//
you're reading...
Fiqih

Caleg Wanita


Soal:

Terus terang kami agak risih dengan keikutsertaan wanita-wanita dalam pemilihan caleg (calon legislatif) baik dalam skala daerah maupun pusat. Tapi rasa risih ini mungkin tidak beralasan pasalnya partai-partai yang bernotabene Islam juga mengusung calonnya dari wanita. Bagaimana sebenarnya di dalam Islam tentang keikutsertaan wanita dalam kancah pemilihan legislatif? Atas jawabannya Jazakumullahu Khairan. [Jember]

 

Jawab:

Wanita dalam Islam memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki untuk mengabdi kepada Allah dan memiliki kesempatan yang sama pula dalam menggapai kebaikan hidup di dunia melalui amal-amal shalih, kerja-kerja produktif, aksi-aksi positif, dan gerak-gerak dinamis dalam membangun dunia sebagai refleksi dari posisinya sebagai khalifah di muka bumi ini.

Namun, ada yang harus diingat, bahwa dalam Islam wanita memiliki ladang komunitas sendiri dan laki-laki juga memiliki ladang komunitas sendiri. Dan masing-masing ladang garapan tersebut telah disesuaikan dengan fitrah dan tabiat dari keduanya. Jika wanita mengambil alih peran laki-laki dan begitu juga sebaliknya, maka yang terjadi hanyalah kerusakan-kerusakan belaka.

Perihal wanita mencalonkan dirinya atau dicalonkan oleh kelompoknya sebagai anggota legislatif adalah salah satu bentuk penyimpangan yang dilakukan oleh wanita, menyimpang dari fitrah dan tabiatnya sebagai wanita, menggarap ladang yang bukan ladangnya sendiri. Untuk mendapat kejelasan tentang penyimpangan tersebut, maka di bawah ini kami cantumkan fatwa dari Darul Iftaa’ (Lembaga Fatwa) Mesir tentang keikutsertaan wanita dalam kancah pemilihan anggota legislatif. Selamat membaca.

 

Teks Fatwa Darul Iftaa’ Mesir

Setelah memuji Allah Ta’ala dan shalawat serta salam kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam, Islam telah memberikan perhatian yang begitu besar lagi sempurna kepada kaum wanita dengan mempersiapkan wanita yang shalihah untuk ikut andil bersama laki-laki dalam membangun dan membina masyarakat yang tegak di atas pondasi keagamaan, keutamaan, dan budi pekerti yang lurus. Namun, tentunya tetap di dalam batas-batas karakteristik tabiat yang dimiliki oleh masing-masing dari dua jenis tersebut. Maka, Islam pun meninggikan urusan wanita, membentuk kepribadiannya, menetapkan kemerdekaannya, dan mewajibkannya menuntut ilmu pengetahuan sebagaimana halnya dengan laki-laki. Kemudian dengan keistimewaan yang diberikan itu, Islam membebankannya beberapa urusan kehidupan yang sesuai dengan tabiat kewanitaannya dan disenangi oleh hatinya, sehingga ketika ia bangkit menjalankan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya, maka ia dapat memposisikan dirinya sebagai isteri yang shalihah, ibu yang pendidik, dan ibu rumah tangga yang pandai mengatur rumah tangganya. Wanita adalah penopang yang kokoh dalam membangun keluarga dan masyarakat.

Di antara bentuk kongkret perhatian Islam terhadap wanita adalah Islam memagari kemuliaan dan kehormatannya dengan pagar yang kuat lagi kokoh berupa pemberian pendidikan yang penuh dengan kebijaksanaan, menjaga kewanitaannya yang suci dari hal-hal yang tak berguna dan dari segala bentuk kelaliman, menjauhkannya dari tempat-tempat yang diduga mendatangkan syakwasangka dan pemicu datangnya beragam fitnah. Dengan demikian, Islam mengharamkan laki-laki asing berkhalwat (bersepi-sepian) dengan seorang wanita dan memandangnya dengan pandangan liar dan penuh hawa nafsu, mengharamkannya menampakkan perhiasan yang ia miliki kecuali yang biasa tampak, ikut bercampur-baur dalam perkumpulan laki-laki, melarang menyerupai tingkah laku dan kebiasaan khusus laki-laki, memaafkannya dari kewajiban shalat Jum’at dan shalat ‘Aidain (‘Iedul Fithri dan ‘Iedul ‘Adha) padahal di antara tabiat syari’at ini adalah begitu bersemangat dalam mengumpulkan dan menghubungkan tali persaudaraan sesama kaum Muslimin, memaafkannya untuk tidak melepaskan busana yang ia kenakan di saat ia berihram untuk haji, melarang mengumandangkan adzan umum, mengimami laki-laki dalam shalat, memegang tampuk kepemimpinan (Imamul ‘Ammah) bagi kaum Muslimin, menjadi hakim (Qadhi) untuk hal-hal yang diperselisihkan manusia, dan barangsiapa yang membantu wanita untuk menduduki posisi tersebut, maka ia telah berdosa bahkan keputusan-keputusan hukum yang ia jatuhkan kepada orang yang bertikai dianggap tidak shah, demikian pendapat mayoritas para imam, wanita juga dilarang oleh Islam memegang kendali dalam peperangan dan menjadi panglima perang, begitu juga ia dilarang memberikan bantuan kepada tentara kecuali apa yang disepakati dan bisa menjaga kehormatan kewanitaannya.

Semua larangan-larangan di atas adalah untuk kebaikan wanita itu sendiri, untuk melindunginya dari segala noda dan marabahaya, dan untuk menutup segala jalur fitnah yang bakal menimpanya dan dari fitnah yang ia timbulkan pada orang lain, sebagai bentuk kewaspadaan dari hal-hal yang dapat menghantarkan pada roboh dan hancurnya suatu bangunan masyarakat, mengingat tabiat kemanusiaan adalah rakus pada kekuasaan, suka melawan, dan selalu berusaha mewujudkan kecondongan dan keinginan hatinya, semua orang tahu hal itu dan kenyataan selalu membenarkannya.

Islam benar-benar telah menjaga kesucian wanita, di mana Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan isteri-isteri Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam untuk mengenakan hijab (jilbab) padahal mereka adalah ummahtul mukminin (ibu-ibunya kaum Muslimin) yang kehormatan dan kemuliaannya selalu terjaga, bahwa Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam tidak pernah menyentuhkan tangannya pada tangan wanita yang beliau baiat (padahal beliau adalah terpelihara dari kesalahan), bahwa wanita-wanita di masa Rasulullah dan masa para Khulafaur Rasyidin tidak pernah menguasakan satupun urusan kepemerintahan kepada wanita seperti menjadi raja dan penguasa di suatu wilayah atau hadir di suatu majelis lalu ikut serta bermusyawarah bersama Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan para shahabat-shahabatnya dari kalangan Al-Muhajirin dan Al-Anshar, dan keadaan ini terus berlaku sepeninggal Rasu-lullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan para Khulafaur Rasyidin. Begitulah urusan wanita di dalam Islam dan begitu pulalah Islam menjaga wanita dengan segala wasilah (jalan) penjagaan.

Lalu, apakah wanita-wanita sekarang ini ingin membakar benteng terakhir yang ia miliki, menceburkan diri bersama laki-laki di ruang parlemen lalu berdesak-desakan dengan mereka dalam pemilihan (caleg), melakukan propaganda, menyelenggarakan beragam rapat, komisi, perayaan, bolak-balik ke Kementrian, melakukan safar (perjalanan) ke berbagai konferensi, menarik simpati, menolak pendapat lawan, dan perkara-perkara lainnya yang lebih besar dosanya dan lebih besar bahayanya dari sekedar menduduki posisi qadhi (hakim) yang ia haramkan atasnya. Para imam kaum Muslimin sepakat atas dosa bagi mereka yang menempatkan wanita pada posisi tersebut, lantaran ia telah membantunya meninggalkan suami, anak, serta rumahnya, dan menitipkan amanah kepada orang yang tidak dirahmati. Sungguh tidak ada seorangpun yang meridhai hal itu dan Islam tidak akan pernah mengakui dan membenar-kannya, bahkan juga dari mayoritas wanita sendiri. Tidak ada yang menempatkan wanita pada posisi-posisi tersebut kecuali laki-laki yang lemah di hadapan wanita atau takut dari amarahnya hingga ia berani menyelisihi pribadi dan agamanya dan senantiasa tenggelam dalam hawa nafsu. Namun, semua sikap-sikap mereka itu tidak teranggap dalam timbangan syari’at.

Kepada kaum Muslimin seluruhnya, hendaklah mereka mengakui dan membenarkan hukum-hukum Islam pada apa-apa yang dapat mengokohkan langkah-langkah mereka dalam beramal. Hukum-hukum Islam adalah kebenaran yang pasti dan pemutus dari segala persengketaan. Dan bukanlah hal samar bahwa masuknya wanita dalam arena inti khabath (pemilihan caleg) dan menjadi wakil rakyat di DPR/DPRD adalah terlarang sebagaimana yang telah kami jelaskan.

Kita semua menunggu dari para wanita yang terhormat untuk selalu bekerja bersungguh-sungguh dengan penuh kejujuran untuk meninggikan urusan wanita dari sisi keagamaan, akhlaq, kemasyarakatan, dan keilmuan yang benar yang berada dalam batas-batas tabiat kewanitaan dan senantiasa mempelajari ajaran-ajaran Islam sebelum nekat menceburkan diri ke kancah pemilihan dan menjadi wali rakyat di dalam suatu parlemen. Kami ingin mendengar suatu teriakan yang menggema dari para wanita yang menyeru kepada wanita seluruhnya akan wajibnya berpegang teguh kepada agama dengan memelihara agama dan keutamaannya dalam ber-pakaian, tingkah laku, dan berbagai moment pertemuan kewa-nitaan, dan lain sebagainya yang ia merupakan kesempurnaan dan kecantikan wanita terdidik lagi mulia. Dan kami semua akan memberikan penghormatan yang besar dan ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya jika kalian melakukan semuanya itu. Dan tentu itu lebih bagus bagi mereka. Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan taufik dan membimbing langkah mereka pada kebaikan dan kebajikan. Sekian.

[Fatawa Islamiyah min Daar Al-Iftaa’ Al-Mashriyah (Fatwa-fatwa Islam dari Dar Ifta’ Mesir) Jilid 7 hal. 2115-2513].

 

Dalil-dalil Penjelas

Agar fatwa di atas semakin jelas, kami akan menyebutkan beberapa dalil yang mendasari fatwa di atas tentang hal-hal yang biasanya tidak terhindarkan oleh wanita-wanita yang terlibat dalam kancah pemilihan calon legislatif.

1. Bercampur baur dengan laki-laki
Pencampurbauran antara laki-laki dan wanita di suatu tempat akan menghantarkan pada ‘memandang yang diharamkan’. Allah Ta’ala berfirman, ‘Katakanlah kepada laki-laki yang beriman; Hendaklah mereka menahan pandangan-nya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan katakanlah kepada wanita yang beriman; Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya.’ [ QS. An-Nur : 30-31].

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, ‘Sebaik-baik shaf bagi wanita adalah yang paling akhir (bela-kang).’ [HR. Muslim].

Imam Asy-Syaukani Rahimahullah berkata, ‘Posisi shaf paling belakang bagi wanita adalah posisi yang terbaik lantaran posisinya yang di belakang itu jauh dari bercampur baur dengan laki-laki.’

 

2. Melakukan safar tanpa mahram
Padahal Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, ‘Wanita tidak boleh bepergian (safar) melainkan bersa-ma mahramnya.’ [HR. Al-Bukhari dan Muslim].

 

3. Sering keluar rumah
Padahal Allah Ta’ala berfirman, ‘Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias seperti orang-orang jahiliyah terdahulu.’ [QS. Al-Ahzab : 33].

Ibnul Qayyim berkata, ‘Boleh bagi orang tua atau hakim mengurung perempuan jika ia terlalu sering keluar rumah, lebih-lebih jika ia keluar sambil berdandan memper-cantik diri.’ [At-Turuqul Hakimah hal. 287].

 

4. Berjabat tangan dengan lawan jenis
Padahal Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, ‘Bahwa ditusuk di kepala seseorang dari kamu dengan jarum dari besi adalah lebih baik baginya daripada ia menyentuh perempuan yang tidak halal baginya.’ [Shahih. HR. Ath- Thabrany. Lihat Ash-Shahihah 226].

 

5. Mengabaikan urusan rumah tangga
Padahal Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, ‘Dan seorang wanita adalah penanggung jawab di rumah suaminya dan ia akan ditanya pertanggungjawaban atas apa yang jadi tanggung jawabnya.’ [HR. Bukhari dan Muslim].

 

Kesimpulan

Wanita diharamkan ikut serta dalam pencalonan caleg dan begitu juga yang mencalonkannya. Wallahu A’lam.

 

 

 

Abu Halbas Muhammad Ayyub

Jember, 2010

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: