//
you're reading...
Soal Jawab Ringkas

Orang Junub Mengiringi Dan Mengubur Jenazah


Soal:
Apakah orang junub diperbolehkan mengiringi dan ikut mengubur jenazah? [Abu Hanif]

Jawab:
Jika yang dimaksudkan mengiringi jenazah – hanya sekedar menghantarkannya ke kuburan tanpa melakukan shalat jenazah – maka tidak disyaratkan harus bersih dari hadats kecil maupun besar. Alasannya, karena sepanjang pemeriksaan yang kami lakukan tidak terdapat dalil yang shahih yang melarang seseorang mengiringi jenazah dalam keadaan berhadats. Yang ada hanyalah anjuran atau perintah mengiringi jenazah. Dan menetapkan harus suci dari hadats, perlu mendatangkan dalilnya. Dalam kaedah fiqih disebutkan :

ﺍﻠﻤﺜﺒﺖ ﻴﻂﺎﻟﺐ ﺒﺎﻠﺪﻠﻴﻞ

‘Orang yang menetapkan itu harus mendatangkan dalil.’

Dan tidak ada dalil tentang itu.

Begitu juga halnya dengan mengubur jenazah, tidak disyaratkan harus bersih dari hadats kecil maupun besar. Kecuali jika orang tersebut telah bersenggama di malam hari atau ia sedang berhadats besar lantaran bersenggama (bukan lantaran mimpi), maka orang tersebut tidak diperbolehkan ikut mengubur jenazah. Hal ini disandarkan kepada hadits yang diceritakan oleh Anas bin Malik :

Kami menyaksikan pemakaman putri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Sedang Rasulullah ketika itu duduk di samping makam. Dan aku melihatnya meneteskan air mata. Kemudian beliau bersabda : ‘Adakah di antara kalian yang semalam tidak menjima’ (isterinya) ?’ Berkata Abu Thalhah : ‘Ya, akulah orangnya wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda : ‘Kalau begitu turunlah !’ Anas berkata : ‘Lalu iapun turun ke dalam liang lahat (dan menguburnya).’ [HR. Bukhari 3/122; 162, ath-Thahawy dalam al-Musykil 3/304, al-Hakim 4/47, dan lainnya. Lihat Ahkamul Janaiz 149].

Hadits ini tidak secara tegas melarang orang yang menjima’ isterinya di malam hari untuk turun mengubur jenazah. Namun, hadits ini dipertegas dengan riwayat berikut yang menunjukkan pada keharamannya :

Ketika Ruqayyah binti Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam meninggal, bersabdalah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam : ‘Janganlah ada seseorang yang (tadi malam) menjima’ isterinya ikut turun ke liang lahat !’ Maka ‘Utsman bin Affanpun tidak turun ke dalam liang lahat. [HR. Ahmad 3/229-270, ath-Thahawy 3/202, al-Hakim 4/47, dan Ibnu Hazm. Lihat Ahkamul Janaiz 149].

 

 

 

Jember, 2008

 

Abu Halbas Muhammad Ayyub

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: