//
you're reading...
Aqidah

Kitab Asy-Syari’ah (5) Bab Penyebutan Pembunuhan ‘Ali bin Abi Thâlib Radhiyallâhu ‘Anhu terhadap Orang-Orang Khawârij Dimana Diantara Sebab Allah Ta’ala Memuliakannya Lantaran Memerangi Mereka Dan Bab Penyebutan Pahala Bagi Orang Yang Memerangi Khawârij Lalu Berhasil Membunuh Mereka Atau Terbunuh Oleh Mereka


Asy-Syari’ah[1]

Oleh: Imam Abu Bakar Muhammad Bin al-Husain al-Ajurri

(Wafat tahun 360 H.)

 

 

BAB

Penyebutan Pembunuhan ‘Ali bin Abi Thâlib Radhiyallâhu ‘Anhu terhadap Orang-Orang Khawârij Dimana Diantara Sebab Allah Ta’ala Memuliakannya Lantaran Memerangi Mereka

⎏⎏⎏⎏⎏

 

عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي رَافِعٍ مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ الْحَرُورِيَّةَ، لَمَّا خَرَجَوا وَهُوَ مَعَ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالُوا لَا حُكْمَ إِلَّا لِلَّهِ فقَالَ عَلِيٌّ كَلِمَةُ حَقٍّ أُرِيدَ بِهَا بَاطِلٌ، إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصَفَ أُنَاسً،ا إِنِّي لَأَعْرِفُ صِفَتَهُمْ يَقُولُونَ الْحَقَّ لَا يَجُوزُ هَذَا مِنْهُمْ وَأَشَارَ إِلَى حَلْقِهِ هُم أَبْغَضِ خَلْقِ اللَّهِ إِلَيْهِ فِيْهمْ أَسْوَدُ إِحْدَى يَدَيْهِ طُبْيُ شَاةٍ أَوْ حَلَمَةُ ثَدْيٍ فَلَمَّا قَتَلَهُمْ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ انْظُرُوا، فَنَظَرُوا فَلَمْ يَجِدُوا شَيْئًا، فَقَالَ: ارْجِعُوا فَوَاللَّهِ مَا كَذَبْتُ وَلَا كُذِبْتُ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا ثُمَّ وَجَدُوهُ فِي خَرِبَةٍ فَأَتَوْا بِهِ حَتَّى وَضَعُوهُ بَيْنَ يَدَيْهِ قَالَ عُبَيْدُ اللَّهِ بنْ أبي رافِعْ: أَنَا حَضَرْتُ ذَلِكَ مِنْ أَمْرِهِمْ

“Dari ‘Ubaidillah bin Abi Râfi’, maula Ummu Salamah (ia berkata), “Tatkala orang-orang Haruriyah (Khawarij) memberontak yang tadinya bersama ‘Ali bin Abi Thâlib radhiyallâhu ‘anhu, mereka berkata, “La hukma illa lillâh/keputusan hukum itu hanya milik Allah”. ‘Ali berkata [menanggapinya], “Tentu, (namun itu adalah) kalimat hak yang dimaksudkan untuk kebatilan, sesungguhnya Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam telah menyifati sekelompok orang, yang aku benar-benar mengenali sifat mereka itu, dimana mereka mengatakan kebenaran (dengan lisan-lisan mereka) namun ucapan mereka itu tidak sampai melewati ini dan beliau memberi isyarat pada kerongkongannya, mereka adalah makhluk yang paling dibenci oleh Allah. Ditengah-tengah mereka ada seorang yang salah satu tangannya hitam seperti puting susu kambing. Ketika Ali radhiyallâhu ‘anhu berhasil membunuh mereka, ia pun berkata, “Lihatlah!” Mereka pn melihatnya, namun mereka tidak mendapatkan sesuatu pun. Ali berkata lagi, “Kembalilah, demi Allah aku tidak berdusta dan tidak pula dikelabui. Ia mengatakannya hingga dua atau tiga kali. Dan akhirnya mereka pun mendapatkannya di tempat reruntuhan, lalu mereka membawanya dan meletakkannya dihadapan ‘Ali bin Abi Thâlib. ‘Ubaidillah bin Râfi’ berkata, “Aku hadir saat peristiwa itu terjadi.” [Shahih. HR. Al-Mushannif (51), Muslim (106, 157)].

 

عَنْ عَبِيدَةَ السَلْمَانِيْ، عَنْ عَلِيٍّ رضي الله عنه قَالَ: قال رَسُوْل الله صلى الله عليه وسلم :سَيَجْرُجُ قَوْمٌ فِيهِمْ رَجُلٌ مُودَنُ الْيَدِ، أَوْ مَثْدُونُ الْيَد، أَوْ مُخْدَجُ الْيَدِ، وَلَوْلَا أَنْ تَبْطَرُوا لَأَنْبَأْتُكُمْ مَا وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ يَقْتُلُونَهُمْ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. قَالَ عُبَيْدَة:  فَقُلْتُ لِعَليّ رضي الله عنه: آنْتَ سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُولِ الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ قَالَ: نَعَمْ، سمعته وَرَبِّ الْكَعْبَةِ، سَمِعْتُهُ إِي وَرَبِّ الْكَعْبَةِ، سَمِعْتُهُ إِي وَرَبِّ الْكَعْبَةِ سَمِعْتُهُ

“Dari ‘Ubaidah as-Salmâni, dari ‘Ali radhiyallâhu ‘anhu ia berkata: Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan keluar suatu kaum dimana ditengah-tengah mereka ada seorang laki-laki yang tangannya kecil, atau tangannya punya benjolan/kelenjar, atau cacat tangannya.” Seandainya kalian tidak meremehkannya, niscaya akan aku kabarkan kepada kalian tentang janji apa yang Allah ta’ala berikan kepada orang-orang yang berhasil membunuh mereka, berdasarkan (hadis) dari lisan Nabi-Nya shallallâhu ‘alaihi wa sallam.” Abu ‘Ubaidah berkata, “Aku bertanya kepada ‘Ali radhiyallâhu ‘anhu, “Apakah engkau mendengarnya dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam?” ‘Ali menjawab, “Iya, demi Rabb Ka’bah aku benar-benar mendengarnya, demi Rabb Ka’bah aku benar-benar mendengarnya, demi Rabb Ka’bah aku benar-benar mendengarnya, aku benar-benar mendengarnya.” [Shahih. HR. Al-Mushannif (54) sedang asalnya terdapat didalam riwayat Muslim (1066)].

                Muhammad bin al-Husain rahimahullah berkata, “Semoga Allah meridhai ‘Ali bin Abi Thâlib dan meridhai ‘Aisyah ummul mukminîn, dan semoga Allah memberikan manfaat kepada kita disebabkan karena kecintaan kita kepada keduanya dan kepada semua shahabat radhiyallâhu ‘anhum.

 

 

 

BAB

Penyebutan Pahala Bagi Orang Yang Memerangi Khawârij Lalu Berhasil Membunuh Mereka Atau Terbunuh Oleh Mereka

⎏⎏⎏⎏⎏

 

عن عَبْدِ اللهِ بِنْ مَسْعُودٍ قَال: قَالَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: سَيَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ أَحْدَاثُ الْأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الناسِ، يَمْرُقُونَ مِنْ الإِسْلاَمِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ، فَمَنْ لَقِيَهُمْ فَلْيَقْتُلْهُمْ، فإنِّ قَتْلَهُمْ أجْرٌعِنْدَ اللَّهِ

“Dari ‘Abdullah bin Mas’ûd ia berkata: Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan muncul di akhir  zaman nanti, suatu kaum yang umur mereka masih muda belia dan akal mereka pun masih bodoh. Mereka berbicara seperti perkataan manusia yang paling baik. Mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah melesat menembus binatang buruan yang menjadi sasarannya.  Maka barangsiapa yang berjumpa dengan mereka maka hendaklah ia membunuhnya. Karena  bagi yang membunuh mereka  mendapatkan pahala disisi Allah.” [Shahih dengan syawahidnya. HR. Al-Mushannif (57), Ahmad (1/404), At-Tirmidzi (2188), dan Ibnu Hibbân (168)].

 

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ صَاحِبَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَقُولُ : خَرَجَتْ خَارِجَةٌ بِالشَّامِ فَقُتِلُوا ، وَأُلْقُوا فِي جُبٍّ ، أَوْ بِئْرٍ قَالَ : فَأَقْبَلَ أَبُو أُمَامَةَ وَأَنَا مَعَهُ ، حَتَّى وَقَفَ عَلَيْهِمْ ، ثُمَّ بَكَى ، ثُمَّ قَالَ : سُبْحَانَ اللَّهِ ، مَا فَعَلَ الشَّيْطَانُ بِهَذِهِ الأُمَّةِ ؟ كِلابُ النَّارِ ، كِلابُ النَّارِ ، ثَلاثًا ، شَرُّ قَتْلَى تَحْتَ ظِلِّ السَّمَاءِ ، شَرُّ قَتْلَى تَحْتَ ظِلِّ السَّمَاءِ ، خَيْرُ قَتْلَى تَحْتَ ظِلِّ السَّمَاءِ ، خَيْرُ قَتْلَى تَحْتَ ظِلِّ السَّمَاءِ ، خَيْرُ قَتْلَى تَحْتَ ظِلِّ السَّمَاءِ مَنْ قَتَلُوهُ قَالَ : قُلْتُ : يَا أَبَا أُمَامَةَ ، أَشَيْءٌ تَقُولُهُ بِرَأْيِكَ ، أَمْ شَيْءٌ سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ قَالَ : إِنِّي إِذَنْ لَجَرِيءٌ ، إِنِّي إِذَنْ لَجَرِيءٌ ، ثَلاثًا ، بَلْ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَيْرَ مَرَّةٍ ، وَلا مَرَّتَيْنِ ، وَلا ثَلاثًا ، حَتَّى عَدَّ عَشْرًا ، سَمِعْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ ، يَقُولُ : ” سَيَأْتِي قَوْمٌ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ ، أَوْ لا يَعْدُو تَرَاقِيَهُمْ ، يَمْرُقُونَ مِنَ الإِسْلامِ ، كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ ، لا يَعُودُونَ فِي الإِسْلامِ حَتَّى يَعُودَ السَّهْمُ عَلَى فَوْقِهِ ، طُوبَى لِمَنْ قَتَلُوهُ أَوْ قَتَلَهُمْ

“Dari Abu Umamah seorang dari shahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam  berkata ; Telah keluar khawarij di Syam lalu mereka membunuhnya dan melemparnya ke sumur kemudian Abu Umamah mendatanginya dan aku turut serta bersamanya, hingga beliau berdiri di atas mereka , beliau menangis, lalu berkata ; SubhanAllah, apakah yang telah dilakukan  Syaithon (untuk menyesatkan ) umat ini ? Anjing –anjing neraka, anjing-anjing neraka –tiga kali beliau menyebutkannya-. ( mereka adalah) seburuk-buruk korban pembunuhan di bawah kolong langit, seburuk korban pembunuhan di bawah kolong langit. Dan sebaik-baik korban pembunuhan di bawah kolong langit, sebaik-baik korban pembunuhan di bawah kolong langit, sebaik-baik korban pembunuhan di bawah kolong langit  adalah yang mereka bunuh. Aku ( Abu Ghalib )  berkata ; wahai abu Umamah, apakah ini pendapat yang keluar dari ra’yumu ? atau hadits yang kau dengar dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam ? ( jika dari ra’yuku ) maka sungguh aku sangat lancang, sungguh aku amat lancang-  beliau mengatakannya tiga kali. Tapi ini adalah yang aku dengar dari Rasulillah shallallahu alaihi wa sallam, bukan hanya sekali, dua kali, tiga kali-hingga beliau menghitung sepuluh kali-Aku mendengar dari Rasulullah, beliau bersabda, “Akan muncul suatu kaum yang membaca Al-Qur`an namun tidak sampai melewati tenggorokan mereka, atau tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka keluar dari Islam, sebagaimana anak panah melesat menembus binatang buruan yang menjadi sasarannya. Mereka tidak kembali ke dalam Islam hingga anak panah kembali pada busurnya. Maka berbahagialah orang yang membunuhnya atau terbunuh oleh mereka.” [Hasan. HR. Al-Mushannif  (57), Ahmad (5/253, 256)]

 

عَنْ أَبِيْ أَوْفَى: عن النبي صلى الله عليه وسلم: الخوارجً كِلاَبُ النَّارِ

Dari Abu Aufa: Dari Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, “Khawârij adalah anjing-anjing neraka.” [Hasan. HR. Al-Mushannif (61) dan Ahmad (4/382)].

               

Muhammad bin al-Husain berkata “Dan sungguh aku telah memperingatkan dari bahaya madzhab Khawârij ini dengan penjelasan yang jelas bagi orang yang dijaga oleh Allah ta’ala, tidak berpandangan seperti pandangan mereka, bersabar atas kezhaliman penguasa dan penyelewengan para amir serta tidak keluar memberontak  kepada mereka dengan mengangkat senjata. (Disamping itu) ia memohon kepada Allah agar Dia  menghilangkan kezhaliman tersebut dari dirinya dan dari segenap kaum muslimin, mendoakan kebaikan untuk penguasa. Menunaikan ibadah haji, berjihad melawan segenap musuh kaum muslimin, shalat jumat dan dua ‘ied bersama mereka. Jika mereka menyuruhnya untuk suatu ketaatan maka sekuat mungkin ia menaatinya dan jika tidak memungkinkan untuk itu ia menyampaikan udzurnya kepadanya, sedang jika mereka menyuruhnya melakukan suatu kemaksiyatan ia tidak mentaati mereka. Apabila berlangsung fitnah di antara para penguasa; ia menetapi rumahnya, menahan lisan dan tangannya, tidak ikut terlibat pada fitnah yang terjadi serta tidak membantu siapapun dalam fitnah ini. Barangsiapa yang sifatnya seperti ini maka ia berada diatas jalan yang lurus, Insyâ Allah.

Jember, 28 Jumâdil Akhir 1436 H.

[1] Diterjemahkan dari kitab Mukhtashar asy-Syari’ah (Ringkasan kitab Asy-Syari’ah), yang diringkas oleh: Abu ‘Amr ‘Abdul Karim bin Ahmad al-Hajûri. (Abu Halbas, pentj.)

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: