//
you're reading...
Manhaj

Memperingati Isra’ Mi’raj


Soal:

Seperti yang tertera di tanggalan, bahwa Isra’ dan Mi’raj itu jatuh pada hari rabu, tanggal 30 Juli 2008 M / 27 Rajab 1429 H. Pertanyaan kami, apakah benar 27 Rajab itu terjadinya malam Isra’ dan Mi’raj? dan bagaimana pula hukum memperingati hari penting lagi bersejarah itu?

 

Jawab:

Isra’ dan Mi’raj adalah dua kejadian penting yang menakjubkan. Keduanya adalah haq [kebenaran] yang wajib diimani oleh orang yang beriman sejak peristiwa itu terjadi dan sejak diberitakan oleh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Isra’ dan Mi’raj adalah tergolong perkara agama yang jelas, dan mengingkarinya adalah kafir.

Isra’ artinya perjalanan di malam hari, yaitu diperjalankannya Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam di malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. Sedang Mi’raj artinya naik, yaitu dinaikkannya Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pada beberapa lapisan langit [tujuh lapis langit] lalu diangkat ke Sidratul Muntaha dan padanya diwajibkan shalat lima waktu. Pada malam tersebut beliau dimasukkan ke dalam Surga yang di dalamnya terdapat kubah mutiara yang tanahnya berupa minyak misik. Kemudian Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam turun, sehingga beliau kembali ke Mekkah di pagi buta, lalu beliau mengerjakan shalat Shubuh [Lihat Shahih Bukhari].
Tentang kejadian Isra’, Allah ta’ala berfirman:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ

Artinya : ‘Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah kami berkahi. [QS. Al-Isrâ’: 1]

 
KAPAN TERJADINYA MALAM ISRA’ DAN MI’RAJ ?

Tidak ada keterangan pasti tentang itu; baik hari, tanggal, maupun bulannya. Hal ini terjadi lantaran tidak ada satu dalil shahih pun yang menyebutkan kapan terjadinya malam Isra’ dan Mi’raj itu. Al-Hâfidz Ibnu Hajar rahimahullah di dalam ‘Fathul Bâri 7/140′ berkata, “Bahwa perbedaan ulama dalam hal ini mencapai lebih dari 10 pendapat.”

Dan kepada Anda, wahai pembaca budiman, kami nukilkan beberapa pendapat tersebut. Segelintir dari ulama ada yang berpendapat bahwa Isra’ dan Mi’raj terjadi sebelum diangkatnya beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam menjadi nabi. Namun, pendapat ini ditolak oleh Ibnu Hajar dan dikatakan sebagai pendapat yang syadz (ganjil). Sedang mayoritas ulama berpendapat bahwa hal itu terjadi setelah diangkatnya beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam menjadi nabi dan sebelum berhijrahnya ke Madinah namun mereka tidak sepakat dalam penentuan bulannya; diantara mereka ada yang berpendapat bahwa itu terjadi 1 tahun sebelum hijrahnya Nabi dan ini adalah pendapat yang dipilih oleh Ibnu Sa’id rahimahullahu ta’ala serta beberapa ulama lainnya dan dianggap tepat oleh imam an-Nawawi rahimahullahu ta’ala. Ada yang berpendapat 8 bulan sebelum hijrah demikian pendapat Ibnul Jauzi rahimahullahu ta’ala, 6 bulan menurut Abu Rabi’ rahimahullah, 1 tahun 3 bulan menurut Ibnu Faris rahimahullah, 1 tahun 5 bulan menurut as-Suddi rahimahullah, 18 bulan menurut Ibnu Sa’ad rahimahullah, 3 tahun sebelum hijrah seperti yang telah diceritakan oleh Ibnul Atsir rahimahullah, atau 5 tahun…. [Lihat Fathul Bâri 7/140-141].

Dari sekian banyak pendapat di atas, mayoritas ulama berpendapat bahwa Isra’ dan Mi’raj itu terjadi 1 tahun sebelum hijrah, tepatnya pada bulan Rabi’ul Awwal, di antara mereka yang berpendapat seperti ini adalah az-Zuhri dan Urwah serta didukung oleh Imam an-Nawawie di dalam kitabnya ‘Syarh Muslim’ dan begitu juga dalam fatwa-fatwanya. [Lihat Maqâsidul Islam oleh Syaikh Shâlih bin Abdul Aziz hal. 334].
Sedang yang populer di kalangan masyarakat kita, bahwa Isra’ dan Mi’raj terjadi pada tanggal 27 bulan Rajab. Dan itu adalah pendapat dari al-Hâfidz Abdul Ghani al-Maqdisi rahimahullah.

Kesimpulannya, manapun pendapat yang lebih banyak didukung oleh para ulama atau manapun pendapat yang lebih populer di tengah ummat, maka ketahuilah bahwa pendapat-pendapat tersebut tidak ada satu pun yang disokong dengan hadits-hadits yang shahih.

 
MEMPERINGATI ISRA’ DAN MI’RAJ

Jika hari, tanggal, dan bulan terjadinya Isra’ – Mi’raj adalah hal yang diperselisihkan oleh ulama, dan tidak adanya hadits shahih yang menerangkan waktunya, lalu mengapa orang-orang merasa aman dalam ‘memperingati malam Isra’ – Mi’raj‘ tersebut ? Bahkan mendakwakan bahwa hal itu sebagai perbuatan yang mulia?

Andaipun ada hadits shahih yang menetapkan dan menentukan waktu terjadinya malam Isra’ dan Mi’raj, namun tetaplah tidak dibenarkan bagi seorang muslim mengadakan peringatan tersebut. Karena, peringatan itu tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya, dan juga tidak pernah dikenal pada masa tabi’in.

Ketahuilah, bahwa semua ibadah yang tidak dilakukan oleh ash-shalafus ash-shalih dari kalangan shahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in atau mereka tidak menukilnya (tidak meriwayatkannya) atau tidak menukilnya dalam kitab-kitab mereka, atau tidak pernah menyinggung permasalahan tersebut dalam majelis-majelis mereka, maka jenis ibadah itu adalah bid’ah, dengan syarat faktor penuntut untuk mengerjakan ibadah itu ada dan faktor penghalangnya tidak ada [Lihat Qawâid Ma’rifat al-Bida’ oleh Muhammad bin Husain al-Jizâni, pada kaidah bid’ah yang keempat].

Dan ketahui pulalah, bahwa banyak kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di masa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam namun semuanya tidak menyebabkan para shahabat dan tabi’in memperingati hari-hari tersebut. Ibnu Taimiyah dalam ‘Iqtidha ash-Shirâthal Mustaqim 2/614-615′ berkata, “Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam mempunyai khutbah-khutbah, perjanjian- perjanjian, peristiwa-peristiwa di hari yang sangat banyak, seperti hari perang Badar, perang Hunain, perang Khandaq, Fathu Makkah, hijrahnya beliau memasuki kota Madinah dan ceramah-ceramah beliau yang berisi penjelasan tentang pondasi-pondasi agama. Tapi semuanya tidak menyebabkan hari-hari itu dijadikan sebagai ied (peringatan).’ Peringatan (perayaan) adalah syari’at, maka apa yang disyari’atkan oleh Allah ta’ala harus diikuti dan jika tidak disyari’atkan maka tidak boleh mengada-ada sesuatu di dalam agama ini. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ ، فَإنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ

Artinya : ‘Jauhilah hal-hal yang baru (dalam agama), karena setiap yang baru itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu adalah sesat.’ [Hadits Shahih. HR Abu Dawud 4608 dan Tirmidzi].

Betul, bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj adalah peristiwa penting, tetapi yang lebih penting lagi adalah bagaimana kita menyikapi kejadian-kejadian itu sesuai dengan apa yang digariskan oleh syari’at. Wallahu A’lam.

 

 

 

 

Abu Halbas Muhammad Ayyub
DukuhDempok 1429 H.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: