//
you're reading...
Rehat

Berdoalah


Al-Ashma’i berkata, ‘Ketika pasukan kaum Muslimin berhadapan dengan pasukan Turki dan merasa takut kepada mereka, Qutaibah ibn Muslim [Sang panglima perang] menanyakan keberadaan Muhammad ibn Wasi’. Lalu ada seorang mengatakan, ‘Muhammad ibn Wasi’ ada di sayap kanan pasukan sedang memegang busur sambil berdo’a menunjuk dengan jari-jarinya ke langit.’ Qutaibah pun berkata, ‘Jari-jari itu lebih aku sukai ketimbang seratus ribu pedang terhunus dan pemuda gagah perkasa.’ [Siyar A’lam an-Nubala’].
Saudaraku… Jika Anda cermati nash-nash al-Qur’an dan as-Sunnah, Anda akan mendapati bahwa do’a menempati posisi penting dalam Islam. Anda juga bisa menemukan dalam sirah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam segudang peristiwa sejarah yang menunjukkan kepada Anda bahwa doa menjadi sandaran para shahabat dalam menyelesaikan pelbagai persoalan mereka.
Do’a adalah senjata yang amat tajam, instrumen yang siap pakai, sarana termudah untuk meraih harapan, dan jalan efektif untuk mengantarkan kita menuju keberhasilan. Siapapun yang menempuh jalan ini pasti sukses dan beruntung.
Dakwah sangat membutuhkan tangan-tangan orang semacam Muhammad ibn Wasi’ yang selalu mengadu kepada Allah tentang keterasingan agama ini dan bisa mendatangkan pertolongan dan bantuan-Nya. Betapa kita sekarang sangat membutuhkan orang-orang yang bersih hatinya, suci batinnya, bertakwa, lemah, dan hina dalam pandangan manusia yang apabila berdoa pasti dikabulkan oleh Allah.
Perjuangan orang-orang yang berdoa itu tidak kalah beratnya dengan perjuangan orang-orang yang memerangi kemungkaran secara fisik. Perjuangan mereka sama besarnya dengan perjuangan orang-orang yang melawan kekufuran dan kefasikan. Pun perjuangan mereka itu tak kalah kerasnya dengan perjuangan para khatib, penceramah, dan dai disetiap bidang dakwah. Bahkan, mereka itu laksana bala tentara yang tak terlihat yang berjuang dibalik layar. Sehingga, sepatutnya semua orang yang peduli kepada agama berusaha keras untuk bisa seperti mereka dalam memperjuangkan dan membela agama Allah.
Mereka yang memperjuangkan agama melalui do’a harus mengetahui sebab dan syarat terkabulnya do’a. Mereka harus makan makanan halal dan mencari tempat dan waktu yang mustajab.
Bayangkanlah seandainya dakwah ini didukung oleh ribuan orang yang menengadahkan tangannya setiap malam berdo’a memohon pertolongan kepada Allah. Bayangkan lah seandainya ditengah-tengah mereka ada satu orang saja seperti Muhammad ibn Wasi’.

[Dari Kitab 30 Cara Mengabdi pada Agama dengan beberapa perubahan. Oleh Syaikh Ridha Shamadi].

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: