//
you're reading...
Aqidah

Kitab Asy-Syari’ah (6) Bab Tentang Mendengar Dan Taat Kepada Orang Yang Menangani Urusan Kaum Muslimin, Bersabar Menghadapi Mereka Sekalipun Mereka Berlaku Zhalim, Serta Tidak Memberontak Kepada Mereka Selagi Mereka Mendirikan Shalat Dan Bab Keutamaan Tidak Terlibat Dalam Fitnah Saat Ia Berlangsung Dan Orang-Orang Berakal Senantiasa Menakut-Nakuti Hati Mereka Agar Tidak Terjatuh Pada Perkara Yang Dibenci Oleh Allah Serta Menetapi Rumah Dan Beribadah Hanya Kepada Allah


Asy-Syari’ah[1]

Oleh: Imam Abu Bakar Muhammad Bin al-Husain al-Ajurri

(Wafat tahun 360 H.)

 

 

BAB

Tentang Mendengar Dan Taat Kepada Orang Yang Menangani Urusan Kaum Muslimin, Bersabar Menghadapi Mereka Sekalipun Mereka Berlaku Zhalim, Serta Tidak Memberontak Kepada Mereka Selagi Mereka Mendirikan Shalat

⎏⎏⎏⎏⎏

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : ” يَكُونُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ تَعْرِفُونَ وَتُنْكِرُونَ ، فَمَنْ عَرَفَ بَرِئَ ، وَمَنْ كَرِهَ سَلِمَ ، وَلَكِنْ مِنْ رَضِيَ وَتَابَعَ ” قَالُوا : أَفَلا نُقَاتِلُهُمْ ؟ قَالَ : “لا مَا صَلَّوْا

 

Dari Ummu Salamah, dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Kelak kalian akan dipimpin oleh para pemimpin yang kalian kenal (kebaikan mereka-pentj.) dan yang kalian ingkari (kemaksiyatan mereka, pentj.) Barangsiapa yang mengetahui (kemungkaran tersebut –pentj.) maka ia terlepas (dari dosa dan hukumannya, -pentj.), barangsiapa yang membencinya, dia selamat, tetapi (yang berdosa adalah) orang yang ridha dan ikut.” Mereka berkata, “Bolehkah kami memerangi mereka?” Beliau bersabda, “Tidak boleh, selagi mereka mengerjakan shalat.” [Hasan. HR. Al-Mushannif (64), Muslim (1854)]

 

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” اسْمَعُوا وَأَطِيعُوا ، وَإِنِ اسْتُعْمِلَ عَلَيْكُمْ حَبَشِيٌّ كَأَنَّ رَأْسَهُ زَبِيبَ

 

Dari Anas bin Mâlik ia berkata: Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaklah kalian mendengar dan taat meskipun yang berkuasa atas kalian adalah seorang budak Habasyi (Etiopia), yang seakan-akan kepalanya seperti buah anggur kering.” [Shahih. HR. Al-Mushannif (65) dan al-Bukhâri (7142)]

 

عَنْ عُبادَةَ بِنْ الصَّامِت قَالَ : ” بَايَعْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي الْيُسْرِ وَالْعُسْرِ وَالْمَنْشَطِ وَالْمَكْرَهِ ، وَأَنْ لا نُنَازِعَ الأَمْرَ أَهْلَهُ ، وَأَنْ نَقُومَ أَوْ نَقُولَ بِالْحَقِّ حَيْثُمَا كُنَّا ، لا نَخَافُ فِي اللَّهِ لَوْمَةَ لائِمٍ

 

Dari ‘Ubbâdah bin Ash-Shâmit,  ia berkata, “Kami berbaiat (bersumpah setia) kepada Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam untuk senantiasa mendengar dan taat baik dalam keadaan mudah maupun sulit, dalam keadaan bersemangat maupun enggan (berat hati), tidak merebut urusan kepemimpinan dari ahlinya (orang yang berhak), senantiasa menegakkan atau mengucapkan kebenaran dimana saja kami berada, dan kami tidak gentar (dalam menggenggam agama) Allah terhadap celaan orang-orang yang suka mencela.” [Shahih. HR. Al-Mushannif (66), al-Bukhâri (7199), dan Muslim (1709)].

 

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ : عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، أَنَّهُ قَالَ : ” اسْمَعُوا لَهُمْ وَأَطِيعُوا فِي عُسْرِكُمْ وَيُسْرِكُمْ وَمَنْشَطِكُمْ وَمَكْرَهِكُمْ ، وَأَثَرَةٍ عَلَيْكُمْ ، وَلا تُنَازِعُوا الأَمْرَ أَهْلَهُ ، وَإِنْ كَانَ لَكُمْ

 

Dari Abu Umâmah al-Bâhily, dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda, “Hendaklah kalian mendengarkan  mereka (pemimpin) dan mentaatinya baik kalian dalam keadaan sulit maupun mudah, dalam keadaan bersemangat maupun enggan (berat hati), serta tidak mempedulikan kalian. Jangan merebut urusan kepemimpinan dari ahlinya (orang yang berhak) sekalipun (engkau merasa) kepemimpinan itu adalah milikmu.” [Sanadnya Hasan. HR. Al-Mushannif (68)].

 

عَنْ وَائِلْ الحَضْرَمِيْ قَال:  : سَأَلَ سَلَمَةَ بِنْ يَزِيْد الْجُعْفِيُّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَرَأَيْتَ إِنْ قَامَتْ عَلَيْنَا أُمَرَاءُ ، فَسَأَلُونَا حَقَّهُمْ ، وَمَنَعُونَا حَقَّنَا ، فَمَا تَأْمُرُنَا ؟ فَأَعْرَضَ عَنْهُ ، ثُمَّ سَأَلَهُ الثَّانِيَةَ أَوِ الثَّالِثَةَ ، فَجَبَذَهُ الأَشْعَثُ بْنُ قَيْسٍ ، وَقَالَ : ” اسْمَعُوا وَأَطِيعُوا ، فَإِنَّمَا عَلَيْهِمْ مَا حُمِّلُوا ، وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُم

 

Dari Wâil al-Hadhrami ia berkata: Salamah bin Yazîd al-Ju’fi pernah bertanya kepada Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, “ Apa pendapatmu jika ditengah-tengah kami diangkat  para pemimpin yang menuntut hak mereka kepada kami tetapi mereka menolak memenuhi hak kami, lalu apakah yang engkau perintahkan kepada kami? Maka beliau pun berpaling darinya, kemudian Salamah bertanya kepada beliau untuk yang kedua kalinya atau ketiga kalinya. Lalu al-Asy’ats bin Qais menariknya dan berkata, “Dengarkan dan taatilah, karena  kewajiban  mereka adalah apa yang dibebankan kepada mereka  sedang  kewajiban kalian adalah apa yang dibebankan atas kalian.” [Shahih. HR. Al-Mushannif (69), Muslim (1846)]

 

عَنْ سُوَيْدِ بْنِ غَفَلَةَ ، قَالَ : قَالَ لِي عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ : ” لَعَلَّكَ أَنْ تُخَلَّفَ بَعْدِي ، فَأَطِعِ الإِمَامَ ، وَإِنْ كَانَ عَبْدًا حَبَشِيًّا وَإِنْ ضَرَبَكَ فَاصْبِرْ ، وَإِنْ حَرَمَكَ فَاصْبِرْ ، وَإِنْ دَعَاكَ إِلَى أَمْرِ مَنْقَصَةٍ فِي دُنْيَاكَ فَقُلْ : سَمْعًا وَطَاعَةً ، دَمِي دُونَ دِينِي

 

Dari Suwaid bin Ghafalah ia berkata: ‘Umar bin Al-Khaththâb berkata, “Boleh jadi kamu akan terus hidup sepeninggalku nanti, maka taatilah pemimpin, sekalipun dia adalah seorang budak Habasyah (Eutopia), apabila ia memukulmu maka bersabarlah, apabila ia menghalangi hakmu maka bersabarlah, dan apabila ia mengajakmu pada suatu perkara yang dapat mengurangi dunia maka katakanlah, “Aku dengar dan taat, (ambillah) darahku dan jangan agamaku.” [Shahih. HR. Al-Mushannif (70)]

 

Muhammad bin Al-Husain berkata, “Apabila ada yang berkata: Menurutmu, kemungkinan apa yang terkandung dari perkataan ‘Umar radhiyallâhu ‘anhu diatas? Katakan kepadanya, “Menurut kami, kemungkinan yang dimaksud oleh beliau –wallâhu a’lam-, “Siapa saja yang menjadi  pemimpinmu, baik dari kalangan bangsa Arab atau bukan, berkulit putih atau hitam, atau berasal dari bangsa non –Arab sekalipun maka taatilah selagi bukan perkara yang mengandung kemaksiyatan kepada Allah. Apabila ia menghalangi hakmu, atau memukulmu secara zhalim, atau merusak kehormatanmu, atau mengambil hartamu, maka jangan sampai hal itu menyebabkan kamu memberontak kepadanya dengan menghunuskan pedangmu hingga kamu berperang dengannya, jangan keluar bergabung bersama orang-orang khawârij untuk memeranginya, dan jangan pula menghasut orang lain untuk memberontak kepadanya, namun bersabarlah menghadapinya. Dan ada kemungkinan pemimpin mengajakmu pada suatu perkara yang dapat mengurangi agamamu namun bukan dari sisi ini tetapi dari sisi yang lain yaitu ia menyuruhmu membunuh orang yang tidak berhak untuk dibunuh, atau memotong anggota tubuh orang yang tidak berhak untuk itu, atau memukul orang yang tidak halal untuk dipukul, atau mengambil harta orang yang tidak berhak kamu ambil hartanya, atau menzhalimi orang yang tidak halal baginya atau bagimu menzhaliminya, maka tidak diperkenankan bagimu untuk mentaatinya. Apabila ia berkata kepadamu, “Jika engkau tidak melakukan apa yang aku perintahkan kepadamu maka aku akan membunuhmu atau memukulmu.” Maka katakan kepadanya, “Ambillah darahku dan jangan agamaku; lantaran sabda Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiyat kepada Allah.”[2] Dan juga sabda Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, “Ketaatan itu hanya berlaku pada perkara yang ma’ruf.”[Shahih. HR. Al-Bukhâri (7145) dan Muslim (1840)]

 

عَنِ ابْنِ جَابِرٍ ، حَدَّثَنِي رُزَيْقٌ مَوْلَى بَنِي فَزَارَةَ ، قَالَ : سَمِعْتُ مُسْلِمَ بْنَ قَرَظَةَ الأَشْجَعِيَّ ، يَقُولُ : سَمِعْتُ عَمِّي عَوْفَ بْنَ مَالِكٍ الأَشْجَعِيّ ، يَقُولُ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَقُولُ : ” خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ ، وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ ، وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ ، وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ ” قُلْنَا : يَا رَسُولَ اللَّهِ : أَفَلا نُنَابِذُهُمْ عَلَى ذَلِكَ ؟ قَالَ : لا ، مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلاةَ ، لا مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلاةَ ، أَلا مَنْ وَلِيَ مِنْهُمْ ، فَرَآهُ يَأْتِي شَيْئًا مِنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ ، فَلْيُنْكِرْ مَا يَأْتِي بِهِ مِنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ ، وَلا تَنْزِعَنَّ يَدًا مِنْ طَاعَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ” ، قُلْتُ لِرُزَيْقٍ : آللَّهِ يَا أَبَا الْمِقْدَامِ لَسَمِعْتَ مُسْلِمَ بْنَ قَرَظَةَ ، يَقُولُ : سَمِعْتُ عَمِّي عَوْفَ بْنَ مَالِكٍ ، يَقُولُ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَقُولُ : مَا أُخْبِرْتُ بِهِ عَنْهُ ؟ قَالَ ابْنُ جَابِرٍ : فَجَثَا رُزَيْقٌ عَلَى رُكْبَتَيْهِ ، وَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ ، وَحَلَفَ عَلَى مَا سَأَلْتُهُ أَنْ يَحْلِفَ عَلَيْهِ قَالَ ابْنُ جَابِرٍ : وَلَمْ أَسْتَحْلِفْهُ اتِّهَامًا لَهُ ، وَلَكِنِّي اسْتَحْلَفْتُهُ اسْتِثْبَاتًا

 

Dari Jâbir ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Ruzaiq maula Bani Fazârah, ia berkata: Aku pernah mendengar Muslim bin Quradzah al-Asyja’I berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian mencintai mereka dan mereka mencintai kalian, kalian mendoakan mereka dan mereka mendoakan kalian. Sedang seburuk-buruk pemimpin kalian adalah yang kalian membencinya dan mereka membenci kalia, kalian melaknat mereka dan mereka melaknat kalian.” Kami berkata, “Wahai Rasulullah, apakah kami tidak boleh memerangi mereka atas dasar itu?” Beliau bersabda, “Tidak boleh, selagi mereka masih mengerjakan shalat ditengah-tengah kalian. Tidak boleh, selagi mereka masih mengerjakan shalat ditengah-tengah kalian. Ketahuilah, barangsiapa diantara mereka yang menjadi pemimpin atas kalian, lalu ia melihat pemimpinnya tersebut  mendatangi satu bentuk kemaksiyatan kepada Allah, maka hendaklah ia mengingkari perbuatannya yang bermaksiyat kepada Allah, namun ia tidak boleh sekali-kali mencabut tangan dari mentaati Allah ‘azza wa jalla.” [Hasan. HR. Al-Mushannif (72), Muslim (1855)]. Aku berkata kepada Ruzaiq, “Demi Allah, wahai Abul Miqdâm, apakah engkau benar-benar pernah mendengar Muslim bin Qurazhah berkata: Aku pernah mendengar pamanku ‘Auf bin Mâlik berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda , “Sesuai dengan apa yang dikabarkan kepadaku tentangnya?” Ibnu Jâbir berkata, “Maka Ruzaiq pun duduk bersimpuh  dan menghadap kiblat lalu ia bersumpah memenuhi permintaanku agar ia mau bersumpah atasnya.” Ibnu Jâbir melanjutkan, “Aku tidak memintanya bersumpah lantaran menuduhnya berdusta, akan tetapi aku memintanya bersumpah untuk memastikannya saja.”

 

BAB

Keutamaan Tidak Terlibat Dalam Fitnah Saat Ia Berlangsung Dan Orang-Orang Berakal Senantiasa Menakut-Nakuti Hati Mereka Agar Tidak Terjatuh Pada Perkara Yang Dibenci Oleh Allah Serta Menetapi Rumah Dan Beribadah Hanya Kepada Allah

⎏⎏⎏⎏⎏

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” تَكُونُ فِتْنَةٌ الْقَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْمَاشِي ، وَالْمَاشِي فِيهَا خَيْرٌ مِنَ السَّاعِي ، مَنْ يَسْتَشْرِفْ لَهَا تَسْتَشْرِفْ لَهُ ، وَمَنْ وَجَدَ مِنْهَا مَلْجَأً أَوْ مَعَاذًا فَلْيَعُذْ بِهِ

 

Dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kelak akan ada fitnah (kekacauan) dimana didalamnya orang yang duduk lebih baik daripada yang berjalan, orang yang berjalan lebih baik daripada orang yang berlari. Siapa yang menghadapi kekacauan tersebut maka hendaklah ia menghindarinya dan siapa yang mendapati tempat kembali atau tempat berlindung maka hendaklah ia berlindung padanya.” [Shahih: HR. Al-Mushannif (37), Al-Bukhâri (7081), Muslim (2886)]

 

عن رَجُلٍ مِنْ عَبْدِ الْقَيْسِ كَانَ مَعَ الْخَوَارِجِ ، ثُمَّ فَارَقَهُمْ قَالَ : دَخَلُوا قَرْيَةً فَخَرَجَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ خَبَّابٍ ذُعْرًا ، يَجُرُّ رِدَاءَهُ ، فَقَالُوا : لَمْ تُرَعْ ؟ لَمْ تُرَعْ ؟ مَرَّتَيْنِ ، فَقَالَ : وَاللَّهِ لَقَدْ رُعْتُمُونِي قَالُوا : أَنْتَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ خَبَّابٍ صَاحِبِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : نَعَمْ ، قَالُوا : فَهَلْ سَمِعْتَ مِنْ أَبِيكَ حَدِيثًا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ تُحَدِّثُنَاهُ ؟ قَالَ : سَمِعْتُهُ يَقُولُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” إِنَّهُ ذَكَرَ فِتْنَةً ، الْقَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْقَائِمِ ، وَالْقَائِمُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْمَاشِي ، وَالْمَاشِي فِيهَا خَيْرٌ مِنَ السَّاعِي قَالَ : فَإِنْ أَدْرَكْتَهَا فَكُنْ عَبْدَ اللَّهِ الْمَقْتُولَ ، قَالَ أَيُّوبُ : وَلا أَعْلَمُهُ إِلا قَالَ : وَلا تَكُنْ عَبْدَ اللَّهِ الْقَاتِلَ ” ، قَالُوا : أَنْتَ سَمِعْتَ هَذَا مِنْ أَبِيكَ يُحَدِّثُ بِهِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ قَالَ : نَعَمْ ، فَقَدَّمُوهُ عَلَى ضِفَّةِ النَّهَرِ ، فَضَرَبُوا عُنُقَهُ ، فَسَالَ دَمُهُ كَأَنَّهُ شِرَاكٌ مَا اخْذَفَرَّ يَعْنِي مَا اخْتَلَطَ بِالْمَاءِ الدَّمُ وَبَقَرُوا أُمَّ وَلَدِهِ عَمَّا فِي بَطْنِهَا

 

Dari seorang laki-laki dari ‘Abdil Qais yang pernah bergabung bersama kaum Khawârij kemudian memisahkan diri dari mereka, ia berkata, “Orang-orang Khawârij pernah memasuki sebuah perkampungan lalu ‘Abdullah bin Khabbâb keluar dengan ketakutan sambil menyeret kain selendangnya, mereka pun bertanya, “Mengapa engkau ketakutan? Mengapa engkau ketakutan? –sebanyak dua kali-. ‘Abdullah berkata, “Kalian telah membuat aku ketakutan.” Mereka berkata, “Engkaukah ‘Abdullah bin Khabbâb shahabat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam.” ‘Abdulah menjawab, “Benar!” Mereka berkata, “Apakah engkau pernah mendengar dari ayahmu satu hadits yang ia ceritakan dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam untuk kamu ceritakan kepada kami?”  ‘Abdullah berkata, “Aku pernah mendengarnya menyampaikan hadits dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam tentang fitnah “Dimana didalamnya orang yang duduk lebih baik daripada orang yang berdiri, orang yang berdiri lebih baik daripada orang yang berjalan, orang yang berjalan lebih baik daripada orang yang berlari.” Kemudian Nabi melanjutkan, “Apabila engkau mendapati masa itu maka jadilah kamu hamba Allah yang terbunuh.” Ayyûb berkata: Dan aku tidak mengetahuinya melainkan beliau bersabda, “Dan janganlah engkau menjadi hamba Allah yang membunuh.”[3] Mereka (Orang-orang Khawarij) berkata, “Engkau mendengar ini dari ayahmu yang telah bercerita dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam?” ‘Abdullah menjawab, “Benar.” Maka mereka pun membawa ‘Abdullah ke tepi sungai lalu memenggal lehernya, sehingga mengalirlah darahnya seolah-olah tali sandal yang tidak terputus, yakni: Darah tidak bercampur dengan air, dan mereka juga membelah janin yang ada di perut Ummul Waladnya (budak wanitanya).”

 

عَنْ أَبِي كَبْشَةَ ، قَالَ : سَمِعْتُ أَبَا مُوسَى ، يَقُولُ عَلَى الْمِنْبَرِ : قَال رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” إِنَّ بَيْنَ أَيْدِيكُمْ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ فِيهَا مُؤْمِنًا ، وَيُمْسِي كَافِرًا ، وَيُمْسِي مُؤْمِنًا ، وَيُصْبِحُ كَافِرًا ، الْقَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْقَائِمِ ، وَالْقَائِمُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْمَاشِي ، وَالْمَاشِي فِيهَا خَيْرٌ مِنَ السَّاعِي ” قَالُوا : فَمَا تَأْمُرُنَا ؟ قَالَ : ” كُونُوا أَحْلاسَ بُيُوتِكُمْ

 

Dari Abi Kabsyah ia berkata: Aku pernah mendengar Abu Mûsa berkata diatas mimbar: Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa bersabda, “Sesungguhnya dihadapan kalian akan muncul berbagai macam fitnah bagaikan malam yang gelap gulita. Dimana didalamnya seseorang beriman diwaktu pagi dan menjadi kafir waktu sore, beriman diwaktu sore dan menjadi kafir diwaktu pagi. Didalamnya pula orang yang duduk lebih baik daripada orang yang berdiri, orang yang berdiri lebih baik daripada berjalan, orang yang berjalan lebih baik daripada berlari.” Mereka berkata, “Lalu apa yang engkau perintahkan kepada kami?” Beliau bersabda, “Hendaklah kalian menetapi rumah-rumah kalian.” [Hasan. HR. Al-Mushannif (72) dan Ibnu Majah (3961)].

 

قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ الْحُسَيْنِ : قَدْ ذَكَرْتُ هَذَا الْبَابَ فِي كِتَابِ الْفِتَنِ فِي أَحَادِيثَ كَثِيرَةٍ ، وَقَدْ ذَكَرْتُ هَاهُنَا طَرَفًا مِنْهَا ؛ لِيَكُونَ الْمُؤْمِنُ الْعَاقِلُ يَحْتَاطُ لِدِينِهِ ، فَإِنَّ الْفِتَنَ عَلَى وُجُوهٍ كَثِيرَةٍ ، وَقَدْ مَضَى مِنْهَا فِتَنٌ عَظِيمَةٌ ، نَجَا مِنْهَا أَقْوَامٌ ، وَهَلَكَ فِيهَا أَقْوَامٌ بِاتِّبَاعِهِمُ الْهَوَى ، وَإِيَثَارِهِمْ لِلدُّنْيَا ، فَمَنْ أَرَادَ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا فَتْحَ لَهُ بَابَ الدُّعَاءِ ، وَالْتَجَأَ إِلَى مَوْلاهُ الْكَرِيمِ ، وَخَافَ عَلَى دِينِهِ ، وَحَفِظَ لِسَانَهُ ، وَعَرَفَ زَمَانَهُ ، وَلَزِمَ الْمَحَجَّةَ الْوَاضِحَةَ السَّوَادَ الأَعْظَمَ ، وَلَمْ يَتَلَوَّنْ فِي دِينِهِ ، وَعَبَدَ رَبَّهُ تَعَالَى ، فَتَرَكَ الْخَوْضَ فِي الْفِتْنَةِ ، فَإِنَّ الْفِتْنَةَ يَفْتَضِحُ عِنْدَهَا خَلْقٌ كَثِيرٌ ، أَلَمْ تَسْمَعْ إِلَى قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَهُوَ مُحَذِّرٌ أُمَّتَهُ الْفِتَنَ ؟ قَالَ : ” يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا ، وَيُمْسِي كَافِرًا ، وَيُمْسِي مُؤْمِنًا ، وَيُصْبِحُ كَافِرًا

 

Muhammad bin Al-Husain berkata, “Saya telah menyebutkan bab ini dalam Kitab Al-Fitan dengan menyertakan banyak hadits. Sedang disini saya hanya menyebutkan bagian kecilnya saja agar mukmin yang berakal berhati-hati dalam (menjaga) agamanya, lantaran fitnah itu bentuknya amat beragam. Telah berlalu darinya beberapa fitnah yang sangat besar, sebagian kaum ada yang selamat darinya dan sebagian yang lain ada yang binasa lantaran mereka mengikuti hawa nafsu mereka sendiri dan lebih mengedepankan urusan dunia. Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan untuknya maka Allah bukakan untuknya pintu doa, berlindung kepada pelindungnya yang Maha Mulia, prihatin terhadap agamanya, menjaga lisannya, mengenali kondisi zamannya, menetapi jalan yang jelas yakni as-sawâdul a’dzham (Yaitu jalan yang ditempuh oleh para shahabat, termasuk para ulama dan ummat Islam yang mengikuti jalan mereka-pentj.), tidak berTalawwun (berubah-rubah/plin-plan) dalam agamanya, serta beribadah kepada Rabb-nya Ta’ala. Sehingga dia pun tidak ikut terlibat dalam fitnah. Sesungguhnya dalam fitnah itu, banyak orang yang tersingkap kondisi dia sebenarnya. Tidakkah engkau mendengar sabda Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam dimana beliau memperingatkan ummatnya dari bahaya fitnah? Beliau bersabda, “Seseorang beriman diwaktu pagi dan menjadi kafir waktu sore, beriman diwaktu sore dan menjadi kafir diwaktu pagi.”

 

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، أَنَّهُ قَالَ : ” بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ ، سَتَكُونُ فِتَنٌ كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا ، وَيُمْسِي كَافِرًا ، وَيُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا ، يَبِيعُ الرَّجُلُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

 

Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallâhu shallallâhu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau bersabda, “Bersegeralah mengerjakan amal shaleh, kelak akan terjagi berbagai macam fitnah bagaikan malam yang gelap gulita. (Dimana didalamnya) seseorang beriman diwaktu pagi dan menjadi kafir waktu sore, beriman diwaktu sore dan menjadi kafir diwaktu pagi. Orang tersebut menjual agamanya dengan kesenangan dunia.” [Shahih. HR. Al-Mushannif (80) dan Muslim (118)]

 

عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ ، قَالَ : قَالَ لِي رَاهِبٌ : ” يَا سَعِيدُ فِي الْفِتْنَةِ يَتَبَيَّنُ لَكَ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ تَعَالَى ، وَمَنْ يَعْبُدُ الطَّاغُوتَ

 

Dari Sa’îd bin Jubair ia berkata: Seorang Rahib berkata kepadaku, “Wahai Sa’îd dalam fitnah itu akan tampak jelas olehmu siapa yang (sejatinya) menyembah Allah ta’ala dan siapa yang menyembah thaghut.” [Hasan. HR. Al-Mushannif (81)]

 

عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” الْعِبَادَةُ فِي الْهَرْجِ كَالْهِجْرَةِ إِلَيَّ

           

Dari Ma’qil bin Yasâr ia berkata: Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Beribadah diwaktu haraj (zaman yang penuh fitnah) laksana berhijrah kepadaku.” [Shahih. HR. Al-Mushannif (82) dan Muslim (2948)]

 

 

 

 

 

 

 

—————————————————–

Jember, 7 Rajab 1436 H/26 April 2015

Abu Halbas Muhammad Ayyub

 

 

 

 

 

 

 

 

[1] Diterjemahkan dari kitab Mukhtashar asy-Syari’ah (Ringkasan kitab Asy-Syari’ah), yang diringkas oleh: Abu ‘Amr ‘Abdul Karim bin Ahmad al-Hajûri. (Abu Halbas, pentj.)

[2][2] Shahih: Hadits ini shahih dari tiga jalur shahabat, yaitu:

Pertama: Hadits ‘Ali : HR. Ahmad (1/94, 129), dan ini adalah shahih.

Kedua dan Ketiga: Hadits al-Hakam bin ‘Amr al-Ghifâri dan Imrân bin Hushain. HR. Ahmad (5/66), dan juga ini adalah shahih.

Keempat: Hadits Ibnu Mas’ûd. HR. Ahmad (1/409), dan ini adalah dha’îf. Al-Qâsim bin ‘Abdirrahman bin ‘Abdillah bin Mas’ûd tidak mendengar dari kakeknya.

 

[3] Asal kisah ini adalah shahih: HR. Al-Mushannif (72), Ahmad (5/110), dan ‘Abdurrazzâq dalam al-Mushannaf (10/118 nomor 18577)].

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: