//
you're reading...
Aqidah, Manhaj

Kitab Asy-Syari’ah (7) Bab Dorongan Untuk Berpegang Teguh Pada Kitâbullah Ta’ala Dan Sunnah Rasulullah Shallallâhu ‘Alaihi Wa Sallam Serta Sunnah Para Shahabatnya Radhiyallâhu ‘Anhum, Meninggalkan Bid’ah, Meninggalkan an-Nadhor dan jidal Pada Perkara Yang Menyelisihi Al-Kitâb Dan As-Sunnah Serta Perkataan Para Shahabat Radhiyallâhu ‘Anhum


  Asy-Syari’ah[1]

Oleh: Imam Abu Bakar Muhammad Bin al-Husain al-Ajurri

(Wafat tahun 360 H.)

 

 

BAB

Dorongan Untuk Berpegang Teguh Pada Kitâbullah Ta’ala Dan Sunnah Rasulullah Shallallâhu ‘Alaihi Wa Sallam Serta Sunnah Para Shahabatnya Radhiyallâhu ‘Anhum, Meninggalkan Bid’ah,  Meninggalkan an-Nadhor dan jidal Pada Perkara Yang Menyelisihi Al-Kitâb Dan As-Sunnah Serta Perkataan Para Shahabat Radhiyallâhu ‘Anhum

⎏⎏⎏⎏⎏

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ ، قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَقُولُ فِي خُطْبَتِهِ : ” نَحْمَدُ اللَّهَ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ ” ثُمَّ يَقُولُ ” مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلا مُضِلَّ لَهُ ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلا هَادِيَ لَهُ ، أَصْدَقُ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ، وَأَحْسَنُ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلُّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ.

Dari Jâbir bin ‘Abdillah,  ia berkata: Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam khutbahnya, “Kami memuji Allah dengan puji-pujian yang layak bagi-Nya .” Kemudian beliau melanjutkan, “ Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada seorang pun yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada seorang pun yang dapat memberikan petunjuk kepadanya. Sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Sedang seburuk-buruk perkara adalah yang baru dan diada-adakan, dan setiap yang baru adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap yang sesat adalah di neraka.”   [Hasan: Tanpa tambahan, “Dan setiap yang sesat adalah di neraka.” Ini adalah tambahan syadz sebagaimana yang telah saya jelaskan dalam kitab Tahqîqul Iqtishâd Fil I’tiqâd Lil Maqdisi. HR. Mushannif (84), Muslim (867) tanpa tambahan diatas.]

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَمْرٍو السُّلَمِيِّ ، وَحُجْرٍ الْكَلاعِيّ ، قَالا : دَخَلْنَا عَلَى الْعِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ ، وَهُوَ الَّذِي نَزَلَتْ فِيهِ : وَلا عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ سورة التوبة آية 92 ، وَهُوَ مَرِيضٌ ، قَالَ : فَقُلْنَا لَهُ : إِنَّا جِئْنَاكَ زَائِرِينَ وَعَائِدِينَ ، وَمُقْتَبِسِينَ ، فَقَالَ عِرْبَاضٌ : إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى صَلاةَ الْغَدَاةِ ، ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا فَوَعَظَنَا مَوْعِظَةً بَلِيغَةً ، ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ فَقَالَ قَائِلٌ : يَا رَسُولَ اللَّهِ : إِنَّ هَذِهِ لَمَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ ، فَمَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا ؟ قَالَ : ” أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ ، وَالطَّاعَةِ وَالسَّمْعِ ، وَإِنْ كَانَ عَبْدًا حَبَشِيًّا ، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي سَيَرَى اخْتِلافًا كَثِيرًا ، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي ، وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ ، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ

Dari ‘Abdurrahman bin ‘Amr As-Sulami dan Hujr Al-Kalâ’I, keduanya berkata, “Kami pernah masuk menemui Al-‘Irbâdh bin Sâriyah yang sedang sakit dan kepadanyalah diturunkan ayat ini: [dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan,” (Qs. At-Taubah: 92)]. Kami berkata kepadanya, “Kami datang untuk menziarahimu, membesuk serta hendak mendulang faedah.” ‘Irbadh berkata, “Pernah, seusai Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat Shubuh, beliau menghadap kepada kami lalu menasehati kami dengan nasehat yang amat dalam, membuat air mata menetes, dan membuat hati bergetar (tersentuh). Lalu seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah,  (seakan-akan) ini adalah nasehat perpisahan, apakah yang  hendak engkau sampaikan kepada kami?” Beliau bersabda, ‘Aku wasiyatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah. Mendengar dan taat (kepada pemimpin) meskipun dia seorang budak Habasyi. Karena siapa saja yang hidup sepeninggalku maka ia akan melihat banyak perbedaan. Maka hendaklah kalian berpegang teguh kepada sunnahku, sunnah para khulafaur rasyidin yang mendapatkan petunjuk serta gigitlah ia dengan gigi geraham. Jauhilah oleh kalian setiap perkara yang baru lagi diada-adakan, karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah dan  setiap bid’ah adalah sesat.” [Shahih dengan berbagai jalurnya. Saya telah menyebutkan dalam kitab Tahqîq Quthfuts Tsimar Fi Bayâni ‘Aqidah Ahlil Atsar. HR. Al-Mushannif (86), Ahmad (4/126), At-Tirmidzi (2676) dan Ibnu Majah (43,44)].

عن يَزِيْد بْنُ عَمِيرَةَ ، أَنَّهُ سَمِعَ مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، يَقُولُ فِي كُلِّ مَجْلِسٍ يَجْلِسُهُ : ” هَلَكَ الْمُرْتَابُونَ ، إِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ فِتَنًا يَكْثُرُ فِيهَا الْمَالُ ، وَيُفْتَحُ فِيهَا الْقُرْآنُ ، حَتَّى يَأْخُذَهُ الرَّجُلُ وَالْمَرْأَةُ وَالْحُرُّ وَالْعَبْدُ ، وَالصَّغِيرُ وَالْكَبِيرُ ، فَيُوشِكُ الرَّجُلُ أَنْ يَقْرَأَ الْقُرْآنَ فِي ذَلِكَ الزَّمَانِ فَيَقُولُ : مَا بَالُ النَّاسِ لا يَتَّبِعُونِي وَقَدْ قَرَأْتُ الْقُرْآنَ ، فَيَقُولُ : مَا هُمْ بِمُتَّبِعِيَّ حَتَّى أَبْتَدِعَ لَهُمْ غَيْرَهُ ، فَإِيَّاكُمْ وَمَا ابْتَدَعَ ، فَإِنَّمَا ابْتَدَعَ ضَلالَةً “

Dari Yazîd bin ‘Umairah, bahwasanya ia pernah mendengar Mu’âdz bin Jabal radhiyallâhu ‘anhu berkata di setiap majlisnya, “Binasalah orang-orang yang ragu. Sesungguhnya di masa yang akan datang terdapat banyak fitnah, padanya harta melimpah ruah dan Al-Qur`an banyak dibuka, hingga laki dan perempuan, orang merdeka dan budak, anak kecil dan orang dewasa pada membacanya. Sampai-sampai orang yang membaca Al-Qur`an dimasa itu berkata, “Mengapa orang-orang enggan mengikutiku padahal aku telah membaca Al-Qur`an? (Sungguh) Mereka tidak akan mengikutiku hingga aku mengadakan untuk mereka hal baru selainnya (selain al-Qur`an). Maka waspadalah kalian dari apa yang ia ada-adakan, karena apa yang ia ada-adakan itu tidak lain pasti sesat.” [Shahih. HR. Al-Mushannif (90)]

عن أَبِي إِدْرِيسَ الْخَوْلانِيَّ ، يَقُولُ : أَدْرَكْتُ أَبَا الدَّرْدَاءِ وَوَعَيْتُ عَنْهُ ، وَأَدْرَكْتُ عُبَادَةَ بْنَ الصَّامِتِ وَوَعَيْتُ عَنْهُ ، وَأَدْرَكْتُ شَدَّادَ بْنَ أَوْسٍ وَوَعَيْتُ عَنْهُ ، وَفَاتَنِي مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ ، فَأَخْبَرَنِي يَزِيدُ بْنُ عَمِيرَةَ ، أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ فِي كُلِّ مَجْلِسٍ يَجْلِسُهُ : ” اللَّهُ حَكَمٌ عَدْلٌ قِسْطٌ ، تَبَارَكَ اسْمُهُ ، هَلَكَ الْمُرْتَابُونَ ، إِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ فِتَنًا يَكْثُرُ فِيهَا الْمَالُ ، وَيُفْتَحُ فِيهَا الْقُرْآنُ ، حَتَّى يَأْخُذَهُ الرَّجُلُ وَالْمَرْأَةُ ، وَالْحُرُّ وَالْعَبْدُ ، وَالصَّغِيرُ وَالْكَبِيرُ ، فَيُوشِكُ الرَّجُلُ أَنْ يَقْرَأَ الْقُرْآنَ فِي ذَلِكَ الزَّمَانِ فَيَقُولَ : قَدْ قَرَأْتُ الْقُرْآنَ فَمَا لِلنَّاسِ لا يَتَّبِعُونِي ، وَقَدْ قَرَأْتُ الْقُرْآنَ ثُمَّ يَقُولُ : مَا هُمْ بِمُتَّبِعِيَّ حَتَّى أَبْتَدِعَ لَهُمْ غَيْرَهُ ، فَإِيَّاكُمْ وَمَا ابْتَدَعَ ، فَإِنَّ مَا ابْتَدَعَ ضَلالَةٌ ، اتَّقُوا زَيْغَةَ الْعَالِمِ ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يُلْقِي عَلَى فِيِّ الْحَكِيمِ كَلِمَةَ الضَّلالَةِ ، وَيُلْقِي الْمُنَافِقُ كَلِمَةَ الْحَقِّ قَالَ : قُلْنَا : وَمَا يُدْرِينَا رَحِمَكَ اللَّهُ أَنَّ الْمُنَافِقَ يُلْقِي كَلِمَةَ الْحَقِّ ، وَأَنَّ الشَّيْطَانَ يُلْقِي عَلَى فِيِّ الْحَكِيمِ كَلِمَةَ الضَّلالَةِ ؟ قَالَ : اجْتَنِبُوا مِنْ كَلِمَةِ الْحَكِيمِ كُلَّ مُتَشَابِهٍ ، الَّذِي إِذَا سَمِعْتَهُ قُلْتَ : مَا هَذِهِ ؟ وَلا يَنْأَيَنَّكَ ذَلِكَ عَنْهُ ، فَإِنَّهُ لَعَلَّهُ أَنْ يُرَاجِعَ ، وَيُلْقِي الْحَقَّ إِذَا سَمِعَهُ ، فَإِنَّ عَلَى الْحَقِّ نُورًا “

Dari Abu Idrîs Al-Khaulâny, ia berkata, “Aku berjumpa dengan Abu Ad-Dardâ` dan menghafal darinya, berjumpa dengan ‘Ubbâdah bin Ash-Shâmit dan menghafal darinya, berjumpa dengan Syaddâd bin Aus dan menghafal darinya, dan terluput olehku Mu’adz bin Jabâl namun Yazîd bin ‘Umairah mengabarkan kepadaku bahwa Mu’adz berkata disetiap majlisnya, “Allah itu adalah dzat yang Maha Memutuskan Perkara dan dzat yang Maha adil, Maha suci Nama-Nya. Binasalah orang-orang yang ragu. Binasalah orang-orang yang ragu. Sesungguhnya di masa yang akan datang terdapat banyak fitnah, padanya harta melimpah ruah dan Al-Qur`an banyak dibuka, hingga laki dan perempuan, orang merdeka dan budak, anak kecil dan orang dewasa pada membacanya. Sampai-sampai orang yang membaca Al-Qur`an dimasa itu berkata, “Mengapa orang-orang enggan mengikutiku padahal aku telah membaca Al-Qur`an? (Sungguh) Mereka tidak akan mengikutiku hingga aku mengadakan untuk mereka hal baru selainnya (selain al-Qur`an). Maka waspadalah kalian dari apa yang ia ada-adakan, karena apa yang ia ada-adakan itu tidak lain pasti sesat. Takutlah kalian dengan penyimpangan orang alim, karena setan (berupaya) memasukkan kalimat kesesatan pada mulut orang yang bijak (alim) dan memasukkan kalimat kebenaran pada(mulut) orang munafik.” Kami bertanya, “Kita tidak tahu- semoga Allah merahmatimu- bahwa orang munafik itu dimasukkan kalimat kebenaran dan setan memasukkan kalimat kesesatan pada mulut orang yang bijak?” Ia menjawab, “Jauhilah semua ungkapan orang bijak (berilmu) yang mengandung kesamaran, yang mana ketika engkau mendengarnya engkau akan berkata, “Ungkapan apa ini?” Dan jangan sekali-kali engkau menjauhkan diri darinya karena hal itu, karena boleh jadi ia akan rujuk (kembali) kepada kebenaran apabila ia mendengarnya, karena pada kebenaran itu ada cahaya.” [Shahih. HR. Al-Mushannif (91), dan Abu Dâwud (4611)].

 

مَالِكَ بْنَ أَنَسٍ إِذَا ذُكِرَ عِنْدَهُ الزَّائِغُونَ فِي الدِّينِ يَقُولُ : قَالَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ : ” سَنَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَوُلاةُ الأَمْرِ مِنْ بَعْدِهِ سُنَنًا ، الأَخْذُ بِهَا اتِّبَاعٌ لِكِتَابِ اللَّهِ تَعَالَى ، وَاسْتِكْمَالٌ لِطَاعَةِ اللَّهِ تَعَالَى ، وَقُوَّةٌ عَلَى دِينِ اللَّهِ ، لَيْسَ لأَحَدٍ مِنَ الْخَلْقِ تَغْيِيرُهَا ، وَلا تَبْدِيلُهَا ، وَلا النَّظَرُ فِي شَيْءٍ خَالَفَهَا ، مَنِ اهْتَدَى بِهَا فَهُوَ مُهْتَدٍ ، وَمَنِ اسْتَنْصَرَ بِهَا فَهُوَ مَنْصُورٌ ، وَمَنْ تَرَكَهَا اتَّبَعَ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ ، وَوَلاهُ اللَّهُ مَا تَوَلَّى ، وَأَصْلاهُ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Dari Mâlik bin Anas, apabila disebutkan disisinya orang-orang yang menyimpang dalam  agama ia berkata, “Umar bin ‘Abdul ‘Azîz berkata, “Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan para waliyyul ‘amri setelahnya telah mempelopori beberapa sunnah. Dimana mengambil sunnah-sunnah tersebut (berarti) mengikuti Kitabullah ta’ala, menyempurnakan ketaatan kepada Allah ta’ala, serta kekuatan atas agama Allah. Tidak ada seorang yang boleh merubahnya, menggantinya, atau pun melirik kepada sesuatu yang menyelisihinya. Barangsiapa yang mengambil petunjuk dengannya maka dia termasuk orang yang diberi petunjuk. Barangsiapa yang meminta pertolongan dengannya, maka dia termasuk orang yang ditolong. Barangsiapa yang meninggalkannya berarti dia telah mengikuti jalan selain orang-orang beriman, dan Allah akan paling dia pada apa yang dia berpaling padanya, dan Allah sediakan baginya neraka jahannam sebagai tempat kembali yang paling buruk.” [Shahih. HR. Al-Mushannif (92), ‘Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah (766), Al-Lâlikâi dalam Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlus Sunnah wal Jamâ’ah (134, 135)].

 

 

 

—————————————-

Jember, 19 Rajab 1436 H./ 8 Mei 2015

Abu Halbas Muhammad Ayyub

 

 

 

[1] Diterjemahkan dari kitab Mukhtashar asy-Syari’ah (Ringkasan kitab Asy-Syari’ah), yang diringkas oleh: Abu ‘Amr ‘Abdul Karim bin Ahmad al-Hajûri. (Abu Halbas, pentj.)

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: