//
you're reading...
Soal Jawab Ringkas

Keluar Cairan Pada Saat Shalat


Soal:

Seseorang habis buang air kecil lalu berwudhu setelahnya. Di saat ia shalat dan sujud, keluar dari kemaluannya seperti air kencing, padahal tadinya ia sudah kencing. Apakah shalat orang ini dinyatakan batal? Dan sarung yang terkena cairan tersebut menjadi najis? [Balung -Jember]

 

Jawab:

Sesuatu yang keluar dari kemaluan ada dua macam:

Pertama, sesuatu yang biasa keluar dari jalan tersebut, seperti air kencing, air mani, air madzi, dan air wadi. Untuk sesuatu yang biasa keluar seperti ini membatalkan wudhu, menurut ijma’ (konsensus) ulama. [Lihat Ensiklopedi Ijma’ hal. 843 oleh Sa’di Abu Habib].

Kedua, sesuatu yang tidak biasa keluar dari kemaluan seperti darah, batu, dan lain sebagainya. Maka, hal ini diperselisihkan oleh ulama. Sebagian ada yang berpendapat bahwa hal-hal tersebut membatalkan wudhu dan sebagian yang lain berpendapat tidak membatalkan wudhu. [Lihat Al-Mughni 1/161].

Untuk air yang keluar dari kemaluan orang yang sedang shalat (yaitu cairan yang serupa dengan air kencing) ada pada kategori yang pertama, yaitu air yang biasa keluar dari jalur kemaluan. Artinya, wudhu orang tersebut menjadi batal dan secara otomatis shalatnyapun batal.

 

Cairan yang Keluar Setelah Kencing

Cairan yang biasanya keluar dari kemaluan setelah seseorang buang air kecil ada dua: Pertama, air wadi yaitu air yang berwarna putih dan kental, ia keluar setelah air kencing. Kedua, sisa dari air kencing itu sendiri yang ada bertahan di kemaluan.

Air kencing dan air wadi hukumnya najis, demikian kesepakatan ulama. Tentang najisnya air kencing, dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam pernah melewati salah satu kebun dari kebun-kebun Madinah, lalu beliau mendengar suara dua orang manusia yang sedang disiksa dalam kuburnya. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam lalu bersabda, ‘Keduanya sedang disiksa, dan keduanya tidak disiksa karena hal yang besar.’ Kemudian beliau melanjutkan, ‘Benar, yang seorang tidak bersuci dari kencingnya dan yang lain berjalan ke sana kemari dengan menebar fitnah (mengadu domba).’ [HR. Al-Bukhari 217 dan Muslim]. Dan di dalam riwayat Muslim, ‘Ia tidak membersihkannya dari kencingnya.’ Maksudnya tidak menjaga diri dari air kencing.

Sedang dalil najisnya air wadi, dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata, ‘Mani, wadi, madzi, adapun mani padanya terdapat kewajiban mandi, sedang wadi dan madzi pada keduanya terdapat (kewajiban) berwudhu dan mencuci kemaluannya.’ [Shahih. Ibnu Abi Syaibah 1/89 dan Al-Baihaqi 1/169].

 

Pakaian yang Terkena Najis

Adapun pakaian yang terkena cairan tersebut (air kencing dan air wadi), maka pakaian tersebut tidak boleh digunakan untuk shalat kecuali setelah najisnya dibersihkan (dihilangkan). Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, ‘Dan pakaianmu, bersihkanlah.’ [QS. Al-Mudatsir : 4].

 

 

Jember, 2008

Abu Halbas Muhammad Ayyub

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: