//
you're reading...
Aqidah

Kitab Asy-Syari’ah (4) Bab Penyebutan Celaan Terhadap Khawarij Serta Buruknya Madzhab Mereka Dan Bolehnya Memerangi Mereka Dan Ganjaran Bagi Orang Yang Membunuh Mereka Atau Yang Dibunuh Oleh Mereka Dan Bab Penyebutan Sunnah-Sunnah Serta Atsar-Atsar Yang Terkait Dengan Apa Yang Telah Kami Sebutkan Diatas


Asy-Syari’ah[1]

Oleh: Imam Abu Bakar Muhammad Bin al-Husain al-Ajurri

(Wafat tahun 360 H.)

 

 

 

BAB

PENYEBUTAN CELAAN TERHADAP KHAWARIJ SERTA BURUKNYA MADZHAB MEREKA DAN BOLEHNYA MEMERANGI MEREKA DAN GANJARAN BAGI ORANG YANG MEMBUNUH MEREKA ATAU YANG DIBUNUH OLEH MEREKA

⎏⎏⎏⎏⎏

 

            Muhammad bin al-Husain berkata, “Ulama terdahulu dan sekarang telah sepakat bahwa khawarij adalah kaum yang jahat lagi durhaka kepada Allah ta’ala dan rasul-Nya shallallâhu ‘alaihi wa sallam meskipun mereka shalat, berpuasa, dan bersungguh-sungguh dalam beribadah bahkan meskipun mereka menampakkan amar ma’ruf nahi munkar namun semua itu tidak bermanfaat bagi mereka; sebab mereka adalah kaum yang menafsirkan al-Qur`an sesuai dengan hawa nafsu mereka dan mengelabui kaum muslimin. Allah ta’ala telah memperingatkan kita tentang mereka, begitu pula Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, Khulafau-r Râsyidin, para shahabat Nabi radhiyallâhu ‘anhum serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.

            Khawarij ini dan yang sealiran dengannya adalah orang-orang yang jahat, najis, lagi keji. Mereka saling mewarisi madzhab ini semenjak dahulu hingga sekarang. Mereka memberontak terhadap para imam dan pemimpin serta menghalalkan pembunuhan terhadap kaum muslimin.

            Benih-benih khawarij pertama kali muncul dimasa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam; yaitu dari seorang laki-laki yang mencela Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam saat beliau membagi harta ghanimah. Orang itu berkata, “Berlaku adillah wahai Muhammad, aku melihatmu tidak berlaku adil.” Maka beliau pun shallallâhu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Celakalah engkau, lalu siapa yang bisa berbuat adil jika saya tidak berlaku adil?” Umar hendak membunuh orang ini namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencegahnya dan mengabarkan, “Sesungguhnya orang ini beserta shahabat-shahabatnya (sangat kuat beribadah, sehingga) salah seorang diantara kalian akan menganggap remeh shalatnya di banding shalat mereka dan puasanya di banding puasa mereka. Mereka keluar dari agama.” Ada banyak hadits dimana beliau memerintahkan untuk memerangi khawarij dan menjelaskan keutamaan bagi orang yang membunuh mereka atau terbunuh oleh mereka.

               Kemudian mereka setelah itu keluar dari berbagai negeri lalu berkumpul dan menampakkan amar ma’ruf nahi munkar hingga mereka tiba di Madinah lalu membunuh ‘Utsman bin ‘Affân radhiyallâhu ‘anhu. Para shahabat rasulullah radhiyallâhu ‘anhum yang berada di Madinah telah berupaya keras agar ‘Utsman tidak sampai terbunuh, namun mereka radhiyallâhu ‘anhum tidak berdaya (mencegah) hal itu. Kemudian setelah itu mereka memberontak kepada Amirul Mukminin ‘Ali bin Abi Thâlib radhiyallâhu ‘anhu, serta tidak ridha dengan keputusan yang diambilnya. Mereka mendengung-dengungkan slogan , “La hukma illa lillâh/keputusan hukum itu hanya milik Allah”. ‘Ali berkata menanggapi slogan tersebut, “Kalimat hak yang dimaksudkan untuk kebatilan.” Maka ‘Ali pun memerangi mereka dan Allah ta’ala memuliakannya dengan membunuh mereka dan ia mengabarkan dari Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam akan keutamaan membunuh mereka atau terbunuh oleh mereka, dan para shahabat bergabung bersama ‘Ali memerangi mereka; sehingga jadilah pedang ‘Ali radhiyallâhu ‘anhu pada orang-orang khawarij sebagai pedang kebenaran hingga tegaknya hari kiamat.

 

 

BAB

PENYEBUTAN SUNNAH-SUNNAH SERTA ATSAR-ATSAR YANG TERKAIT DENGAN APA YANG TELAH KAMI SEBUTKAN DIATAS

⎏⎏⎏⎏⎏

 

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ ، قَالَ : أَتَى رَجُلٌ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ مُنْصَرَفِهِ مِنْ خَيْبَرَ ، وَفِي ثَوْبِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِضَّةٌ ، وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْبِضُ مِنْهَا فَيُعْطِي ، فَقَالَ : يَا مُحَمَّدُ ، اعْدِلْ ، فَقَالَ : ” وَيْلَكَ وَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ ؟ لَقَدْ خِبْتَ وَخَسِرْتَ إِذَا لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ ” فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عنه : يَا رَسُولَ اللَّهِ دَعْنِي فَأَقْتُلَ هَذَا الْمُنَافِقَ فَقَالَ : ” مَعَاذَ اللَّهِ أَنْ يَتَحَدَّثَ النَّاسُ أَنِّي أَقْتُلُ أَصْحَابِي إِنَّ هَذَا وَأَصْحَابَهُ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ

           Dari Jâbir bin ‘Abdillah ia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam saat kembali pulang dari Khaibar. Ketika itu dalam pakaian Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam terdapat perak dan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam membagi-bagikannya (kepada orang-orang). Orang tersebut berkata, “Wahai Muhammad berlaku adillah!” Beliau bersabda, “Celakalah engkau, siapakah yang bisa berlaku adil jika aku tidak berlaku adil? Sungguh engkau benar-benar merugi jika aku tidak adil.” ‘Umar bin al-Khaththâb radhiyallâhu ‘anhu berkata, “Wahai Rasulullah, biarkan aku membunuh orang munafik ini!” Beliau bersabda, “Aku berlindung kepada Allah dari pembicaraan orang-orang bahwa aku membunuh shahabatku sendiri. Sesungguhnya orang ini dan para shahabatnya suka membaca al-Qur’an, akan tetapi bacaan mereka tidak sampai melewati kerongkongan mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah melesat menembus binatang buruan yang menjadi sasarannya.” [Shahih: Diriwayatkan oleh al-Mushannif- (36), Al-Bukhâri (3138) dan Muslim (1063).]

 

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ ، قَالَ : بَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْسِمُ ذَاتَ يَوْمٍ قَسْمًا إِذْ قَالَ ذُو الْخُوَيْصِرَةِ التَّمِيمِيُّ : يَا رَسُولَ اللَّهِ اعْدِلْ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” وَيْحَكَ : فَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ ” فَقَامَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَتَأْذَنُ لِي أَضْرِبُ عُنُقَهُ ؟ قَالَ : ” لا ، إِنَّ لَهُ أَصْحَابًا يَحْقِرُ أَحَدُكُمْ صَلاتَهُ مَعَ صَلاتِهِ ، وَصِيَامَهُ مَعَ صِيَامِهِ ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ ، يُنْظَرُ إِلَى نَصْلِهِ فَلا يُوجَدُ فِيهِ شَيْءٌ ، ثُمَّ يُنْظَرُ إِلَى رِصَافِهِ فَلا يُوجَدُ فِيهِ شَيْءٌ، ثُمَّ يُنْظَرُ إِلَى نَضِيِّهِ فَلا يُوجَدُ فِيهِ شَيْءٌ، ثُمَّ يُنْظَرُ إِلَى قُذَذِهِ فَلا يُوجَدُ فِيهِ شَيْءٌ ، سَبَقَ الْفَرْثَ وَالدَّمَ ، يَخْرُجُونَ عَلَى حِينٍ فُرْقَةٍ مِنَ النَّاسِ ، آيَتُهُمْ رَجُلٌ أَدْعَجُ إِحْدَى يَدَيْهِ مِثْلُ ثَدْيِ الْمَرْأَةِ ، أَوْ مِثْلُ الْبَضْعَةِ ، تَدَرْدَرُ ” ، قَالَ أَبُو سَعِيدٍ : أَشْهَدُ : لَسَمِعْتُ هَذَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَشْهَدُ أَنِّي كُنْتُ مَعَ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ حِينَ قَتَلَهُمْ وَالْتَمَسَ فِي الْقَتْلَى ، فَأَتَى بِهِ عَلَى النَّعْتِ الَّذِي نَعَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .

            Dari Abu Sa’îd al-Khudri, ia berkata, “Pada suatu hari ketika Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam sedang membagikan harta rampasan perang, tiba-tiba Dzul Khuwaishirah at-Tamimi berkata, “Wahai Rasulullah berlaku adillah!” Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Celakalah engkau! Siapakah yang bisa berlaku adil jika aku tidak berlaku adil?” Lalu ‘Umar bin al-Khaththâb radhiyallâhu ‘anhu bangkit dan berkata, “Wahai Rasulullah, apakah engkau mengizinkan aku untuk menebas batang lehernya?” Beliau bersabda, “Tidak! Sesungguhnya dia memiliki para shahabat dimana salah seorang diantara kalian menganggap remeh shalatnya di banding shalat mereka dan puasanya di banding puasa mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah melesat menembus binatang buruan yang menjadi sasarannya. Jika dilihat pada bagian panahnya yang tajam maka tidak nampak apapun (yang menempel baik bekas darah maupun daging dari buruan tadi, pentj.). Jika dilihat bagian penyambung antara batang dan bagian depannya maka tidak nampak apapun. Jika dilihat bagian batang panahnya juga tidak nampak apapun. Dan jika dilihat dari bagian bulu anak panah (bagian akhir panah) maka tidak nampak apapun. Keluarnya anak panah ini mendahului kotoran dan darah. Mereka memberontak saat terjadi perselisihan di antara orang-orang. Ciri-ciri mereka adalah (didalamnya) ada seorang laki-laki hitam, salah satu (lengan atas) tangannya seperti payudara wanita atau seperti sepotong daging yang bergerak-gerak.” [Shahih: Diriwayatkan oleh al-Mushannif (39), Al-Bukhâri (3344), dan Muslim (1064)]

                Abu Sa’îd berkata, “Aku bersaksi; bahwa aku benar-benar mendengar hadits ini dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan aku bersaksi bahwa aku bersama ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallâhu ‘anhu ketika ia berhasil membunuh mereka dan ia berupa mencari (orang tersebut) diantara para korban yang terbunuh, lalu orang itu pun dibawah kehadapan Ali berdasarkan ciri-ciri yang disebutkan oleh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam.”

عَنْ كَعْبِ الأَحْبَارِ ، قَالَ : ” لِلشَّهِيدِ نُورَانِ ، وَلِمَنْ قَتَلَهُ الْخَوَارِجُ عَشَرَةُ أَنْوَارٍ لَهُ ، وَلِجَهَنَّمَ سَبْعَةُ أَبْوَابٍ : بَابٌ مِنْهَا لِلْحَرُورِيَّةِ ، وَلَقَدْ خَرَجُوا عَلَى دَاوُدَ نَبِيِّ اللَّهِ فِي زَمَانِهِ

              Dari Ka’ab al-Ahbâr ia berkata, “Orang yang mati syahid baginya dua cahaya, sedang orang yang terbunuh oleh Khawarij baginya sepuluh cahaya. Neraka jahannam memiliki tujuh pintu; satu pintu diantaranya diperuntukkan untuk Harûriyah (Khawârij). Mereka pernah memberontak kepada Nabiyullah Dâwud pada masanya.” [Hasan: Diriwayatkan oleh al-Mushannif (41)]

               Muhammad bin al-Husain berkata, “Ini adalah salah satu ciri Harûriyah dan mereka adalah sejahat-jahat Khawârij yang Allah ta’ala berfirman tentang mereka:

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلا اللَّهُ

Artinya, “Dia-lah yang menurunkan al-Kitab (al-Qur’an) kepadamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyabihat dari padanya untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah.” [QS. Ali ‘Imrân: 7], dan Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan ummatnya dari orang-orang yang memiliki sifat seperti ini.

 

عَنْ عائشة رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ، أَن رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَرَأَ : هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلا اللَّهُ، فَقَالَ : إِذَا رَأَيْتُمُ الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِيهِ فَهُمُ الَّذِينَ عَنَى اللَّهُ تَعَالَى ، فَاحْذَرُوهُمْ

                    Dari ‘Aisyah radhiyallâhu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah membaca ayat ini:

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلا اللَّهُ

               Artinya, “Dia-lah yang menurunkan al-Kitab (al-Qur’an) kepadamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyabihat dari padanya untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah.” [QS. Ali ‘Imrân: 7], beliau bersabda, “Jika engkau menjumpai orang-orang yang suka berdebat tentangnya ( ayat-ayat mutasyabihat) maka merekalah yang Allah maksud (dalam ayat ini), maka berhati-hatilah dari mereka.” [Shahih: Diriwayatkan oleh al-Mushannif (42), Al-Bukhâri (4547), dan Muslim (2665)]

 

عَنِ طَاوُسٍ قَالَ : ذُكِرَ لابْنِ عَبَّاسٍ الْخَوَارِجُ وَمَا يُصِيبُهُمْ عِنْدَ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ ؟ قَالَ : ” يُؤْمِنُونَ بِمُحْكَمِهِ ، وَيَضِلُّونَ عَنْ مُتَشَابِهِهِ وَقَرَأَ : وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ

                 Dari Thâwus ia berkata, “Disebutkan kepada Ibnu ‘Abbâs tentang Khawarij dan apa yang menimpa mereka saat membaca al-Qur`an?” Beliau menjawab, “Mereka beriman dengan ayat-ayat yang muhkam dan tersesat dari ayat-ayat mutasyabihat, lalu beliau membaca firman Allah: (Artinya): padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, “kami beriman padanya (al-Qur`an).” [QS. Ali Imrân: 7] [Shahih. Diriwayatkan oleh al-Mushannif (45)].

عَنْ ابْنَ عَبَّاسٍ وَذُكِرَ لَهُ الْخَوَارِجُ وَاجْتِهَادُهُمْ وَصَلاتُهُمْ ، قَالَ : ” لَيْسَ هُمْ بِأَشَدَّ اجْتِهَادًا مِنَ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى ، وَهُمْ عَلَى ضَلالَةٍ

                       Dari Ibnu Abbâs pernah diceritakan kepadanya tentang kesungguhan orang-orang Khawarij serta ibadah shalatnya. Beliau berkata, “Kesungguhan mereka tidak lebih hebat dari orang-orang Yahudi dan Nashara, namun mereka tetap ada dalam kesesatan.” [Shahih. Diriwayatkan oleh al-Mushannif (46)].

 

حَدَّثَنَا الْمُعَلَّى بْنُ زِيَادٍ ، قَالَ : قِيلَ لِلْحَسَنِ : يَا أَبَا سَعِيدٍ ، خَرَجَ خَارِجِيٌّ بِالْخُرَيْبَةِ ، فَقَالَ : ” الْمِسْكِينُ رَأَى مُنْكَرًا فَأَنْكَرَهُ ، فَوَقَعَ هُوَ أَنْكَرَ مِنْهُ

                    Dari al-Mu’alla bin Ziyâd, ia berkata: Dikatakan kepada al-Hasan: Wahai Abu Sa’îd, seorang Khâriji keluar ke Khuraibah[2]. Beliau berkata, “Si miskin yang melihat kemungkaran lalu ia mengingkarinya, lalu ia terjatuh dalam kemungkaran yang lebih besar darinya.” [Hasan. Diriwayatkan oleh al-Mushannif (48)].

                       Muhammad bin al-Husain berkata, “Maka tidak sepatutnya bagi siapa saja yang melihat kesungguhan seorang khâriji (pengikut khawarij) yang memberontak kepada pemimpin, baik yang adil maupun yang zhalim, lalu ia keluar, membentuk suatu jamaah, menghunuskan pedangnya, dan menghalalkan peperangan terhadap kaum muslimin; tidak sepatutnya ia tertipu oleh bacaan al-Qur`annya, lama berdiri shalatnya, puasanya yang terus menerus, serta keindahan kata-katanya dalam ilmu, selagi madzhab yang dianutnya adalah madzhab khawârij. Telah diriwayatkan dari Rasulullah beberapa khabar (tentang khawarij) sebagaimana yang telah aku sebutkan sebelumnya dimana mayoritas ulama muslimin tidak menolaknya, bahkan sebaliknya boleh jadi para imam kaum muslimin sepakat mengenai ilmu tentangnya.

 

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ، قَالَ : ذُكِرَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ ذُو نِكَايَةٍ لِلْعَدُوِّ وَاجْتِهَادٍ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” مَا أَعْرِفُ هَذَا ” ، فَقَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، نَعْتُهُ كَذَا وَكَذَا ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” مَا أَعْرِفُهُ ” ، فَبَيْنَا هُمْ كَذَلِكَ إِذْ طَلَعَ الرَّجُلُ ، فَقَالُوا : هَذَا ، يَا رَسُولَ اللَّهِ ، فَقَالَ : ” مَا كُنْتُ أَعْرِفُ هَذَا ، هَذَا أَوَّلُ قَرْنٍ رَأَيْتُهُ فِي أُمَّتِي ، إِنَّ بِهِ لَسَفْعَةً مِنَ الشَّيْطَانِ ” قَالَ : فَلَمَّا دَنَا الرَّجُلُ ، سَلَّمَ ، فَرَدَّ عَلَيْهِ الْقَوْمُ السَّلامَ قَالَ : فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” نَشَدْتُكَ بِاللَّهِ ، هَلْ حَدَّثْتَ نَفْسَكَ حِينَ طَلَعْتَ عَلَيْنَا ، أَنْ لَيْسَ فِي الْقَوْمِ أَحَدٌ أَفْضَلُ مِنْكَ ؟ قَالَ : قَالَ : اللَّهُمَّ نَعَمْ قَالَ : فَدَخَلَ الْمَسْجِدَ يُصَلِّي ، قَالَ : فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لأَبِي بَكْرٍ : ” قُمْ فَاقْتُلْهُ ” فَدَخَلَ أَبُو بَكْرٍ الْمَسْجِدَ فَوَجَدَهُ قَائِمًا يُصَلِّي ، فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ فِي نَفْسِهِ : إِنَّ لِلصَّلاةِ لَحُرْمَةً وَحَقًّا وَلَوِ اسْتَأْمَرْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ قَالَ : فَجَاءَ إِلَيْهِ ، فَقَالَ لَهُ : ” أَقَتَلْتَهُ ؟ ” قَالَ : لا ، رَأَيْتُهُ قَائِمًا يُصَلِّي ، وَرَأَيْتُ لِلصَّلاةِ حَقًّا وَحُرْمَةً ، وَإِنْ شِئْتَ أَنْ أَقْتُلَهُ ، قَتَلْتُهُ قَالَ ” لَسْتَ بِصَاحِبِهِ ” ثُمَّ قَالَ : ” اذْهَبْ يَا عُمَرُ فَاقْتُلْهُ ” قَالَ : فَدَخَلَ عُمَرُ الْمَسْجِدَ ، فَإِذَا هُوَ سَاجِدٌ قَالَ : فَانْتَظَرَهُ طَوِيلا ، ثُمَّ قَالَ : فِي نَفْسِهِ : إِنَّ لِلسُّجُودِ لَحَقًّا ، وَلَوْ أَنِّي اسْتَأْمَرْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَدِ اسْتَأْمَرَهُ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنِّي قَالَ : فَجَاءَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ، فَقَالَ : ” أَقَتَلْتَهُ ؟ ” قَالَ : لا ، رَأَيْتُهُ سَاجِدًا ، وَرَأَيْتُ لِلسُّجُودِ حَقًّا ، وَإِنْ شِئْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقْتُلَهُ قَتَلْتُهُ قَالَ : ” لَسْتَ بِصَاحِبِهِ ” قُمْ يَا عَلِيُّ فَاقْتُلْهُ ، أَنْتَ صَاحِبُهُ إِنْ وَجَدْتَهُ ” قَالَ : فَدَخَلَ عَلِيٌّ الْمَسْجِدَ ، فَلَمْ يَجِدْهُ قَالَ : فَرَجَعَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرَهُ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” ))لَوْ قُتِلَ الْيَوْمَ مَا اخْتَلَفَ رَجُلانِ مِنْ أُمَّتِي حَتَّى يَخْرُجَ الدَّجَّالُ ” ((، وَذَكَرَ بَاقِيَ الْحَدِيثِ

                   Dari Anas bin Mâlik, ia berkata, “Disebutkan dihadapan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam tentang seorang lelaki perkasa dalam mengalahkan musuh serta penuh kesungguhan dalam beribadah. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, “Aku tidak mengenalnya.” Mereka berkata, “Wahai Rasulullah ciri-ciri orang itu seperti ini dan itu.” Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku tidak mengenalnya.” Tatkala mereka masih membincangkannya, tiba-tiba lelaki itu muncul . Para shahabat berkata, “Inilah orangnya wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Aku tidak mengenal orang ini, ini adalah tanduk yang pertama kali aku lihat pada ummatku. Sesungguhnya pada dirinya (pada wajahnya, pentj) benar-benar terdapat tanda hitam (suf’ah) dari setan.” Anas berkata, “Ketika lelaki itu mendekat, ia mengucapkan salam dan para shahabat pun menjawab salamnya. Rasululah shallallâhu ‘alaihi wa sallam lantas bertanya kepadanya, “Aku bertanya kepadamu, apakah hatimu berkata saat engkau hadir ditengah-tengah kami, bahwa tidak ada seorang pun yang lebih baik dari pada dirimu?” Lelaki itu menjawab, “Benar.” Kemudian ia masuk ke masjid dan shalat. Lalu Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Abu Bakar radhiyallâhu ‘anhu, “Bangkitlah dan bunuhlah orang itu.” Abu Bakar pun masuk ke dalam masjid dan ia mendapati lelaki itu tengah berdiri mengerjakan shalat. Abu Bakar berkata didalam hatinya, “Sesungguhnya shalat itu memiliki kehormatan dan hak, sekiranya aku mohon petunjuk kepada Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam.” Maka Abu Bakar pun kembali menemui Nabi. Rasul bertanya, “Sudahkah engkau bunuh orang itu?” Abu Bakar menjawab, “Belum, aku melihatnya tengah berdiri mengerjakan shalat dan aku memandang bahwa shalat itu memiliki hak dan kehormatan. Namun jika engkau menghendaki aku membunuhnya maka akan aku bunuh.” Beliau bersabda, “Engkau bukan orangnya.” Kemudian beliau bersabda, “Pergilah wahai ‘Umar dan bunuh orang itu!” ‘Umar pun masuk ke dalam masjid dan mendapati orang itu tengah bersujud. ‘Umar menantinya sangat lama kemudian berkata didalam hatinya, “Sesungguhnya sujud itu benar-benar punya hak, sekiranya aku mohon petunjuk kepada Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, sungguh telah memohon petunjuk kepadanya orang yang lebih baik dariku. Maka ‘Umar pun kembali menemui Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, lalu Nabi bertanya, “Sudahkah engkau membunuh orang itu?” ‘Umar menjawab, “Belum, aku mendapatinya sedang sujud dan aku berpendapat bahwa sujud memiliki hak. Namun jika engkau menghendaki wahai Rasulullah agar aku membunuhnya maka akan aku bunuh!” Nabi bersabda, “Bukan engkau orangnya, bangkitlah wahai ‘Ali, bunuhlah orang itu, engkaulah orangnya jika engkau mendapatinya.” Anas berkata, “Maka ‘Ali pun masuk ke dalam masjid, namun ia tidak mendapati orang tersebut. ‘Ali lantas kembali menemui Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan mengabarkan kejadian itu. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “[Sekiranya dia terbunuh hari ini maka tidak akan berselisih dua orang dari ummatku hingga Dajjâl keluar].” [Shahih dengan syawahidnya kecuali yang berada diantara dua kurung. Diriwayatkan oleh al-Mushannif (49). Abu Ya’la (4/150 nomor 2215) juga meriwayatkannya dari Jâbir dan ia adalah shahih. Ahmad (3/15) dari Abu Sa’îd dan pada sanadnya ada Syaddâd bin ‘Imrân: Majhûlul Hâl] dan dia menyebutkan sisa hadits ini.

 

 

 

Jember, 22 Rabiul Akhir 1436 H.

 

[1] Diterjemahkan dari kitab Mukhtashar asy-Syari’ah (Ringkasan kitab Asy-Syari’ah), yang diringkas oleh: Abu ‘Amr ‘Abdul Karim bin Ahmad al-Hajûri. (Abu Halbas, pentj.)

[2] Salah satu daerah yang berada di wilayah Bashrah, Irak (pentj.)

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: