kanan. Ulama berkata, ‘Hikmah dari merubah letak selendang tersebut adalah sebagai bentuk tafâul [optimis] dengan berubahnya keadaan.

            Adapun waktu merubah letak selendang adalah ketika menghadap ke arah kiblat, berdasarkan hadits ‘Abdullah bin Zaid diatas.

 

 

 

Jember, 28 Rabi’ul Akhir 1435 H/ 1 Maret 2014

Al-Faqir Abu Halbas Muhammad Ayyub

 

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: