//
you're reading...
Aqidah

Kitab Asy-Syari’ah (2) Bab Penyebutan Perintah Nabi Kepada Ummatnya Untuk Menetapi Jamaah


Asy-Syari’ah[1]

Oleh: Imam Abu Bakar Muhammad Bin al-Husain al-Ajurri

(Wafat tahun 360 H.)

 

 

 

BAB

PERINTAH NABI shallallâhu ‘alaihi wa sallam KEPADA UMMATNYA UNTUK MENETAPI JAMAAH DAN MEWANTI-WANTI MEREKA UNTUK TIDAK BERPISAH DARINYA

⎏⎏⎏⎏⎏

 

            Dari ‘Umar bin al-Khaththâb radhiyallâhu ‘anhu ia berkata: Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَرَادَ بُحْبُوحَةَ الْجَنَّةِ فَلْيَلْزَمِ الْجَمَاعَةَ ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الْفَرْدِ ، وَهُوَ مِنَ الاثْنَيْنِ أَبْعَدُ

Artinya, “Barangsiapa yang menginginkan bagian tengah syurga, maka hendaklah ia menetapi jamaah karena setan bersama satu orang dan dia lebih jauh dari dua orang.” [Shahih: Diriwayatkan oleh Al-Ajurri sendiri dalam kitab asy-Syariahnya ini -yang selanjutnya disebut dengan al-Mushannif- (5), Ahmad (1/18,26), at-Tirmidzi (2165).]

                Dari al-Hârits al-Asy’ari, bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَمَرَ يَحْيَى بْنَ زَكَرِيَّا بِخَمْسِ كَلِمَاتٍ يَعْمَلُ بِهِنَّ ، وَأَنْ يَأْمُرَ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنْ يَعْمَلُوا بِهِنَّ – وذكر الحديث بطوله- وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: وَأَنَا آمُرُكُمْ بِخَمْسٍ اللَّهُ أَمَرَنِي بِهِنَّ ، بِالْجَمَاعَةِ ، وَالسَّمْعِ ، وَالطَّاعَةِ , وَالْهِجْرَةِ ، وَالْجِهَادِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ، فَإِنَّهُ مَنْ خَرَجَ مِنَ الْجَمَاعَةِ قَيْدَ شِبْرٍ فَقَدْ خَلَعَ رِبْقَةَ الإِسْلامِ مِنْ رَأْسِهِ إِلا أَنْ يُرَاجِعَ.

                Artinya, “Sesungguhnya Allah ta’ala memerintahkan Yahya bin Zakariyâ dengan lima kalimat agar dia mengamalkannya dan memerintahkan Bani Isrâil agar mengamalkannya—dan beliau menyebutkan hadits yang panjang- dan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sedang aku memerintahkan kepada kalian dengan lima perkara yang Allah memerintahkannya kepadaku; menetapi jamaah, mendengar dan taat (kepada pemimpin), berhijrah, serta berjihad fisabilillah, karena barangsiapa yang keluar barang sejengkal dari jamaah, maka ia telah melepaskan ikatan islam dari kepalanya (lehernya) kecuali jika ia kembali lagi (menetapi jamaah).”[Shahih. HR. Al-Mushannif (7), Ahmad (4/130), at-Tirmidzi (2863, 2864), Abu Dâwud ath-Thayâlisi (161, 1162)]

                Dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu ia berkata: Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ وَخَالَفَ الطَّاعَةَ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً وَمَنِ اعْتَرَضَ أُمَّتِي بَرَّهَا وَفَاجِرَهَا لا يَحْتَشِمُ مِنْ مُؤْمِنِهَا ، وَلا يَفِي لِذِي عَهْدِهَا ، فَلَيْسَ مِنْ أُمَّتِي ، وَمَنْ قُتِلَ تَحْتَ رَايَةٍ عِمِّيَّةٍ ، يَغْضَبُ لِلْعَصَبِيَّةِ وَيُقَاتِلُ لِلْعَصَبِيَّةِ وَيَدْعُو لِعَصَبَةٍ لَهُ وَوَالَى لِعَصَبَةٍ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

                Artinya, “Barangsiapa yang memisahkan diri dari jamaah dan menyelisihi ketaatan (terhadap pemerintah), (lalu dia mati) maka dia mati seperti mati jahiliyah[2]. Dan barangsiapa yang menyerang ummatku, baik yang sholeh maupun yang fajir dan tidak perduli terhadap orang mukminnya, tidak menepati perjanjian damai, maka ia bukanlah bagian dariku. Barangsiapa yang terbunuh dibawah bendera fanatisme buta, marah atas dasar fanatisme, berperang atas dasar fanatisme, menyeru atas dasar fanatisme, dan memberikan loyalitas atas dasar fanatisme (lalu mati) maka dia mati seperti mati jahiliyyah.” [Shahih. HR. Al-Mushannif (9) dan Muslim (1848)]

                Dari ‘Abdullah bin Mas’ud ia berkata:

خَطَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا خَطًّا وَقَالَ بِأُصْبُعِهِ عَلَى الأَرْضِ خِطَّةً ، قَالَ : ” هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ ” ، ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِ الْخَطِّ وَيَسَارِهِ ، وَقَالَ : ” هَذِهِ سُبُلٌ عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ ” ثُمَّ تَلا : وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ سورة الأنعام آية 153 الْخُطُوطُ الَّتِي عَنْ يَمِنِيهِ وَيَسَارِهِ

                Artinya, “Pernah disuatu hari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam menggambar sebuah garis dan beliau menggambar garis tersebut dengan jari telunjuknya diatas tanah, seraya bersabda, “ Ini adalah jalan Allah.” Kemudian beliau kembali menggambar garis-garis lain disisi kanan dan sisi kiri garis yang tadi dan berkata, “Ini adalah jalan-jalan (yang banyak) dimana pada setiap jalan tersebut terdapat setan yang mengajak kepadanya.” Kemudian beliau membaca (firman Allah), “Dan bahwa (yang kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.” [QS.Al-An’am: 153] yaitu garis-garis yang berada disisi kanan dan kirinya.” [Shahih. HR. Al-Mushannif (9) dan Muslim (1848)]

                Dari an-Nawwâs bin Sam’ân al-Anshâry ia berkata: Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا ، وَعَلَى جَنَبَتَيِ الصِّرَاطِ سُورَانِ بَيْنَهُمَا، وَأَبْوبٌ مُفَتَّحَةٌ وَعَلَى الأَبْوَابِ سُتُورٌ مُرْخَاةٌ ، وَعَلَى بَابِ الصِّرَاطِ دَاعٍ يَقُولُ : يَا أَيُّهَا النَّاسُ ادْخُلُوا الصِّرَاطَ جَمِيعًا وَلا تَعْوَجُّوا ، وَدَاعٍ يَدْعُو مِنْ فَوْقِ الصِّرَاطِ ، فَإِذَا أَرَادَ إِنْسَانٌ فَتْحَ شَيْءٍ مِنْ تِلْكِ الأَبْوَابِ قَالَ : وَيْحَكَ لا تَفْتَحْهُ ، فَإِنَّكَ إِنْ تَفْتَحْهُ تَلِجْهُ فَالصِّرَاطُ الإِسْلامُ ، وَالسُّتُورُ : حُدُودُ اللَّهِ ، وَالأَبْوَابُ الْمُفَتَّحَةُ مَحَارِمُ اللَّهِ ، وَذَلِكَ الدَّاعِي عَلَى رَأْسِ الصِّرَاطِ كِتَابُ اللَّهِ ، وَالدَّاعِي مِنْ فَوْقِ الصِّرَاطِ وَاعِظٌ فِي قَلْبِ كُلِّ مُسْلِمٍ

                Artinya, “Allah membuat suatu perumpamaan berupa sebuah jalan yang lurus; pada kedua sisinya terdapat dua dinding diantara keduanya, dan pintu-pintu yang terbuka[3], diatas setiap pintu terdapat tirai yang menutupi. Pada pintu masuk ke jalan itu terdapat seorang penyeru yang berseru, “Wahai sekalian manusia, masuklah kalian semua ke jalan inidan jangan menyimpang darinya.” Dan ada pula penyeru yang berseru dari atas jalan; apabila ada seseorang hendak membuka salah satu dari pintu tersebut, maka penyeru itu berkata, “Celakalah kamu, janganlah kamu membuka pintu itu, karena jika kamu sampai membukanya maka kamu akan terperosok kedalamnya.” Jembatan itu adalah agama Islam, tirai-tirai tersebut adalah batasan-batasan Allah[4], pintu-pintu yang terbuka adalah hal-hal yang diharamkan oleh Allah, adapun penyeru pada pintu masuk jalan adalah Kitabullah, sedang penyeru yang berada diatas jalan penasehat Allah (naluri) yang terdapat pada setiap kalbu seorang muslim.” [Shahih. HR. Al-Mushannif (14), Ahmad (4/182, 183), At-Tirmidzi (2859), dan Ibnu Abi ‘Ashim (18)]

                Dari ‘Abdullah [bin Mas’ud] ia berkata:

إِنَّ هَذَا الصِّرَاطَ مُحْتَضَرٌ يَحْضُرُهُ الشَّيَاطِينُ يُنَادُونَ : يَا عَبْدَ اللَّهِ ، هَلُمَّ هَذَا الصِّرَاطَ لِيَصُدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ، فَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ فَإِنَّ حَبْلَ اللَّهِ هُوَ كِتَابُ اللَّهِ

“Sesungguhnya jalan ini dihadiri para setan. Mereka berseru, “Wahai hamba Allah, kemarilah, ini adalah jalan (yang lurus lagi benar).” Mereka bermaksud menghalang-halangi manusia dari jalan Allah. Maka, berpegang teguhlah kalian pada tali Allah. Sesungguhnya tali Allah itu adalah Kitabullah (al-Qur`an).” [Shahih. Diriwayatkan oleh al-Mushannif (16)]

                Dari ‘Abdullah bin Mas’ud bahwasanya ia pernah berkata didalam khutbahnya:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ ، عَلَيْكُمْ بِالطَّاعَةِ وَالْجَمَاعَةِ ، فَإِنَّهَا حَبْلُ اللَّهِ الَّذِي أَمَرَ بِهِ ، وَمَا تَكْرَهُونَ فِي الْجَمَاعَةِ خَيْرٌ مِمَّا تُحِبُّونَ فِي الْفُرْقَةِ

          “Wahai manusia, hendaklah kalian berlaku taat (pada pemimpin) dan (menetapi) jamaah; karena itu adalah tali Allah yang Dia perintahkan (agar berpegang) dengan (tali) tersebut. Dan apa yang kalian tidak sukai dalam jamaah adalah lebih baik dari apa yang kalian sukai dalam furqah (berpisah dari jamaah/perpecahan).” [Shahih. Diriwayatkan oleh al-Mushannif (17) dan Ibnu Baththah dalam al-Ibânah (1/297 nomor 133)]

                Abu-l-‘Aliyah berkata:

تَعَلَّمُوا الإِسْلامَ ، فَإِذَا تَعَلَّمْتُمُوهُ فَلا تَرْغَبُوا عَنْهُ ، وَعَلَيْكُمْ بِالصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ فَإِنَّهُ الإِسْلامُ ، وَلا تُحَرِّفُوا الصِّرَاطَ يَمِينًا وَلا شِمَالا ، وَعَلَيْكُمْ بِسُنَّةِ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي عَلَيْهَا أَصْحَابُهُ ، فَإِنَّا قَدْ قَرَأْنَا الْقُرْآنَ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَفْعَلُوا الَّذِي فَعَلُوهُ خَمْسَ عَشْرَةَ سَنَةً ، وَإِيَّاكُمْ وَهَذِهِ الأَهْوَاءَ الَّتِي تُلْقِي بَيْنَ النَّاسِ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ ” . قَالَ : فَحَدَّثْتُ بِهِ الْحَسَنَ فَقَالَ : صَدَقَ وَنَصَحَ ، وَحَدَّثْتُ بِهِ حَفْصَةَ بِنْتَ سِيرِينَ ، فَقَالَتْ : يَا بُنَيَّ أَحَدَّثْتَ بِهَذَا مُحَمَّدًا ؟ قُلْتُ : لا ، قَالَتْ : فَحَدِّثْهُ إِذَنْ

                “Pelajarilah Islam! Apabila kalian telah mempelajarinya maka janganlah kalian membencinya. Hendaklah kalian konsisten diatas jalan yang lurus (ash-shirath al-mustaqim); karena itu adalah Islam dan janganlah kalian menyimpang kekanan dan kekiri. Dan hendaklah pula kalian berpegang teguh kepada sunnah Nabi kalian shallallâhu ‘alaihi wa sallam serta apa yang para shahabatnya berada diatasnya[5]. Sesungguhnya kami telah membaca al-Qur`an sebelum mereka melakukan apa yang telah mereka lakukan[6] selama 15 tahun. Dan berhati-hatilah kalian terhadap hawa nafsu ini yang senantiasa mencampakkan permusuhan dan kebencian ditengah-tengah manusia.” Ia (‘Ashim al-Ahwâl, yang menceritakan dari Abu –l –Aliyah), berkata, “Kemudian saya sampaikan hal ini kepada al-Hasan (Hasan al-Bashri), katanya, “Ia benar dan ia telah memberi nasehat.” Dan saya ceritakan pula kepada Hafshah binti Sirin, katanya, “Wahai anakku, apakah engkau telah menceritakan hal ini kepada Muhammad (Ibnu Sirin)?” Aku berkata, “Tidak (belum).” Lalu katanya, “Jika begitu ceritakan kepadanya.” [Shahih. Diriwayatkan oleh al-Mushannif (19) dan Ibnu Baththah dalam al-Ibânah (1/299, 300 nomor 136)].

                Muhammad bin al-Hushain berkata, “Tanda bagi orang yang Allah kehendaki kebaikan untuknya adalah dirinya menempuh jalan ini; Kitabullah, Sunnah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, jalan yang ditempuh oleh para Shahabatnya radhiyallahu ‘anhum dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, serta jalan para imam kaum muslimin yang ada di setiap negeri sampai para ulama yang terakhir diantara mereka semisal al-Auza’I, Sufyân ats-Tsauri, Malik bin Anas, asy-Syafi’I, Ahmad bin Hanbal, al-Qâsim bin Sallâm, dan orang-orang yang berada diatas jalan yang mereka tempuh serta menjauhi semua mazhab/aliran yang dicela oleh para ulama diatas dan akan kami jelaskan apa saja yang mereka ridhai –insya Allah-.

 

—————————————————————————————————

 

 

[1] Diterjemahkan dari kitab Mukhtashar asy-Syari’ah (Ringkasan kitab Asy-Syari’ah), yang diringkas oleh: Abu ‘Amr ‘Abdul Karim bin Ahmad al-Hajûri. (Abu Halbas, pentj.)

[2] Dia seperti ahli jahiliyyah karena mereka tercerai berai lantaran tidak memiliki imam (pentj.)

[3] Dalam riwayat yang lain, “Pada kedua sisinya terdapat dua dinding yang mempunyai pintu-pintu yang terbuka…”[Ahmad dalam Musnadnya 4/182, 183] (Pentj.)

[4] Dalam riwayat yang lain, “Dua dinding tersebut adalah batasan-batasan Allah..” [Ahmad dalam Musnadnya 4/182, 183] (Pentj.)

[5] Dalam riwayat lain, “….Dan berpegang teguhlah dengan sunnah Nabimu shallallahu alaihi wa sallam dan apa yang dipegang kaum muslimin sebelum mereka membunuh shahabat mereka sendiri (Utsman bin ‘Affan) dan sebelum mereka berbuat apa yang telah mereka perbuat.” (Lihat Ibnu Nashr 13 no 26, Al-Ibânah 1/299 no 136) (Pentj.)

[6] Yakni membunuh ‘Utsman dan saling memerangi. (Pentj.)

Jember, 28 Rabiul Awwal 1436 H.

Diskusi

2 thoughts on “Kitab Asy-Syari’ah (2) Bab Penyebutan Perintah Nabi Kepada Ummatnya Untuk Menetapi Jamaah

  1. Barokallohu fiik yaa Ustadz.

    Posted by Jusron | Januari 30, 2015, 1:13 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: