//
you're reading...
Akhlak, Aqidah

Pengaruh Tazkiyatun Nufus Dalam Ruqyatusy Syar’iyyah


Pengaruh Tazkiyatun Nufus

Dalam Ruqyatusy Syar’iyyah[1]

-Abu Halbas Muhammad Ayyub –

 

⟣⟣⟣

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Alhamdulillah atas nikmat dan karunianya, Dia tabarak wa ta’ala mengumpulkan kita di majlis ini, majelis yang mengingatkan kita tentang Allah, tentang halal dan haram serta petunjuk jalan-jalan kebaikan dan jalan keburukan. Alangkah butuhnya kita dengan majelis seperti ini, mengingat dikanan kiri jalan yang kita tempuh menuju Allah terdapat banyak pintu-pintu setan yang tengah menganga, dimana tidak ada seorang pun yang menyibak tirainya melainkan ia akan terperosok kedalamnya. Hanyalah orang yang mempelajari al-Quran dan as-Sunnah serta mengamalkan keduanya yang dapat lolos dari jebakan-jebakan tersebut. Allah subhanahu wa ta’ala telah membuat sebuah perumpamaan yang jelas tentang kondisi jalan yang kita lalui berikut dengan rintangan-rintangannya serta hal-hal yang menyelamatkan. Dari Nawwâs bin Sam’an radhiyallâhu ‘anhu ia berkata: Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا ، وَعَلَى جَنَبَتَيِ الصِّرَاطِ سُورَانِ بَيْنَهُمَا، وَأَبْوبٌ مُفَتَّحَةٌ وَعَلَى الأَبْوَابِ سُتُورٌ مُرْخَاةٌ ، وَعَلَى بَابِ الصِّرَاطِ دَاعٍ يَقُولُ : يَا أَيُّهَا النَّاسُ ادْخُلُوا الصِّرَاطَ جَمِيعًا وَلا تَعْوَجُّوا ، وَدَاعٍ يَدْعُو مِنْ فَوْقِ الصِّرَاطِ ، فَإِذَا أَرَادَ إِنْسَانٌ فَتْحَ شَيْءٍ مِنْ تِلْكِ الأَبْوَابِ قَالَ : وَيْحَكَ لا تَفْتَحْهُ ، فَإِنَّكَ إِنْ تَفْتَحْهُ تَلِجْهُ فَالصِّرَاطُ الإِسْلامُ ، وَالسُّتُورُ : حُدُودُ اللَّهِ ، وَالأَبْوَابُ الْمُفَتَّحَةُ مَحَارِمُ اللَّهِ ، وَذَلِكَ الدَّاعِي عَلَى رَأْسِ الصِّرَاطِ كِتَابُ اللَّهِ ، وَالدَّاعِي مِنْ فَوْقِ الصِّرَاطِ وَاعِظٌ فِي قَلْبِ كُلِّ مُسْلِمٍ.

Artinya, “Allah membuat suatu perumpamaan berupa sebuah jalan yang lurus; pada kedua sisinya terdapat dua dinding diantara keduanya, dan pintu-pintu yang terbuka[2], diatas setiap pintu terdapat tirai yang menutupi. Pada pintu masuk ke jalan itu terdapat seorang penyeru yang berseru, “Wahai sekalian manusia, masuklah kalian semua ke jalan inidan jangan menyimpang darinya.” Dan ada pula penyeru yang berseru dari atas jalan; apabila ada seseorang hendak membuka salah satu dari pintu tersebut, maka penyeru itu berkata, “Celakalah kamu, janganlah kamu membuka pintu itu, karena jika kamu sampai membukanya maka kamu akan terperosok kedalamnya.” Jembatan itu adalah agama Islam, tirai-tirai tersebut adalah batasan-batasan Allah[3], pintu-pintu yang terbuka adalah hal-hal yang diharamkan oleh Allah, adapun penyeru pada pintu masuk jalan adalah Kitabullah, sedang penyeru yang berada diatas jalan penasehat Allah (naluri) yang terdapat pada setiap kalbu seorang muslim.” [Shahih. HR. Al-Mushannif (14), Ahmad (4/182, 183), At-Tirmidzi (2859), dan Ibnu Abi ‘Ashim (18)]

Setelah berlalunya waktu yang panjang tirai-tirai yang menutupi pintu-pintu yang diharamkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala semakin terlihat tidak jelas alias kabur dengan berbagai macam fitnah; baik fitnah syahwat maupun fitnah syubhat. Sehingga ada sebagian kaum begitu mudah menyibak tirai tersebut dan masuk kedalamnya. Dialog yang pernah berlangsung antara Huzhaifah bin Yaman dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam semenjak 14 abad yang lalu berikut ini merupakan perkara yang tak terbantahkan dengan realitas saat ini. Dimana dalam dialog tersebut Allah subhanahu wa ta’ala membimbing lisan Huzhaifah untuk menanyakan perkara-perkara ghaib yang begitu berarti bagi generasi berikutnya.

عن حُذَيْفَةَ بْنَ الْيَمَانِ قال: كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنْ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ وَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ قَالَ نَعَمْ وَفِيهِ دَخَنٌ قُلْتُ وَمَا دَخَنُهُ قَالَ قَوْمٌ يَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ قُلْتُ فَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا قَالَ هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا قُلْتُ فَمَا تَأْمُرُنِي إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ قُلْتُ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ .

                Jika memperhatikan dialog diatas, maka kita mendapati bahwa keburukan-keburukan yang disebutkan oleh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam yang datang setelah kebaikan disebabkan karena banyak factor, diantaranya:

Pertama, karena mengambil petunjuk bukan petunjuk dari Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan sebagai gantinya mengambil petunjuk atau jalan dari orang-orang yahudi dan nashara.

Kedua, munculnya para dai (ust, kiyai) yang mendewakan akalnya sehingga seruan-seruannya amat bertolak belakang dengan tujuan utama dari dakwah itu sendiri, yaitu mengajak pada pintu-pintu syurga.

 

Kesimpulan ini tidak jauh dengan apa yang dikatakan oleh Hudzaifah disalah satu kesempatan, beliau berkata:

عن خذَيْفَةَ بْنَ الْيَمَانِ قال: لَتَتَّبِعُنَّ أَثَرَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَذْوَ النَّعْلِ بِالنَّعْلِ ، لا تُخْطِئُونَ طَرِيَقَتَهُمْ وَلا تُخْطِئَنَّكُمْ ، وَلَتُنْقَضَنَّ عُرَى الإِسْلامِ عُرْوَةً فَعُرْوَةً ، وَيَكُونُ أَوَّلَ نَقْضِهَا الْخُشُوعُ حَتَّى لا يُرَى خَاشِعًا ، وَحَتَّى يَقُولَ أَقْوَامٌ : ذَهَبَ النِّفَاقُ مِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ فَمَا بَالُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ ؟ لَقَدْ ضَلَّ مَنْ كَانَ قَبْلَنَا حَتَّى مَا يُصَلُّونَ نَبِيًّهمْ .[4]

 

Ayyuhal Ikhwah wal akhawat…

 

Berkenaan dengan pembahasan kita pagi ini, tentang Ruqyatus Syar’iyyah kaitannya dengan tazkiyatun nafs (nufus), maka ini adalah persoalan besar dari sekian persoalan-persoalan ruqyatus syar’iyyah yang ada dan juga besar kaitannya dengan muqaddimah yang kami sebutkan diatas, yaitu hadits Hudzaifah.

Mengapa saya katakan besar, lantaran mereka-mereka yang diuji oleh Allah dengan penyakit kerasukan jin, terkena sihir, guna-guna dan penyakit ‘ain butuh kekuatan dan kesungguhan besar untuk membalikkan keadaan; dari penguasaan jin yang menyeret kepada kerendahan/kehinaan jiwa pada penguasaan ilahy yang membawa ketinggian dan kemuliaan jiwa.

 

Artinya bahwa di antara tujuan terbesar dari ruqyatusy syar’iyyah adalah kesembuhan. Sedang dalam proses ruqyatusy syar’iyyah ini bisa berujung pada beberapa kemungkinan sembuh atau tidak sembuh, cepat sembuh atau lambat sembuh. Sedang kondisi-kondisi hati atau jiwa seseorang amat menentukan kesembuhan tersebut. Saya teringat dialog Ibnu Taimiyyah dengan seorang tabib, dimana sang tabib menasehati ibnu Taimiyah yang sedang jatuh sakit untuk menghentikan sementara kegiatan belajar mengajarnya karena hal itu dapat memperparah kondisi sakitnya. Ibnu Taimiyah berkata, “Bukankah jika jiwa itu ada dalam kondisi bahagia dan gembira dapat memperkuat daya tahan tubuh yang pada akhirnya mengusir penyakit tersebut? Sang tabib membenarkannya. ‘Maka sesungguhnya jiwaku merasa senang dan bahagia berinteraksi dengan ilmu dan tubuhku terasa kuat dan dengan itu aku dapat merasakan istirahat.” Sang tabib berkata, “Ini di luar dari pengobatan kami.”

 

Kita katakan besar kaitannya dengan dengan muqaddimah yang kami sebutkan di atas lantaran banyak syubhat-syubhat yang tidak diketahui oleh kaum muslimin saat melakukan pengobatan Ruqyatus-Syar’iyyah. Dan syubhat-syubhat itu umumnya menyerang hati dan syaitan memasang jerat-jeratnya di sana.

 

Penyucian dan perbaikan jiwa atau disebut dengan tazkiyatun nufûs sebenarnya sasarannya bukan hanya untuk orang sakit secara pishicis namun juga berlaku untuk yang sehat. Tidak hanya untuk orang-orang awam namun juga untuk penuntut ilmu. Tidak hanya untuk orang-orang yang lalai lagi berpaling namun juga untuk orang yang ingat kepada Allah lagi taat kepada-Nya. Tidak hanya untuk para pelaku kemaksiyatan namun juga bagi orang berkomitmen terhadap agama. Mengapa demikian, karena:

 

  1. Tazkiyatun Nufus merupakan sebab terbesar untuk mendapatkan keberuntungan. Diantara bukti untuk ini adalah Allah ta’ala sampai bersumpah 8 kali secara berturut-turut dalam surat asy-Syams agar hamba mewujudkannya. Allah ta’ala berfirman:

 

والشمس وضحها (1) والقمر إذا تلاها (2) والنهار إذا جلها (3) والليل إذا يغشاها (4) والسماء ومابناها (5) والأرضِ وما طحاها (6) ونفس وما سواها (7) فألهمها فجورها وتقواها (8) قد أفلح من زكاها (9) وقد خاب من دساها (10).

 

Artinya, “(1) Demi matahari dan sinarnya pada pagi hari (2) Demi bulan apabila mengiringinya (3) Demi siang apabila menampakkannya (4) Demi malam apabila menutupinya (gelap gulita) (5) Demi langit serta pembinaannya (yang menakjubkan) (6) Demi bumi serta penghamparannya (7) Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)-Nya (8). Maka dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya (9) Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu) (10) Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya. [QS. Asy-Syams: 1-10]

 

  1. Tazkiyatun nufus merupakan seperempat dari risalah kenabian. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

 

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولاً مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ) (آل عمران:164(

 

Artinya, “Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika (Allah) mengutus seorang rasul (Muhammad) di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, mengajarkan kepada mereka al-Kitab (al-quran) dan dan hikmah (sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” [QS. Ali ‘Imrân: 164].

 

  1. Tazkiyatun nufus adalah mahkota dakwah para Nabi setelah Inilah Nabi Musa ‘alaihi salam yang berkata kepada Fir’aun:

هل لك إلى ان تزكى () وأهديك إلى ربك فتخشى ()

 

Artinya, “Adakah keinginanmu untuk membersihkan diri? Dan engkau akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar engkau takut kepada-Nya. [QS. An-Nâzi’at: 18-19]

 

  1. Tazkiyatun Nufus adalah sebab terbesar meraih derajat yang tinggi di syurga. Allah ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَأْتِهِ مُؤْمِناً قَدْ عَمِلَ الصَّالِحَاتِ فَأُولَئِكَ لَهُمُ الدَّرَجَاتُ الْعُلَى (75) جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ جَزَاءُ مَنْ تَزَكَّى…(طه: 75-76).

 

Artinya, “Tetapi barangsiapa yang datang kepada-Nya dalam keadaan beriman, dan telah mengerjakan kebajikan , maka mereka itulah orang yang memperoleh derajat yang tinggi (mulia). (Yaitu) surga-surga ‘adn, yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal didalamnya. Itulah balasan bagi orang yang menyucikan diri. (QS. Thaha: 75-76)

 

  1. Tazkiyatun Nufus adalah salah satu doa yang sering dipanjatkan oleh Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Beliau berdoa:

 

اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا (مسلم)

 

Artinya, “Ya Allah, berilah jiwaku ketakwaannya, sucikanlah ia karena Engkau adalah sebaik-baik orang yang mensucikannya, Engkau adalah walinya dan pemiliknya.” (Muslim).

Ayyuhal ikhwah wal akhawat…

                Jiwa itu memiliki penyakit sebagaimana badan memiliki penyakit. Diantara penyakit terbesar dan yang paling mematikan bagi jiwa ada dua; syubhat dan syahwat. Dua penyakit ini Allah gabungkan sekaligus dalam surat at-Taubah ayat 69:

كالذين من قبلكم كانوا أشَدَّ منكم قوةَّ وأكثرَ أموالاً وأولادا. فاستمتعوا بخَلاَقِهمْ فاستمتعمْ بخلاقِكم كما استمتعَ الذين من قَبْلكُم بخلاقِهمْ وخُضْتُمْ كالذي خاضوا. اولئك حبطت أعملُهم فى الدنيا والأخرة واولئك هم الخاسرون.

Artinya, “(Keadaanmu hai orang-orang munafik dan musyrikin adalah) seperti keadaan orang-orang sebelum kamu, mereka lebih kuat daripada kamu, dan lebih banyak harta benda dan anak-anaknya daripada kamu. Maka mereka telah menikmati bagian mereka, dan kamu telah menikmati bagianmu sebagaimana orang-orang yang sebelummu menikmati bagiannya. Dan kamu mempercakapkan (hal yang batil) sebagaimana mereka mempercakapkannya. Mereka itu, amalannya menjadi sia-sia di dunia dan akhirat, dan mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS. At-Taubah: 69).

               

Penyakit Syubhat

 

            Penyakit syubhat ini banyak ragamnya dan bercabang-cabang. Namun, yang paling tampak dan paling luas penyebarannya dari masa ke masa, bahkan tergolong yang paling berbahaya dan dapat menjauhkan manusia dari tazkiyatun nufus adalah syubhat kesyirikan (الشرك), kemunafikan (النفاف) dan bid’ah (البدعة).

 

⟣    Syirik: Asal atau pokok dari syubhat ini adalah ghuluw dalam kecintaan pada orang-orang shalih dengan alasan sebagai bentuk taqarrub kepada Allah ta’ala, kemudian berakhir pada penghambaan kepada orang-orang shalih tersebut. (Lihat; Surat Nûh: 23-24).

⟣   Nifaq: Dimana syubhat dari penyakit ini adalah menganggap bahwa keburukan-keburukan yang mereka sembunyikan dari orang-orang beriman tidak akan tersingkap. Dan menyangka bahwa bahaya dari kemunafikan itu tidak akan kembali pada mereka. (Lihat; surat al-Baqarah: 8-10).

⟣    Bid’ah: Pokok dari syubhat ini lantaran menganggap adanya ruang bagi manusia untuk melakukan kreasi-kreasi baru dalam agama asalkan terlihat bagus dan tidak menyelisi aturan syariat menurut sangkaan mereka. Syubhat inilah yang melahirkan banyak kelompok-kelompok didalam islam, semisal; Murji’ah, Jabariyah, dll.

 

Penyakit Syahwat

 

            Ketika syahwat menyimpang dari jalur yang sebenarnya, maka syahwat akan berubah menjadi penyakit. Penyebab utama dari penyimpangan syahwat karena diikutinya hawa nafsu dan hubbundunya lebih dikedepankan dibanding ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Diantara penyakit yang ditimbulkan oleh syahwat; Cinta pada diri sendiri dan cinta pada kedudukan (حب النفس وحب الجاه), cinta harta (حب المال), syahwat perut (شهوة البطن), dan syahwat kemaluan (شهوة الفرج).

 

⟣    Cinta pada diri sendiri dan cinta pada kedudukan: Penyakit ini menghantarkan seseorang untuk senantiasa mencari kesempurnaan diri. Apa saja yang menguntungkan dirinya sekalipun mengorbankan hak orang lain akan ia lakukan. Dia menyangka bahwa kebahagiannya dapat terwujud dengan hal itu. Adapun cinta pada kedudukan dan kemuliaan maka ini adalah buah dari kecintaan pada diri sendiri. Ibnu Rajab berkata bahwa antusiasnya seseorang terhadap kedudukan lebih membinasakan daripada antusiasnya seseorang terhadap harta, lantaran harta dikorbankan untuk mendapatkan kedudukan dan kemuliaan.[5] Dari dua penyakit ini akan lahir penyakit yang lain, yaitu; riyâ’, sombong dan merasa lebih dibanding orang lain, takjub terhadap diri sendiri serta menyukai pujian, egois, pelit, hasad, dan sering marah.

 

⟣   Syahwat cinta pada dunia: Harta adalah fitnah (lihat: QS. At-Taghâbun 15-16). Namun amat sedikit orang yang bersabar dalam hal ini. Banyak diantara manusia melampaui batas dalam hal kecintaan pada harta sehingga harta menguasai jiwa pemiliknya. Penyakit ini melahirkan penyakit-penyakit lainnya, diantara; Kekhawatiran dan kegelisahan (Qs. Al-Maârij: 19-25), tamak dan pelit, menghalangi dirinya dari ketaatan kepada Allah dan Rasulnya serta terjatuh dalam kemaksiyatan.

 

Syahwat perut: Ini adalah naluri yang dimiliki oleh seluruh manusia, tua, muda, besar dan kecil. Namun tidak jarang syahwat perut mengalahkan sipemiliknya. Ibnul Qayyim berkata, “Di antara perkara yang merusak hati adalah makanan. Kerusakan yang ditimbulkan dari makanan ada dua; pertama, kerusakan yang datang dari zatnya seperti makanan yang diharamkan..kedua, kerusakan yang datang karena melampui kadar dan batasnya seperti boros pada perkara halal serta kenyang yang berlebihan..”[6]

 

⟣    Syahwat kemaluan: Penyimpangan dalam hal ini menjadikan pelakunya laksana binatang ternak. Tidak ada yang membedakan dirinya dengan binatang ternak melainkan bentuk tubuh dan kemampuan berbicara. Disebabkan karena syahwat kemaluan ia tidak sanggup mengontrol indra-indra lainnya; mata, kaki, hidung, telinga, dan tangan. Penyakit ini mewariskan penyakit lainnya, diantaranya; Kerasnya hati serta lemahnya iman, banyak terjatuh dalam kemaksiyatan, serta hilangnya rasa malu.

 

 

Ayyuhal ikhwah wal akhwat..

               

Sarana untuk mensucikan jiwa dan kaitannya dengan ruqyatus syar’iyyah

 

            Allah ta’ala berfirman, “Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu). Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”

                Tazkiyatun Nufus (mensucikan jiwa) ada dua; tazkiyatun nufûs bil akhbâr (mensucikan diri dengan jalan menginformasikan kepada orang-orang) dan tazkiyatun nufus bil-‘amal (mensucikan diri dengan mengerjakan amal shalih).

 

                Tazkiyatun nufus yang pertama adalah tercela. Allah subhânahu wa ta’ala berfirman:

 

: { فلا تزكوا أنفسكم } [النجم:32] وقوله سبحانه وتعالى: { ألم تر إلى الذين يزكون أنفسهم بل الله يزكي من يشاء } [النساء:49]

 

                Adapun tazkiyatun nufus yang kedua maka itulah yang dituntut sebagaimana yang difirman oleh Allah ta’ala di atas.

 

Lalu, apakah sarana untuk mewujudkan jiwa yang bersih? Berikut sarana-sarana untuk membersihkan jiwa sebagaimana yang ditulis oleh para ulama dan coba kita kaitkan dengan kegagalan yang dialami oleh pasien yang kesurupan, atau yang terkena sihir dalam pengobatan ruqyatus syar’iyyah atau lambatnya kesembuhan.

  1. Menuntut ilmu yang bermanfaat: Yaitu setiap ilmu yang dapat mendekatkan diri kita kepada Allah, menambah rasa takut kepada-Nya, dan yang mendorong hamba untuk mengerjakan amal shalih. Dan ini adalah sarana dasar dan utama dalam mensucikan jiwa dari berbagai kotoran dan penyakit. Dengan ilmu;

Seseorang dapat mengetahui aqidah yang shahih dari aqidah yang batil. Bagi orang atau pasien yang tidak menuntut ilmu maka ia tidak bisa membedakan diantara keduanya. Disaat ia melakukan pengobatan ruqyatus syar’iyyah diwaktu yang bersamaan jiwanya masih amat tergantung dengan kesyirikan, meyakini berbagai macam khurafat, menyimpan jimat, menyembelih hewan untuk jin, tidak selektif dalam memilih tabib, dll.

Seseorang dapat mengetahui hakikat dari sesuatu, semisal sakit yang diderita seorang hamba. Bagi pasien yang tidak menuntut ilmu maka ia akan melihat penyakit itu sebagai hal yang menakutkan sekaligus menjengkelkan. Ia tidak tahu, bahwa kesusahan, kesedihan, dan rasa sakit yang diderita seorang hamba kecuali akan menghapus dosa-dosanya,[7] dan juga sebagai pelajaran/peringatan di masa mendatang.[8] Bahkan ada di antara salaf yang meminta sakit demam setelah mengetahui keutamaan demam.[9]

Bagi pasien yang tidak memiliki ilmu akan menyangka bahwa pengobatan ruqyatusy syar’iyyah hanya dilakukan dengan sekali atau dua kali pertemuan, dan merasa gagal dengan pengobatannya jika melewati masa tersebut. Ia berpedoman bahwa Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam jika meruqyah shahabatnya sembuh dengan sekali pertemuan. Namun ia lupa bahwa kesembuhan itu datangnya dari Allah, Allah menurunkan kesembuhan sesuai dengan yang ia kehendaki. Dan juga bahwa mengusir jin dengan sekali usiran adalah kekhususan Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, di mana tidak ada seorang pun –setinggi apapun kedudukannya- yang dapat memerintahkan jin atau setan untuk keluar lalu ia mentaatinya. Yang menguatkan ini adalah salah seorang shahabat ada yang mengobati pasien gila dan tidak sembuh kecuali setelah 6 pertemuan dalam masa tiga hari.[10]

⟣    Seseorang dapat membedakan antara yang halal dan yang haram; Ketidakmampuan pasien memisahkan dua hal ini merupakan faktor kegagalan dari pengobatan ruqyatuts syar’iyyah. Semisal, pasien tahu bahwa pengobatan ruqyatusy syar’iyyah amat bersandar pada doa. Namun di sisi yang lain ia belum berlepas diri dari harta yang haram. Makanan, minuman, pakaian, bahkan harta yang ia gunakan untuk pengobatan menggunakan harta haram. Padahal diantara hal yang menyebabkan terkabulnya doa seseorang adalah ketika ia terjaga dari harta yang haram.[11] Yang semisal dengan ini adalah kedurhakaan sang pasien kepada kedua orang tua[12] dan tidak taatnya seorang istri pada suami[13]. Di samping doanya tidak terkabulkan karena kedurhakaannya dan di sisi lain ia mendapatkan doa keburukan dari orang yang ia zhalimi. Begitu juga dengan kebiasaan sang pasien yang menyimpan patung dan lukisan-lukisan makhluk hidup dirumahnya; disuatu sisi ia memohon perlindungan kepada Allah dari gangguan setan/jin namun disisi lain ia telah menghalangi tentara-tentara Allah (para malaikat) masuk ke rumahnya dengan keberadaan patung dan lukisan-lukisan tersebut.[14] Atau sang pasien rutin membaca Al-Baqarah untuk mengusir setan namun didalam rumah penuh dengan alunan music dan tontonan2 yang tidak beretika.

⟣   Dengan ilmu seseorang akan terselamatkan dari sumber-sumber yang membinasakan; Sebab manusia tidak melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya melainkan karena kejahilannya. Misalnya, seorang pasien yang sering menyebarkan berita tentang dirinya yang tengah melakukan pengobatan ruqyatusy syar’iyyah berikut dengan pencapaian-pencapaian yang telah ia dapati. Jika penyakit pasien disebabkan karena sihir, maka tidak menutup kemungkinan sipenyihir melakukan upaya-upaya lain yang lebih besar untuk mencelakakan si pasien. Atau pasien wanita berkhalwat dengan laki-laki yang mengobatinya.[15]. Termasuk dalam hal ini adalah munculnya rasa putus asa dalam pengobatan atau datang kepada seorang ahli ruqyah yang mengklaim bahwa dirinya memiliki jin muslim yang senantiasa membantunya dalam menangani pasien kesurupan, tersihir, dll.

  1. Mengerjakan amal shalih: Antara ilmu yang bermanfaat dengan amal shalih keduanya memiliki ikatan yang amat kuat. Ilmu yang yang tidak membuahkan amal bukanlah ilmu yang bermanfaat[16]. Sedang amal yang tidak berlandaskan ilmu syar’I, tidak bersesuaian dengan al-Qur`an dan sunnah maka amalannya tertolak. Amal shalih pengaruhnya amat besar dalam membersihkan dan mensucikan jiwa[17]. Ia merupakan kebutuhan hati bagi kehidupan jasad. Sementara itu, perbuatan maksiyat bagaikan makanan beracun yang sudah tentu merusak hati. Di antara amalan-amalan yang paling menonjol adalah:

Shalat: Shalat memiliki kedudukan yang agung dalam Islam; ia adalah tiang agama, kunci syurga, serta amalan yang pertama kali dihisab pada hari kiamat[18] Shalat yang bermanfaat bagi pelakunya dalam hal penyucian jiwa[19] adalah ketika ia dikerjakan dengan penuh keikhlasan, sesuai dengan al-quran dan as-sunnah, menjaga kekhusyuan didalamnya[20], mentadabburi ayat-ayat yang dibaca di dalamnya, serta meyakini bahwa shalat yang dikerjakannya akan ditanya oleh Allah pada hari kiamat.

Sebagian pasien melalaikan urusan ini, shalat yang dikerjakannya hanya sekedar untuk menggugurkan kewajibannya bahkan tidak sedikit diantara pasien yang meninggalkan shalat lantaran pasrah kepada kehendak dan kemauan setan. Sepanjang waktu ia hanya berada dipembaringannya, ia tidak berupaya melakukan perbuatan-perbuatan yang bermanfaat untuk dunia dan akhiratnya. Ia menyangka bahwa setan telah menguasai kehendak dan kemauannya disebabkan karena sihir dan sentuhan jin. Padahal yang benar, jin boleh jadi menguasai tubuh manusia namun ia tidak menguasai kehendak kita. Kisah Ummu Zufar wanita hitam yang kesurupan adalah contoh kuat dalam masalah ini.[21]

Zakat dan Shadaqah: Dinamakan dengan zakat lantaran padanya terdapat pengharapan yang besar akan keberkahan harta dan kesucian jiwa. Dalam kamus lisânul ‘arab (14/358) kata zakat berasal dari kata az-Zakâu yang bermakna tumbuh (berkembang), suci, dan berkah. Dalam hal ini Allah berfirman[22]:  Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.” (QS. At-Taubah: 103). Agar zakat dan shadaqah ini berefek pada pensucian jiwa[23] maka ia harus dilakukan dengan penuh keikhlasan serta jauh dari riya’ dan menginfakkan dari harta yang ia sukai bukan dari harta yang tidak ia sukai. Karena besarnya manfaat ukhrawi dari shadaqah ini hingga setan selalu hadir didekat orang-orang yang hendak bersedekah dengan menakut-nakutinya akan kefakiran dan kemiskinan.[24] Maka pasien yang terkena penyakit sihir dan kerasukan tidak boleh melupakan sisi ini, yaitu bersedekah. Ia tidak boleh berlaku pelit dan menahan hartanya. Namun perlu diingat bahwa bersedekah adalah salah satu sebab untuk mendapatkan rahmat Allah. Karenanya, seseorang tidak diperkenankan bergantung dengan amal atau ibadah namun kosong dari keikhlashan. Jika motivasi pasien bersedekah hanya untuk mendapatkan kesembuhan semata tidak didasari dengan keikhlasan maka yang sering terjadi amalan tersebut akan berhenti seiring dengan datangnya kesembuhan. Sedekah hanya diposisikan sebagai penangkal/penawar dan digunakan sewaktu-waktu saat ada dalam kondisi darurat.

Puasa: Di antara hikmah Allah mensyariatkan puasa Ramadhan dan puasa-puasa sunnah lainnya adalah untuk membebaskan manusia dari dominasi nafsunya dan mengalahkan dorongan-dorongan syahwatnya. Sumber kekuatan dan syahwat ialah makanan. Meminimalisir makan bisa melemahkan keduanya. Dengan berpuasa aliran darah yang merupakan jalannya setan menjadi sempit sehingga setan pun terhalang untuk menggoda.[25] Maka seyogyanya bagi yang menjalani proses ruqyah hendaknya tidak terlalu berlebihan dalam mengkomsumsi makanan dan sebaiknya sesering mungkin untuk melakukan puasa sunnah. Luqman berkata kepada putranya, “Wahai anakku, jika lambung penuh dengan makanan, maka pikiran akan tidur, hikmah akan bisu, dan semua anggota-anggota tubuh berhenti dari aktivitas ibadah.”

Membaca al-Quran: Membaca Al-Qur`an adalah merupakan salah satu bentuk teragung dalam bertaqarrub [mendekatkan diri] kepada Allah Ta’ala dan juga merupakan jalan untuk menuju pada kemuliaan hidup di dunia dan di akhirat. Al-Quran adalah penawar dan rahmat bagi orang-orang beriman. Allah ta’ala berfirman:

وَنُنَزِّل مِنْ الْقُرْآن مَا هُوَ شِفَاء وَرَحْمَة لِلْمُؤْمِنِينَ.

 

Artinya, “Dan Kami turunkan dari al-Qur`an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang beriman.” [QS. Al-Isrâ`: 82].

 

Membaca yang dapat mendatangkan kemuliaan, yang dapat mendatangkan faedah, rahmat, penawar, dan pahala yang besar adalah membaca dengan memperhatikan dan mengamalkan etika-etika didalam membacanya. Sedang membaca tanpa memperdulikan atau mengabaikan etika-etikanya, tidak memperhatikan aturan serta hak-haknya kemudian tidak memenuhi tuntunan-tuntunan yang terkadung didalamnya maka kelak Al-Qur`an akan menjadi bukti yang membinasakan diri kita atau menjadi musuh di hari kiamat. Rasulullah Sallallâhu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Al-Qur`an itu merupakan hujjah [bukti] yang menguntungkanmu atau merugikanmu. [HR. Muslim]. Di antara sebab lambatnya kesembuhan orang yang menjalani proses ruqyatusy syar’iyyah adalah meninggalkan bacaan al-Qur`an atau membaca al-Qur`an namun tidak memperhatikan etika-etika saat membacanya seperti dengan tidak memperhatikan tajwidnya, tidak berlaku khusyu’, dan tidak merasakan akan keagungan Allah ta’ala. Termasuk dalam kasus ini adalah pasien yang hanya bersandar dengan bacaan si peruqyah saat berada di majelis atau hanya bersandar pada kaset ruqyah dan sama sekali tidak tergerak untuk membaca al-Quran.

Berdoa dan Berdzikir: Zikir adalah penerang dan pengkilap hati. Ia juga obat hati bila terjangkiti penyakit. Ibnul Qayyîm berkata dalam kitab al-Wâbil ash-Syayyib, “Dzikir bisa membuat hati berkilau dan menghilangkan karatnya. Karena segala sesuatu memiliki karat, sedangkan karat hati ialah lalai dan mengikuti hawa nafsu. Adapun cara untuk mengkilapkannya ialah dengan dzikir, taubat dan istighfar.” Adapun doa maka ia adalah senjata yang amat tajam, instrumen yang siap pakai, sarana termudah untuk meraih harapan, dan jalan efektif untuk mengantarkan kita menuju keberhasilan. Siapapun yang menempuh jalan ini pasti sukses dan beruntung. Ibnul Qayyim berkata, “Doa termasuk obat yang paling bermanfaat, dia adalah musuh bala’, menolak dan mengobati, mencegah turunnya serta mengangkatnya, atau meringankannya saat menimpa kita.” Maka kesalahan besar bagi orang yang hendak mensucikan jiwa atau bagi mereka yang terkena ganguan jin atau sihir melalaikan atau mengabaikan dzikir pagi petang serta doa-doa perlindungan lainnya. Ia lupa bahwa dzikir adalah senjata sekaligus benteng dari musuh yang senantiasa mengintai.[26]

Shalat Malam: Seutama-utama shalat setelah shalat fardhu adalah qiyâmul lail. Ia adalah ibadah orang-orang shalih sebelum kita. Dengannya derajat seseorang dapat terangkat pada tempat yang terpuji[27] dan padanya terdapat waktu utama untuk berdoa[28]. Bagi yang terkena ikatan sihir atau gangguan jin maka shalat malam adalah salah satu wasilah yang sangat bermanfaat untuk melepaskan gangguan tersebut khususnya di sepertiga malam terakhir lantaran pada waktu-waktu itu Allah mengabulkan doa yang dipanjatkan oleh hambanya.

  1. Muhasabah dan Taubat: Muhasabah atau intropeksi diri adalah salah satu wasilah yang paling menonjol untuk mensucikan diri. Dimana seseorang menghisab amalnya sendiri sebelum Allah menghisabnya pada hari kiamat kelak. Apabila ia mendapati dirinya ada dalam kebaikan maka ia memuji Allah atas nikmat tersebut dan bertekad untuk melakukan yang lebih baik dari sebelumnya. Namun apabila ia mendapati keburukan dari amalnya maka ia menyesalinya dan bersegera bertaubat darinya. Allah ta’ala berfirman:

 

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

 

Artinya, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS: Al-Hasyr Ayat: 18). Umar radhiyallâhu ‘anhu berkata, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan timbanglah amal kalian sebelum ditimbang. Menghisab diri hari ini akan meringankan hisab kelak (pada hari kiamat). Timbang-timbanglah amal kalian untuk hari kiamat yang pada hari itu amal perbuatan kalian ditampakkan, tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari kalian.” (HR. At-Tirmidzi 9/282). Faktor lain dari gagalnya seseorang dalam pengobatan adalah lambatnya ia bertaubat, serta tidak menunjukkan kesungguhannya dalam beragama. Maka bagi mereka yang terkena sihir atau terkena gangguan jin maka sebelum memutuskan untuk melakukan pengobatan ruqyatusy syar’iyyah ia terlebih dahulu bertaubat dan bersungguh-sungguh dalam beragama.

  1. Berkawan dengan orang-orang shalih; Lantaran Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” [ Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927] Syaikh As-Sa’di berkata, “Kebaikan yang akan diperoleh seorang hamba yang berteman dengan orang yang shalih lebih banyak dan lebih utama daripada harumnya aroma minyak wangi. Dia akan mengajarkan kepadamu hal-hal yang bermanfaat bagi dunia dan agamamu. Dia juga akan memberimu nasihat. Dia juga akan mengingatkan dari hal-hal yang membuatmu celaka. Di juga senantiasa memotivasi dirimu untuk mentaati Allah, berbakti kepada kedua orangtua, menyambung silaturahmi, dan bersabar dengan kekurangan dirimu. Dia juga mengajak untuk berakhlak mulia baik dalam perkataan, perbuatan, maupun bersikap. Sesungguhnya seseorang akan mengikuti sahabat atau teman dekatnya dalam tabiat dan perilakunya. Keduanya saling terikat satu sama lain, baik dalam kebaikan maupun dalam kondisi sebaliknya.

 

Jika kita tidak mendapatkan kebaikan-kebaikan di atas, masih ada manfaat lain yang penting jika berteman dengan orang yang shalih. Minimal diri kita akan tercegah dari perbuatan-perbuatn buruk dan maksiat. Teman yang shalih akan senantiasa menjaga dari maksiat, dan mengajak berlomba-lomba dalam kebaikan, serta meninggalkan kejelekan. Dia juga akan senantiasa menjagamu baik ketika bersamamu maupun tidak, dia juga akan memberimu manfaat dengan kecintaanya dan doanya kepadamu, baik ketika engkau masih hidup maupun setelah engkau tiada. Dia juga akan membantu menghilangkan kesulitanmu karena persahabatannya denganmu dan kecintaanya kepadamu. (Bahjatu Quluubil Abrar, 148)

 

Sebaliknya, bergaul dengan teman yang buruk juga ada dua kemungkinan yang kedua-duanya buruk. Kita akan menjadi jelek atau kita akan ikut memperoleh kejelekan yang dilakukan teman kita. Syaikh As Sa’di rahimahulah juga menjelaskan bahwa berteman dengan teman yang buruk memberikan dampak yang sebaliknya. Orang yang bersifat jelek dapat mendatangkan bahaya bagi orang yang berteman dengannya, dapat mendatangkan keburukan dari segala aspek bagi orang yang bergaul bersamanya. Sungguh betapa banyak kaum yang hancur karena sebab keburukan-keburukan mereka, dan betapa banyak orang yang mengikuti sahabat-sahabat mereka menuju kehancuran, baik mereka sadari maupun tidak. Oleh karena itu, sungguh merupakan nikmat Allah yang paling besar bagi seorang hamba yang beriman yaitu Allah memberinya taufik berupa teman yang baik. Sebaliknya, hukuman bagi seorang hamba adalah Allah mengujinya dengan teman yang buruk. (Bahjatu Qulubil Abrar, 185).

 

Permasalahan berkawan dengan kawan yang buruk kadang kurang diperhatikan oleh pasien ruqyatusy syar’iyyah, sehingga disaat ia merasa gagal dengan pengobatannya maka ia tergoda dengan nasehat buruk kawan-kawan dekatnya untuk mendatangi dukun. Dengan demikian ia terjeremus kedalam kebinasaan.[29]

[1]     Dipresentasikan dalam acara Ruqyatusy-Syar’iyyah Nasional di STIKES Banyuwangi. Pada tanggal 2 Jumadal Ula 1436 H. / 21 Februari 2015 M.

[2]     Dalam riwayat yang lain, “Pada kedua sisinya terdapat dua dinding yang mempunyai pintu-pintu yang terbuka…”[Ahmad dalam Musnadnya 4/182, 183] (Pentj.)

[3]     Dalam riwayat yang lain, “Dua dinding tersebut adalah batasan-batasan Allah..” [Ahmad dalam Musnadnya 4/182, 183] (Pentj.)

[4]     [Shahih dengan syawahidnya: Diriwayatkan oleh al-Mushannif (35), dan Ahmad 5/251]

[5] Syarh hadits: ما ذئبان جائعان ص. 20

[6] Madârijus Sâlikin.

[7]عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : ” مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبِ وَلا وَصَبٍ وَلاهَمٍ ، وَلا حَزَنٍ وَلا غَمٍّ ، وَلا أَذًى ، حَتَّى الشَّوْكَةُ يُشَاكُهَا ، إِلا كَفَّرَ اللَّهُ تَعَالَى بِهَا خَطَايَاهُ ” .

Artinya: Seorang muslim tidak ditimpa oleh rasa letih (payah), penyakit, gelisah, sedih, gundah, gangguan, hingga duri yang tertancap padanya, melainkan Allah menghapuskan dosa-dosanya. (HR. Al-Bukhari)

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” لا يَزَالُ الْبَلاءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي جَسَدِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ مِنْ خَطِيئَةٍ.

 

Artinya: “Cobaan itu selalu ada pada orang mukmin dan mukminah pada jasadnya, hartanya, dan anaknya hingga ia bertemu Allah tanpa membawa dosa.” (Shahih. HR. At-Tirmidzi)

 

[8] وعن شقيق بن عبد الله قال: مرض عبد الله بن مسعود فعدناه، فجعل يبكي فعوتب فقال: إني لا أبكي لأجل المرض لأني سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: ((المرض كفارة))، وأنا أبكي أنه أصابني على فترة ولم يصبني في حال اجتهاد، لأنه يكتب للعبد من الأجر إذا مرض ما كان يكتب له قبل أن يمرض فمنعه منه المرض. أخرجه رزين كما في (جامع الأصول) لابن الأثير.

 

Artinya: Aku menangis lantaran sakit ini datang menimpaku saat aku tidak lagi semangat (future) dan tidak menimpaku saat aku dalam kondisi bersungguh2 ibadah. Karena jika seorang hamba sakit maka akan ditulis untuknya seperti apa yang diamalkannya dalam keadaan sehat.” Shahih. Adabul Mufrad.

[9] Dari Abu Said, ia berkata :  Ubay berkata :

يَا رَسُوْلَ الله! مَا جَزَاءُ الحُمَّى؟ قَالَ: “تُجْري الحَسَنَات عَلَى صَاحِبِهَا”، فَقَالَ: اللَّهُمَّ إنّي أَسْأَلُكَ حُمَّى لاَ تَمْنَعُنِي خُرُوْجا في سَبيْلكَ. فَلَمْ يُمْس أُبَيٌّ قَطُّ إلاَّ وَبه الحُمَّى.

Artinya: Wahai Rasulullah, apakah balasannya penyakit demam? Nabi shallallahu alaihi wasallam menjawab : “Kebaikan akan mengalir pada penderitanya”, lalu dia berdoa : “Ya, Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu penyakit demam yang tidak menghalangiku untuk keluar berjihad di jalan-Mu”, maka tidaklah Ubay disentuh sekalipun melainkan ada demam pada dirinya.” HR Ahmad, dan dishahihkan Ibnu Hibban, dan diriwayatkan pula oleh  ath-Thabrani. [Lihat shahih at-Tharghib karya al-Albani hadits No 3444,]

[10]     عَنْ خَارِجَةَ بْنِ الصَّلْتِ التَّمِيمِيِّ عَنْ عَمِّهِ أَنَّهُ أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَسْلَمَ ثُمَّ أَقْبَلَ رَاجِعًا مِنْ عِنْدِهِ فَمَرَّ عَلَى قَوْمٍ عِنْدَهُمْ رَجُلٌ مَجْنُونٌ مُوثَقٌ بِالْحَدِيدِ فَقَالَ أَهْلُهُ إِنَّا حُدِّثْنَا أَنَّ صَاحِبَكُمْ هَذَا قَدْ جَاءَ بِخَيْرٍ فَهَلْ عِنْدَكَ شَيْءٌ تُدَاوِيهِ فَرَقَيْتُهُ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَبَرَأَ فَأَعْطَوْنِي مِائَةَ شَاةٍ فَأَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرْتُهُ فَقَالَ هَلْ إِلَّا هَذَا وَقَالَ مُسَدَّدٌ فِي مَوْضِعٍ آخَرَ هَلْ قُلْتَ غَيْرَ هَذَا قُلْتُ لَا قَالَ خُذْهَا فَلَعَمْرِي لَمَنْ أَكَلَ بِرُقْيَةِ بَاطِلٍ لَقَدْ أَكَلْتَ بِرُقْيَةِ حَقٍّ – وفى رواية: عَنْ خَارِجَةَ بْنِ الصَّلْتِ عَنْ عَمِّهِ أَنَّهُ مَرَّ قَالَ فَرَقَاهُ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ غُدْوَةً وَعَشِيَّةً كُلَّمَا خَتَمَهَا جَمَعَ بُزَاقَهُ ثُمَّ تَفَلَ فَكَأَنَّمَا أُنْشِطَ مِنْ عِقَالٍ فَأَعْطَوْهُ شَيْئًا فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ ذَكَرَ مَعْنَى حَدِيثِ مُسَدَّدٍ

 

[11]    إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا ، وَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ ، فَقَالَ : يَاأَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا ( الْمُؤْمِنُونَ : 51 ) ، وَقَالَ تَعَالَى : يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ ( الْبَقَرَةِ : 172 ) ، ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ : أَشْعَثَ أَغْبَرَ ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ : يَا رَبِّ يَا رَبِّ ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ ، وَغُذِّيَ بِالْحَرَامِ ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ ؟ . رَوَاهُ مُسْلِمٌ .

 

[12] عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : ” ثَلاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ ، لا يُشَكُّ فِيهِنَّ : دَعْوَةُ الْوَالِدِ لولده ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ “

 

[13]   عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم ” إذا دعا الرجل امرأته إلى فراشه فأبت عليه لعنتها الملائكة حتى تصبح ” رواه مسلم

 

[14]   قال النبي صلى الله عليه وسلم: “لا تدخل الملائكة بيتاً فيه تماثيل أو تصاوير” (مسلم).

 

[15]          قال النبي صلى الله عليه وسلم : لا يخلون رجل بامرأة فإن ثالثهما الشيطان.”

 

[16]          قال أبو الدرداء: ويل لمن لا يعلم ولا يعمل مرة، وويل لمن يعلم ولا يعمل سبع مرات.

 

[17]   عَنْ أَبِي مَالِكٍ الْأَشْعَرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلَأُ الْمِيزَانَ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلَآَنِ أَوْ تَمْلَأُ مَا بَيْنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالصَّلَاةُ نُورٌ وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَبَايِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوبِقُهَا. مسلم

 

[18]    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : ” أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ من عمله صلاتَه ، فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ (الترمذى).

 

[19]             إن الصلاة تنهى عن الفخشاء والمنكر (العنكبوت : 45)

[20]   عن النعمان بن مرة ، أن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – قال : أسوأ السرقة الذي يسرق صلاته ، قالوا : وكيف يسرق صلاته يا رسول الله ؟ قال : لا يتم ركوعها ولا سجودها .

 

[21]     عَطَاءُ بْنُ أَبِي رَبَاحٍ ، قَالَ : قَالَ لِي ابْنُ عَبَّاسٍ : أَلا أُرِيكَ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ؟ قُلْتُ : بَلَى ، قَالَ : هَذِهِ الْمَرْأَةُ السَّوْدَاءُ أَتَتِ النَّبِيَّ ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَتْ : إِنِّي أُصْرَعُ ، وَإِنِّي أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللَّهَ لِي ، فَقَالَ : ” إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الْجَنَّةُ ، وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللَّهَ تَعَالَى أَنْ يُعَافِيَكِ ” ، فَقَالَتْ : أَصْبِرُ ، قَالَتْ : إِنِّي أَتَكَشَّفُ ، فَادْعُ اللَّهَ أَلا أَتَكَشَّفَ ، فَدَعَا لَهَا ” . رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ عَنْ مُسَدَّدٍ .

 

[22]       خذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

 

[23]          عن عدى بن حاتم قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: اتقوا النار ولو بشق تمرة (البخارى)

 

[24]             الشيطان يَعِدُكُمُ الفَقْرَ ويأمركم بالفحشاءِ. (البقرة : 268)

 

[25]   عَنْ صَفِيَّةَ ابْنَةِ حُيَىٍّ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – مُعْتَكِفًا ، فَأَتَيْتُهُ أَزُورُهُ لَيْلاً فَحَدَّثْتُهُ ثُمَّ قُمْتُ ، فَانْقَلَبْتُ فَقَامَ مَعِى لِيَقْلِبَنِى . وَكَانَ مَسْكَنُهَا فِى دَارِ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ ، فَمَرَّ رَجُلاَنِ مِنَ الأَنْصَارِ ، فَلَمَّا رَأَيَا النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – أَسْرَعَا ، فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « عَلَى رِسْلِكُمَا إِنَّهَا صَفِيَّةُ بِنْتُ حُيَىٍّ » . فَقَالاَ سُبْحَانَ اللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ . قَالَ « إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِى مِنَ الإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ ، وَإِنِّى خَشِيتُ أَنْ يَقْذِفَ فِى قُلُوبِكُمَا سُوءًا – أَوْ قَالَ – شَيْئًا »

               

[26]         وَآمُرُكُمْ أَنْ تَذْكُرُوا اللَّهَ فَإِنَّ مَثَلَ ذَلِكَ كَمَثَلِ رَجُلٍ خَرَجَ العَدُوُّ فِي أَثَرِهِ سِرَاعًا حَتَّى إِذَا أَتَى عَلَى حِصْنٍ حَصِينٍ فَأَحْرَزَ نَفْسَهُ مِنْهُمْ ، كَذَلِكَ العَبْدُ لاَ يُحْرِزُ نَفْسَهُ مِنَ الشَّيْطَانِ إِلاَّ بِذِكْرِ الله.

Artinya: “Aku memerintahkan kalian untuk berdzikir kepada Allah, karena perumpamaan hal itu (yakni, dzikir), seperti perumpamaan seseorang yang para musuh keluar (mengejar) di belakangnya dengan cepat, sampai ia (orang ini) datang kepada suatu benteng yang kokoh, lalu ia melindungi dirinya dari mereka (para musuh). Demikian pula seorang hamba tak akan ada yang dapat menjaga dirinya dari setan, kecuali dengan dzikrullah (berdzikir kepada Allah)”. [HR. At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (2863), Abu Ya’laa dalam Al-Musnad (1571) dan Ibnu Hibban (no. 6233)]

 

[27]          وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا (الإسراء: 79)

 

[28]         فعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ رواه البخاري( كتاب التوحيد/6940) ومسلم ( صلاة المسافرين/1262) .

[29]       من أتى عرافاً فسأله عن شيء لم تقبل له صلاة أربعين ليلة) رواه مسلم

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: