//
you're reading...
Aqidah

Kriteria Wali Allah


Soal:

Kami ingin tahu tentang wali menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah? Adakah kriteria-kriteria khusus sehingga seseorang dapat dikatakan telah menempati posisi wali itu? Mengingat penyematan gelar wali dinegeri ini tampak begitu mudah dilakukan. Jazakallahu khairan atas jawabannya.

 

Jawab:

Oleh sebagian orang, ketika mereka melihat seseorang berbusana serba putih, lengkap dengan tasbih di tangan, serta memiliki kemampuan yang menakjubkan dan luar biasa; seperti dapat berjalan di atas air dan dedaunan, dapat mengubah pasir menjadi emas, dapat berpindah ke Makkah dalam menunaikan shalat lalu kembali ke tempat asalnya dengan cepat, masuk ke dalam api dan tidak terbakar, kebal dari segala bentuk senjata tajam, dan lain sebagainya; maka orang itu dikatakan sebagai ‘Wali’. Tidak peduli, apakah orang yang dianggap wali itu punya kualitas keimanan yang bagus atau tidak, tampak keshalihan pada pribadinya ataupun tidak.

Bermain-main dengan yang haram bagi seseorang yang telah dianggap sebagai ‘Wali’ seperti meninggalkan shalat, minum khamr, dan berzina oleh mereka tidak dianggap sebagai suatu kesalahan di dalam agama lantaran hal itu tidak membahayakan bagi sang ‘Wali’ di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Wali benar-benar maksum, suci dari dosa dan penuh karamah. Laahawla wala Quwwata Illa Billah.

Dugaan di atas adalah dugaan yang teramat jauh dari kebenaran, dugaan yang didasari kesesatan dan kebodohan, tidak berlandaskan pada al-Qur’an dan as-Sunnah.

 

Wali Menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah

Wali menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah setiap hamba Allah yang shalih yang mewujudkan keimana di dalam hatinya dengan mengimani segala hal yang wajib diimani. Dan juga mewujudkan amal shalih dengan anggota tubuh yang dimilikinya, dengan menjauhi semua bentuk yang diharamkan berupa meninggalkan kewajiban, atau melakukan perbuatan yang diharamkan. Kebaikan bathin dengan keimanan dan kebaikan dzahir dengan ketakwaan berpadu menjadi satu di dalam dirinya. [Syarah Riyadhush Shalihin oleh Ibnu ‘Utsaimin 1/282 dengan sedikit perubahan].

Inilah pemahaman yang benar tentang wali Allah, pemahaman yang berlandaskan pada wahyu Allah. Allah Ta’ala berfirman:

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Artinya, “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.’ [QS. Yunus : 62-63].

Jadi, wali itu hanyalah dari orang-orang shalih dan bertakwa. Ia juga masih harus menyembah Allah azza wa jalla sang pencipta alam semesta, taat dengan aturan-aturan-Nya dan tidak bermaksiyat kepada-Nya.

Tegasnya, setiap orang mukmin yang bertakwa adalah wali Allah, hanya saja perwalian ini bertingkat-tingkat sesuai dengan tingkat keimanan, ketakwaan dan amal shalih. Imam ath-Thahawi berkata, “Orang-orang mukmin semuanya adalah wali-wali Allah dan yang paling mulia disisi Allah adalah yang paling taat kepada Allah ‘azza wa jalla dan yang paling bertakwa.” [Syarah ‘Aqidah Thahawiyah hal. 362]

 

Menyikapi Wali Allah

          Jika dikatakan wali itu tidak bermaksiyat kepada Allah bukan bermakna bahwa wali itu ma’shum (terjaga dari dosa), tetapi dia sangat mungkin terjerumus dalam kesalahan. Karena keadaannya yang tidak ma’shum itu maka mentaatinya dan mengikutinya tidak wajib kecuali jika selaras dengan al-Qur`an dan as-Sunnah. Begitu juga mempercayai berita dan perkataannya juga tidak wajib hingga kita menimbangnya dengan al-Qur`an dan as-Sunnah. Jika selaras dengan keduanya maka wajib diterima dan jika bertentangan dengan keduanya wajib dibuang dan ditolak! Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “….Seungguhnya para Nabi harus dipercayai segala berita yang dibawanya dari Allah dan segala sesuatu yang diperintahkannya harus ditaati. Lain halnya dengan wali, segala perintah mereka tidak wajib ditaati dan segala berita mereka tidak wajib diimani, tetapi perintah dan berita mereka perlu ditimbang dengan al-Kitab dan as-Sunnah. Jika bertepatan dengan al-Kitab dan as-Sunnah, maka wajib diterima dan jika bertentangan dengan al-Kitab dan as-Sunnah harus ditolak walaupun yang mengatakannya adalah seorang wali…” [Majmu’ Fatawa 11/102]

 

Wali dan Karomah

          Karomah (perkara luar biasa yang terjadi pada orang yang bukan Nabi, yang Allah karuniakan melalui tangan para wali-Nya yang mukmin seperti makanan yang Allah sediakan pada Maryam bin ‘Imran) bukanlah syarat perwalian. Bisa jadi ada seorang wali, mencintai Allah dan banyak melakukan ketaatan, tetapi tidak muncul karomah padanya sama sekali. Karomah yang terjadi pada seorang wali tidak menunjukkan bahwa dia lebih baik dari wali yang tidak terjadi karomah padanya. Karena syarat perwalian yang dikandung dalam surat Yunus ayat 63 hanya dua; beriman dan bertakwa.

Namun bagi pemiliki karomah ia tidak boleh mendaulat dirinya sebagai wali. Karena, mendakwakan atau mendaulatkan diri sebagai wali atau mendaulat orang lain sebagai wali adalah terkaan terhadap barang ghaib!! Lantaran seorang mukmin itu tidak mengetahui amalan mana dari amalan-amalannya yang diterima oleh Allah dan mana amalan-amalan yang tidak diterima. Allah ta’ala berfirman:

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِين

, “Sesungguhnya Allah hanya menerima amal dari orang-orang bertakwa.” [QS. Al-Mâidah: 27]

 

Kesimpulan

          Orang mukmin semuanya adalah wali Allah. Syarat untuk menjadi wali Allah adalah beriman dan bertakwa kepada-Nya. Sedang keberadaan karomah bagi wali Allah adalah bentuk takrim (pemuliaan) Allah pada mereka.

 

 

 

 

Abu Halbas Muhammad Ayyub

Jember, Jumadil Awwal 1429 H.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: