//
you're reading...
Fiqh Wanita

Jabat Tangan dan Berbocengan Dengan Wanita Bukan Mahram


Soal:

Apakah hukum bersalaman atau membonceng wanita yang bukan mahram? [Ibnu Malik]

 

Jawab:

Segala bentuk perbuatan yang dapat menjerumuskan seorang hamba ke dalam jurang kebinasaan, telah dijelaskan di dalam syariat yang agung ini. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَا بَعَثَ اللَّهُ مِنْ نَبِيٍّ إلَّا كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ ، وَيَنْهَاهُمْ عَنْ شَرِّ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ 

‘Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi, melainkan wajib baginya menunjukkan kepada ummatnya jalan kebaikan yang telah diajarkan kepada mereka, dan melarang mereka dari keburukan yang telah ditunjukkan kepada mereka.’ [HR. Muslim].

 

Masalah berjabat tangan dan berdua-duaan dengan wanita yang bukan mahram (termasuk di antaranya berboncengan) adalah dua perbuatan yang dapat menimbulkan fitnah serta dapat menjerumuskan pelakunya dalam kebinasaan. Karenanya, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mewanti-wanti ummatnya untuk tidak melakukannya. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

لأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لا تَحِلُّ لَهُ

‘Bahwa ditikam di kepala seseorang dari kamu dengan jarum dari besi, adalah lebih baik baginya daripada ia menyentuh perempuan yang tidak halal baginya.’ [Shahih. HR. ath-Thabrany. Lihat Silsilah ash-Shahihah 226].

 

Kalimat ‘menyentuh’ pada hadits di atas mencakup pada segala bentuk sentuhan termasuk di antaranya berjabat tangan.

Selain dengan perkataannya, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam juga membuktikan larangan tersebut dengan perbuatannya. ‘Aisyah Radliyallahu ‘anha berkata :

وَاللَّهِ مَا أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلَى النِّسَاءِ قَطُّ إِلاَّ بِمَا أَمَرَهُ اللَّهُ تَعَالَى وَمَا مَسَّتْ كَفُّ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَفَّ امْرَأَةٍ قَطُّ وَكَانَ يَقُولُ لَهُنَّ إِذَا أَخَذَ عَلَيْهِنَّ « قَدْ بَايَعْتُكُنَّ ». كَلاَمًا

Artinya,  “Tangan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menyentuh tangan seorang wanita pun.  Ketika baiat, beliau hanya membaiat melalui ucapan dengan berkata, “Aku telah membaiat kalian.” [Muslim]

 

Dan sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam :

إني لا أُصافحُ النساءَ

 

‘Sesungguhnya aku tidak pernah berjabat tangan dengan wanita.’ [Shahih. HR. Malik].

 

Tiga hadits di atas adalah cukup sebagai dalil atas haramnya berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram. Membolehkan diri berjabat tangan dengan yang bukan mahram hanya karena ‘menjaga perasaan’ seseorang, maka ketahuilah bahwa menyelamatkan diri dari kebinasaan dan kemurkaan Allah jauh lebih penting dari hanya sekedar ‘menghibur’ perasaan orang lain.

 

Dalil Larangan Berduaan (Berboncengan) Dengan yang Bukan Mahram

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

 

لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا مَعَ ذِي مَحْرَمٍ

‘Tidak boleh seorang laki-laki bersepi-sepian dengan seorang wanita kecuali ditemani dengan mahramnya.’ [HR. Bukhari dan Muslim].

 

Dalam hadits yang lain, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ

‘Tidak boleh seorang laki-laki bersepi-sepian dengan seorang wanita karena yang ketiganya adalah syaithan.’  [Shahih. HR. Ahmad 177, At-Tirmidzi 2165, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth]

 

 

 

Kesimpulan

Haram berjabat tangan antara laki-laki dengan wanita yang bukan mahramnya, begitu juga dengan berboncengan.

 

 

 

Abu Halbas

Wuluhan-Jember

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: