//
you're reading...
Fiqih

Sifat Jari Telunjuk Saat Tasyahhud; Lurus Menghadap Kiblat Atau Dibengkokkan?


Soal:

Saat bertasyahhud, jari telunjuk yang digunakan untuk berisyarat diluruskan atau dibengkokkan sedikit?

 

Jawab:

Berdasarkan hadits yang shahih, sifat jari telunjuk yang digunakan untuk berisyarat dalam tasyahhud adalah dengan meluruskannya kearah kiblat tanpa membengkokkannya.

Hal diatas didasarkan pada hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari ‘Ali bin ‘Abdurrahman al-Mu’âwi, ia berkata, “ ‘Abdullah bin ‘Umar pernah melihatku bermain-main dengan kerikil didalam shalat. Tatkala shalat usai, beliau melarangku dan berkata, ‘Lakukanlah seperti apa yang dilakukan oleh Rasulullah –shallallâhu ‘alaihi wa sallam!” Aku berkata, “Seperti apakah yang dilakukan oleh Rasulullah –shallallâhu ‘alaihi wa sallâm?” Beliau berkata:

 

كان إذا جلس في الصلاة وضع كفه اليمنى على فخذه اليمنى وقبض أصابعه كلها وأشار بأصبعه التي تلي الإبهام (إلى القبلة) ووضع كفه اليسرى على فخذه اليسرى.

 

Artinya, “Apabila Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam duduk didalam shalat, beliau meletakkan telapak kanannya diatas pahanya yang kanan seraya mengepalkan semua jemarinya, dan mengisyaratkan jari telunjuk yang mengiringi  ibu jarinya (ke arah kiblat). Beliau juga meletakkan tangan kirinya diatas paha kirinya. [HR. Muslim 1/408]

 

Tambahan (ke arah kiblat) pada hadits Muslim diatas adalah tambahan shahih yang datangnya dari Imam an-Nasai (2/236), Shahih Ibnu Khuzaimah (1/359), Shahih Ibnu Hibbân (2/310), Shahih Abu ‘Awânah (2/243), Sunan al-Baihaqi (2/132), Ibnul Mundzir dalam al-Awsath (3/216), Ibnu Jârud (no. 208) dengan maknanya.

 

Menyifati jari telunjuk dengan membengkok saat berisyarat dalam tasyahhud adalah penyifatan yang bersifat tambahan. Dan sifat tambahan seperti ini butuh pada dalil yang shahih. Benar, terdapat hadits yang menyifati demikian namun pendapat yang rajih bahwa hadits tersebut tidaklah shahih.

 

 

Hadits membengkokkan jari telunjuk berikut derajat haditsnya

           

Hadits membengkokkan jari telunjuk diriwayatkan oleh Abu Dâwud (1/604) dengan sanad sebagai berikut:

 

حدثنا عبد الله بن محمد النفيلى ثنا عثمان يعني ابن عبد الرحمن ثنا عصام بن قدامة من بني بجيلة عن مالك بن نمير الخزاعي عن أبيه قال: رأيت النبي –صلى الله عليه وسلم- واضعا ذراعه اليمنى على فخذه اليمنى رافعا أصبعه السبابة قد حناها شيئا.

Artinya: Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Muhammad an-Nufaili, telah menceritakan kepada kami ‘Utsmân  yakni Ibnu ‘Abdirrahman, telah menceritakan kepada kami ‘Ishâm bin Qudâmah (berasal) dari bani Bajilah dari Mâlik bin Numair al-Khuzâ’I dari bapaknya, ia berkata, “Aku pernah melihat Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam meletakkan lengan kanannya diatas paha kanannya sambil mengangkat jari telunjuknya dan membengkokkannya sedikit.” [HR. Abu Dâwud 1/604]

           

Hadits diatas juga diriwayatkan oleh:

 

  1. Imam Ahmad (3/471) dari Yahya bin Adam dari ‘Ishâm bin Qudâmah dari Mâlik bin Numair dari bapaknya.

 

  1. Ibnu Khuzaimah (1/354) dari ‘Abdul A’la bin Wâshil bin ‘Abdul A’la dari Fadhl dari ‘Ishâm bin Qudâmah dari Mâlik bin Numair dari bapaknya.

 

  1. Al-Baihaqi (2/131) Dari Abu Sa’îd Muhammad bin Mûsa bin al-Fadhl dari Abu Abdillah Muhammad bin Abdullah ash-Shaffâr al-Ashbahâni dari Ahmad bin Muhammad al-Burti al-Qâdhi dari Abu Nu’aim al-Fadhl bin Dakîn dari ‘Ishâm bin Qudâmah dari Mâlik bin Numair al-Bajali dari Mâlik bin Numair al-Khuzâ’I dari bapaknya.

 

  1. Ibnu Hibbân (3/309) dari Abu Ya’la dari Mujâhid bin Mûsa dari al-Makhrami dari Syu’aib bin Harb al-Madâini dari ‘Ishâm bin Qudâmah al-Jadali dari Mâlik bin Numair al-Khuzâ’I dari bapaknya.

           

Dari sekian jalur periwayatan yang terlihat pada hadits diatas (yaitu membengkokkan jari telunjuk), inti sebenarnya hanya berasal dari satu jalur yaitu dari jalur ‘Ishâm bin Qudâmah dari Mâlik bin Numair al-Khuzâ’I dari bapaknya, yaitu Numair al-Khuzâ’I dari Nabi shallallâllâhu ‘alaihi wa sallam.  Sedang yang meriwayatkan dari ‘Ishâm adalah ‘Utsmân bin ‘Abdurrahman, Yahya bin Adam, al-Fadhl bin Dakîn (Abu Nu’aim), dan Syu’aib bin Harb.

 

Namun perlu diketahui, bahwa ada beberapa rawi yang meriwayatkan dari ‘Ishâm bin Qudâmah menyebutkan hadits diatas tanpa menggunakan tambahan lafazh ‘membengkokkan’, hadits-hadits tersebut diriwayatkan oleh:

 

  1. Imam an-Nasâi (3/38):

حدثنا محمد بن عبد الله بن عمار الموصلى عن المعافى عن عصام بن قدامة عن مالك وهو ابن نمير الخزاعى عن أبيه قال: رأيت رسول الله –صلى الله عليه وسلم- واضعا يده اليمنى على فخذه اليمنى فى الصلاة ويشير بأصبعه.

Artinya, “Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdillah bin ‘Ammâr al-Maushuli dari al-Mu’âfi dari ‘Ishâm bin Qudâmah dari Mâlik dan ia adalah putra Numair al-Khuzâ’I dari bapaknya (Numair al-Khuzâ’i) ia berkata, “Aku pernah melihat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangannya yang kanan diatas pahanya yang kanan didalam shalat seraya mengisyaratkan jari telunjuknya.”

 

  1. Imam an-Nasâi (3/29): Dari Ahmad bin Yahya ash-Shûfi dari Abu Nu’aim dari ‘Ishâm bin Qudamah al-Jadali dari Mâlik bin Numair al-Khuzâ’I (berasal) dari penduduk Bashrah dari bapaknya.

 

  1. Ibnu Mâjah (1/259): Dari Abu Bakar bin Abi Syaibah dari Wakî’ dari ‘Ishâm bin Qudâmah dari Mâlik bin Numair al-Khuzâ’I dari bapaknya.

 

  1. Ahmad (1/471): Dari Wakî’ dari ‘Ishâm bin Qudâmah dari Mâlik bin Numair al-Khuzâ’I dari bapaknya.

 

  1. Ibnu Abi Syaibah (2/485): Dari Wakî’ dari ‘Ishâm bin Qudâmah dari Mâlik bin Numair al-Khuzâ’I dari bapaknya.

 

  1. Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya (1/354): Dari Hârun bin Ishâq dari Bahz dari ‘Ishâm bin Qudâmah dari Mâlik bin Numair al-Khuzâ’I dari bapaknya.

 

Membahas satu persatu rawi yang meriwayatkan dari ‘Ishâm bin Qudâmah tentu butuh pada pemaparan yang panjang namun intinya bahwa perawi-perawi tersebut umumnya tsiqah namun ada pula yang dha’îf.

 

 

Lalu bagaimana dengan status Numair al-Khuzâ’I, Mâlik bin Numair, dan ‘Ishâm bin Qudâmah?

 

            Numair al-Khuzâ’I adalah shahabat Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, demikian yang ditegaskan oleh al-Baghawi dan Ibnu ‘Abdil Bâr dalam al-Isti’âb (2673), Ibnul Atsîr dalam Usdul Ghâbah (5032), dan Ibnu Hajar dalam al-Ishâbah fi Tamyîzisi ash-Shahâbat. Beliau hanya memiliki satu hadits dan tidak ada yang meriwayatkan darinya selain ‘Ishâm bin Qudâmah dari Mâlik bin Numair dari bapaknya (yaitu Numair al-Khuzâ’i).

 

            Mâlik bin Numair putera dari shahabat Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam Numair al-Khuzâi.  Ibnul Qathhân berkata, “Mâlik bin Numair tidak diketahui keadaannya dan tidak diketahui seorang pun yang meriwayatkan darinya selain ‘Ishâm bin Qudâmah” (Bayânul wahm wal îhâm fi kitâbil ahkâm h. 1354). Imam adz-Dzahabi berkata, “Tidak diketahui/dikenal” (Al-Mîzân 3/429). Ibnu Hajar berkata, “Maqbûl (diterima)” (At-Taqrîb 2/227). Ibnu Hibbân menganggapnya tsiqah (terpercaya) (Ats-Tsiqât 5/386). Ad-Darâquthni berkata, “Yu’tabaru bihi (dirinya dianggap)” (Suâlât al-Barqâni 496).

 

            ‘Ishâm bin Qudâmah. Termasuk dari rijâl ashhabus sunan yang empat selain an-Nasai. An-Nasai dan Ibnu Hibbân menganggapnya tsiqah. Abu Zur’ah, Abu Hâtim dan Abu Dâwud berkata, “La ba’sa bihi” (dirinya tidak mengapa). Ibnu Ma’în berkata, “Shâlih”. Ad-Daraquthni berkata, “Yu’tabaru bihi”. Ibnu Hajar berkata, “Shadûq.” (Lihat aj-Jarh wa ta’dil).

 

Seperti yang terlihat pada tiga rawi diatas, ulama berbeda pendapat mengenai Mâlik bin Numair al-Khuzâ’i. Sebagian menganggapnya tsiqah (terpercaya) dalam artian riwayatnya terpakai sedang sebagian lain menganggapnya lemah lantaran tidak diketahui kondisinya.

 

Pendapat yang unggul bahwa Mâlik bin Numair al-Khuzâ’I adalah lemah berdasarkan penilaian adz-Dzahabi dan Ibnul Qaththân diatas bahwa Mâlik bin Numair tidak diketahui keadaannya.

 

Mengenai pentausiqahan Ibnu Hibbân maka tidak ada seorang pun dari ulama jarh wa ta’dil yang memberikan penilaian demikian melainkan Ibnu Hibbân sendiri. Dan Ibnu Hibbân dikalangan ahli hadits terkenal sebagi alim yang mutasahil (bergampangan) dalam memberi tautsiq. Beliau sangat sering memberi tautsiq kepada perawi yang majhul.  Adapun ungkapan imam adz-Dzahabi dalam al-Kâsyif (3/116) tentang Mâlik: Wutstsiqa : (وثق) Maka ungkapan ini berbeda dengan ungkapan ‘tsiqatun’, karena umumnya ungkapan wutstsiqa tersebut dipergunakan oleh Adz-Dzahabi untuk pentautsiqahan yang datang dari Ibnu Hibban secara berkesendirian (lihat Muqaddimah al-Kâsif oleh Muhammad al-Qawwâmah 1/30).

 

Mengenai ungkapan ‘maqbûl’ dari Ibnu Hajar seperti yang tercantum didalam at-Taqrîb, maka kalimat tersebut adalah ringkasan dari ungkapan diterima riwayatnya (maqbûl) jika memiliki pendukung kalau tidak ada maka haditsnya layyin atau lemah. Sedang hadits yang diriwayatkan oleh Mâlik bin Numair dari bapaknya diatas tidak memiliki satu pendukung pun maka hadits tersebut adalah layyîn yakni dhaîf. Oleh itulah asy-Syakh al-Albâni rahimahullahu ta’ala dalam kitabnya Tamâmul Minnah (h.222) menegaskan ungkapan Ibnu Hajar tersebut dengan ungkapan: layyinul hadits. Beliau berkata, “Yang benar bahwa hadits tersebut sanadnya lemah, lantaran didalamnya terdapat Mâlik bin Numair al-Khuzâ’I. Ibnul Qaththân dan adz-Dzahabi berkata tentang dirinya: Tidak diketahui kondisi Mâlik dan tidak ada yang meriwayatkan dari bapaknya selain dirinya. Al-Hâfidz mengisyaratkan dalam at-Taqrîb bahwa hadits tersebut adalah layyin (lemah).”

 

Adapun ungkapan ad-Darâquthni, “Yu’tabaru bihi (dirinya dianggap).” Maka yang dimaksud dengan ungkapan ini bahwa sang perawi statusnya lemah namun shalih lil I’tibâr dalam artian boleh untuk dijadikan sebagai sebagai penguat atau pendukung namun bukan hujjah dengan sendirinya. (Lihat Judul Musthalahat ulama al-jarh wa at-ta’dil oleh Abu ‘Ashim ‘Abdullah al-Ghâmidi).

 

Kesimpulan:

 

Hadits tentang membengkokkan jari telunjuk saat tasyahhud adalah lemah. Kelemahannya datang dari beberapa sisi:

 

  • Hadits-hadits yang shahih yang menyifati jari telunjuk saat berisyarat dalam tasyahhud adalah dengan mengarahkannya ke arah kiblat tanpa ada tambahan membengkokkannya. Juga, mengisyaratkan ke arah kiblat mencocoki hukum asal, yaitu saat shalat menghadap ke kiblat. Sekiranya Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuknya bukan kearah kiblat niscaya akan banyak informasi dari para perawi hadits tentang itu.
  • Hadits-hadits yang menyifati jari telunjuk dalam keadaan bengkok adalah lemah lantaran dalam sanadnya ada rawi yang bernama Mâlik bin Numair al-Khuzâ’I, dia adalah rawi yang lemah. Imam adz-Dzahabi berkata tentangnya, “Tidak diketahui keadaannya.”
  • Khusus untuk hadits Abu Dâwud yang disebutkan pada awal-awal pembahasan diatas tentang membengkokkan jari telunjuk adalah lemah. Disamping keberadaan Mâlik bin Numair yang lemah, juga karena keberadaan rawi yang bernama ‘Utsmân bin ‘Abdirrahman dia adalah rawi yang shadûq, ia banyak meriwayatkan dari orang-orang yang lemah dan majhul. Syaikh al-Albâni dalam Dha’îf Sunan Abu Dâwud (176) berkata, “Sanadnya dhaif (lemah), Mâlik bin Numair tidak dikenal dan tidak ada yang meriwayatkan dari bapaknya selain dirinya sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Qaththân dan adz-Dzahabi…sedang ‘Utsmân ini adalah ath-Tharâifi dia adalah shadûq, aibnya tidak lain lantaran ia meriwayatkan dari orang-orang yang majhûl.

 

 

 

 

 

 

Abu Halbas Muhammad Ayyûb Dja’far

29 Jumadal ‘Ula 1436 H./20 Maret 2015 M.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: