//
you're reading...
Fiqih

Sujud Tilawah


Sujud Tilawah

 

Soal    :

Apakah yang dimaksud dengan sujud tilawah itu, bagaimana hukumnya, dan bagaimana pula tata caranya? [Taklim Batamas, Wuluhan-Jember]

 

Jawab:

Arti dari sujud tilawah adalah sujud bacaan. Sedang yang dimaksud dengan sujud tilawah pada pertanyaan diatas adalah sujud diwaktu membaca ayat-ayat sajadah yang terdapat didalam al-Qur`an.

 

Hukum Sujud Tilawah

Sujud tilawah adalah sunnah demikian pendapat mayoritas ulama, disunnahkan bagi qâri’ (pembaca al-Qur`an) dan disunnahkan pula untuk mustami’ (pendengarnya). Hal ini didasarkan pada dalil berikut:

عن ابنِ مسعودٍ – رضي الله عنه – أنَّ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَرَأَ وَالنَّجْمِ فَسَجَدَ فِيهَا وَسَجَدَ مَنْ كَانَ مَعَهُ

Artinya, “Dari Ibnu Mas’ûd radhiyallâhu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah membaca surat an-Najm lalu beliau sujud dan orang-orang yang bersama beliau juga ikut bersujud.” [HR. Al-Bukhâri dan Muslim]

عَنْ عُمَرَ بْنُ الْخَطَّابِ قَالَ : يَا أَيُّهَا النَّاسُ ، إِنَّمَا نَمَرُّ بِالسَّجْدَةِ فَمَنْ سَجَدَ فَقَدْ أَصَابَ ، وَمَنْ لَمْ يَسْجُدْ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ

Artinya, “Dari ‘Umar bin al-Khaththâb ia berkata, “Hai sekalian manusia, kita akan melewati ayat-ayat sujud, maka barangsiapa yang bersujud maka ia akan mendapat pahala, dan barangsiapa yang tidak bersujud, maka tidak ada dosa baginya.” [HR. Al-Bukhâri]

 

Keutamaan Sujud Tilawah

            Diantara keutamaannya adalah syaithan akan menyingkir dan menangis menyesali diri.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسولُ اللهِ – صلَّى الله عليه وسلَّم-: إذا قرأ ابنُ آدمَ السَّجدةَ فسجد، اعتزلَ الشَّيطانُ يبكي، يقولُ: يا وَيْلَهُ، أُمِرَ بالسُّجودِ فسجَدَ؛ فله الجنَّةُ، وأُمِرْتُ بالسُّجود فعصيْتُ؛ فلِيَ النَّار

Artinya, “Dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu ia berkata: Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila anak Adam membaca (ayat-ayat) sajadah, lalu ia bersujud maka syaithan pun akan menyingkir seraya menangis dan berkata: Alangkah celakanya (aku), manusia diperintahkan bersujud lalu ia bersujud maka bagiannya adalah syurga, sedang aku diperintahkan bersujud lalu aku enggan maka bagianku adalah neraka.” [HR. Muslim]

 

 

Tempat-Tempat Sujud Tilawah

Ulama berbeda pendapat tentang tempat-tempat ayat yang disunnahkan kita sujud waktu membacanya. Namun yang jelas ulama sepakat bahwa tempat-tempat sujud tersebut tidak lebih dari 15 tempat dan tidak kurang dari 10 tempat. Adapun 15 tempat tersebut adalah:

  1. Al-A’raf: 206.
  2. Ar-Ra’d: 15
  3. An-Nahl: 49
  4. Isrâ’: 107
  5. Maryam: 58
  6. Al-Hajj: 18
  7. Al-Hajj: 77
  8. Al-Furqân: 60
  9. An-Naml: 25
  10. As-Sajdah: 15
  11. Shad: 24
  12. Fushshilat: 37
  13. An-Najm: 62
  14. Al-Insyiqâq: 21
  15. Al-‘Alaq: 19

 

 

Cara Sujud Tilawah Dan Syarat-Syaratnya

            Sujud tilawah hanya dilakukan dengan sekali sujud saja, satu sujud untuk satu ayat sajadah. Dalam sujud tilawah tidak disyaratkan harus berwudhu’, menghadap kiblat dan menutup aurat, lantaran tidak adanya dalil yang mengharuskan demikian. Imam asy-Syaukâni rahimahullahu ta’ala berkata, “Tidak terdapat satu keterangan pun dari hadits-hadits yang berkaitan dengan sujud tilawah yang menerangkan harusnya berwudhu’ bagi orang yang bersujud tilawah.” [Nailul Authâr 3/127]

            Bahkan sebaliknya, imam al-Bukhâri meriwayatkan, “Bahwa Ibnu ‘Umar radhiyallâhu ‘anhu pernah sujud tilawah tanpa berwudhu.” [HR. Al-Bukhâri]

            Tetapi apabila sujud tilawah dilakukan dalam keadaan suci, menghadap kiblat, dan menutup aurat maka itu adalah lebih baik dan lebih sempurna.

 

 

Bacaan Dalam Sujud Tilawah

            Dari ‘Aisyah radhiyallâhu ‘anha ia berkata: Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dalam sujud tilawah membaca:

سَجَدَ وَجْهِيَ للَّذِي خَلَقَهُ، وَشَقَّ سَمْعَهُ وبَصَرَهُ، بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ، فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْـخَالِقِينَ

Artinya, “Telah sujud wajahku kepada Rabb yang telah menciptakannya dan telah membuka penglihatan dan pendengarannya berkat upaya dan kekuatannya, maka MahaMulia Allah, sebaik-baik pencipta.” [Shahih. HR. Abu Dâwud 1414, at-Tirmidzi 579, an-Nasâi II/222]

Selain itu diperkenankan juga membaca dzikir-dzikir yang biasa dibaca saat sujud didalam shalat, hal ini didasarkan pada keumuman hadits-hadits tentang bacaan dzikir diwaktu sujud. Diantaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiyallâhu ‘anha bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam biasa membaca dalam rukuk dan sujudnya, “Subbûhun Quddûsun Rabbul Malâikati  war Rûh (Mahasuci Allah, Rabb para malaikat dan Ruh)” [HR. Muslim]

 

Takbir Untuk Sujud Tilawah

            Yang rajih (unggul) bahwa tidak disyariatkan bertakbir saat turun dan bangkit dari sujud tilawah, karena tidak ada dalil yang menetapkan hal tersebut.

 

Salam Sehabis Sujud Sahwi

            Tidak ada salam setelah sujud tilawah, demikian pendapat yang terkuat dari beberapa pendapat ulama. Karena, tidak ada satu hadits shahih pun yang menganjurkan demikian dan juga sujud tilawah tidak dikategorikan sebagai shalat.

 

 

Sujud Tilawah Dalam Shalat

            Sujud tilawah juga disyariatkan (diberlakukan) dalam shalat. Artinya, orang yang membaca sesuatu sedang ia didalam shalatnya maka ia dianjurkan bersujud tilawah, lalu kembali meneruskan shalatnya. Dan hal itu tidak membuat batal shalatnya.

عنْ أَبِي رَافِعٍ قَالَ: صَلَّيْتُ مَعَ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه صَلَاةَ الْعَتَمَةِ، فَقَرَأَ {إِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ} فَسَجَدَ فِيهَا، فَقُلْتُ لَهُ مَا هَذِهِ السَّجْدَةُ ؟ فَقَالَ: سَجَدْتُ بِهَا خَلْفَ أَبِي الْقَاسِمِ  صلى الله عليه وسلم ، فَلَا أَزَالُ أَسْجُدُ بِهَا حَتَّى أَلْقَاهُ.

“Artinya, “Dari Abu Râfi’ ia berkata, “Aku pernah shalat ‘Isya’ bersama Abu Hurairah lantas beliau membaca surat al-Insyiqâq lalu bersujud tilawah. Maka aku pun menanyakan perihal sujud tersebut kepadanya? Beliau menjawab, “Aku juga pernah bersujud dibelakang Abul Qâsim (Rasulullah) lantaran membaca ayat tersebut dan aku akan senantiasa melakukannya hingga aku wafat nanti.” [Muslim]

Sewaktu turun sujud dan bangkit dari sujud tilawah dalam shalat, mestikah dengan takbir? Tidak terdapat satu hadits shahih pun yang menerangkan demikan. Namun sebagian ahli ilmu berpendapat  (dan inilah pendapat yang benar) bahwa hal tersebut mesti dilakukan lantaran berpijak pada keumuman hadits, “Beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam bertakbir pada setiap turun dan bangkit (dari sujud).” [HR. Al-Bukhâri 758 dan Muslim 392]

Mayoritas ulama berpendapat bahwa sujud tilawah didalam shalat dilakukan baik pada shalat jahriyah (shalat yang bacaannya dikeraskan) maupun shalat sirriyah (shalat yang bacaannya tidak dikeraskan). Untuk shalat Jahriyah didasarkan pada hadits Abu Hurairah diatas sedang untuk shalat Sirriyah didasarkan pada hadits Ibnu ‘Umar bahwa Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah sujud dalam rakaat pertama shalat Dhuhur, lalu shahabat mengetahui bahwa beliau membaca alif lâm mim Tanzîl as-sajadah.” [HR. Ahmad dan Abu Dâwud]

Yang benar, sujud sahwi hanya berlaku untuk shalat jahriyah tidak untuk shalat sirriyah. Lantaran hadits ibnu ‘Umar diatas tidaklah shahih. Didhaifkan oleh Ibnu Hajar dalam at-talkhish dan Bulhûghul Maram. Imam Ahmad mendhaifkannya didalam al-Masâil, begitu juga halnya dengan syaikh al-Albâni rahimahullahu ta’ala.

 

Pendengar pun Ikut Bersujud

Dianjurkan bersujud tilawah bagi mereka yang mendengar orang lain membaca ayat-ayat sajadah, namun dengan syarat sang qâri (pembaca) melakukan sujud tilawah. Adapun jika sang qâri’ tidak melakukannya maka yang mendengarkannya pun tidak dianjurkan bersujud. Ibnu ‘Umar radhiyallâhu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah membacakan surat dari al-Qur`an dihadapan kami lalu beliau membaca ayat sajadah lalu bersujud dan kami ikut sujud bersamanya.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

            Imam al-Bukhari meriwayatkan secara ta’liq dari Ibnu Mas’ûd radhiyallâhu ‘anhu bahwa dia pernah berkata kepada Tamîm bin Hazlam yang membacakan ayat sajadah kepadanya, “Bersujudlah, karena engkau adalah imam kami dalam hal ini.” [HR. Al-Bukhâri secara ta’liq 2/556]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Abu Halbas

Jumadas Tsâniyah 1427/2007

Wuluhan-Jember.

 

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: