//
you're reading...
Khutbah

Empat Soal Yang Menentukan


Empat Soal Yang Menentukan

Khutbah Jumat 1436 H

Abu Halbas Muhammad Ayyub

 

 

Khutbah Pertama

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Segala puji bagi Allah ta’ala pemilik keagungan dan kemuliaan, pemilik nama-nama yang indah dan sifat-sifat yang agung, pemilik kerajaan yang luas nan kuat, yang ilmunya meliputi segala sesuatu hingga tidak ada satupun yang ditampakkan atau disembunyikan oleh seorang hamba melainkan Dia mengetahuinya. Maka hendaklah masing-masing kita bertaqwa kepada Allah ta’ala disetiap kondisi dan disegala tempat. Dia ta’ala berfirman:

وَاتّقُواْ يَوْماً تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللّهِ ثُمّ تُوَفّىَ كُلّ نَفْسٍ مّا كَسَبَتْ وَهُمْ لاَ يُظْلَمُون

Artinya: Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). [QS. Al-Baqarah:281]

Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam yang telah mengingatkan kita tentang kampung akhirat, tentang perjalanan menuju Allah subhânahu wa taala dan perjumpaan dengan-Nya. Beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda;

إنَّكُمْ سَتَلْقَوْنَ رَبَّكُمْ فَيَسْأَلُكُمْ عَنْ أَعْمَالِكُمْ

“Kelak kalian akan berjumpa dengan Rabb kalian, lalu menanyakan tentang amal-amal kalian.” [HR. Al-Bukhâri 1739]

 

Kaum muslimin sidang jum’at yang kami muliakan

Seberapapun usia yang kita miliki, sepanjang apapun umur kita didunia ini pada akhirnya kita akan mati. Sekuat apapun kecintaan kita kepada orang-orang yang kita kasihi, pada harta benda yang kita miliki, dan pada jabatan yang kita sandang pada akhirnya kita akan melepaskannya. Dan seremeh apapun amal yang kita kerjakan didunia ini kelak akan ada perhitungannya dari sang Maha Pengadil yang tidak pernah berlaku zhalim. Setidaknya inilah pesan singkat dari langit yang disampaikan Jibril kepada Nabi kita Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Jibril ‘alaihis salam berkata:

يَا مُحَمَّدُ ، عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ ، وَأَحْبِبْ مَنْ أَحْبَبْتَ فَإِنَّكَ مَفَارِقُهُ ، وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ

“Wahai Muhammad, hiduplah sesukamu karena sesungguhnya engkau akan mati, cintailah orang yang engkau cintai karena engkau akan berpisah dengannya, dan beramallah sekehendakmu karena engkau akan dibalas atas perbuatanmu itu.” [HR. Ath-Thabrâni dalam al-Awsath, Al-Hâkim dalam al-Mustadrâk dan ia berkata: Sanadnya shahih. Penilaian ini disepakati oleh adz-Dzahabi. Dihasankan oleh al-Haitsami dalam Majma’ az-Zawâid dan asy-Syaikh al-Albâni dalam Ash-Shahihah]

 

Kaum muslimin sidang jum’at yang berbahagia

Jika kematian adalah akhir segalanya maka tentu urusannya mudah dan tidak ada keistimewaan antara orang-orang beriman dan orang kafir, antara mukmin sejati dan orang-orang munafik, antara pelaku kebajikan dan pelaku kemaksiyatan, bahkan antara manusia dengan binatang ternak. Namun kematian bukanlah akhir segalanya tetapi ia adalah babak baru untuk menuju perjalanan panjang nan abadi. Setelah kematian kita akan berjumpa dengan Allah dan Dia akan bertanya tentang semua amal perbuatan kita. Dari sekian pertanyaan yang diajukan maka ada empat pertanyaan mendasar, dimana kaki seseorang hamba tidak akan beranjak dari tempat berdirinya kecuali empat pertanyaan itu telah diajukan dan dijawab! Empat pertanyaan itu adalah seperti yang disabdakan oleh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam:

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ

Artinya, “Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser (beranjak) pada hari kiamat hingga ia ditanyakan (4 perkara); tentang umurnya kemana ia habiskan, tentang ilmunya sejauhmana ia mengamalkannya, tentang hartanya dari mana ia peroleh dan kemana ia belanjakan, dan tentang jasadnya kemana ia manfaatkan.’ . [HR. At-Tirmidzi 2419 dari Abu Barzah al-Aslami, dan ia berkata: Hasan Shahih. Dishahihkan oleh asy-Syaikh al-Albâni dalam ash-Shahihah 946.]

Pertama tentang umur: Allah subhânahu wa ta’ala tidak bertanya tentang berapa umur yang kita miliki, berapa masa yang kita habiskan didunia? Namun Allah subhânahu wa ta’ala bertanya tentang pemanfaatan umur. Seberapa banyak waktu dari umur kita yang kita habiskan dalam ketaatan kepada Allah dan seberapa banyak waktu yang kita habiskan dalam bermaksiyat kepada Allah?
Umur adalah modal pokok dalam kehidupan manusia. Barangsiapa yang dipanjangkan umurnya dan dihabiskan dalam ketaatan kepada Allah maka dia adalah sebaik-baik manusia sedang barangsiapa yang dipanjangan umurnya dan dihabiskan dalam kemaksiyatan kepada Allah maka dia adalah serugi-rugi manusia. Maka pergunakanlah umur yang kita miliki untuk bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla.
Fudhal bin ‘Iyyâdh pernah bertemu dengan seorang laki-laki lalu bertanya kepadanya, “Berapa umurmu?” Laki-laki itu menjawab, “Enam puluh tahun?” Fudhail berkata, “Berarti semenjak enam puluh tahun engkau berjalan menuju Allah dan hampir-hampir saja engkau telah sampai.” Spontan laki-laki itu mengucapkan, “Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râjiun.” Fudhail berkata, “Apakah kau tahu makna dari yang engkau ucapkan itu?” Laki-laki itu menjawab, “Iya, bahwa aku ini adalah hamba Allah dan aku akan kembali kepada-Nya.” Fudhail berkata, “Saudaraku, barangsiapa yang tahu bahwa dirinya adalah hamba Allah dan ia tahu bahwa ia akan dikembalikan kepadanya, maka hendaklah ia mengetahui bahwa dirinya juga akan berdiri dihadapan Allah. Dan barangsiapa yang tahu bahwa dirinya akan berdiri dihadapan Allah, maka tentulah ia tahu bahwa dirinya akan ditanya. Dan barangsiapa yang tahu bahwa dirinya akan ditanya maka hendaklah ia mempersiapkan jawaban untuk soal yang diajukan!” Laki-laki itu pun menangis dan berkata, “Lalu apa jalan keluarnya wahai Fudhail?” Fudhail berkata, “Mudah.” Laki-laki itu berkata, “Semoga Allah merahmatimu, apakah itu? Fudhail berkata, “Hendaklah engkau bertakwa kepada Allah dalam mempergunakan umurmu yang tersisa niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan dosa-dosa dari umurmu yang tersisa.” [Az-Zamakhsyary: Rabî’ul Abrâr 212].

Kedua tentang ilmu: Serupa dengan usia, Allah subhânahu wa ta’ala tidak akan bertanya seberapa banyak ilmu yang kita peroleh dan yang kita koleksi, namun Allah akan bertanya tentang sejauh mana pengamalan kita terhadap ilmu yang telah kita dapatkan baik yang kita peroleh dari wejangan para khatib disetiap hari jumat, nasehat-nasehat dari para asatizd di majelis-majelis taklim, dan dari apa yang kita baca dari kitab-kitab dan majalah-majalah keagamaan.
Kita punya kewajiban untuk menuntut ilmu karena dengan ilmu syar’i-lah kita dapat mengenal Allah ‘azza wa jalla dan dapat mengantarkan kita untuk mencapai keridhaan-Nya didunia dan diakhirat. Namun jangan lupa wahai kaum muslimin, bahwa ilmu yang sejati adalah ilmu yang mewariskan rasa takut kepada Allah, ilmu yang mewariskan amal bukan ilmu yang mewariskan kesombongan atau ilmu yang sekedar sebagai pemanis bibir di majelis-majelis. Benar, bahwa menuntut ilmu adalah wajib, namun kewajiban yang lebih besar dari itu adalah mengamalkan ilmu yang telah kita dapatkan. Sekiranya bukan karena amal maka kita tidak dituntut untuk menuntut ilmu. Abu ad-Dardâ` radhiyallau ‘anhu berkata:

وَيْلٌ لِلَّذِيْ لاَ يَعْلَمْ مَرَّةً وَوَيْلٌ لِلَّذِيْ يَعْلَمُ وَلاَ يَعْمَلْ سَبْعَ مَرّاتٍ

Artinya, “Celakalah bagi orang yang mengetahui (beliau mengucapkannya hanya sekali), dan celaka bagi yang mengetahui namun tidak mengamalkannya (beliau mengulanginya hingga tujuh kali).” [As-Siyar 3/173].

Oleh itulah Allah mencela keras orang yang perkataannya tidak selaras dengan perbuatannya. Allah subhânhu wa ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ (2) كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci disisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan” [QS. Ash-Shaff: 2-3]

Ketiga tentang harta: Tidak diragukan lagi bahwa harta merupakan nikmat yang terbesar yang Allah karuniakan kepada hamba-hambanya-Nya dan ia adalah perhiasan kehidupan dunia yang menyilaukan. Allah subhânahu wa ta’ala berfirman:

لْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

Artinya, “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia..” [QS. Al-Kahfi: 46]

Namun ingatlah kaum muslimin, bahwa nikmat harta yang ada ditangan kita saat ini kelak akan ditanyakan oleh Allah ta’ala pada hari kiamat nanti. Berbeda dengan soal-soal lainnya, tentang harta akan ditanyakan dengan dua pertanyaan; tentang bagaimana kita memperolehnya dan bagaimana kita mengeluarkannya (membelanjakannya). Dalam hal ini manusia terbagi menjadi empat bagian:

Pertama: Ada yang memperoleh harta dengan jalan yang benar (halal) dan membelanjakannya dengan jalan yang benar pula.
Kedua: Ada yang memperoleh harta dengan jalan yang salah (haram) dan membelanjakannya dengan jalan yang salah pula.
Ketiga: Ada yang memperoleh harta dengan jalan yang benar namun membelanjakannya dengan cara yang salah.
Keempat: Ada yang memperoleh harta dengan cara yang salah namun membelanjakannya dengan cara yang benar.

Sebelum Allah menanyakan semua itu, maka carilah harta dengan cara yang halal dan pergunakanlah dengan cara yang halal pula. Jadikanlah harta yang kita miliki sebagai jembatan untuk menuju akhirat untuk mendapatkan kenikmatan syurga bukan sebagai bahan bakar api neraka yang akan membakar tubuh pemiliknya. Jadikanlah Qarûn sebagai ibrah, karena hartanya ia berani mendustakan kebenaran yang didakwakan oleh Nabi Musa ‘alaihissalâm hingga akibatnya Allah menenggelamkannya kedasar bumi beserta harta yang dimilikinya.

 

أَقُوْلُ هَذَا الْقَوْلَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

.

Khutbah Kedua :

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ وَاسِعِ الْفَضْلِ وَالْجُوْدِ والْاِمْتِنَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

Adapun pertanyaan keempat tentang jasad; Tentang pemanfaatan tubuh yang kita miliki yang padanya terdapat organ mata, hidung, telinga, kaki, tangan, kemaluan, dan organ-organ lainnya. Apakah nikmat organ tersebut kita manfaatkan pada ragam kebaikan ataukah sebaliknya nikmat tersebut kita gunakan untuk membuka ragam kemaksiyatan yang telah ditutup pintunya oleh Allah ta’ala. Apakah dihabiskan siang dan malam hanya untuk mengeruk keuntungan duniawi tanpa mempedulikan keuntungan ukhrâwi? Bertakwalah kepada Allah, karena sesungguhnya Dia benar-benar akan meminta pertanggung jawaban tentang itu, Dia tabârak wa ta’ala berfirman:

إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Artinya, “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati/pikiran itu semua akan di mintai pertanggungjawaban.” [QS. Al-Isra’ : 36]

Semua anggota tubuh kita berpotensi melakukan ketaatan namun juga berpotensi melakukan kemaksiyatan. Maka sibukkanlah ia dalam kebaikan niscaya ia akan jauh dari kemaksiyatan. Jasad yang selalu berada didalam ketaatan akan membahagiakan pemiliknya sedang yang jasad yang berada didalam kemaksiyatan akan menyengsarakan pemiliknya. Ibnu ‘Abbâs radhiyallâhu ‘anhu berkata;

إِنَّ لِلطًّاعَةِ نُوْراً فِي الوَجْهِ وَنُوْراً فِي الْقَلْبِ وَسَعَةُ فِي الرِّزْقِ وَقُوَّةً فِي الْبَدَنِ وَمَحَبَّةً فِي قُلُوْبِ الخَلْقِ، وَإِنَّ لِلْمَعْصِيَةِ سَوَاداً فِى الوَجْهِ وَظُلْمَةً فِي القَلْبِ وَضَيِّقاً فِي الرِّزْقِ وَضَعْفاً فِي البَدَنِ وَبُغْضاً فِي القُلُوْبِ

Artinya, “Sesungguhnya ketaatan itu mendatangkan sinar pada wajah, cahaya di hati, luasnya rizki, kuatnya badan, dan dicintai oleh makhluk. Sedangkan kemaksiatan akan menimbulkan hitamnya wajah, gelapnya hati, lemahnya badan, berkurangnya rizki, dan kebencian hati para makhluk. [Al-Jawâbul Kâfi, Ibnul Qayyîm]

Semoga Allah subhânahu wa ta’ala mengokohkan keimanan didalam hati kita, sehingga kita bisa memanfaatkan sisa-sisa umur kita dalam ketaatan kepada Allah sehingga kita benar-benar telah memiliki jawaban untuk semua pertanyaan yang akan diajukan oleh Allah kepada kita pada hari kiamat khususnya menjawab empat pertanyaan diatas.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً [الأحزاب:٥٦
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَلْأَئِمَّةَ المَهْدِيِيْنَ أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيْ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ .
اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ، اَللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ دِيْنَكَ وَكِتَابَكَ وَسُنَّةَ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا المُسْلِمِيْنَ المُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اَللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ نَاصِراً وَمُعِيْناً وَحَافِظاً وَمُؤَيِّداً، اَللَّهُمَّ وَعَلَيْكَ بِأَعْدَاءِ الدِّيْنَ فَإِنَّهُمْ لَا يُعْجِزُوْنَكَ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَجْعَلُكَ فِي نُحُوْرِهِمْ وَنَعُوْذُ بِكَ اللَّهُمَّ مِنْ شُرُوْرِهِمْ، اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا لِهُدَاكَ، وَاجْعَلْ عَمَلَهُ فِي رِضَاكَ، وَأَعِنْهُ عَلَى طَاعَتِكَ، وَارْزُقْهُ البِطَانَةَ الصَّالِحَةَ النَّاصِحَةَ، اَللَّهُمَّ وَفّقْ جَمِيْعَ وُلَاةَ أَمْرِ المُسْلِمِيْنَ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ.
اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا، زَكِّهَا أَنْتَ خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا، اَللَّهُمَّ أَعِنَّا وَلَا تُعِنْ عَلَيْنَا، وَانْصُرْنَا وَلَا تَنْصُرْ عَلَيْنَا، وَامْكِرْ لَنَا وَلَا تُمْكِرْ عَلَيْنَا، وَاهْدِنَا وَيَسِّرْ الهُدَى لَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ بَغَى عَلَيْنَا. اَللَّهُمَّ وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ، اَللَّهُمَّ وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ، اَللَّهُمَّ وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ، اَللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَ أَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ، اَللَّهُمَّ أَنْتَ الأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ البَّاطِنُ فَلَيْسَ دُوْنَكَ شَيْءٌ، اَللَّهُمَّ اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ وَاغْنِنَا مِنَ الفَقْرِ.
اَللَّهُمَّ لَا تَدَعْ لَنَا ذَنْباً إِلَّا غَفَرْتَهُ، وَلَا هَمّاً إِلَّا فَرَجْتَهُ، وَلَا دَيْناً إِلَّا قَضَيْتَهُ، اَللَّهُمَّ وَلَا تَجْعَلْ فِيْنَا ضَالاً إِلَّا هَدَيْتَهُ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُبَنَا كُلَّهُ دِقّهُ وَجِلَّهُ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ سِرَّهُ وَعَلَنَهُ، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ .
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ : اُذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ،  وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ  .

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: