//
you're reading...
Fiqih

Jabat Tangan Usai Shalat


Soal:
Berjabat tangan sehabis shalat seperti yang banyak dilakukan oleh kaum Muslimin, apakah memang dianjurkan oleh agama? [Rasul, Dukuh]

Jawab:
Pada asalnya, berjabat tangan antar sesama muslim adalah perkara baik lagi sangat dianjurkan. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

ﻤﺎ ﻤﻦ ﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻴﻠﺗﻘﻴﺎﻦ ﻔﻴﺗﺼﺎﻔﺤﺎﻦ ﺇﻻ ﻏﻔﺮ ﻠﻬﻤﺎ ﻘﺒﻝ ﺃﻦ ﻴﻔﺘﺮﻘﺎ

‘Setiap dua orang muslim yang bertemu kemudian berjabat tangan, maka dosanya akan diampuni sebelum mereka berpisah.’ [Shahih. HR. Abu Dawud 5212, at-Tirmidzi 2/121, Ibnu Majah 3703, dan Ahmad 4/289/303. Lihat ash-Shahihah 525].

Berjabat tangan juga adalah kebiasaan yang berlaku di kalangan para shahabat. Dari Qatadah – semoga Allah Ta’ala meridhoinya – ia berkata, ‘Aku bertanya kepada Anas, apakah berjabat tangan dilakukan oleh para shahabat ?’ Dia menjawab, ‘Ya.’ [HR. Bukhari].

Tetapi, kebiasaan yang baik ini jika ditempatkan bukan pada tempatnya apalagi dikaitkan dengan urusan ibadah tertentu seperti shalat, maka kebiasaan baik tersebut dapat berubah menjadi perbuatan yang tidak diridhai oleh pemilik syari’at ini alias bid’ah.

Berjabat tangan sehabis shalat, adalah perbuatan yang tidak pernah dilakukan dan dianjurkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam semasa hidupnya, para shahabat, para tabi’in, serta ulama salaf. Andai mereka melakukannya, pastilah ulama yang menyelami lautan ilmu akan menukilkan berita itu kepada kita. Jangankan hadits shahih, hadits yang bersanad lemah sekalipun tidak pernah menyebut perihal sunnahnya berjabat tangan sehabis shalat. Padahal, suatu perbuatan dalam urusan ibadah jika tidak ada contohnya dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam pasti tertolak. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

ﻤﻦ ﺃﺤﺪﺙ ﻔﻰ ﺃﻤﺮﻨﺎ ﻫﺬﺍ ﻤﺎ ﻠﻴﺲ ﻤﻨﻪ ﻔﻬﻭﺮﺪ

‘Barangsiapa yang mengada-adakan dalam urusan kami ini (yaitu urusan ibadah) apa yang bukan darinya maka ia tertolak.’ [HR. Bukhari dan Muslim].

Syaikh al-Izz bin Abdussalam (salah seorang ulama besar asy-Syafi’iyyah) berkata, ‘Berjabat tangan seusai shalat Shubuh dan Ashar merupakan perbuatan bid’ah (beliau hanya menyebut shalat Shubuh dan Ashar karena orang-orang pada masanya berjabat tangan seusai dua shalat tersebut – red).’ [Lihat Fatawa al-Izz hal. 46].

 

Kesimpulan

1) Jabat tangan sehabis shalat adalah perbuatan bid’ah yang tidak ada contohnya dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.

2) Adapun jika jabat tangan dilakukan sehabis shalat lantaran keduanya memang belum bertemu sebelumnya, maka hal tersebut dibolehkan bahkan disunnahkan mengingat sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam yang telah kami sebutkan sebelumnya. Syaikh al-Albani berkata, ‘Adapun berjabat tangan selepas shalat, maka dianggap sebagai bid’ah. Kecuali bagi kedua orang yang sebelumnya sama sekali belum bertemu, maka dianggap sebagai perbuatan sunnah.’ [Lihat ash-Shahihah 1/23].

 

 

Jember, 2010

 

Abu Halbas Muhammad Ayyub

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: