//
you're reading...
Akhlak

Kutipan Berharga: Lapang Dada


 

Seorang ulama salaf mengatakan, ‘Saya tidak mengenal orang yang lebih pintar daripada asy-Syafi’i.Kami pernah berbeda pendapat dalam satu masalah. Beberapa waktu kemudian, kami bertemu. Dia menggenggam tangan saya, lalu berkata, ‘Walaupun kita berbeda pendapat dalam suatu masalah, bukankah kita bisa tetap saling bersaudara dan saling mengasihi?’

*************************************************************

Sayang seribu kali sayang! Banyak kaum multazim (orang yang insyaf lalu berkomitmen penuh kepada ajaran agama) yang belum memahami wacana perbedaan pendapat. Dia mencela orang yang tidak sesuai dengan perkataan dan pendapatnya dalam masalah fiqih. Orang yang sependapat dengan mereka, maka dianggap teman. Sedangkan yang tidak sependapat, maka mereka anggap musuh. Fanatisme seperti ini adalah watak yang sangat tercela, berbanding terbalik dengan kejujuran ilmiah, satu watak yang sangat agung. Kini, tiada lagi orang di antara mereka yang memegang motto ‘Pendapatku benar, namun boleh jadi salah. Pendapat orang yang menentangku adalah salah, namun boleh jadi benar.

Kepada orang-orang inilah, saya hadiahkan risalah yang sangat indah dari Syaikh Islam Ibn Taimiyyah, ‘Raf’ul Malam ‘an Aimmatil al ‘A’lam.’ Carilah dan bacalah buku ini! Dan, saya ingatkan mereka pada firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, ‘Tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat. Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka.’ [QS. Hud : 117-119].

Jadi, mereka harus menyadari bahwa perbedaan pendapat itu niscaya ada. Berkat kasih sayang Allah, ummat Islam bersatu di bawah kalimat tauhid. Tapi, orang yang tidak mengasihi saudaranya, takkan mendapat kasih sayang Allah Ta’ala. Kasih sayang antarsesama ini sudah sirna di antara kita, sudah tercabut dari diri kita, di tengah-tengah derasnya arus pendapat-pendapat yang bertentangan satu sama lain, dan kita telah kembali kepada kondisi laksana zaman jahiliyyah, terpecah-belah, tercerai-berai, mengkultuskan individu, fanatisme, dan egoisme.

Kerak-kerak dosa ini harus dibersihkan dengan penawar yang berasal dari al-Qur’an dan as-Sunnah atas dasar pemahaman Salaful Ummah. Kita harus menerima perbedaan pendapat, sebagaimana juga mereka menerimanya, tanpa saling benci, tanpa permusuhan, dan tanpa pertentangan. Masalah-masalah ijtihadiyah harus diserahkan kepada para mujtahid yang berilmu luas di setiap zaman, yang jika berpendapat salah maka mereka mendapat satu pahala dan bila benar mendapat dua pahala.

[Dari kitab Iltizam, Edisi Terjemahan Oleh Syaikh Muhammad Husain Ya’qub hal. 77].

 

 

Abu Halbas Muhammad Ayyub

Jember, 19 Jumadal Akhir 1436 H/ 08 April 2015

 

 

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: