//
you're reading...
Dasar Ilmu, Fiqih

Berbagi Hadiah Syarah Ad-Durarul Bahiyyah [9]


Kitab Al-Janâiz (Jenazah)

Termasuk sunnah:

  • Membesuk orang sakit.[1]
  • Mentalqinkan orang yang sedang sekarat dengan dua kalimat syahadat.[2]
  • (Menghadapkannya ke arah kiblat).[3]
  • Memejamkan kedua matanya jika telah (nyata) meninggalnya.[4]
  • Membacakan surat Yasin kepadanya.[5]
  • Menyegerakan prosesi mayit- kecuali ada kemungkinan ia masih hidup-[6]
  • Melunasi hutang-hutangnya.[7]
  • Menutupi seluruh tubuhnya.[8]

 

  • Diperbolehkan menciumnya.[9]
  • Bagi orang yang sakit, hendaklah ia:
    • Berbaik sangka kepada Allah.[10]
    • Bertaubat kepadanya.[11]
    • Melepaskan diri dari semua tanggungan.[12]

 

Pasal

Diwajibkan bagi orang yang hidup memandikan jenazah seorang muslim.[13]

  • Yang diutamakan adalah kerabat yang paling dekat[14]; jika ia satu jenis kelamin dengan mayit.[15]
  • Dan seseorang terhadap pasangannya (suami-istri).[16]
  • Dimandikan dengan cara:
    • Tiga, lima, atau lebih.[17]
    • Dengan air bidara; dan pada basuhan akhir dengan kapur barus.[18]
    • Mendahulukan anggota-anggota yang kanan.[19]

 

  • Orang yang mati syahid tidak dimandikan.[20]

 

Pasal

[Tentang Mengkafani Mayit]

Wajib mengkafani mayit[21] dengan sesuatu yang menutupinya[22]– sekalipun ia tidak memiliki selainnya-[23]

Tidak mengapa melebihkan kain kafan (dari apa yang menutupi badan) –asalkan ada kemampuan- tanpa berlebih-lebihan.[24]

  • Orang yang mati syahid dikafani dengan pakaian ia terbunuh.[25]
  • Disunnahkan memberikan wewangian[26] pada:
    • Badan mayit.
    • Kain kafannya.

 

Pasal

[Perihal Shalat Jenazah]

Menyalatkan mayit adalah wajib hukumnya.[27]

  • Imam berdiri sejajar dengan kepala mayit laki-laki dan ditengah-tengah bagi mayit perempuan.[28]
  • Lantas bertakbir empat[29] atau lima.[30]
  • Membaca al-fatihah[31] dan surah[32] setelah takbir pertama.[33]
  • Berdoa dengan doa-doa yang ma`tsur[34] diantara takbir-takbir.[35]
  • Tidak boleh dishalatkan atas:
    • Orang yang menyembunyikan harta rampasan perang sebelum dibagi.[36]
    • Bunuh diri.[37]
    • Orang kafir.[38]
    • Orang mati syahid.[39]
  • Dan dishalatkan:
    • Diatas kubur[40]
    • Dan bagi yang ghaib.[41]

 

 

[1] Berdasarkan hadits Abu Hurairah Radhiyallâhu ‘Anhu ia berkata: Rasulullah Shallallâhu ‘Alaihi wa sallam bersabda, “Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada lima: Menjawab salam, membesuk yang sakit, mengantar jenazah, memenuhi undangan, dan mendoakan yang bersin.” [HR. Al-Bukhari 1240, Muslim 2162]

            Pendapat yang unggul bahwa membesuk orang sakit adalah fardhu kifayah. Dalil lain yang menunjukkan kewajibannya adalah sabda Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam, “Berilah makan kepada orang yang lapar, jenguklah orang yang sakit, dan bebaskanlah tawanan.” [HR. Al-Bukhâri 3046].

            Ibnu Baththal berkata, “Ada kemungkinan bahwa perintah tersebut berarti wajib kifayah sebagaimana member makan orang yang lapar, membebaskan budak, dan ada kemungkinan bermakna sunnah sebagai dorongan untuk menyambung tali silaturrahmi, adapun ad-Dawudi memastikan yang pertama, ia mengatakan, “Menjenguk orang yang sakit adalah fardhu yang ditanggung oleh sebagian orang dari sebagian yang lain, sementara jumhur mengatakan: pada asalnya adalah sunnah, dan bisa menjadi wajib terhadap sebagian orang saja tidak yang lain.” [Lihat Fathul Bâri 10/112-113].

            Imam al-Bukhâri memastikan kewajibannya, ia berkata, “Bab wajibnya menjenguk orang sakit.” Kemudian ia menyebutkan hadits Abu Musa Al-As’ari ia berkata: Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berilah makan kepada orang yang lapar, jenguklah orang yang sakit, dan bebaskanlah tawanan.” [HR. Al-Bukhâri 3046].

 

[2] Berdasarkan hadits Abu Sa’îd al-Khudri bahwa Nabi Shallallâhu ‘Alaihi wa sallam bersabda, “Talqinkanlah orang yang mati di antara kalian.” Yaitu kepada orang yang hampir mati. Ibnu Utsaimin berkata, “Dinamakan dengan mayit didasarkan pada peralihan yang akan dialaminya. Menamakan sesuatu dengan sesuatu yang bakal ia beralih kepadanya benar keberadaannya didalam bahasa arab.

            Diantaranya adalah perkataan seorang yang bermimpi kepada Yusuf: “Sesungguhnya aku bermimpi memeras khamer [anggur].” (QS. Yûsuf: 36). Padahal dia tidak memeras khamer[arak], yang ia lakukan adalah memeras anggur yang akan menjadi khamer. [Asy-Syarh Al-Mumti’, Juz 2, hal. 501]

            Dalil bahwa talqin untuk orang yang hendak mati adalah hadits Anas Radhiyallâhu ‘anhu ia berkata: Bahwa Rasulullah Shallallâhu ‘Alaihi wa sallam suatu ketika pernah mengunjungi seorang shahabat dari Bani Najjar, beliau bersabda, “Wahai paman, ucapkanlah Lâ ilâha Illallâh!” Lalu orang itu bertanya, “(Siapa yang engkau maksud) paman dari ibu atau dari bapak?” Beliau menjawab, “Paman dari ibu. Ucapkanlah Lâ Ilâha Illallâh.” Dia bertanya lagi, “Apakah kalimat itu baik bagiku?” Beliau menjawab, “Ya.” [Shahih. HR. Ahmad 3/152, 145, dan 268].

            Disyariatkannya pentalqinan ini agar kalimat Lâ ilâha Illallâh menjadi kalimat terakhir seorang hamba saat meninggalnya. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang akhir ucapannya Lâ ilâha Illallah, maka ia masuk syurga.” [Shahih. HR. Abu Dâwud 3100].

 

[3] Berdasarkan hadits Abdullah bin Abi Qatâdah bahwa ketika Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau bertanya tentang Barâ` bin Ma’rûr. Para shahabat menjawab, “Dia telah meninggal dunia dan mewasiyatkan sepertiga hartanya kepadamu ya Rasulullah dan juga berwasiyat agar ia dihadapkan ke kiblat saat sakaratul maut.” Maka Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Dia sesuai dengan fitrahnya.” [HR. Al-Hâkim 1/353, Al-Baihaqi 3/384]. Namun yang benar hadits ini adalah dha’îf. Pada sanadnya ada Nu’aim bin Hammâd dia adalah rawi yang lemah ditambah lagi bahwa hadits ini adalah mursal, dimana ‘Abdullah bin Abi Qatadah (yang meriwayatkan hadits) bukan shahabat Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam.

            Adapun hadits, “Baitullah al-Haram: adalah kiblat kalian baik yang hidup maupun yang telah mati.” [HR. Abu Dâwud] Andaipun hadits ini diterima sebagai hujjah, namun hadits ini tidak secara jelas menganjurkan menghadapkan orang yang sekarat menghadap kiblat. Ada beberapa kejadian, dimana Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam menghadapi orang yang sakaratul maut, namun tidak diceritakan bahwa beliau menghadapkan orang-orang tersebut kearah kiblat. Imam asy-Syaukani berkata, “Berhujjah dengan hadits ini perlu ditinjau ulang, karena yang dimaksud dengan ‘yang hidup’ adalah ketika shalat, sedang ‘yang telah mati’ adalah saat berada di lahad. Adapun orang yang sekarat maka ia masih ada dalam kondisi hidup namun tidak shalat, maka ia tidak tercakup dalam hadits ini..” [Nailul Authar 4/50].

 

[4] Berdasarkan hadits Ummu Salamah Radhiyallâhu ‘anhu ia berkata: Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam masuk kepada Abu Salamah, dalam keadaan pandangannya mengarah keatas, lalu beliau memejamkannya, kemudian bersabda, “Sesungguhnya ruh apabila dicabut akan diikuti oleh pandangan.” Lalu terdengar suara gaduh keluarganya, kemudian beliau bersabda, “Janganlah kalian berdoa kepada diri-diri kalian melainkan dengan kebaikan, karena para malaikat akan mengamini apa yang kalian ucapkan…” [HR. Muslim 920, Abu Dâwud 3118].

 

[5] Yakni seorang qâri membaca surat yâsin kepada orang yang hendak mati. Berdasarkan hadits Ma’qil bin Yasâr ia berkata: Rasulullah Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam bersabda “Bacakan surat yâsîn atas orang-orang mati kalian.” [HR. Ahmad [5/26,27], ibnu Mâjah [1448], ibnu Hibbân [3002] dan Al-Hâkim [1/565]].

Namun pendapat yang benar, bahwa hal tersebut bukanlah hal yang disunnahkan, lantaran lemahnya hadits-hadits tentang itu termasuk hadits Ma’qil diatas. Ad-Darâqutni berkata, “Hadits ini lemah pada sanad dan majhul pada matan serta tidak sah haditsnya pada bab [bacaan yâsîn].” Ibnul Qaththân al-Fâsi melemahkannya dalam kitab ‘Bayânul Wahmi wal Ibhâm [5/49, 50] dan Imam an-Nawawi dalam al-Adzkâr.

Adapun membacakan yasin kepada orang yang telah meninggal maka hal tersebut adalah bid’ah. Tidak sah beristidlâl untuk itu dengan sabdanya, “Bacakan yâsîn atas orang-orang mati kalian,” lantaran tidak ada faedah dari bacaan tersebut atasnya sedang ia sudah mati, seseorang hanya dapat mengambil faedah dari bacaan tersebut atasnya selagi ruh berada di jasadnya, dan bahwa mayat [yang hendak hampir mati] butuh pada doa, oleh itulah Nabi Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan bagi orang yang menghadiri mayit agar mendoakannya, dan bersabda, “Karena sesungguhnya malaikat meng-aminkan atas apa yang kalian ucapkan.” [Asy-Syarh Al-Mumti’, Juz 2 hal. 583-587]

 

[6]Menyegerakan prosesi mayit yakni menyegerakan proses pemandiannya, pengkafanannya, serta penguburannya kecuali jika ada kemungkinan orang tersebut masih hidup. Adapun dalil-dalil tentang menyegerakan prosesi mayit maka tidak ada satu pun yang shahih tentang itu melainkan bersegera saat memikul jenazah. Diantara dalil untuk menyegerakan adalah; Dari ‘Ali radhiyallâhu ‘anhu ia berkata: Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tiga perkara yang tidak boleh ditunda; shalat apabila tiba waktunya, jenazah apabila telah hadir, dan gadis apabila ia telah mendapati calon yang sepadan.’ Namun hadits ini dhaif (lemah).

Adapun dalil agar bersegera (namun tidak tergesa-gesa) saat memikul mayit: Dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu dari Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda, “Bersegeralah (dalam membawa) jenazah. Karena bila jenazah itu orang shalih maka kalian telah menyegerakan kebaikan untuknya, dan jika dia bukan orang shalih maka kalian telah menurunkan keburukan dari pundak-pundak kalian.” [HR. Al-Bukhâri 1315, Muslim 944].

 

[7] Berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu ia berkata: Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jiwa seorang mukmin itu bergantung dengan hutangnya hingga terbayar.” [Shahih. HR. at-Tirmidzi 1079, Ibnu Mâjah 2404].

            Juga berdasarkan hadits Sa’ad bin al-Athwal radhiyallâhu ‘anhu ia berkata, bahwa saudaranya meninggal dunia dan meninggalkan hutang sebesar tiga ratus dirham, dan meninggalkan keluarga. Ia berkata, “Saya ingin memberi nafkah kepada keluarganya.” Ia berkata, “Lalu Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Sesungguhnya saudaramu tertahan dengan hutangnya, pergilah untuk melunasinya…” [Shahih: HR. Ibnu Mâjah 2433, Ahmad 4/136].

 

[8]Berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallâhu ‘anha, bahwa pada saat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam wafat, jasadnya ditutupi dengan burdah hibarah [Shahih. HR. Al-Bukhâri 5814, Muslim 942]. Hibarah adalah jenis pakaian produksi Yaman; ditenun dari kapas atau katun, dan bermotif garis-garis.

            Ketentuan diatas berlaku bagi mayat yang bukan dalam keadaan ihram (orang yang berihram Haji atau Umrah). Jika mayat dalam keadaan ihram, tidak ditutup kepala dan wajahnya berdasarkan hadith Ibn ‘Abbas radhiyallâhu ‘anhu, “Ketika seorang lelaki wukuf di ‘Arafah, dia terlempar dari punggung untanya, lalu patah lehernya. Kemudian Nabi shallallâhu alaihi wa sallam bersabda, “ Mandikanlah dia dengan air dan bidara, kafankan dia dengan dua baju (ihram)nya, jangan kamu berikan dia parfum, dan jangan kamu tutup kepala dan mukanya, sebab dia akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan berihram” [Muttafaqun ‘alaih dan redaksinya bagi Muslim].

 

[9] Berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallâhu ‘anha, bahwa ketika Rasulullah wafat, Abu Bakar datang dengan menunggang kuda dari rumah beliau yang berada di daerah Sunh (daerah di sebelah timur masjid Nabawi). Beliau turun dari hewan tunggangannya itu kemudian masuk ke masjid. Beliau tidak mengajak seorang pun untuk berbicara sampai akhirnya masuk ke dalam rumah Aisyah. Abu Bakar menyingkap wajah Rasulullah yang ditutupi dengan kain habirah (kain yang terbuat dari daerah Yaman) kemudian mengecup keningnya. Abu Bakar pun menangis kemudian berkata : “demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, Allah tidak akan menghimpun dua kematian pada dirimu. Adapun kematian yang telah ditetapkan pada dirimu, berarti engkau memang sudah meninggal.” [HR. Al-Bukhâri].

 

[10]Dengan meyakini bahwa Allah ta’ala tidak akan mendzalimi seorang pun, bahwa jika dirinya bertaubat maka Allah akan menerima taubatnya, bahwa Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang kepada hamba-Nya, dan lain sebagainya. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah salah seorang diantara kalian meninggal melainkan dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah.” [HR. Muslim 2877, dan Ibnu Majah 4167].

 

[11] Berdasarkan firman Allah ta’ala: Artinya (Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang beriman, agar kamu beruntung) QS; An-Nûr: 31. Taubat dalam bahasa Arab berarti kembali. Sedang menurut istilah syariat adalah meninggalkan dosa lantaran keburukannya, menyesal atas dosa yang terlanjur diperbuatnya, berazzam (bertekad) untuk tidak mengulanginya dan mengembalikan barang jika ada yang diambil secara dzalim atau meminta kerelaan dari pemiliknya.

 

[12]Apakah dengan cara menunaikan langsung kepada orang-orang yang berhak atas hal itu atau jika tidak memungkinkan maka ia berwasiat dengan hal itu. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang memiliki tanggungan untuk saudaranya baik dalam kehormatan atau hartanya maka hendaklah ia menunaikannya sebelum datang pada hari Kiamat dimana tidak diterima lagi dinar dan dirham. Apabila ia memiliki amal shalih maka akan diambil darinya, dan diberikan kepada orang yang ia dzalimi. Dan apabila ia tidak memiliki amal shalih maka akan diambil keburukan dari orang yang ia dzalimi lalu ditimpakan kepadanya.” [HR. Al-Bukhâri 2449, Muslim 2419].

            Juga berdasarkan sabda Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, “Tidak dibenarkan bagi seorang muslim yang memiliki sesuatu untuk diwasiatkan, berdiam diri selama dua malam, melainkan wasiat itu telah tertulis disisinya.[HR. Al-Bukhâri 2738 dan Muslim 1627] 

 

[13] Berdasarkan hadits Ummu ‘Athiyyah Al-Anshâriyah Radhiyallahu Anha, bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah masuk kepada mereka (para wanita) ketika anak perempuan beliau meninggal, lalu beliau berkata, ‘Mandikanlah ia tiga kali, atau lima kali, atau lebih dari itu, jika Kalian pandang perlu.’ [HR. Al-Bukhari (1253), Muslim (939), Abu Dawud (3145), At-Tirmidzi (990) dan An-Nasai (4/28).]

Dan juga sabda Nabi shallallâhu alaihi wa sallam kepada orang yang terlempar dari punggung untanya saat dalam keadaan ihram, “Mandikanlah dia dengan air dan bidara, kafankan dia dengan dua baju (ihram)nya, jangan kamu berikan dia parfum, dan jangan kamu tutup kepala dan mukanya, sebab dia akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan berihram” [Muttafaqun ‘alaih dan redaksinya bagi Muslim]. Ibnu Hazm Rahimahullah berkata, ‘Memandikan semua mayat kaum muslimin adalah wajib. Apabila mayat dikubur tanpa dimandikan [sebelumnya], maka ia mesti dikeluarkan selama masih mungkin didapatkan sesuatu dari bagian tubuhnya lalu dimandikan kecuali yang mati syahid yang diperangi oleh orang-orang musyrik didalam medan peperangan lalu mati dalam peperangan tersebut, maka tidak ada keharusan memandikannya.’ [Al-Muhalla (2/32).]

 

[14] Tidak ada dalil atas pengutamaan ini. Adapun hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallâhu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaklah yang mengurusinya adalah keluarga yang terdekat kepada jenazah itu jika mengerti (tatacara) memandikan jenazah. Jika ia tidak mengerti, maka siapa saja yang dipandang berhak karena wara’ dan amanahnya.” [HR Ahmad] Maka hadits ini tidak shahih. Pada sanadnya ada rawi yang bernama Jâbir al-Ju’fi, dia adalah rawi yang terkenal kelemahannya.

 

[15]Berdasarkan sabda Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, “Seorang lelaki tidak boleh melihat aurat laki-laki yang lain dan seorang wanita tidak boleh melihat aurat wanita lain.” [HR. Muslim no. 338] dan semakin berat keharamannya jika laki-laki melihat aurat wanita dan sebaliknya. Hadits ini berlaku dikala hidup atau matinya seseorang.

 

[16] Dikecualikan dari permasalahan diatas (memandikan mayit mesti sama jenis kelaminnya dengan yang memandikannya) adalah suami memandikan istri atau sebaliknya istri memandikan suami. Dari Aisyah radhiyallâhu ‘anhu dia berkata, “Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah kembali dari Baqi’ dan ia mendapatiku dalam keadaan aku sakit pusing. Aku berkata, “Aduh kepalaku sakit.” Beliau bersabda, “Ya Aisyah, kepalaku juga!” Kemudian beliau bersabda, “Apa bahayanya bagimu, seandainya kamu meninggal sebelumku lalu aku memandikanmu dan mengkafanimu kemudian aku menshalatkanmu dan menguburkanmu.” [Shahih Lighairihi. HR. Ahmad 6/238 dan Ibnu Majah 1465].

            Aisyah radhiyallâhu ‘anha berkata, “Seandainya aku mengetahui apa yang akan terjadi sebagaimana apa yang telah terjadi, tidaklah memandikan Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam kecuali para istri beliau.” [Hasan: HR. Abu Dâwud 3141 dan Ibnu Majah.]

Juga shahih bahwa Asmâ` bintu ‘Umais memandikan suaminya Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallâhu ‘anhu. [Hasan lighairihi. HR. Mâlik 1/223, ‘AbdurRazzâq 3/67, dan Ibnu Syaibah 3/249].

Namun hadits dan atsar diatas hanya menunjukkan pada hukum boleh, bukan menunjukkan pada hukum yang lebih utama sebagaimana yang dikatakan oleh pengarang.

 

[17] Dari Ummu ‘Athiyyah Al-Anshâriyah Radhiyallahu Anha, bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah masuk kepada mereka (para wanita) ketika anak perempuan beliau meninggal, lalu beliau berkata, ‘Mandikanlah ia tiga kali, atau lima kali, atau lebih dari itu, jika kalian pandang perlu dengan air dan daun bidara, dan jadikan yang terakhir kapur barus atau sesuatu yang mengandung kapur barus, apabila kalian telah selesai beritahukan kepadaku ’ [HR. Al-Bukhari (1253), Muslim (939), Abu Dawud (3145), At-Tirmidzi (990) dan An-Nasai (4/28).]

 

[18] Lihat hadits Ummu ‘Athiyyah diatas.

 

[19] Berdasarkan hadits Ummu ‘Athiyyah Al-Anshâriyah Radhiyallahu Anha ia berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada para wanita yang memandikan puterinya, “Mulailah dari bagian kanan tubuhnya dan anggota-anggota wudhunya.” [HR. Al-Bukhâri dan Muslim]. Ibnu Sirîn yang meriwayatkan hadits ini dari Ummu ‘Athiyyah sewaktu memandikan jenazah ia memulai membasuh anggota-anggota wudhunya lalu membasuh bagian yang kanan.

 

[20]Yang mati syahid dalam medan peperangan karena meninggikan kalimat Allah. Maka Jenazahnya dibiarkan sebagaimana kondisi dia meninggal, sehingga dia dimakamkan bersama darahnya yang keluar. Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda terkait jenazah korban perang Uhud, “Jangan kalian mandikan mereka, karena setiap luka atau darah, akan mengeluarkan bau harum minyak misk pada hari kiamat.” [Shahih. HR. Ahmad 14189]. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam juga bersabda di dalam perang Uhud, “Kuburkan mereka bersama darah mereka.” Jabir mengatakan: “Mereka tidak dimandikan.” [HR. Al-Bukhari 1346]

 

Peringatan:

Adapun orang yang berperang karena hartanya atau karena penyakit perut dan wabah atau selain mereka diantara yang dikatakan untuk mereka istilah mati syahid maka mereka dimandikan, dikafani, dan dishalati sebagaimana orang lain diantara orang-orang yang mati dari kaum muslimin. Dan dalam hal ini tidak ada perbedaan pendapat diantara para ulama sebagaimana yang dikatakan oleh an-Nawawi dalam al-Majmû’ 5/264, bahkan termasuk ijma’ sebagaimana yang dikatakan oleh al-Muhdi dalam al-Bahr 1/96.

 

[21] Mengkafani mayit hukumnya adalah fardhu kifayah. Dalil wajibnya adalah sabda Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam kepada orang yang terlempar dari punggung untunya saat dalam keadaan ihram, “Mandikanlah dia dengan air dan bidara, kafankan dia dengan dua baju (ihram)nya..” [HR. Al-Bukhâri dan Muslim].

 

[22] Dan ini adalah ukuran minimal dalam pengkafanan, yaitu sekedar menutupi seluruh tubuh mayit walau hanya sehelai kain. Berdasarkan hadits dari Jabir bin Abdillah radhiyallâhu ‘anhu. Jabir bin Abdillah radhiyallâhu ‘anhu mengutarakan, bahwa suatu hari Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam berkhutbah. Dalam khutbahnya beliau menyebut nama salah seorang sahabatnya yang telah meninggal dan dikafani dengan kafan yang kurang panjang, serta dikuburkan malam hari. Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam melarang menguburkan mayat malam hari, supaya dapat dishalati (oleh jama’ah yang lebih banyak ), kecuali terpaksa. Lalu beliau juga bersabda: “Apabila salah seorang diantara kalian mengkafani saudaranya, maka hendaklah ia memperbagus kafannya“. [HR. Muslim (3/50), Ibnul Jarud (268), Ahmad (3/295,329]. Ulama berkata: “Yang dimaksud dengan memperbagus kafannya, yaitu yang bersih, tebal, menutupi (tubuh jenazah) dan yang sederhana. Yang dimaksud bukanlah yang mewah, mahal dan yang indah.” [Ahkamul Janaiz, 58].

 

[23] Yakni tidak ada tambahan lain selain sehelai kain kafan tersebut, mengingat bahwa biaya kain kafan diambilkan dari harta mayit itu sendiri, tidak dari harta orang lain. Berdasarkan dengan sabda Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam kepada orang yang terjatuh dari binatang tunggangannya, “…kafankan dia dengan dua baju (ihram)nya.” Dan juga dengan kisah Mush’ab bin ‘Umair yang terbunuh pada perang Uhud, dia dikafani dengan pakaiannya sendiri. dari Khabbab bin Arat Radhiyallahu Anhu, “Kami hijrah di jalan Allah bersama Rasulullah Saw dengan mengharap ridha-Nya, hingga pastilah sudah pahala di sisi Allah. Di antara kami ada yang sudah berlalu sebelum menikmati pahala di dunia ini sedikitpun. Di antaranya Mush’ab bin Umair yang gugur di Perang Uhud. Tak sehelai pun kain untuk menutupinya selain sehelai burdah. Andaikan ditaruh di atas kepalanya, terbukalah kedua belah kakinya. Sebaliknya bila ditutupkan kakinya, terbukalah kepalanya. Maka sabda Rasulullah Saw, “Tutuplah ke bagian kepalanya, dan kakinya tutuplah dengan rumput idzkhir. [HR. Al Bukhari dan Muslim].

 

[24]Yakni melebihkan kain kafan dari ukuran wajib (sehelai kain kafan yang menutupi seluruh tubuh) hingga tiga helai kain kafan. Berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallâhu ‘anha ia berkata, “Aku pernah masuk menemui Abu Bakar radhiyallâhu ‘anhu, lalu ia bertanya kepadaku, “Berapa helai kain kafan yang kalian gunakan saat mengkafani Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam?” Aku berkata, “Beliau dikafani dengan tiga lembar kain suhuliyah (kain dari negeri Yaman), tidak ada gamis dan imamah (sorban) didalamnya.” [HR. Al-Bukhâri 1387]. Dengan demikian pengkafanan yang paling utama dan yang paling sempurna adalah dengan tiga helai kain kafan. Adapun lebih dari itu maka dianggap sebagai hal yang berlebihan. Dan lebih sempurna lagi jika kain kafan tersebut berwarna putih. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kenakanlah pakaian kalian yang berwarna putih karena ia adalah sebaik-baik (warna) pakaian kalian, dan kafanilah orang yang mati diantara kalian dengannya.” [Shahih. Abu Dâwud 3878, Ibnu Mâjah 3566, dan at-Tirmidzi 993].

Peringatan: Aturan dalam mengkafani diatas berlaku sama atas laki-laki dan perempuan. Adapun pendapat yang mengatakan bahwa mayit wanita dikafani dengan lima kain maka ini adalah pendapat yang lemah. Syaikh Ibnu Utsaimin berkata: “Dalam hal ini telah ada hadits marfu’ (kafan seorang wanita adalah lima helai kain, Pen). Akan tetapi, di dalamnya ada seorang rawi yang majhul (tidak dikenal). Oleh karena itu, sebagian ulama berkata: “Seorang wanita dikafani seperti seorang lelaki. Yaitu tiga helai kain, satu kain diikatkan di atas yang lain.” [Lihat Asy Syarhul Mumti’ (5/393].

 

[25]Berdasarkan hadits Abdullah bin Tsa’labah, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda berkenaan dengan para shahabat yang gugur di perang Uhud, “Selimuti (kemuli) mereka dengan pakaian yang mereka miliki.” [Shahih. HR. Ahmad (33144), dishahihkan oleh al-Albâni dalam Talkhîsh Ahkâmul Janâiz (h. 36)] Dan juga berdasarkan hadits Jâbir radhiyallâhu ‘anhu ia berkata, “Seorang laki-laki terkena lontaran panah di dada atau dikerongkongannya lalu ia dikuburkan dengan pakaian (yang dikenakan)nya dalam kondisi apa adanya (tanpa dimandikan).” [Hasan. HR. Abu Dâwud 3133. Dihasankan oleh asy-Syaikh al-Albâni dalam Shahih Abu Dâwud. Al-Hafidz dalam at-Talkhish 2/118 berkata, “Sanadnya shahih berdasarkan syarat Muslim.]

 

[26] Berdasarkan sabda Nabi shallallâhu alaihi wa sallam kepada orang yang terlempar dari punggung untanya saat dalam keadaan ihram, “Mandikanlah dia dengan air dan bidara, kafankan dia dengan dua baju (ihram)nya, jangan kamu berikan dia parfum..” [HR. Muttafaq ‘Alaihi]. Sabda beliau ini menunjukkan bahwa kebiasaan yang berlaku pada jenazah kaum muslimin pada masa itu adalah mengenakan parfum pada kain kafannya.

            Apakah aturan ini juga berlaku atas wanita? Pendapat yang rajih, bahwa aturan ini juga berlaku atas wanita lantaran laki-laki dan wanita sama dalam hukum kecuali jika ada dalil yang mengkhususkan pada salah satu dari keduanya. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wanita itu adalah saudara kandung laki-laki.” [Shahih. HR. Abu Dâwud 236 dan at-Tirmidzi 113].

 

[27] Yaitu wajib kifayah. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah didatangkan seorang mayat laki-laki yang memiliki hutang, lalu beliau bertanya, “Apakah ia meninggalkan sesuatu yang bisa melunasi hutangnya?” Apabila diberitahu bahwa ia meninggalkannya maka beliau menshalatinya, dan jika tidak maka beliau tidak menshalatinya, beliau mengatakan, “Shalatilah shahabat kalian ini.” [HR. Al-Bukhâri 6731 dan Muslim 1619]. Dalil lain yang menunjukkan atas fardhu kifayahnya shalat jenazah adalah bahwa para shahabat pernah menyalati wanita hitam yang biasa menyapu masjid dan mereka tidak memberitahukannya kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam. [HR. Al-Bukhâri dan Muslim].

 

[28] Berdasarkan hadits Anas bin Malik radhiyallâhu ‘anhu, bahwa Abu Ghâlib berkata, “Aku pernah shalat bersama Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu atas seorang jenazah laki-laki, di mana ia berdiri di hadapan kepalanya. Kemudian orang-orang membawa jenezah perempuan dari suku Quraisy. Maka, mereka berkata, “Wahai Abu Hamzah, shalatlah atasnya.” Maka dia pun berdiri di dekat bagian tengah keranda. Maka al-‘Alâ’ bin Ziyâd bertanya kepadanya, “Beginikah engkau dulu pernah menyaksikan Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam berdiri saat menshalatkan jenazah wanita seperti posisimu ini dan saat menshalatkan jenazah laki-laki seperti posisimu tersebut?” Dia menjawab, “Ya.” Setelah selesai, dia berkata, “Ingatlah selalu.” [Shahih. HR. Abu Dâwud 3194 dan at-Tirmidzi 1034].

 

[29] Berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah mendengar berita tentang kematian an-Najasyi pada hari kematiannya. Kemudian beliau keluar bersama orang-orang ketempat shalat, lalu membuat barisan bersama mereka, dan bertakbir empat kali takbir.” [HR. Al-Bukhâri 1333 dan Muslim 951].

 

[30]Berdasarkan hadits Zaid bin Arqam, bahwa ‘Abdurrahman bin Abi Laila, bercerita, “Zaid (bin Arqam) pernah menshalatkan jenazah kami dengan takbir empat kali. Dan dia juga pernah bertakbir lima kali atas suatu jenazah. Lalu aku tanyakan kepadanya mengenai hal itu, maka dia pun menjawab, “Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan takbir ini.” [Muslim 597].

            Adapun enam atau tujuh takbir, maka tidak ada hadits marfû’ tentang itu, yang ada adalah beberapa atsar shahabat. Diantara atsar tersebut ada yang shahih dan ada dha’if. Diantara shahabat semisal ‘Umar radhiyallâhu ‘anhu berpendapat tidak adanya tambahan takbir lebih dari empat sedang ‘Ali dan beberapa shahabat lain radhiyallâhu ‘anhum berpendapat bolehnya tambahan tersebut hingga tujuh takbir. Dalam kaedah disebutkan bahwa jika ada khilaf diantara para shahabat maka kita merujuk kepada nash-nash yang terdapat dalam al-quran maupun as-sunnah. Dan sunnah yang shahih menunjukkan bahwa Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam tidak pernah takbir jenazah lebih dari lima takbir. Adapun sembilan takbir yang dilakukan oleh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam atas jenazah Hamzah, maka tidak sedikit dari ulama hadits yang menganggapnya sebagai hadits munkar. Wallâhu a’lam.

[31]Berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbâs radhiyallâhu ‘anhu, bahwa Thalhah bin ‘Abdillah bin ‘Auf berkata, “Aku pernah shalat atas seorang jenazah dibelakang Ibnu ‘Abbâs, lalu dia membaca al-Fatihah. Dia (Ibnu ‘Abbâs) berkata, “Agar kalian mengetahui bahwa hal itu adalah sunnah.” [HR. Al-Bukhâri 1335].

            Dan hukum membacanya adalah wajib. Adapun ungkapan Ibnu ‘Abbâs, “Bahwa hal itu adalah sunnah,” maka yang dimaksud bahwa itu adalah jalan yang ditempuh oleh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Hukum wajib ini dikuatkan dengan sabda Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, “Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Al-Fatihah.’ (HR. Al-Bukhari (756), Muslim (394)]

 

[32]Berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbâs radhiyallâhu ‘anhu, bahwa Thalhah bin ‘Abdillah bin ‘Auf berkata, “Aku pernah shalat atas seorang jenazah dibelakang Ibnu ‘Abbâs, lalu ia membaca al-Fatihah dan satu surat. Ia menjaharkan (bacaan tersebut) hingga ia memperdengarkannya kepada kami. Setelah selesai shalat, aku pegang tangannya lalu menanyakan hal itu itu kepadanya. Ia menjawab, “Sunnah dan haq.” [HR. An-Nasai 1987].

            Yang unggul bahwa membaca surah setelah al-Fatihah tidaklah disunnahkan. Lantaran tambahan kalimat ‘surat’ pada hadits An-Nasâi diatas adalah syadz. Imam al-Baihaqi rahimahullahu ta’ala berkata, “Kalimat tersebut adalah tambahan yang tidak mahfuzh- yaitu syadz-.”

 

[33]Berdasarkan hadits Umâmah bin Sahl dari salah seorang shahabat Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bahwa berdasarkan sunnah dalam shalat jenazah adalah imam bertakbir, kemudian ia membaca surat al-Fatihah setelah takbir pertama dengan sir (suara lirih).” [Al-Umm, Asy-Syafi’I (1/270) dan al-Baihaqi (4/39), dishahihkan sanadnya oleh al-hafizh].

 

[34] Doa ma’tsur adalah doa yang bersumber dari Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Diantara doa tersebut adalah:

            Pertama: Allâhummaghfir lahu, warhamhu wa ‘âfihi, wa’fu ‘anhu, wa akrim nuzulahu, wa wassi’ madkhalahu, wa aghsilhu bil mâi, wats-tsalji, wal baradi, wa naqqihi minal khathâya, kama yunaqqats tsaubul abyadhu minaddanasi, wa abdilhu dâran khairan min dârihi wa ahlan khairan min ahlihi, wa adkhilhul jannata, wa qihi fitnatal qabri, wa ‘adzâban nâr.” [HR. Muslim]

            Kedua: Allâhummaghfir lihayyinâ, wa mayyitinâ, wa syâhidinâ, wa ghâibinâ, wa shagîrinâ, wa kabîrinâ, wa dzakarinâ, wa untsâna. Allâhumma man ahyaitahu minnâ fa ahyihi ‘alal islâm, wa man tawaffaitahu minnâ fatawaffâhu ‘alal îmân, allâhumma lâ tahrimnâ ajrahu, walâ tudhillanâ ba’dahu.” [HR. Muslim].

 

[35] Yaitu doa ma’tsur diatas dibaca setelah takbir kedua, ketiga dan keempat. Adapun setelah takbir pertama membaca surat al-Fatihah dan shalawat kepada Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Hal ini disandarkan kepada hadits Umamah bin Sahl dari salah seorang shahabat Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, “Bahwa berdasarkan sunnah dalam shalat jenazah adalah imam bertakbir, kemudian ia membaca surat al-Fatihah setelah takbir pertama dengan sir (suara lirih), kemudian bershalawat kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, dan ia mengikhlashkan doa kepada jenazah pada tiga takbir (setelahnya).” [Al-Umm, Asy-Syafi’I (1/270) dan al-Baihaqi (4/39), dishahihkan sanadnya oleh al-hafizh].

            Pendapat pemilik kitab ini (Imam asy-Syaukani), bahwa letak shalawat itu berada setelah takbir pertama setelah bacaan al-Fatihah, juga merupakan pendapat Ibnu Hazm rahimahullahu ta’ala. Sedang mayoritas ulama berpendapat bahwa bacaan shalawat letaknya berada setelah takbir yang kedua. Namun pendapat asy-Syaukani dan Ibnu Hazm lebih sesuai dengan zhahir hadits Umamah diatas, wallâhu a’lam.

 

[36] Berdasarkan Zaid bin Khalid al-Juhani, bahwasanya ada seorang laki-laki dari Sahabat Rasulullah meninggal pada perang Khaibar, kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dikabarkan tentang hal itu, lalu beliau bersabda: “Shalatilah sahabat kalian.” Maka berubahlah raut muka para Sahabat mendengar ucapan beliau, lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya teman kalian telah melakukan kecurangan dalam jihad fii sabilillah.” Kemudian kami memeriksa bekalnya dan kami temukan kain sulaman milik Yahudi yang harganya tidak sampai dua dirham. [Dhaif. HR. Abu Dawud 2710. Dilemahkan oleh asy-Syaikh al-Albâni dalam Dha’îf Abu Dâwud dan al-Irwâ` (726).]

            Perintah Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam kepada para shahabatnya untuk menyalati orang tersebut adalah bantahan atas apa yang dinyatakan oleh penulis (imam asy-Syaukani) diatas bahwa orang yang melakukan kecurangan (ghulul) tidak dishalati. Yang benar, orang yang melakukan kecurangan (ghulul) dishalati sebagaimana kaum muslimin lainnya yang meninggal. Ketetapan ini terus berlangsung selagi tidak ada dalil yang mengecualikan.

 

[37] Berdasarkan hadits Jâbir bin Samurah radhiyallâhu ‘anhu ia berkata, “Pernah didatangkan (dihadapan) Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam seorang yang bunuh diri dengan anak panah, maka beliau pun tidak menshalatinya.” [HR. Muslim 978].

            Namun pendapat yang unggul, bahwa selagi yang bunuh diri itu adalah seorang muslim maka ia tetap dishalatkan sebagaimana muslim lainnya. Adapun Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam tidak menshalatinya, maka dipahami darinya bahwa beliau melakukan itu untuk memberi pelajaran kepada orang yang semisalnya. Juga agar orang yang memiliki keutamaan dan keshalihan ditengah-tengah masyarakat untuk tidak menshalati orang tersebut. Adapun dalil pembolehannya adalah sabda beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam dalam riwayat an-Nasâi, “Adapun aku, maka aku tidak akan menyalatinya.” Artinya, beliau lebih memilih untuk tidak menshalatinya namun membiarkan para shahabatnya untuk menshalatinya. Wallâhu a’lam.

 

[38]Berdasarkan firman Allah ta’ala: Dan janganlah engkau (Muhammad) melaksanakan shalat untuk seseorang yang mati di antara mereka (orang-orang munafik), selama-lamanya dan janganlah engkau berdiri (mendoakan) diatas kuburnya. [QS. At-Taubah: 84].

 

[39] Berdasarkan hadits Jâbir bin ‘Abdillah ia berkata, “Bahwasanya Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengumpulkan diantara dua orang yang terbunuh dalam perang Uhud dalam satu kain kemudian bersabda, “Manakah diantara mereka yang paling banyak menghafal al-Qur`an?” Apabila diisyaratkan kepada beliau salah seorang diantara keduanya maka beliau mendahulukannya masuk kedalam liang lahad seraya bersabda, “Aku adalah saksi atas mereka.” Dan beliau memerintahkan untuk mengubur mereka dengan darah mereka, dan beliau (juga) tidak menyalati dan memandikan mereka.” [HR. Al-Bukhâri 1347]

            Namun diperkenankan juga menyalati orang yang mati syahid, berdasarkan hadits Syaddâd bin al-Hâd bahwa seseorang dari kalangan arab dusun datang kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam lalu beriman dan mengikuti beliau, kemudian berkata, “Aku ingin berhijrah bersamamu.” Orang itu pun tinggal sebentar kemudian bangkit untuk berperang melawan musuh, lalu dibawa kehadapan Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan terkena panah…kemudian Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengkafaninya dalam jubah beliau lalu menyalatinya.” [Shahih. HR. An-Nasai 1/277b dan al-Hakim 3/595].

            Dengan demikian, menyalati orang yang mati syahid adalah baik dan meninggalkannya (tidak menyalatinya) juga baik. Wallâhu a’lam.

 

[40]Berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu, bahwasanya ada seorang wanita berkulit hitam yang biasa menyapu masjid (atau seorang pemuda). Tiba-tiba Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam merasa kehilangan dia, maka Nabi pun menanyakannya. Mereka menjawab, “Telah meninggal.” Beliau bersabda, “Mengapa kalian tidak memberitahukan (jenazah)nya kepada saya?” Dia (rawi) berkata, “Sepertinya para shahabat itu menganggap kecil urusannya.” Maka beliau bersabda, “Tunjukkan kepadaku kuburannya.” Lalu beliau pun menyalatinya kemudian bersabda, “Sesungguhnya kuburan-kuburan ini penuh dengan kegelapan atas penghuninya dan sesungguhnya Allah menyinarinya untuk mereka berkat shalatku atas mereka.” [HR. Al-Bukhâri dan Muslim].

            Bolehnya shalat di kuburan ini hanya berlaku khusus untuk shalat jenazah, adapun shalat selainnya yang memiliki ruku’ dan sujud adalah terlarang (haram).

 

[41] Berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu bahwa Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah mengumumkan kematian an-Najasyi pada hari kematiannya, beliau keluar bersama mereka menuju mushalla (tanah lapang) lalu berbaris dengan mereka dan bertakbir empat kali untuknya.” [HR. Al-Bukhâri 1318 dan Muslim 951].

            Dan pendapat yang unggul, bahwa shalat ghaib hanya berlaku untuk mayit yang diketahui belum dishalatkan oleh seorang pun dari kaum muslimin. Ibnu-l-Qayyim berkata, “Bukan termasuk petunjuk dan sunnah beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam untuk menshalati setiap mayit yang ghaib. Telah banyak yang meninggal dari kalangan kaum muslimin dalam keadaan ghaib, namun Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam tidak menshalati mereka..” [Zâdul Ma’ad: [Zâdul Ma’ad: 1/519-520].

            Asy-Syaikh al-Albâni berkata, “Diantara yang menguatkan pendapat tidak disyariatkannya shalat ghaib untuk setiap orang adalah bahwasanya ketika para khulafau-r-râsyidin dan selain mereka meninggal dunia, tidak ada seorang pun dari kalangan kaum muslimin yang melakukan shalat ghaib untuk mereka, seandainya dilakukan tentu telah dinukil hal itu dari mereka secara mutawatir.” [Ahkâmul Janâiz h.93].

 

 

Abu Halbas Muhammad Ayyub

16 Muharram 1436 H.

           

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: