//
you're reading...
Manhaj

Maulid Nabi=Cinta Nabi?


Soal:
Apa hukum menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam dengan perayaan yang ala kadarnya seperti halnya berkumpul-kumpul untuk sekedar mendengar siroh [perjalanan hidup] Nabi, lalu sebagai penutup diadakan acara makan-makan, dan apakah benar bahwa tidak bermaulid tidak cinta Nabi Shalallâhu’ alaihi wasallam?

Jawab:
Para sejarawan berbeda pendapat tentang siapa yang pertama kali mencetuskan perayaan maulid Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Sebagian sejarawan [diantaranya sejarawan sunni al-Maqrizi] menyebutkan bahwa maulid Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam pertama kali dicetuskan oleh dinasti Fathimiyyah yang pernah menguasai Mesir dalam kurun yang cukup panjang [kurang lebih 200 tahun, dari tahun 362 H hingga 567 H] . Dinasti ini menganut sekte Al-Ismâ’ily yang dinisbatkan kepada pemimpin mereka yang bernama ‘Ubaidilah bin Maimûn Al-Qaddâh. Para sejarawan [diantaranya ulama hadits Abu Syamah dalam kitabnya Raudhatain] menyebutkan dia adalah seorang laki-laki majusi yang pura-pura masuk Islam untuk menggoncang dan menghancurkan kaum muslimin dari dalam dengan jalan menghidupkan berbagai macam amalan bid’ah, khurafat, serta keyakinan-keyakinan yang bertolak belakang dengan Islam. Tentang kesesatan dinasti ini, Ibnu Katsîr dalam kitab al-Bidâyah wa an-Nihâyah [11/346] berkata, “Mereka adalah orang-orang kafir, pelaku kefasikan, kaum durhaka lagi Mulhid, Zindiq (Munafiq murni), Mu’aththil (mengingkari sifat-sifat Allah), menolak Islam dan meyakini aliran Majusi.” Al-Maqrizi dalam al-Khuthath [1/490] menjelaskan bahwa diawal tahun kekuasaan Dinasti Fathimiyyah di Mesir [362 H.] dengan raja pertama mereka yang bernama Al-Mu’iz Lidinillah, sang raja membuat enam perayaan maulid [hari lahir] sekaligus, yaitu: Maulid Nabi, Maulid ‘Ali bin Abi Thalib, Maulid Fathimah, Maulid Hasan, Maulid Husein, dan Maulid raja yang tengah berkuasa.
Sedang sejarawan lain berpendapat bahwa pencetusnya adalah sultan Muzhaffaruddin Abu Said Kukburi ibn Zainuddin Ali Ibn Tubaktakin, sultan Irbil, Irak, pada tahun 630 H. Tentang bagaimana suasana upacara maulid perdana pada masa itu, Ibnu Khallikan yang menyaksikan sendiri acara tersebut berkata: “Seremoni itu dimulai pada malam Maulid (8 Rabi’ul Awwal), dengan membawa sejumlah onta, sapi, dan kambing dengan diiringi tabuhan kendang dan lagu-lagu kasidahan, sedang rakyat berada di belakangnya membawa panji-panji, seruling dan pekikan meriah, hingga ternak disembelih dan dagingnya dihidangkan dalam acara itu… para Sufi pun membawakan berbagai nyanyian unik, menari berputar-putar hingga seolah terbius tak sadarkan diri”. Ibnu Katsir dalam Tarikhnya menyebutkan bahwa perayaan maulid yang diadakan oleh Raja Muzhaffar ini dihadiri oleh kaum shufi, melalui acara sama’ (pembacaan qashidah dan nyanyian-nyanyian keagamaan kaum shufi) dari waktu zhuhur hingga fajar, dia sendiri ikut turun menari/ bergoyang (semacam joget-ala shufi). Dihidangkan 5000 kambing guling, 10 ribu ayam dan 100.000 zubdiyyah (semacam keju), dan 30.000 piring kue. Biaya yang dikeluarkan untuk acara ini –tiap tahunnya- sebesar 300.000 Dinar.

Manapun dari dua pendapat diatas yang benar; apakah dicetuskan oleh dinasti Fathimiyyah yang syi’ah atau sulthan Muzhaffaruddin yang sunni, namun yang jelas bahwa peringatan maulid ini datang belakangan setelah berlalunya tiga generasi paling utama [Sahabat, Tâbi’in dan Tâbi’it Tâbi’in]. Padahal mereka adalah generasi terbaik yang lebih mengerti sunnah, lebih mencintai Rasulullah Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam, dan lebih mengikuti syari’at daripada generasi setelahnya.

Ketahuilah, bahwa sesuatu yang baru dalam urusan agama (bid’ah) baik itu yang berkaitan dengan ibadah mahdhah atau hanya sekedar dijadikan sebagai syi’ar-syi’ar keagamaan adalah terlarang. Rasulullah Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد

Artinya: “Barangsiapa mengada-adakan (sesuatu hal yang baru) dalam urusan (agama) kami, yang bukan merupakan ajarannya, maka akan ditolak.” [Muttafaqun ‘Alaih]
Rasulullah Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Dan jauhilah perkara yang diada-adakan (dalam agama), karena setiap perkara yang diada-adakan itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah tempatnya di neraka .” [HR. Abu Dawud dan Tirmidzi].

Peringatan maulid bukanlah urusan keduniaan semata sebagaimana yang disangkakan oleh sebagian orang. Tetapi, maulid besar kaitannya dengan urusan ibadah. Lihatlah bagaimana praktek maulid yang umumnya terjadi di tengah masyarakat kita, membaca riwayat hidup Nabi Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam yang tertulis dalam bahasa Arab, dibaca dengan lagu-lagu bahkan tidak jarang diiringi dengan rebana, hingga ketika riwayat Nabi Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam dilahirkan para hadirin pun berdiri secara serempak membaca syair-syair pujian. Para hadirin berdiri lantaran mereka meyakini bahwa ruh Nabi Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam datang pada acara tersebut, sesudah itu diakhiri dengan makan-makan, umumnya dengan buah-buahan.

Tata cara serta keyakinan di atas, adalah tata cara yang teramat jauh dari kebenaran. Rasulullah Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam tidak akan mungkin hadir dalam acara tersebut, Rasulullah Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam tidak akan bangkit dari kuburnya sebelum hari Qiyamat, sedang ruhnya ditempatkan pada tempat yang paling tinggi, tempat kemuliaan, di sisi tuhannya. Rasulullah Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Aku adalah orang yang pertama kali dibangkitkan dari kubur pada hari Qiyamat nanti, aku adalah orang yang pertama kali memberi syafaat dan orang yang pertama kali diterima syafaatnya.” [Shahih. Lihat Tahzir Minal Bid’ah, oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz].
Dan juga sewaktu hidupnya, Rasulullah Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam tidak suka disambut oleh shahabat-shahabatnya dengan berdiri. Rasulullah Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Janganlah kalian berdiri (memberi penghormatan) kepadaku, sebagaimana orang-orang ‘Ajam berdiri menghormati antara satu dengan yang lainnya.” Lalu mengapa orang-orang itu berani melakukannya ketika Rasulullah Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam telah wafat? Bukankah ini adalah bentuk pelanggaran terhadap sunnah?

 

Maulid Bebas Bid’ah ?

Jika acara maulid diselenggarakan bebas dari hal-hal yang bid’ah, artinya tidak ada acara musik, tari-tarian, tidak berdiri menyambut ruh Nabi Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam, tetapi hanya sekedar berkumpul mendengar wejangan tentang perihal kehidupan Nabi Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam apakah diizinkan oleh agama?
Ibnul Hâj Al-Mâliky (salah seorang ulama yang banyak dipuji oleh ulama termasuk di antaranya Al-Hafidz Ibnu Hajar) dalam kitabnya Al-Madkhal berkata: “… Apabila pada acara maulid tersebut tidak mengandung unsur-unsur bid’ah dan hal-hal yang diharamkan dan hanya terbatas pada penyajian makanan sebagai hidangan untuk para tetamu/ undangan namun kaitannya (niatnya) dalam rangka maulid, maka hal tersebut juga adalah bid’ah, bid’ah lantaran niatnya. Karena hal itu adalah bentuk penambahan di dalam agama dan bukan amalan dari para shalafus-shalih….” [Lihat Maqâsidul Islam, oleh Syaikh Shalih bin Abdul Aziz hal. 220].

 

Maulid Sontekan dari Agama Lain ?

Di samping peringatan maulid tidak memiliki pijakan dalil, peringatan maulid juga masuk dalam lingkup tasyabbuh (penyerupaan) dengan agama lain. Bukankah orang-orang Nashrani mengagungkan tanggal 25 bulan 12 sebagai peringatan hari kelahiran Isa ‘Alaihissalam, bukankah orang-orang Hindu juga memiliki satu hari yang diagungkan dalam setahun untuk memperingati hari kelahiran pendiri agamanya? Dalam hal ini, Rasulullah Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” [HR. Ahmad].

 

Tidak Maulid-an Tidak Cinta Nabi ?

Justru sebaliknya, orang yang tidak ikut maulidan adalah orang yang mencintai Nabi-nya. Bukankah bentuk mencintai Rasul adalah dengan mengikuti perbuatan dan perkataannya? Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “…Sesungguhnya kesempurnaan cinta dan pengagungan terhadap Rasul adalah ber-ittiba’ (mengikuti jejaknya), taat padanya, menjalankan perintahnya…” [Iqtidha’ Shirâthal Mustaqim 2/122].

 

Semoga bermanfaat

 

 

 

Abu Halbas Muhammad Ayyub,
Jember, Rabi’ul Awwal 1436 H.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: